Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Meraih puncak peribadatan adalah perkara yang agung, tidak seperti yang kita sangka. Kita salat, berzikir kepada Allah, dan puasa, tapi mungkin tidak merasakan khusyuk dalam hati kita. Kita memohon keselamatan dan kebaikan kepada Allah Ta’ālā.

Renungkan, bagaimana pikiran seperti ini terlintas dalam salat, tentang emas, bagaimana bisa mengganggu hati Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, hingga beliau cepat-cepat keluar dan terburu-buru untuk segera melepaskan diri darinya, lalu beliau bersabda, “Aku tidak suka emas itu menahan diriku.” (HR. Muslim) “menahan diriku” yaitu menahan hati dari khusyuk menghadap Allah. Mahasuci Allah!

Inilah sebabnya, salah seorang sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka—berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari terpecahnya fokus atau kacaunya hati.” Mereka bertanya, “Bagaimana itu?” Dia berkata, “Ketika kamu sudah punya harta di setiap lembah.” artinya, ketika seseorang sudah memiliki banyak harta dunia hingga kacau hatinya karena memikirkannya, dia sibuk memikirkan bangunannya, pertaniannya, dan perniagaannya berpikir dan terus berpikir, tak pernah selesai, sampai saat berdiri dalam salatnya pun masih memikirkannya. Hal itu mengganggunya, karena beginilah tabiat manusia.

Wahai Saudaraku, hati manusia disebut “qalbu” karena ‘taqallub’ (berbolak-balik), dan setan menjadikannya jalan untuk memasukkan was-was. Namun, ini hanya terjadi pada hati yang sudah mencintai dunia dan terkait dengannya. Adapun orang mukmin yang mengetahui hakikat dunia dan kerendahannya, yang tidak bernilai, terbatas hari-harinya, dan semua yang ada padanya pasti sirna. “Semua yang ada padanya akan binasa, dan wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan yang kekal.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 27)

Berapa pun banyak dan melimpah harta benda dan perniagaan seseorang, akan tetapi hatinya tidak terikat dengan dunia. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—adalah pedagang. Utsman—semoga Allah meridainya—juga pedagang. Tidak masalah! Masalahnya adalah jika hati sudah terkait. Dunia tidak ada di hati para sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka— tapi dunia hanya ada di tangan mereka, bukanlah di hati. Namun, hari ini, keadaannya terbalik.

======================================================================================================

هَذِهِ الْعُبُودِيَّةُ تَحْقِيقُهَا أَمْرٌ عَظِيمٌ

لَيْسَ كَمَا… نَظُنُّ نَحْنُ

نَحْنُ نُصَلِّي وَنَذْكُرُ اللهَ وَنَصُومُ

وَرُبَّمَا مَا نَشْعُرُ بِالْخُشُوعِ فِي قُلُوبِنَا

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

تَأَمَّلْ كَيْفَ أَنَّ مِثْلَ هَذَا الْفِكْرِ الَّذِي يَصِيرُ فِي الصَّلَاةِ

فِي الذَّهَبِ كَيْفَ كَدَّرَ قَلْبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَخَرَجَ فَزِعًا مُسْرِعًا بَعْدَ الصَّلَاةِ لِيَتَخَلَّصَ مِنْهُ

وَقَالَ: كَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي

يَحْبِسَنِي- يَحْبِسُ قَلْبِي عَلَى الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

سُبْحَانَ اللهِ

وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ يَقُولُ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ تَفْرِقَةِ الْهَمِّ أَوْ تَفْرِقَةِ الْقَلْبِ

قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَنْ يَكُونَ لَكَ فِي كُلِّ وَادٍ مَالٌ

يَعْنِي رُبَّمَا يَكْثُرُ مَتَاعُ الدُّنْيَا عَلَى الْإِنْسَانِ

فَيَتَفَرَّقُ قَلْبُهُ فِيهِ

يُفَكِّرُ فِي بِنَايَتِهِ فِي مَزْرَعَتِهِ وَيُفَكِّرُ فِي تِجَارَتِهِ

يُفَكِّرُ يُفَكِّرُ مَا يَنْتَهِي التَّفْكِيرُ

حَتَّى إِذَا قَامَ فِي صِلَاتِهِ يُفَكِّرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ

تَهْجُمُ عَلَيْهِ وَهَذَا مِنْ طَبْعِ الْإِنْسَانِ

الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَةُ قَلْبُهُ مَا سُمِّيَ قَلْبًا إِلَّا مِنْ تَقَلُّبِهِ

وَالشَّيْطَانُ جُعِلَ لَهُ السَّبِيلُ فِي الْوَسْوَسَةِ

لَكِن هَذَا إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ

إِذَا أَحَبَّ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِهَا

أَمَّا الْمُؤْمِنُ الَّذِي عَرَفَ حَقِيقَاتِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتَهَا

وَأَنَّهَا لَا شَيْءَ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَكُلُّ مَا فِيهَا يَذْهَبُ

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَى ٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

فَمَهْمَا كَثُرَ مَالُهُ وَكَثُرَ مَتَاعُهُ وَكَثُرَتْ تِجَارَتُهُ

لَا يَتَعَلَّقُ الْقَلْبُ بِهَا

أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

مَا يَمْنَعُ لَكِن الْمُشْكِلَةُ فِي تَعَلُّقِ الْقُلُوبِ

الدُّنْيَا مَا كَانَتْ فِي قُلُوبِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

كَانَتْ فِي أَيْدِيِهِمْ لَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ

لَكِنَّ الْيَوْمَ انْعَكَسَتِ الْمَسْأَلَةُ

 

 

Dua Darah yang Tidak Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Dua Darah yang Tidak Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Pendapat dari banyak sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka— bahwa darah membatalkan wudu, namun ada dua macam darah yang tidak membatalkan wudu, keduanya dimaafkan dan tidak menjadi pembatal.

Pertama, apa yang oleh penulis dikeluarkan dari kategori darah yang banyak, artinya bahwa darah yang sedikit tidak jadi pembatal. Dalilnya bahwa para Sahabat, misalnya Ibnu Umar yang memandang darah membatalkan wudu, pernah salat dan menggaruk bisul di tangannya hingga keluar darah darinya padahal dia sedang salat, namun tidak membatalkan salatnya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa darah yang sedikit tidak membatalkan wudu. Ini adalah jenis pertama, pembatal wudu, tetapi dimaafkan.

Jenis kedua adalah darah yang terus menerus. Ada riwayat sahih bahwa para sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka—salat dengan luka-luka mereka. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga memberi keringanan bagi orang yang berhadas terus-menerus, seperti orang yang lukanya terus mengeluarkan darah, atau juga wanita Mustahadhah, seperti Hamnah—semoga Allah meridainya— yang tetap salat dan meletakkan semacam wadah di bawahnya, lalu terlihat di dalamnya bercak berwarna kehitaman, kekuningan dan kemerahan, Ini menunjukkan adanya hadas yang terus menerus, akan tetapi hukumnya dimaafkan sehingga tidak menjadi pembatal. Namun hendaknya dia berwudu untuk setiap kali akan salat lima waktu.

Jika Anda sudah pahami hal ini, maka tidak ada hadis yang bisa dimaknai bahwa darah tidak membatalkan wudu. Semua keterangan yang ada, mungkin karena kadarnya yang sedikit, atau terus menerus keluarnya. Adapun yang selain itu maka hukum asalnya menurut fatwa dan ketetapan para sahabat Nabi bahwa darah adalah pembatal wudu.

======================================================================================================

فَقَوْلُ كَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

أَنَّ الدَّمَ يَكُونُ نَاقِضًا لِلْوُضُوءِ

لَكِنْ لَا يَنْقُضُ مِنَ الْوُضُوءِ… مِنَ الدَّمِ نَوْعَانِ

لَيْسَا بِنَاقِضَيْنِ عُفِيَ عَنْهُمَا

الْأَوَّلُ مَا احْتَرَزَ مِنْهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ الدَّمُ الْكَثِيرُ

فَإِنَّ الدَّمَ الْقَلِيلَ لَا يَنْقُضُ

بِالدَّلِيلِ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَابْنِ عُمَرَ الَّذِي يَرَى نَقْضَ الْوُضُوءِ

صَلَّى وَفِي يَدِهِ بَثْرَةٌ فَحَكَّهَا

فَخَرَجَ مِنْهَا دَمٌ وَهُوَ فِي صِلَاتِهِ

وَلَمْ يَنْفَتِلْ مِنْ صَلَاتِهِ

فَدَلَّنَا عَلَى أَنَّ الدَّمَ الْقَلِيلَ لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ

هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي عُفِيَ عَنْهُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ

الْأَمْرُ الثَّانِي الدَّمُ الْمُسْتَمِرُّ

فَإِنَّهُ قَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

كَانُوا يُصَلُّونَ فِي جِرَاحَاتِهِمْ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفَّفَ عَلَى مَنْ كَانَ حَدَثُهُ دَائِمًا

كَمَنْ جُرْحُهُ يَثْعُبُ

أَوْ مِثْلُ مُسْتَحَاضَةٍ حَمْنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

حِيْنَمَا كَانَتْ تُصَلِّي وَتَجْعَلُ تَحْتَهَا طُسْتًا

وَيُرَى فِيهِ أَثَرُ الْكُدْرَةِ وَالصُّفْرَةِ وَالْحُمْرَةِ

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْحَدَثَ الدَّائِمَ

وَالْحَدَثُ الدَّائِمُ عُفِيَ فِيهِ فَلَا يَكُونُ نَاقِضًا

وَإِنَّمَا يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ مِنْ مَفْرُوضَاتِ الْخَمْسِ

إِذَا عَرَفْتَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ حَدِيثٌ

عَلَى أَنَّ الدَّمَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ

فَكُلُّ مَا جَاءَ إِمَّا لِكَونِهِ يَسِيرًا

أَوْ لِكَوْنِهِ دَائِمًا وَمَا عَدَا ذَلِكَ

فَإِنَّهُ عَلَى الْأَصْلِ مِنْ قَضَاءِ الصَّحَابَةِ وَإِفْتَاءِهِمْ

أَنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا

 

Jasad Mereka Tidak Dimakan Bumi – Syaikh Sa’ad al-Khotslan #NasehatUlama

Jasad Mereka Tidak Dimakan Bumi – Syaikh Sa’ad al-Khotslan #NasehatUlama

Siapa saja yang jasad mereka tidak akan dimakan oleh bumi dari keempat golongan ini? Ya? Silakan. Para nabi, ini disepakati para ulama dan telah disebutkan dalam nas, yaitu sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Daud)

Baiklah. Siapa lagi? Ya. Ya, para ulama berbeda pendapat tentang para ṣiddīqīn dan syuhada. Namun, pendapat yang lebih kuat bahwa seharusnya dikatakan, “Orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada.”

Sehingga tidak semuanya, hanya mereka yang Allah kehendaki. Orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada. Hal ini dikuatkan dengan fakta yang ada, terkadang kita dapati, ketika kuburan orang baik dan saleh dibongkar, jasadnya ditemukan utuh sebagaimana ketika dikuburkan, meskipun telah berlalu masa yang lama.

Kisah-kisah tentang hal ini banyak dan terkenal. Namun, tidak semuanya demikian. Mungkin saja seseorang terbunuh di medan perang dan syahid di jalan Allah, kemudian bumi memakan jasadnya. Ini tidak berarti bahwa dia tidak mati syahid, karena para ṣiddīqīn itu bertingkat-tingkat, begitu juga para syuhada. Jadi, pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini bahwa bumi tidak akan memakan jasad orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada. Bumi tidak akan memakan jasad mereka, sebagai penghormatan bagi mereka.

Adapun orang beriman lainnya dan yang tidak beriman juga akan dimakan oleh bumi. Manusia selainnya, golongan selain mereka, jasad mereka akan dimakan bumi, dan tidak akan menyisakan apa pun, kecuali tulang ekor. Tulang ekor adalah ujung dari tulang belakang, yang disebut al-ʿUṣʿuṣ, yang merupakan benda yang teramat kecil, yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, yang darinya manusia akan disusun kembali pada hari Kiamat.

======================================================================================================

مَنِ الَّذِينَ لَا تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ

مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ؟

نَعَمْ

الْأَنْبِيَاءُ هَذَا بِالْإِجْمَاعِ

وَقَدْ وَرَدَ فِيهِ النَّصُّ وَهُوَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

طَيِّبٌ وَأَيْضًا ؟ نَعَمْ

نَعَمْ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنْ يُقَالَ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَلَيْسَ جَمِيعُهُمْ وَإِنَّمَا مَنْ شَاءَ اللهُ مِنْهُمْ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَيُؤَيِّدُ هَذَا الْوَاقِعُ

إِذْ نَجِدُ أَحْيَانًا عِنْدَمَا يُنْبَشُ قَبْرُ أَحَدِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ

يُوجَدُ جَسَدُهُ كَمَا دُفِنَ

رَغْمَ مُضِيِّ مُدَّةٍ طَوِيلَةٍ عَلَيْهِ

الْقَصَصُ فِي هَذَا مَشْهُورَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ

لَكِنَّ هَذَا لَيْسَ لِلْجَمِيعِ

فَقَدْ يُقْتَلُ الْإِنْسَانُ فِي مَعْرَكَةٍ شَهِيدًا فِي سَبِيلِ اللهِ

ثُمَّ تَأْكُلُ الْأَرْضُ جَسَدَهُ

وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يَنَلِ الشَّهَادَةَ

لِأَنَّ الصِّدِّيقِيْنَ دَرَجَاتٌ وَالشُّهَادَاءَ أَيْضًا دَرَجَاتٌ

الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ الْأَرْضَ لَا تَأْكُلُ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

لَا تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ إِكْرَامًا لَهُمْ

وَبَقِيَّةُ الْمُؤْمِنِيْنِ تَأْكُلُ وَغَيْرُ الْمُؤْمِنِينَ أَيْضًا

بَقِيَّةُ الْبَشَرِ تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ

وَلَا يَبْقَى مِنْهَا إِلَّا عَجَبُ الذَّنَبِ

وَعَجَبُ الذَّنَبِ هُوَ آخِرُ الْعَمُودِ الْفَقْرِيِّ

الْمُسَمَّى بِالْعُصْعُصِ

وَهُوَ مَادَّةٌ يَعْنِي صَغِيرَةٌ جِدًّا

لَا تُرَى بِالْعَيْنِ الْمُجَرَّدَةِ

وَمِنْهَا يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

Manfaat Ibadah Sepenuh Hati – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Manfaat Ibadah Sepenuh Hati – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sungguh seseorang yang menyibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah ʿAzza wa Jalla dan fokus beribadah kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, hingga hatinya tergantung kepada-Nya Jalla wa ʿAlā secara total, bukan sekedar lisan dan badannya yang beribadah, namun disertai ibadah hati, sungguh dia akan melupakan dunia seluruhnya.

Yang lebih mengherankan lagi, ada salah satu ulama yang ketika itu dia sedang duduk dalam salatnya kemudian seekor lebah menghinggapinya, lalu menyengatnya sekali, dua kali, sampai tiga kali, tapi dia tidak bergerak dari tempatnya, dia tidak merasa, tidak merasakannya.

Oleh sebab itu, Abu Nu’aim al-Aṣbahāni menulis sebuah kitab yang diberi judul “Riyāḍatu al-Abdān” yang sebagiannya masih ada dan sebagian besarnya telah hilang, dalam kitab ini dan kitab-kitab lainnya karya ahli ibadah dan orang-orang zuhud dari kalangan Ahlu Sunah, mereka menjelaskan bahwa jika seseorang fokus beribadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, seperti berzikir kepada Allah, salat atau yang lain sebagainya, dia akan tersibukkan dengan Allah dan melupakan hal-hal lain. Dia akan tersibukkan.

Oleh sebab itu, syekh Taqiyyuddin, sebagaimana dikisahkan oleh muridnya, Ibnul Qayyim, bahwa dia senantiasa bersungguh-sungguh menjaga zikir kepada-Nya ʿAzza wa Jalla di pagi dan petang hari. Ketika ditanya tentang alasannya, dia menjawab, “Demikianlah aku mengawali hariku.

Jika aku tidak mengawali hari dengan zikir-zikir ini, aku dapati jiwa dalam badanku ini melemah.” “Aku dapati melemah.” maksudnya dia merasakan kelemahan dalam dirinya jika tidak membaca zikir-zikir tersebut, tapi maksudnya bukan zikir ini yang menjaganya dari keburukan, tapi maksudnya bahwa dengannya Allah ʿAzza wa Jalla telah mencukupi dan menguatkannya. Oleh sebab itu—Mahasuci Allah yang Mahaagung—ini bisa dilihat ketika seseorang sibuk dalam ketaatan kepada Allah, fokus dengan-Nya secara total, dan hatinya terkait dengannya, sungguh dia akan tercukupi, sebagaimana Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menjadi makhluk yang paling sempurna.

======================================================================================================

فَإِنَّ مَنْ يَنْشَغِلُ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَيَنْشَغِلُ بِعِبَادَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَيَتَعَلَّقُ قَلْبُهُ بِهِ جَلَّ وَعَلَا تَعَلُّقًا كُلِّيًّا

لَا عِبَادَةَ لِسَانٍ وَلَا عِبَادَةَ بَدَنٍ

وَإِنَّمَا عِبَادَةُ قَلْبٍ مَعَهَا

فَإِنَّهُ يَنْسَى الدُّنْيَا كَامِلَةً

وَلَأَعْجَبُ مِنْ ذَلِكَ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ

حِيْنَمَا يَكُونُ جَالِسًا فِي صِلَاتِهِ فَيَأْتِيهِ… النَّحْلُ

فَيَلْدَغُهُ مَرَّةً وَثَانِيَةً وَثَالِثَةً وَلَا يَتَحَرَّكُ مِنْ مَكَانِهِ

مَا يَحِسُّ مَا يَحِسُّ

وَلِذَلِكَ أَلَّفَ أَبُو نُعَيْمٍ الْأَصْبَهَانِيُّ كِتَابًا سَمَّاهُ رِيَاضَةَ الْأَبْدَانِ

وُجِدَ بَعْضُهُ وَفُقِدَ أَكْثَرُهُ

فِي هَذَا الْكِتَابِ وَفِي غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ

عِنْدَ الْمُتَعَبِّدِينَ وَالزُّهَّادِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ

يُبَيِّنُونَ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا انْقَطَعَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

مِنْ ذِكْرٍ وَغَيْرِهِ ذِكْرِ اللهِ أَوْ فِي صَلَاةٍ أَوْ فِي غَيْرِهَا

يَنْشَغِلُ بِاللهِ عَمَّا سِوَاهُ

يَنْشَغِلُ

وَلِذَلِكَ الشَّيْخُ تَقِيُِّ الدِّينِ لَمَّا… كَمَا قَالَ عَنْهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ

أَنَّهُ كَانَ يَحْرِصُ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

فَلَمَّا قِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ غُدْوَتِي

وَإِذَا لَمْ أَتَغَدَّ هَذَا الذِّكْرَ أَرَى مِنْ نَفْسِيْ مِنْ بَدَنِي ضَعْفًا

أَرَى الضَّعْفَ يَلْحَظُ فِي نَفْسِهِ الضَّعْفَ

إِذَا مَا قَالَ هَذِهِ الْأَذْكَارَ

فَهُوَ لَيْسَ أَنَّهُ مِنْ بَابٍ أَنَّهَا وَقَتْهُ مِنَ الشَّرِّ

وَإِنَّمَا هِيَ أَنَّ… أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدَ أَغْنَاهُ بِهَا وَقَوَّاهُ

وَلِذَلِكَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ هَذَا مُلَاحَظٌ

أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا انْشَغَلَ بِطَاعَةِ اللهِ وَأَقْبَلَ عَلَيْهَا بِكُلِّيَّتِهِ

وَتَعَلَّقَ بِهَا قَلْبُهُ أَنَّهُ يَغْتَنِي

مِثْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَكْمَلُ الْخَلْقِ

 

Inilah Nyawa & Kehidupan Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Inilah Nyawa & Kehidupan Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Kita perlu untuk kembali kepada al-Quran dan merenungkan maknanya, Saudara-saudara. Jika Anda sudah rutin membaca Kitab Allah atau telah menghafal sebagiannya, maka pelajari juga tafsirnya. Rutinkan juga untuk membaca tafsirnya, pelajari, renungkan, baca dan tadaburi, hingga Anda merasakan nikmatnya al-Quran ini di hati Anda. Sungguh …

Baca selengkapnya…Inilah Nyawa & Kehidupan Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Sebab Penting Doa Terkabul – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Sebab Penting Doa Terkabul – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Seseorang berdoa secara rahasia, sehingga tidak seorang pun yang melihatnya atau mendengarnya. Hal ini lebih layak dilakukan ketika berdoa, karena doa yang tersembunyi sangat menunjukkan keikhlasan doanya, yang merupakan syarat yang sangat penting dikabulkannya doa dan diterimanya semua amalan.

Para ulama juga mengatakan bahwa jika seseorang dikaruniai kemampuan untuk berdoa itu adalah nikmat yang Allah Ta’ālā anugerahkan kepadanya. Jadi, wahai hamba Allah, jika Anda dapati dalam diri Anda ada kemauan yang kuat dan semangat dalam berdoa, maka ketahuilah bahwa ada sesuatu di balik itu dan bahwa doa itu pasti dikabulkan.

Para ulama berkata bahwa hendaknya dia sembunyikan doanya, agar tidak ada orang yang hasad dengan kenikmatan yang ada padanya ini. Doa bukan sekadar seseorang mengangkat tangannya, lalu mengucapkan permintaannya sedangkan hatinya lalai dan tidak serius, sebagaimana itu keadaan kebanyakan kita di banyak kesempatan.

Namun, doa adalah ketika seseorang mengangkat tangannya dengan menghadirkan hatinya, penuh kekhusyukan, dan mengemis kepada Tuhannya agar doanya dikabulkan.

Jika doanya terwujud, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak, hendaknya dia pahami bahwa Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mahabijaksana, yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat. Bisa jadi, yang lebih baik untuk seorang hamba adalah dengan dikabulkan doanya.

Bisa jadi juga, yang lebih baik untuknya adalah ditundanya permintaannya. “Boleh jadi kalian tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

================================================================================

وَيَدْعُو خُفْيَةً بِحَيْثُ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ

وَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ هَذَا الْأَوْلَى فِي الدُّعَاءِ

لِأَنَّ الدُّعَاءَ خُفْيَةً أَدَلُّ عَلَى إِخْلَاصِ الدُّعَاءِ

وَهُوَ شَرْطٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ

وَفِي قَبُولِ كُلِّ عَمَلٍ

قَالَ الْعُلَمَاءُ أَيْضًا وَلِأَنَّ الدُّعَاءَ إِذَا فُتِحَ عَلَى الْإِنْسَانِ

فَهِيَ نِعْمَةٌ فَتَحَهَا اللهُ تَعَلَى عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَيْتَ يَا عَبْدَ اللهِ مِنْ نَفْسِكَ

رَغْبَةً فِي الدُّعَاءِ وَحِرْصًا عَلَيْهِ

فَاعْلَمْ أَنَّ وَرَاءَ هَذَا الْأَمْرِ شَيْءٌ

وَأَنَّ الْإِجَابَةَ حَاصِلَةٌ وَلَا بُدَّ

قَالُوا: فَيُخْفِي دُعَاءَهُ

حَتَّى لَا يُحْسَدَ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ

وَلَيْسَ الدُّعَاءُ بِأَنْ يَرْفَعَ الْإِنْسَانُ كَفَّيهِ

وَيَقُولُ كَلِمَاتٍ بِلِسَانِهِ وَقَلْبُهُ غَافِلٌ لَاهِنٌ

كَمَا هُوَ حَالُنَا فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ

وَلَكِنَّ الدُّعَاءَ إِذَا رَفَعَ كَفَّيهِ

أَنْ يُحْضِرَ قَلْبَهُ وَيَتَضَرَّعَ

وَيُلِحَّ عَلَى رَبِّهِ فِي إِجَابَةِ دَعْوَتِهِ

فَإِنْ حَصَلَ مَقْصُودُهُ فَذَاكَ

وَإِلَّا… فَلْيَعْلَمْ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَكِيمٌ

يَضَعُ كُلَّ شَيْءٍ فِي مَوضِعِهِ الْمُنَاسِبِ لَهُ

فَقَدْ يَكُونُ مِنَ الْخَيْرِ لِلْعَبْدِ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ

وَقَدْ يَكُونُ مِنَ الْخَيْرِ أَنْ تُؤَجَّلَ دَعْوَتُهُ

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ

وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ