Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Bersikap sombong haram hukumnya

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)

Bersikap sombong hukumnya haram.

Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.”

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku.

Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.”

Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga.

Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan)

Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala.

Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir.

Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri,
siapa pun itu.
Selain Allah tidak berhak untuk sombong.

Apa yang mau disombongkan?!

Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?!

Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.”

Lalu apa yang dapat ia sombongkan?!

Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya.

Apa yang mau ia sombongkan?!

Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya.

Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala,
karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya,
maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13)

Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong.

Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina.

===

الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ

وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي

فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ

فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ

وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا

لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ

أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ

أَيًّا كَانَ

لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ

وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا

فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ

فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ

تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19)

Langit terbuka.
“Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16)
sebagaimana dalam ayat lain,
“Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1)

Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1)

Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu,
yang jika seseorang memandangnya,
seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya.

“Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20)

yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan,
lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa.

Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan.

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya.

Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā,
Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14)
terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla
“Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105)

Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan
tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah,
yakni timbunan pasir.
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla:
“Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras,
hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14)
yakni timbunan pasir.

Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan,
yakni bulu hewan yang dihamburkan,
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla:

“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)

Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan,

“Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6)

yakni seperti butiran debu yang berterbangan.
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla

“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa?

“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5)

“Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6)
hingga habis gunung-gunung di bumi,
sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih,

sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari)

Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

===

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

فُتِحَتِ السَّمَاءُ

وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ

كَمَا فِي آيَةٍ أُخَرَ

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

وَانْفَطَرَتْ السَّمَاءُ

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

تَشَقَّقَتْ فَكَانَ فِيهَا مِمَّا فَتَحَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبْوَابًا

يَنْظُرُ النَّاظِرُ إِلَيْهَا

فَيَرَاهَا كَالْْأَبْوَابِ وَاللهُ أَعْلَمُ

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

كَالسَّرَبِ الَّذِي يَرَاهُ الْإِنْسَانُ مِنْ بُعْدٍ

يَتَخَيَّلُهُ مَاءً ثُمَّ لَا يَجِدُهُ شَيْئًا

وَالْجِبَالُ يَا إِخْوَانُ تَمُرُّ بِأُمُورٍ وَأَحْوَالٍ

وَقَدْ ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَعْرِضُ لَهَا

فَمَرَّةً بِالدَّكِّ كَمَا فِي قَوْلِ تَعَالَى

هَا يَا إِخْوَانُ؟

وَحُمِلَتِ الأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا

وَأَحْيَانًا بِالنَّسْفِ كَمَا فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

وَيَذْكُرُ الْمُفَسِّرُونَ كَالشَّيْخِ ابْنِ الْعُثَيْمِينِ وَغَيْرِهِ

ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ ذُكِرَتْ فِي كِتَابِ اللهِ حَوْلَ الْجِبَالِ

الْحَالُ الْأُوْلَى أَحَدٌ يَذْكُرُ يَا إِخْوَانُ

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

نَعَمْ أَنَّهَا تَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًا

كَكَثِيبِ الرَّمْلِ

وَهَذَا فِي قَوْلِ عَزَّ وَجَلَّ

يَوْمَ تَرْجُفُ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ

وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيْبًا مَّهِيْلًا

كَكَثِيْبِ الرَّمْلِ

الثَّانِي تُشْبِهُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

كَالصُّوفِ الْمُنْتَفِشِ

وَهَذَا فِي قَوْلِ عَزَّ وَجَلَّ

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ

الثَّالِثُ تَزُولُ الْجِبَالُ تَمَامًا وَتُشْبِهُ كَمَا ذَكَرَ اللهُ

هَبَاءً مُنْبَثًّا

يَكُونُ كَرَهَاجِ الْغُبَارِ كَالْغُبَارِ

وَهَذَا فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ

إِذَا رُجَّتِ الأَرْضُ رَجًّا

أَيشْ؟

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا

فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

وَتَنْتَهِي الْجِبَالُ يَا إِخْوَانُ

حَتَّى تُشْبِهُ الْأَرْضُ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ أَوْ نَقِيٍّ

كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: كَقُرْصَةٍ

لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

كُلُّ شَيْءٍ زَالَ فِيهَا وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla,

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang
dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87)

Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut
kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, Allah berfirman,
Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara?
Apa?

“Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu
kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88)

Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini?

Aku juga ikut ujian seperti kalian.
Apa?
Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya
dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …”
Apa?
Merasa cukup dengan Al-Qur’an.

Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla,
maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya,
karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki,
yaitu kekayaan hati.

Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta,
seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan,

“Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda,
akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah)

Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana?
Al-Qur’an ada dalam hati.
Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara,
bukan di lisan.

Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman,

“Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192)

“Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193)
“Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194)

“Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati,
niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya
untuk melihat dunia dan seisinya.

Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia.

Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia,
apa yang terjadi?

Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara,
karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain.

====

كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي

وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ

عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا

الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ

هَا؟

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ

إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ

طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟

أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ

هَا؟

الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ

ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ

هَا؟

الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ

أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ

وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ

فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ

كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ

إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ

وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟

إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ

هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ

وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ

وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

عَلَى قَلْبِكَ

عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ

أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ

إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا

فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا

فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟

مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟

يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga …

Baca selengkapnya…Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya.

“Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)

Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

nbsp;

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, …

Baca selengkapnya…Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama