Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Adapun tentang surat al-Ikhlas,
maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.”

Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran
adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum,
ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan),
dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah.

Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla.

Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi,

sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas.

(ARTI AYAT PERTAMA)
Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.”

Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah,
Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu
dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
dan dalam uluhiyah-Nya.

Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi.

Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya.

Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya,
karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah.

Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid,
yaitu kalimat “La ilaha illallah”.

(ARTI AYAT KEDUA)
Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan.

Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya,
dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi.
Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk
untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya.

Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan,
sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap,
terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan.

(ARTI AYAT KETIGA)
Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji
dari memiliki seorang anak.

Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah,
dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah,
serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah.

Bagaimana Dia memiliki anak,
sedangkan Dia tidak memiliki istri?!
Mahasuci Allah dari memiliki anak.

Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi.
Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya,
sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji.

Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya.

Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi.

Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya.
Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya.

Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui.

(ARTI AYAT KEEMPAT)
Tidak ada yang setara dengan-Nya.

Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
—Subhanahu wa bihamdihi.

Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)

llah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21)

===

أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ

فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ

وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ

وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ

وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ

قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ

أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ

الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ

فِي رُبُوبِيَّتِهِ

وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ

فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ

وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ

إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ

وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ

كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا

وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ

وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ

أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ

وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم

فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا

طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ

لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ

وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ

وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ

أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ

وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ

سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ

وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ

وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ

وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ

وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ

وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ

سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!”

Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

======================================================================================================

فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ

خَوْفَ مَضَرَّتِهَا

كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا

الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا

إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ

لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri …

Baca selengkapnya…Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Saja Salat Sunah Rawatib? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

\

Apa Saja Salat Sunah Rawatib? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa saja yang termasuk Salat Sunah Rawatib? Terdapat perbedaan pendapat, apakah Salat Sunah Rawatib terdiri dari 10 atau 12 rakaat. Ada perbedaan pendapat, apakah Salat Sunah Rawatib 10 atau 12 rakaat.

Adapun yang berpendapat 10 rakaat, maka itu adalah 2 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelah Zuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Inilah yang 10 rakaat. Sedangkan yang berpendapat 12 rakaat, maka yang sebelum Zuhur adalah 4 rakaat (2 rakaat salam dan 2 rakaat salam)

Inilah salat-salat Sunah Rawatib. Makna Salat Sunah Rawatib adalah salat-salat sunah yang senantiasa dilaksanakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada juga salat sunah lainnya, tetapi bukan Sunah Rawatib, seperti Salat Duha; Nabi dahulu melaksanakannya dan terkadang meninggalkannya, seperti juga salat sunah antara Salat Maghrib dan Isya, terkadang Nabi melaksanakannya dan terkadang tidak; untuk menjelaskan itu sunah, yakni menjelaskan bahwa itu Salat Sunah Mutlaq saja. Para ulama menyebutnya sebagai sunah yang bukan rawatib. Adapun Sunah Rawatib adalah sunah yang senantiasa dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

======================================================================================================

مَا السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ؟

السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ يُخْتَلَفُ فِيهَا أَهِيَ عَشْرٌ أَمِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً

مُخْتَلَفٌ فِيهَا هَذِهِ عَشْرُ رَكَعَاتٍ أَوِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً

مَنْ يَقُولُ عَشْرَ رَكَعَاتٍ يَقُولُ اثْنَتَانِ قَبْلَ الظُّهْرِ اثْنَتَانِ بَعْدَهَا

وَاثْنَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَاثْنَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَاثْنَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ

هَذِهِ عَشْرٌ

وَمَنْ قَالَ هِيَ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً يَجْعَلُ قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا

فَيَقُولُ هَذِهِ السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ

وَمَعْنَى الرَّوَاتِبِ هِيَ الَّتِي كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لَكِنْ فِيهِ سُنَنٌ أُخْرَى لَكِنَّهُ غَيْرُ رَاتِبَةٍ

مِثْلُ سُنَّةِ الضُّحَى النَّبِيُّ كَانَ يَفْعَلُهَا وَيَتْرُكُهَا

مِثْلُ الصَّلَاةِ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

13
كَانَ النَّبِيُّ يُصَلِّيَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَأَحْيَانًا لَا يُصَلِّي لِيُبَيِّنَ السُّنَّةَ

الَّتِي هِيَ النَّفْلُ الْمُطْلَقُ هَكَذَا

هَذِهِ يُسَمُّونَهَا سُنَنًا غَيْرَ رَاتِبَةٍ

الرَّاتِبَةُ هِيَ الَّتِي كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

 

3 Cara Terbebas dari Godaan Was-was Setan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

3 Cara Terbebas dari Godaan Was-was Setan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Bagaimana cara agar seseorang dapat terbebas dari setan dan godaannya?
PERTAMA:
Seseorang dapat terbebas darinya dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena zikir kepada Allah adalah hal paling agung yang dapat melindungi seorang Muslim dari godaan waswas setan. Zikir merupakan benteng yang kokoh dan perlindungan yang kuat yang jika seorang Muslim memasukinya, maka setan tidak akan mampu menembusnya dengan cara apa pun.

KEDUA:
Seseorang harus meminta perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari setan ketika ia sedang menggoda. Dalam hadis Utsman bin Abi al-Ash yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahih disebutkan bahwa ia pernah mengadu, “Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangiku dari salatku, ia membuatku ragu dalam salatku.” Beliau menanggapi, “Itu adalah setan yang disebut dengan Khinzab, jika kamu merasakan kehadirannya, maka tiuplah ke arah kirimu sebanyak 3 kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah darinya.”
Utsman bin Abi al-Ash berkata, “Lalu aku mempraktekkannya, sehingga Allah pun menjauhkannya dariku.” Yakni ia menengok sedikit ke arah kiri, meskipun ia sedang salat, kemudian meniup sebelah kirinya seraya berkata, “A’uudzubillaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Ia pun mengatakan, “… sehingga Allah pun menjauhkan setan dariku.”

KETIGA:
Hal ketiga yang menjadi cara untuk menangani godaan-godaan setan ini yang terbesit di dalam hati dan mendatangi jiwa, adalah dengan segera menghentikan bisikan itu. Jika setan membisikkan godaan itu ke dalam dirimu, wahai hamba Allah, maka segera hentikanlah, karena ia akan berkesinambungan (jika tidak dihentikan). Jika seseorang dapat segera memotongnya dengan kekuatan dari Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya, maka godaan itu akan berakhir. Namun jika ia membiarkannya, maka ia tidak akan usai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu ia akan membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika seseorang mendapati hal itu, maka hendaklah ia katakan, ‘Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.’” Lalu hendaklah ia segera berhenti mengikuti bisikan itu. Jika ia berhenti darinya dan tidak mempedulikannya lagi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskannya darinya.

======================================================================================================

وَكَيْفَ يَتَخَلَّصُ الْإِنْسَانُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ؟

يَتَخَلَّصُ مِنْهُ أَوَّلًا بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ

أَعْظَمُ مَا يَعْتَصِمُ بِهِ الْمُسْلِمُ

مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِيْنِ

فَالذِّكْرُ هُوَ الْحِصْنُ الْحَصِيْنُ وَالْحِرْزُ الْمَكِيْنُ

الَّذِي إِذَا دَخَلَ فِيهِ الْمُسْلِمُ

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْفُذَ إِلَيْهِ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَتَعَوَّذَ الْإِنْسَانُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الشَّيْطَانِ عِنْدَ الْوَسْوَسَةِ

وَفِي حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيحِ

إِنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ

إِنَّ الشَّيْطَانَ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ

قَالَ ذَلِكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ

فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَانْفُثْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا

وَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ

قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّيْ

أَيْ يَلْتَفِتُ عَنْ يَسَارِهِ حَتَّى وَلَوْ كَانَ فِي الصَّلَاةِ قَلِيلًا

وَيَنْفُثُ عَنْ يَسَارِهِ وَيَقُولُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَالَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي

الْأَمْرُ الثَّالِثُ مِنْ وَسَائِلِ

الْعِلَاجِ عِلَاجِ هَذِهِ الْوَسَاوِسِ

وَالَّتِي تَخْطُرُ عَلَى الصُّدُورِ

وَتَرِدُ عَلَى النُّفُوسِ

أَنْ يَنْتَهِيَ الْإِنْسَانُ مِنْهَا

فَإِذَا قَذَفَ الشَّيْطَانُ فِي رُوعِكَ يَا عَبْدَ اللهِ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْوَسَاوِسِ

فَانْتَهِ

فَإِنَّهَا حَلَقَاتٌ

إِنْ تَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَقْصِمَهَا بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِهِ انْتَهَتْ

وَإِنْ تَرَكَهَا فَإِنَّهَا لَا تَنْتَهِي

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ

فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ هَذَا؟ مَنْ خَلَقَ هَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ اللهَ؟

فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

ثُمَّ لِيَنْتَهِي

فَإِذَا انْتَهَى عَنْهَا تَشَاغَلَ عَنْهَا

فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُرِيْحُهُ مِنْهَا

 

Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kalimat yang terucap oleh lisan, yang berupa zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla memiliki berbagai jenis. Di antara yang paling agung adalah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Kalimat yang paling Allah cintai ada empat: Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.”

Empat kalimat ini adalah kalimat yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini disepakati menjadi kalimat yang paling dicintai oleh Allah, karena dua hal yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua riwayat hadis yang telah disebutkan itu. Riwayat pertama adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling baik adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).”

Lalu riwayat kedua adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling utama adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).” Empat kalimat tersebut berada dalam kedudukan yang sempurna ini, karena empat kalimat itu adalah ucapan yang paling baik, dan empat kalimat itu juga merupakan ucapan yang paling utama, sehingga dengan itu, empat kalimat ini menjadi ucapan yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ucapan yang paling Allah cintai adalah lisan yang berucap ketika salah satu dari kita berkata: “Subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.”

================================================================================

وَالْكَلِمَاتُ الَّتِي يَجْرِي بِهَا اللِّسَانُ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

أَنْوَاعٌ مُخْتَلِفَةٌ

وَمِنْ أَعْظَمِهَا مَا ذَكَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي قَوْلِهِ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَاتَّفَقَ كَوْنُهُنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ

لِأَمْرَيْنِ ذَكَرَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي رِوَايَتَيِ الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ

إِحْدَاهُمَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَطْيَبُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

وَالْأُخْرَى قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَفْضَلُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْمُنِيْفِ

لِأَنَّهُنَّ مِنْ أَطْيَبِ الْكَلَامِ

وَهُنَّ أَيْضًا مِنْ أَفْضَلِ الْكَلَامِ

فَبِذَلِكَ صَارَتْ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ

أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَأَحَبُّ الكَلَامِ إِلَيْهِ جَرَيَانُ اللِّسَانِ فِي قَوْلِ أَحَدِنَا

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ