Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah …

Baca selengkapnya…Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Kesembilan, orang yang meyakini bahwa sebagian orang tidak wajib mengikuti Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bisa keluar dari syariat beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam —sebagaimana Khiḍir bisa keluar dari syariat Musa ʿalaihis salām— maka dia kafir.” Pertama, tentang Khiḍir, …

Baca selengkapnya…Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Induk Semua Kitab Hadis – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis ini riwayatnya berporos pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra. Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini. Bahkan Abul …

Baca selengkapnya…Induk Semua Kitab Hadis – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Batas-batas Aurat Wanita – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Ia bertanya: “Sampai mana batas aurat wanita di depan mahramnya dan di depan sesama wanita,
dan sampai mana batas auratnya di depan pria (yang bukan mahram)?”

“Apakah kedua tangan wanita merupakan aurat di depan pria (yang bukan mahram)?”

“Kami mengharapkan jawaban dan penjelasannya, karena sangat dibutuhkan banyak orang di zaman ini,
terlebih lagi bagi kaum wanita.”

Aurat wanita di depan mahramnya adalah anggota badan yang biasa terlihat,
seperti dua lengan, dua telapak kaki,
kepala, rambut,
leher, dan anggota badan yang harus disingkap saat berwudhu.

Anggota badan ini harus disingkap, dan biasanya terlihat.

Karena seandainya wanita diharuskan untuk menutup seluruh badannya di depan mahramnya,
maka itu pasti akan memberatkannya.

Ini juga auratnya di depan sesama wanita,
karena para wanita juga disebutkan setelah para mahram
dalam ayat pada surat an-Nur (ayat 31) dan al-Ahzab (ayat 55).

Meskipun pendapat beberapa ulama, bahkan disebut sebagian mereka sebagai pendapat jumhur,
bahwa aurat wanita di depan sesama wanita seperti aurat lelaki di depan sesama lelaki,
yaitu dari pusar hingga lutut, tapi pendapat ini tidak memiliki landasan dalil, meskipun itu pendapat jumhur ulama,
dan dua ayat dalam surat an-Nur dan al-Ahzab itu membantah pendapat tersebut.

Jadi, aurat wanita di depan wanita lain seperti auratnya di depan mahramnya.

Pemberian fatwa berdasarkan pendapat jumhur ulama membawa pengaruh
banyak wanita yang kendor dan meremehkan urusan hijabnya,
serta aurat menjadi ditampakkan, bahkan aurat ditampakkan yang membuat kita mengernyitkan dahi.

Beberapa wanita menyebutkan bahwa di beberapa kesempatan, aurat utama banyak diumbar.

Hanya dilapisi pakaian tipis yang tidak dapat menutup aurat.

Mereka juga menyebutkan hal-hal lain yang tidak mungkin disebutkan di sini.

Semua ini adalah pengaruh dari fatwa yang efek negatifnya tidak dipelajari terlebih dahulu.

Padahal ayat dalam surat an-Nur dan al-Ahzab menyebutkan para wanita setelah mahram,
sehingga bagian tubuh wanita yang boleh diperlihatkan kepada saudaranya, ayahnya, pamannya,
ayah mertuanya, dan anak tirinya seperti yang boleh ia perlihatkan kepada wanita lain.

Yang boleh ia perlihatkan ke wanita lain adalah seperti yang boleh ia perlihatkan untuk para mahramnya.

Apabila terdapat fitnah bahkan dari sesama wanita sendiri, (maka tidak boleh ditampakkan).

Yakni jika menampakkan anggota tubuh menimbulkan fitnah antara seseorang dengan saudaranya,
maka ia tidak boleh menampakkan anggota badannya itu.

Jika timbul fitnah—dan para ulama fokus pada anak tiri,
dan memang banyak timbul fitnah darinya, padahal ia adalah mahramnya.

Jika timbul fitnah seperti ini (dari menampakkan anggota badan), maka pintu fitnah ini harus ditutup.

Dapat timbul pula fitnah antar sesama wanita seperti fitnah yang timbul antara pria dan wanita.

Ditemui juga perilaku-perilaku di antara mereka yang tidak mungkin di sebutkan di tempat ini dan di hadapan wajah-wajah mulia ini.

Ditemui juga perilaku-perilaku di antara mereka yang tidak mungkin di sebutkan di tempat ini dan di hadapan wajah-wajah mulia ini.

Saudara-saudara yang mencermati perkara-perkara seperti ini
menyebutkan banyak bentuk perilaku ini.

====

يَقُولُ مَا حَدُّ عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ أَمَامَ مَحَارِمِهَا وَأَمَامَ النِّسَاءِ

وَمَا مِقْدَارُ عَوْرَتِهَا أَمَامَ الرِّجَالِ؟

وَهَلْ يَدَاهَا عَوْرَةٌ أَمَامَ الرِّجَالِ؟

نَأْمَلُ الْإِجَابَةَ وَالتَّوْضِيحَ لِحَاجَةِ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ

وَبِخَاصَّةٍ لِلنِّسَاءِ

عَوْرَةُ الْمَرْأَةِ أَمَامَ الْمَحَارِمِ هِيَ مَا يَظْهَرُ غَالِبًا

مِنَ الذِّرَاعَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ

وَالرَّأْسِ وَالشَّعْرِ

وَالْعُنُقِ وَمَا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي الْوُضُوءِ

هَذِهِ تَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهِيَ غَالِبًا تَخْرُجُ

لِأَنَّهَا لَوْ كُلِّفَتْ أَنْ تَسْتُرَ جَمِيعَ بَدَنِهَا أَمَامَ الْمَحَارِمِ

لَشَقَّ عَلَيْهَا ذَلِكَ

وَهِيَ عَوْرَتُهَا أَمَامَ النِّسَاءِ

لِأَنَّ النِّسَاءَ عُطِفْنَ عَلَى الْمَحَارِمِ

فِي آيَتَيِ النُّورِ وَالْأَحْزَابِ

وَإِنْ كَانَ قَوْلُ جَمْعٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بَلْ يَنْسِبُهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْجُمْهُورِ

أَنَّ عَوْرَتَهَا أَمَامَ النِّسَاءِ كَعَوْرَةِ الرَّجُلِ أَمَامَ الرِّجَالِ

مِنَ السُّرَّةِ إِلَى الرُّكْبَةِ لَكِنَّ هَذَا الْقَوْلَ لَا يَدُلُّ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَإِنْ كَانَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ

وَالْآيَتانِ فِي سُورَةِ النُّورِ وَالْأَحْزَابِ تَرُدَّانِ هَذَا الْقَوْلَ

فَعَوْرَتُهَا عِنْدَ النِّسَاءِ مِثْلُ عَوْرَتِهَا أَمَامَ الْمَحَارِمِ

وَتَرَتَّبَ عَلَى إِفْتَائِهَا بِقَوْلِ الْجُمْهُورِ

أَنْ تَنَازَلَ كَثِيرٌ مِنَ النِّسَاءِ وَتَسَاهَلُوا فِي أَمْرِ الْحِجَابِ

وَأُظْهِرَتِ الْعَوْرَاتُ

بَلِ الْعَوْرَاتُ يَعْنِي شَيْءٌ يَنْدَى لَهُ الْجَبِينُ

تَذْكُرُ بَعْضُ النِّسَاءِ أَنَّهُ فِي بَعْضِ الْمُنَاسَبَاتِ تُرَى الْعَوْرَاتُ الْمُغَلَّظَةُ

يُلْبَسُ عَلَيْهَا أَشْيَاءَ رَقِيقَةً لَا تَسْتُرُهَا

وَتَذْكُرُنَا أَشْيَاءَ لَا يُمْكِنُ الْجَهْرُ بِهَا

كُلُّ هَذَا مِنْ آثَارِ هَذِهِ الْفَتْوَى الَّتِي لَمْ تُدْرَسْ آثَارُهَا

مَعَ أَنَّ الْآيَةَ فِي سُورَةِ النُّورِ وَفِي سُورَةِ الْأَحْزَابِ عَطَفَتِ النِّسَاءَ عَلَى الْمَحَارِمِ

فَيَبْقَى أَنَّ مَا تُظْهِرُهُ لِأَخِيْهَا وَلِأَبِيْهَا وَلِعَمِّهَا

وَلِوَالِدِ زَوْجِهَا وَابْنِ زَوْجِهَا مِثْلُ مَا تُظْهِرُهُ لِلنِّسَاءِ

مَا تُظْهِرُهُ لِلنِّسَاءِ هُوَ مَا تُظْهِرُهُ لِهَؤُلَاءِ الْمَحَارِمِ

وَإِذَا وُجِدَ فِتْنَةٌ وَافْتِتَانٌ حَتَّى مِنَ النِّسَاءِ

يَعْنِي لَوْ وُجِدَ فِتْنَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِلْأَخِ مَعَ أَخِيهِ

فَلَا يَجُوزُ أَنْ تُبْدِيَ شَيْئًا مِنْ بَدَنِهِ

وَإِذَا وُجِدَ فِتْنَةٌ وَأَهْلُ الْعِلْمِ يُرَكِّزُوْنَ عَلَى وَلَدِ الزَّوْجِ عَلَى وَلَدِ الزَّوْجِ

وَالْفِتْنَةُ تَحْصُلُ بِهِ كَثِيرًا مَعَ أَنَّهُ مَحْرَمٌ

فَإِذَا وُجِدَ مِثْلَ هَذِهِ الْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ سَدِّ هَذِهِ الذَّرِيعَةِ

وَأَيْضًا النِّسَاءُ وُجِدَ مِنْهُنَّ وَبَيْنَهُنَّ مَا يُوجَدُ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

وَعُثِرَ عَلَى مُمَارَسَاتٍ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُذْكَرَ فِي هَذَا الْمَكَانِ وَبَيْنَ هَذِهِ الْوُجُوهِ

وَالْإِخْوَانُ الْمُتَتَبِّعُوْنَ لِهَذِهِ الْأُمُورِ يَذْكُرُوْنَ صُوَرًا عَدِيدَةً مِنْ هَذَا النَّوْعِ

Satu Sebab Untung di Akhirat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Salah satu sebab keselamatan di Hari Kiamat adalah banyak beristighfar,
yaitu dengan kamu banyak mengucapkan istighfar.

Istighfar adalah meminta ampunan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam telah bersabda, “Beruntunglah
orang yang mendapati istighfar yang banyak di catatan amalnya pada hari kiamat.”

Jadi, istighfar adalah salah satu sebab keselamatan dari kebinasaan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka,
dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka beristighfar meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)

Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
bahwa ia berkata, “Aku heran pada orang yang binasa, padahal kunci keselamatan ada padanya.”
“Aku heran pada orang yang binasa, padahal kunci keselamatan ada padanya.”

Ali ditanya, “Apa kunci keselamatan itu?”

Ali menjawab, “Istighfar.”

====

وَمِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَثْرَةُ الِاسْتِغْفَارِ

أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ

وَالِاسْتِغْفَارُ هُوَ طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَقَدْ قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ طُوبَى

لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ مُوجِبَاتِ النَّجَاةِ وَالسَّلَامَةِ مِنَ الْهَلَاكِ

فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ

وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

وَلِهَذَا يُرْوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّهُ قَالَ عَجِبْتُ لِمَنْ يَهْلَكُ وَالنَّجَاةُ مَعَهُ

عَجِبْتُ لِمَنْ يَهْلَكُ وَالنَّجَاةُ مَعَهُ

قِيلَ وَمَا هِيَ؟

قَالَ الِاسْتِغْفَارُ

Keutamaan Sholat Dhuha – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Sebagai contoh, dua rakaat Salat Duha. Nabi menyebutkan bahwa tidak ada seorang hamba yang masuk waktu pagi kecuali ia wajib mengeluarkan 360 sedekah setiap hari. Lalu para sahabat berkata, “Tidak semua dari kita mampu melakukan itu.” Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya setiap bacaan takbir adalah sedekah, setiap bacaan hamdalah adalah sedekah, setiap bacaan tasbih adalah sedekah, …

Baca selengkapnya…Keutamaan Sholat Dhuha – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama