Mengapa Kau Sulit Khusyuk Ketika Shalat? – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Mengapa sekarang kita sering mengeluhkan sulitnya khusyuk dalam salat,
tidak bisa menangis karena takut kepada Allah?

Karena fokus hati kita sudah terpecah dengan memikirkan kesenangan dunia,
dengan syahwat dan kelezatannya,
dengan berbagai masalah dan kekhawatirannya,
karena ada noda itu di dalam hati kita.

Inilah masalahnya!

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan senda gurau,
perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian,
serta berlomba memperbanyak kekayaan dan anak keturunan,

hal itu seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani,
namun kemudian, semua itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya menguning, lalu hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)

Inilah realita dunia, bagi mereka yang menjadikannya sebagai tujuan hidup.

Adapun mereka yang hidup di dunia, dan tujuannya adalah akhirat,
maka dunia menjadi ladang dan jalan baginya menuju akhirat.

Maka, seorang Muslim, hendaknya jangan sampai mengaitkan hatinya
pada kenikmatan-kenikmatan dunia ini,
dan hendaknya seorang Muslim tidak memperbanyak hal-hal tersier yang tidak penting
dan kesenangan dunia, karena inilah penyakit di zaman kita ini.

Hidup kita semuanya menjadi serba bermewah-mewah dan bersenang-senang. Allahul musta’an!

Oleh karena itu, mengapa manusia menjadi sibuk?

Karena banyaknya kesenangan hidup yang dia miliki di dunia.

Dia menjadi sibuk! Anda tanya seseorang, “Kemana Anda pergi, sore tadi?”

“Aku pergi ke tempat itu untuk keperluan itu.”

“Hari ini, aku pergi ke sini.” “Hari ini, aku pergi ke sana.”

Semuanya demi sesuatu, yang pada akhirnya
tidak begitu dibutuhkan oleh seseorang.

Hidupnya tidak akan terganggu, jika dia meninggalkan hal-hal ini.

Tapi, demikianlah, sangat disayangkan, hidup kita jadi seperti itu.

Kita meminta kepada Allah Ta’ālā agar melindungi kita dari kotoran ini,
kotoran dunia dan keterkaitan hati padanya,
dan menjadikan fokus utama kita adalah agama kita,
perhatian terbesar kita adalah Allah, dan perjumpaan dengan Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi.

====

لِمَاذَا الْيَوْمَ نَحْنُ نَشْتَكِي مِنْ قِلَّةِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ

مِنْ عَدَمِ الْبُكَاءِ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ؟

لِأَنَّ قُلُوبَنَا أَصْبَحَتْ مُفَرَّقَةً فِي مَتَاعِ الدُّنْيَا

فِي شَهَوَاتِهَا فِي مَلَذَّاتِهَا

فِي مَشَاكِلِهَا فِي هُمُومِهَا

لِأَنَّ لَهَا كَدَرًا فِي قُلُوبِنَا

هَذِهِ الْمُشْكِلَةُ

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ

وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ

وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ

ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

هَذِهِ حَقِيقَةُ الدُّنْيَا لِمَنْ عَاشَ لِأَجْلِهَا

أَمَّا الَّذِي يَعِيشُ فِي الدُّنْيَا لِأَجْلِ الْآخِرَةِ

تَكُونُ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَةِ طَرِيقًا إِلَى الْآخِرَةِ

فَإِذَنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يُعَلِّقَ قَلْبَهُ

بِهَذِهِ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا

وَأَنْ يُكْثِرَ… عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يُكْثِرَ مِنَ الْكَمَالِيَّاتِ

وَمَتَاعِ الدُّنْيَا هَذِهِ مِنْ آفَاتِ عَصْرِنَا الْيَوْمَ

أَصْبَحَتْ حَيَاتُنَا وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ كُلَّهَا كَمَالِيَّاتٍ وَرَفَاهِيَّاتٍ

وَلِذَلِكَ يُشْغَلُ الْإِنْسَانُ لِمَاذَا؟

لِكَثْرَةِ الْمَتَاعِ الَّذِي عِنْدَهُ فِي الدُّنْيَا

يُشْغَلُ تَسْأَلُ فُلَانًا أَيْنَ ذَهَبْتَ عَصْرَ الْيَوْمِ؟

ذَهَبْتُ إِلَى مَحَلِّ فُلَانٍ أُصَلِّحُ الْحَاجَةَ الْفُلَانِيَّةَ

وَذَهَبْتُ الْيَوْمَ إِلَى كَذَا

ذَهَبْتُ الْيَوْمَ إِلَى كَذَا

كُلٌّ لِأَجْلِ أَمْرٍ فِي النِّهَايَةِ

يَسْتَطِيعُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ

لَنْ تَتَعَطَّلَ حَيَاتُهُ إِذَا تَرَكَ هَذِهِ الْأُمُورَ

لَكِن هَكَذَا حَيَاتُنَا أَصْبَحَتْ لِلْأَسَفِ

نَسَأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَصُونَنَا مِنْ هَذِهِ الْأَوْحَالِ

أَوْحَالِ الدُّنْيَا وَالتَّعَلُّقِ بِهَا

وَيَجْعَلُ أَكْبَرَ هَمِّنَا هُوَ دِينُنَا

أَكْبَرَ هَمِّنَا هُوَ رَبُّنَا

أَكْبَرَ هَمِّنَا هُوَ لِقَاءُ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

Bolehkah Mengqada Salat Sunah? – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Menurut para ulama, kaidahnya adalah
bahwa sunah yang dibatasi dengan waktu tertentu,
maka tidak sah jika dikerjakan sebelum waktunya
atau setelah keluar dari waktunya.

Adapun melakukannya sebelum waktunya, maka ini tidak sah.

Hal ini tidak diragukan lagi.

Adapun setelah keluar dari waktunya, maka ini disebut qada.

Tidak ada qada untuk ibadah sunah apa pun,
kecuali yang ada landasan dalilnya dari Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam
pernah mengqada Salat Sunah,
baik Salat Malam atau salat lainnya yang dikerjakan di siang hari,
kecuali jika salatnya adalah Salat Witir atau Salat Sunah Rawatib.

Berdasarkan hal ini, maka tidak ada qada untuk Salat Malam
bagi orang yang mendapati fajar telah terbit
sedangkan ia belum mengerjakan Salat Malam.

Dia tidak perlu mengqada salat apa pun setelah terbitnya fajar,|
kecuali Salat Witir saja, tidak untuk salat lainnya.

Dia boleh mengqadanya setelah terbit fajar.

Hal ini memiliki beberapa keadaan, yang barangkali akan kita bahas dengan izin Allah ʿAzza wa Jalla
dalam pertemuan kedua yang berkaitan tentang Salat Witir dan hukum-hukumnya.

====

الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ

أَنَّ السُّنَنَ إِذَا كَانَتْ مُؤَقَّتَةً بِوَقْتٍ

فَإِنَّهُ لَا يَصْلُحُ فِعْلُهَا قَبْلَ وَقْتِهَا

وَلَا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا

فَأَمَّا فِعْلُهَا قَبْلَ وَقْتِهَا فَلَا يَصِحُّ

وَلَا شَكَّ فِي ذَلِكَ

وَأَمَّا بَعْدَ خُرُوجِ الْوَقْتِ فَإِنَّهُ يُسَمَّى قَضَاءً

وَلَا يُقْضَى شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ

إِلَّا مَا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُ قَضَى شَيْئًا مِنَ الصَّلَوَاتِ

لَا مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَلَا مِنْ غَيْرِهَا مِنْ صَلَوَاتِ النَّهَارِ

إِلَّا أَنْ تَكُونَ الصَّلَاةُ وِتْرًا

أَوْ أَنْ تَكُونَ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ

وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يُقْضَى مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ

لِمَنْ طَلَعَ عَلَيْهِ الْفَجْرُ

وَلَمْ يَكُنْ قَدْ صَلَّى صَلَاةَ اللَّيْلِ

فَإِنَّهُ لَا يُصَلِّي بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ شَيْئًا مِنَ الصَّلَوَاتِ

إِلَّا الْوِتْرَ فَقَطْ دُونَ مَا عَدَاهُ

فَيُصَلِّيهِ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

وَلَهُ أَحْوَالٌ لَعَلَّنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهَا إِنَّ شَاءَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

فِي لِقَائِنَا الثَّانِي الْمُتَعَلِّقِ بِصَلَاةِ الْوِتْرِ وَأَحْكَامِهَا

Dua Tanda Wanita Telah Suci dari Haid – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ini adalah masalah penting bagi kaum wanita. Bagaimana seorang wanita dapat mengetahui bahwa ia telah suci dari haid? Jawabannya, wanita dapat mengetahui hal itu dengan salah satu dari dua tanda. Tanda yang pertama adalah keluarnya cairan putih. Yaitu cairan putih yang keluar dari wanita pada akhir haid yang dikenali kaum wanita. Namun cairan putih ini …

Baca selengkapnya…Dua Tanda Wanita Telah Suci dari Haid – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Makna Syahadat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Syahadat (bersaksi) esensinya adalah
lafaz yang mencakup keyakinan
dan perkataan, serta pengabaran
yang merupakan pemberitahuan.

Berdasarkan hal inilah para Salaf menafsirkan kata “bersaksi”.
Jadi, firman Allah Jalla wa ʿAlā
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang benar) selain Dia; (dan bersaksi pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

“Allah bersaksi …”

Apa maksudnya bahwa Allah bersaksi?

Maknanya, bahwa sesuatu apabila bersaksi
maksudnya ia memberitahu dan mengabarkan.

Jadi, kesaksian seorang Muslim bahwa tiada Tuhan yang benar kecuali Allah,
tidaklah benar jika disembunyikan.

Inilah syahadat (kesaksian).

Barang siapa yang bersaksi demikian dengan hatinya,
akan tetapi tidak menampakkan kesaksian ini
tanpa uzur syar’i,
maka kesaksiannya tidak dianggap.

Bahkan menjadi keharusan dalam kesaksian,
secara makna lafaz yang ditunjukkan oleh bahasa
dan juga yang ditunjukkan oleh dalil syariat,
kesaksian harus disertai dengan menampakkan.

Ini selaras dengan makna Islam,
yang merupakan amalan-amalan lahiriah.

Jadi, masuknya Syahadatain dalam rukun Islam
yang merupakan amalan lahiriah merujuk pada makna syahadat tersebut,
yaitu syahadat yang bermakna menampakkan,
yakni setelah meyakininya,
kemudian menampakkan, memberitahu, atau menyiarkan.

Dari sinilah keyakinan, keyakinan dalam dua kalimat syahadat,
tercakup di dalamnya,
karena dalam makna “bersaksi”
mencakup semua rukun-rukun iman.

====

وَالشَّهَادَةُ فِي نَفْسِهَا

لَفْظٌ فِيهِ الْاِعْتِقَادُ

وَالتَّحَدُّثُ وَالْإِخْبَارُ

الَّذِي هُوَ الْإِعْلَامُ

وَعَلَى هَذَا فَسَّرَ السَّلَفُ كَلِمَةَ شَهِدَ

فَقَوْلُهُ جَلَّ وَعَلَا

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ

وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

شَهِدَ اللهُ

مَا مَعْنَى أَنِ اللهُ يَشْهَدُ؟

بِمَعْنَى أَيِّ شَيْءٍ يَشْهَدُ

بِمَعْنَى يُعْلِنُ وَيُخْبِرُ

فَإِذَنْ شَهَادَةُ الْمُسْلِمِ بِأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

لَا تَسْتَقِيمُ مَعَ كِتْمَانِهِ

هَذِهِ الشَّهَادَةُ

فَمَنْ شَهِدَ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ

وَلَمْ يُظْهِرْ هَذِهِ الشَّهَادَةَ

دُونَ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

فَإِنَّهُ لَا شَهَادَةَ لَهُ

بَلْ لَا بُدَّ فِي الشَّهَادَةِ

مِنْ حَيْثُ اللَّفْظُ الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ اللُّغَةُ

وَأَيْضًا مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ

لَا بُدَّ فِيهَا مِنَ الْإِظْهَارِ

وَهُوَ الْمُوَافِقُ لِمَعْنَى الْإِسْلَامِ

الَّذِي هُوَ الْأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ

فَإِذَنْ دُخُولُ الشَّهَادَتَيْنِ فِي الْإِسْلَامِ

الَّذِي هُوَ الْأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ رَاجِعٌ إِلَى مَعْنَى الشَّهَادَةِ

وَهُوَ أَنَّ مَعْنَى الشَّهَادَةِ الْإِظْهَارُ

يَعْنِي بَعْدَ الْاِعْتِقَادِ

الْإِظْهَارُ وَالْإِعْلَامُ وَالْإِخْبَارُ

وَهُنَا يَأْتِي الْاِعْتِقَادُ… اعْتِقَادُ الشَّهَادَتَيْنِ

يَرْجِعُ إِلَيْهِ

لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى شَهِدَ

يَرْجِعُ إِلَيْهَا أَرْكَانُ الْإِيمَانِ جَمِيعًا

Kadar Minimal Iman Kepada Allah – Syaikh Shahlih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Kadar Minimal Iman Kepada Allah – Syaikh Shahlih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Jika ini telah jelas, maka rukun iman yang enam ini
memiliki kadar wajib
yang Islam seseorang tidak sah tanpanya.

Kadar iman minimal yang harus dimiliki seorang mukallaf, orang yang tidak memilikinya tidak dianggap beriman.

(Mukallaf: orang yang mendapat kewajiban syariat (sudah baligh dan berakal).

Ada kadar tambahan atas kadar minimal ini,
sesuai dengan ilmu atau dalil yang ia ketahui.

Lalu apa itu kadar iman minimal, yang jika ada orang yang tidak memilikinya, maka ia menjadi kafir?

Ada kadar minimal iman kepada Allah, kadar minimal iman kepada para Rasul,
kadar minimal iman kepada kitab-kitab, kadar minimal iman kepada hari akhir dan takdir, dan seterusnya.

Adapun iman kepada Allah, maka ia terbagi menjadi tiga bagian:

(1) Iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam rububiyah-Nya.

(2) Iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam uluhiyah-Nya, yakni hanya Dia yang berhak disembah.

(3) Dan iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tidak ada yang serupa dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. “Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11)

Kadar iman minimal dari bagian pertama adalah dengan meyakini
bahwa Allah Jalla Jalaluhu adalah Tuhan bagi alam semesta ini.

Yakni Allah adalah yang menciptakan, mengatur, dan menguasainya.

Allah adalah Penciptanya, Pengaturnya, dan yang memperlakukannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Inilah iman dengan rububiyah Allah.

Sedangkan iman kepada uluhiyah Allah adalah dengan meyakini tidak ada yang berhak disembah
atau ditujukan padanya bentuk ibadah apa pun.

Tidak ada satu makhluk pun yang berhak dipersembahkan kepadanya bentuk ibadah apa pun.

Namun yang berhak disembah hanyalah Allah Jalla Jalaluhu semata.

Ketiga adalah dengan beriman bahwa Allah Jalla wa ‘Ala
memiliki nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat tertinggi,
tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk,

dan tanpa menafikan Allah dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
baik itu dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara keseluruhan atau sebagiannya
setelah jelas baginya dalil tentang ini.

Inilah kadar minimal keimanan kepada Allah.

======================================================================================================

إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَأَرْكَانُ الْإِيمَانِ السِّتَّةِ هَذِهِ

فِيهَا قَدْرٌ وَاجِبٌ

لَا يَصِحُّ إِسْلَامٌ بِدُونِهِ

قَدْرٌ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ فَلَيْسَ بِمُؤْمِنٍ

وَهُنَاكَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَلَى هَذَا

تَبَعٌ لِلْعِلْمِ أَوْ تَبَعٌ لِمَا يَصِلُهُ مِنَ الدَّلِيلِ

فَمَا هُوَ الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ وَهُوَ الَّذِي مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ صَارَ كَافِرًا؟

فَهَذَا هُنَاكَ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِاللهِ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالرُّسُلِ

قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ إِلَى آخِرِهِ

أَمَّا الْإِيمَانُ بِاللهِ فَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ

إِيْمَانٌ بِاللهِ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي رُبُوبِيَّتِهِ

وَإِيْمَانٌ بِاللهِ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي أُلُوهِيَّتِهِ يَعْنِي فِي اسْتِحْقَاقِهِ الْعِبَادَةَ

وَإِيْمَانٌ بِاللهِ يَعْنِي بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

لاَ مَثِيلَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ مِنَ الْأَوَّلِ أَنْ يَعْتَقِدَ

أَنَّ اللهَ جَلَّ جَلَالُهُ هُوَ رَبُّ هَذَا الْوُجُودِ

يَعْنِي أَنَّهُ هُوَ الْخَالِقُ لَهُ الْمُدَبِّرُ لَهُ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِ

خَالِقٌ لَهُ مُدَبِّرٌ لَهُ وَمُتَصَرِّفٌ فِيهِ كَيْفَ يَشَاءُ

هَذِهِ الرُّبُوبِيَّةُ

بِالْإِلَهِيَّةِ بِأَنَّهُ لَا أَحَدَ يَسْتَحِقُّ الْعِبَادَةَ

أَوْ شَيْئًا مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ

لَا أَحَدَ يَسْتَحِقُّ شَيْئًا مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ مِنَ الْخَلْقِ

بَلِ الَّذِي يَسْتَحِقُّ هُوَ اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ وَحْدَهُ

وَالثَّالِثُ أَنْ يُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا

لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ الْعُلَى

دُونَ تَمْثِيْلٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ

وَدُونَ تَعْطِيلٍ لَهُ عَنْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

بِالْكُلِّيَّةِ أَوْ جَحْدٍ لِشَيْءٍ مِنْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

بَعْدَ وُضُوحِ الْحُجَّةِ فِيهَا لَهُ

هَذَا الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ مِنَ الْإِيمَانِ بِاللهِ

6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Para ulama fiqih mengatakan
bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah.

Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi.

Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj.

Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah.

Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi.

Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …”
Yakni celaan yang tidak tercela.

“Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam:

Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan,
orang yang menyingkap kefasikan,
orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.

” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah,
dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain.

Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela.

Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam:

(1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …”

Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim.

Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst.

Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “…

(4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa,

(6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.”

====

وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ

إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ

سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ

لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ

لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ

نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ

جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ

يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا

الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ

مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ

وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا

وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ

هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ

وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ

مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا

أَعِدْهَا

يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ

مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ

مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ

وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ

وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ

وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ

وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ