Hasan Al-Bashri berbicara tentang hakikat akhlak yang baik. “Hakikat akhlak yang baik adalah berbuat baik kepada orang lain, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.” Ini adalah definisi yang disampaikan dengan contohnya. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya terbatas pada tiga hal tersebut. Seakan-akan Hasan Al-Bashri hendak mengatakan bahwa sifat paling menonjol dari akhlak yang baik, adalah berbuat baik, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.
Al-Qadhi Iyadh menambahkan, “Akhlak yang baik adalah bergaul dengan orang lain secara santun, dengan wajah berseri, penuh kasih sayang dan rasa peduli pada mereka, berlapang dada, berlemah lembut, dan bersabar menghadapi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, serta menjauhi kesombongan, merendahkan, bersikap kasar, marah-marah, dan membalas kesalahan mereka.” Ini pun definisi yang disampaikan melalui contoh.
Semua itu adalah contoh dan gambaran dari akhlak yang baik, dan bukan definisinya. Karena itu, kita perlu menyebutkan definisi akhlak yang baik. Dan di antara ungkapan terbaik tentang definisinya adalah engkau memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Inilah akhlak yang baik. Engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka.
Jika engkau ingin orang lain menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau ingin orang lain memperlakukanmu dengan ucapan yang baik, maka ucapkanlah yang baik pula kepada mereka. Jika engkau tidak rela disakiti ucapan seseorang, janganlah engkau menyakiti orang lain dengan ucapanmu.
Maka, akhlak yang baik adalah: jika engkau ingin orang yang berjumpa denganmu menyambutmu dengan wajah cerah, senyuman, penuh kasih sayang, dan ucapan yang baik, maka lakukanlah yang sama kepada orang lain. Jadi, hakikat akhlak yang baik adalah engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
=====
قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَهُ بِالْمِثَالِ وَإِلَّا فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَا يَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَإِنَّمَا كَأَنَّ الْحَسَنَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبْرَزِ صِفَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ
وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هُوَ مُخَالَطَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ وَالْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ وَالْإِشْفَاقُ عَلَيْهِمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَالْحِلْمُ عَنْهُمْ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ فِي الْمَكَارِهِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَيْهِمْ وَمُجَانَبَةُ الْغِلْظَةِ وَالْغَضَبِ وَالْمُؤَاخَذَةِ وَهَذَا أَيْضًا تَعْرِيفٌ بِالْمِثَالِ
هَذِهِ كُلُّهَا أَمْثِلَةٌ وَصُوَرٌ لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَلَيْسَتْ حَدًّا لَهُ فَنَحْتَاجُ إِلَى أَنْ نَذْكُرَ حَدًّا أَوْ تَعْرِيفًا لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ هُوَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ هَذَا هُوَ حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ
فَإِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِاحْتِرَامٍ فَعَامِلْهُمْ بِاحْتِرَامٍ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ فَعَامِلْهُمْ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ إِذَا كُنْتَ لَا تَرْضَى أَنَّ أَحَدًا يَجْرَحُكَ بِالْكَلَامِ لَا تَجْرَحِ النَّاسَ بِالْكَلَامِ
فَحُسْنُ الْخُلُقِ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنَّ مَنْ يَلْقَاكَ يَلْقَاكَ بِالْبِشْرِ وَبِالِابْتِسَامَةِ وَالتَّوَدُّدِ وَالْجَمِيلِ مِنَ الْقَوْلِ فَافْعَلْ ذَلِكَ أَنْتَ مَعَ النَّاسِ فَإِذًا حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ هِيَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ