Bab: Di antara obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit hati yang bersumber dari kegelisahan jiwa, bahkan juga untuk berbagai penyakit jasmani, adalah dengan membangun kekuatan hati untuk tidak mudah terguncang goyah oleh rasa cemas dan imajinasi yang kelam yang diciptakan oleh pikiran-pikiran yang buruk.
Sebab, bila seseorang membiarkan dirinya larut dalam imajinasi yang kelam itu, lalu hatinya pun bereaksi terhadap segala pengaruh yang datang itu, mulai dari takut jatuh sakit dan ketakutan lainnya, mudah marah dan stres karena situasi yang tidak nyaman, hingga rasa cemas memikirkan akan datangnya musibah dan kehilangan apa yang dicintai. Itu akan menjerumuskannya pada kecemasan dan kesedihan yang mendalam, serta berbagai penyakit lahir dan batin, hingga depresi yang berakibat sangat buruk, seperti yang sering manusia saksikan sendiri bahayanya.
Inilah poin yang sangat penting untuk diperhatikan dalam mengusir rasa cemas. Seorang hamba harus berusaha sungguh-sungguh untuk menguatkan hatinya. Hanya ada satu jalan untuk menguatkan hati: yaitu menguatkannya dengan iman. Tidak mungkin hati menjadi kuat kecuali dengan iman dan kepercayaan penuh kepada Allah, dengan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan pasrah kepada-Nya, serta rida menerima segala ketetapan-Nya Jalla wa ‘Ala.
Seorang hamba sangat memerlukan untuk menguatkan hatinya. Kekuatan hati itu terwujud dengan ilmu, rutin membaca Al-Qur’an, serta mempelajari amalan-amalan hati. Amalan-amalan hati sangat penting bagi seseorang untuk mempelajarinya, agar ia dapat menguatkan hatinya dengan amalan tersebut. Ia dapat mengokohkan hatinya dengan tawakal, keyakinan, serta rasa percaya sepenuhnya kepada Allah. Ia dapat mengokohkan hatinya dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan senantiasa mengharap apa yang ada di sisi-Nya, dengan yakin bahwa Allah pasti melindungi hamba-Nya yang beriman. Ia dapat mengokohkan hatinya dengan amalan-amalan hati yang mulia tersebut.
Demi mengokohkan hatinya dengan amalan-amalan itu, seseorang perlu memahami tentang keutamaan-keutamaannya, memahami dalil-dalilnya, serta memahami manfaat dan pengaruhnya, sampai nilai-nilai itu meresap dan menetap dalam sanubarinya. Jika hati sudah kuat, segala gangguan kecemasan itu akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun jika hati lemah, ia akan mudah hancur saat tertimpa musibah, dan gampang terombang-ambing oleh rasa cemas, imajinasi yang buram, dan segala pikiran buruk yang melintas di kepala.
Banyak orang yang karena hatinya lemah, pikiran buruk sedikit saja sudah membuatnya gelisah, sulit tidur dan tidak dapat lagi menikmati hidup dengan tenang. Semua itu terjadi hanya karena pikiran buruk dan rasa cemas yang menghampirinya. Ia menyusun berbagai skenario buruk di pikirannya yang cemas itu, hingga akhirnya jatuh sakit. Padahal, sumber semua rasa sakit itu hanyalah kecemasan semu di pikirannya. Ia terus hidup dalam kecemasan yang tidak nyata, yang membuat hatinya tersiksa, merusak ketenangan jiwanya, membuatnya gelisah, hingga memperkeruh suasana hatinya. Ketenangan dan waktu tidurnya hilang, padahal itu semua hanyalah ilusi gangguan kecemasan. Sekali lagi, itu hanyalah ilusi belaka.
Tidak ada obat untuk semua gangguan kecemasan ini kecuali dengan menguatkan hati, yakni menguatkannya dengan iman dan rasa percaya kepada Allah, serta bertawakal kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang tidak berupaya menguatkan hatinya, rasa cemas ini bisa menjadi penyakit yang sangat parah. Bahkan termasuk jenis penyakit yang paling menyiksa. Jika ia tidak memohon pertolongan dan bersandar kepada Allah, hal itu bisa memicu depresi, kesedihan mendalam, bahkan penyakit fisik yang nyata. Demikian.
Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Saat hati telah bersandar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, serta tidak lagi menyerah pada rasa cemas maupun terjebak dalam berbagai imajinasi buruk, lalu ia merasa yakin kepada Allah dan sangat mengharapkan karunia-Nya, maka sirnalah segala kegelisahan dan kesedihan dari dirinya. Bahkan, banyak penyakit fisik dan penyakit hati yang sembuh. Hati pun akan merasakan kekuatan, kelapangan, dan kebahagiaan, yang keindahannya sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Betapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh pasien yang menderita hanya karena ulah pikirannya sendiri—oleh rasa cemas dan imajinasi yang merusak. Betapa sering hal-hal semacam ini mengguncang hati banyak orang, bahkan mereka yang fisiknya kuat, apalagi bagi mereka yang lemah. Tidak jarang pula kondisi ini berujung pada hilangnya akal sehat hingga gangguan jiwa. Orang yang selamat adalah orang yang dilindungi Allah dan diberi taufik untuk berjuang melawan hawa nafsunya sendiri, demi meraih sebab-sebab yang bermanfaat, untuk menguatkan hati dan mengusir kecemasannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Artinya, Allah akan menjamin segala urusan yang menggelisahkannya, baik dalam perkara agama maupun dunia.
Maka, orang yang bertawakal kepada Allah memiliki hati yang tangguh. Ia tidak terpengaruh oleh ilusi kecemasan, dan tidak pula terguncang oleh berbagai peristiwa yang terjadi. Sebab ia sadar bahwa kegoncangan itu hanyalah tanda kelemahan jiwa dan rasa takut yang tidak nyata. Di saat yang sama, ia yakin bahwa Allah telah menjamin perlindungan yang sempurna bagi siapa saja yang bertawakal kepada-Nya. Ia pun menaruh kepercayaan penuh kepada Allah dan merasa tenang dengan janji-Nya, hingga hilanglah segala kegelisahannya. Kesulitannya berganti kemudahan, dukanya berubah menjadi bahagia, dan rasa takutnya berganti menjadi rasa aman.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai keselamatan dan limpahan kekuatan hati, serta keteguhan melalui tawakal yang sempurna, sebuah amalan yang telah Allah jamin bagi pemiliknya dengan segala kebaikan serta perlindungan dari segala keburukan dan bahaya. Aamiin.
Di bahasan ini, Syaikh kembali menekankan tentang apa saja yang dapat memperkuat hati. Maksudnya, bab ini secara khusus membahas tentang terapi yang mujarab untuk mengatasi kecemasan dan mengusirnya, serta menjauhkan kegelisahan dari jiwa dengan cara memperkokoh hati. Penulis—semoga Allah merahmatinya—menjelaskan bahwa kekuatan hati dapat diraih dengan mengupayakan sebab-sebab yang bermanfaat untuk membentuk hati yang tangguh. Sebab, hati memang memerlukan sebab-sebab yang bermanfaat agar ia memiliki kekuatan.
Kekuatan hati itu bersumber dari tawakal, rasa percaya kepada Allah, selalu memohon pertolongan kepada-Nya, bersabar atas takdir-Nya, serta merasa rida kepada Allah atas segala ketetapan-Nya, dan berbagai amalan hati penting lainnya.
Itulah sebabnya banyak ulama yang menulis kitab khusus tentang amalan-amalan hati. Tujuan mereka menulis tentang tema tersebut adalah untuk tujuan ini: agar setiap orang bisa memperkuat hatinya. Menguatkan hatinya dengan iman dan segala keutamaannya yang agung. Saat hati sudah bersandar, bertawakal, dan percaya sepenuhnya kepada Allah, serta memiliki iman yang kokoh, ia tidak akan menyerah pada berbagai ilusi kecemasan, juga tidak akan dikuasai oleh imajinasi buruk yang telah mencelakai banyak manusia.
Seperti kata Syaikh: “Betapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh pasien yang menderita karena gangguan kecemasan!” Padahal mereka tidak sakit apa pun kecuali karena perasaan cemas. Gangguan kecemasan itu sendiri adalah penyakit yang mengundang datangnya penyakit-penyakit lain. Ya, gangguan kecemasan adalah penyakit yang memicu timbulnya berbagai gangguan kesehatan lainnya. Tidaklah ada obat bagi gangguan kecemasan ini kecuali dengan memperkuat hati. Syaikh memberikan contoh amalan hati berupa tawakal, lalu membawakan ayat yang mulia: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Hati yang menjadi kuat karena tawakal, akan mendapatkan pembelaan langsung dari Allah bagi dirinya. Ia akan mendapat pertolongan, perlindungan dari Allah ‘Azza wa Jalla, dijaga dari segala keburukan, serta dicukupkan dari segala kegelisahannya. Ia akan merasakan sesuatu yang luar biasa menakjubkan. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Dia juga berfirman: “Bukankah Allah yang mencukupkan hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36). Maksud dari “Allah mencukupkannya” adalah Allah akan menjamin segala urusan yang menggelisahkannya, baik dalam perkara agama maupun dunia. Maka, orang yang bertawakal kepada Allah akan memiliki hati yang tangguh. Sebab itu, tawakal adalah salah satu sarana terbesar untuk memperkokoh hati.
Jika hati telah memiliki kekuatan yang bersumber dari tawakal ini, maka segala ketakutan dan bahaya akan sirna dari diri seorang hamba. Perhatikanlah bimbingan Nabawi yang sangat mulia ini, bagi siapa pun yang hendak keluar dari rumahnya. Ketika seseorang melangkah keluar rumah dan berucap: BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH WALAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
(Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) (HR. Abu Daud). Ketiga kalimat ini adalah untaian doa tawakal dan permohonan pertolongan.
BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH WALAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
(Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) (HR. Abu Daud). Apa yang akan dikatakan kepadanya saat itu? Ya, akan dikatakan: “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi.” Ada jaminan petunjuk, kecukupan, dan perlindungan di sana. Petunjuk menuju kebaikan yang ia harapkan, perlindungan dari segala bahaya yang ia takuti, serta kecukupan atas segala urusan yang ia tuju, baik itu kepentingan agama maupun dunia.
Tawakal adalah sumber kekuatan bagi hati. Tawakal adalah kekuatan bagi hati. Apabila kekuatan ini telah tercapai, maka penyakit, cemas, hingga rasa takut itu akan sirna dengan sendirinya. Bahkan, ketika rasa takut itu datang dan mencoba mengusik ketenangan batinnya, orang yang bertawakal akan menjawab: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.” (QS. At-Taubah: 51).
Demikian.
=====
فَصْلٌ: وَمِنْ أَعْظَمِ الْعِلَاجَاتِ لِأَمْرَاضِ الْقَلْبِ الْعَصَبِيَّةِ بَلْ وَأَيْضًا لِلْأَمْرَاضِ الْبَدَنِيَّةِ قُوَّةُ الْقَلْبِ وَعَدَمُ انْزِعَاجِهِ وَانْفِعَالِهِ لِلْأَوْهَامِ وَالْخَيَالَاتِ الَّتِي تَجْلِبُهَا الْأَفْكَارُ السَّيِّئَةُ
لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مَتَى مَا اسْتَسْلَمَ لِلْخَيَالَاتِ وَانْفَعَلَ قَلْبُهُ لِلْمُؤَثِّرَاتِ مِنَ الْخَوْفِ مِنَ الْأَمْرَاضِ وَغَيْرِهَا وَمِنَ الْغَضَبِ وَالتَّشَوُّشِ مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُؤْلِمَةِ وَمِنْ تَوَقُّعِ حُدُوثِ الْمَكَارِهِ وَزَوَالِ الْمَحَابِّ أَوْقَعَهُ ذَلِكَ فِي الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَمْرَاضِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ وَالِانْهِيَارِ الْعَصَبِيِّ الَّذِي لَهُ آثَارُهُ السَّيِّئَةُ الَّتِي قَدْ شَاهَدَ النَّاسُ مَضَارَّهَا الْكَثِيرَةَ
هَذِهِ أَيْضًا مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ جِدًّا فِي بَابِ دَفْعِ الْقَلَقِ يَحْتَاجُ الْعَبْدُ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى تَقْوِيَةِ قَلْبِهِ وَيُقَوِّي قَلْبَهُ يَعْنِي طَرِيقَةُ تَقْوِيَةِ الْقَلْبِ هِيَ أَمْرٌ وَاحِدٌ يُقَوِّيهِ بِالْإِيمَانِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَقَوَّى الْقَلْبُ إِلَّا بِالْإِيمَانِ، بِالثِّقَةِ بِاللَّهِ بِالتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالتَّفْوِيضِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، بِالتَّسْلِيمِ لِقَضَاءِ اللَّهِ
فَـالْعَبْدُ بِحَاجَةٍ إِلَى تَقْوِيَةِ الْقَلْبِ، بِحَاجَةٍ إِلَى تَقْوِيَةِ الْقَلْبِ تَقْوِيَةُ الْقَلْبِ تَكُونُ بِالْعِلْمِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَقِرَاءَةِ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ أَعْمَالُ الْقُلُوبِ مُهِمَّةٌ جِدًّا أَنْ يَقْرَأَ فِيهَا الْإِنْسَانُ حَتَّى يُقَوِّي قَلْبَهُ بِتِلْكَ الْأَعْمَالِ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالتَّوَكُّلِ، يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالْيَقِينِ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالثِّقَةِ بِاللَّهِ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالتَّفْوِيضِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالرَّجَاءِ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالثِّقَةِ بِدِفَاعِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِهَذِهِ الْأَعْمَالِ الْقَلْبِيَّةِ الْعَظِيمَةِ
وَتَقْوِيَةُ الْقَلْبِ بِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَحْتَاجُ أَنْ يَقْرَأَ فِي فَضَائِلِهَا وَيَقْرَأَ فِي النُّصُوصِ الْوَارِدَةِ فِيهَا وَيَقْرَأَ فِي ثِمَارِهَا وَآثَارِهَا حَتَّى تَدْخُلَ وَتَتَمَكَّنَ مِنْ قَلْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا تَنْدَفِعُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ وَتَزُولُ بِإِذْنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ ضَعِيفًا يَنْزَعِجُ عِنْدَ الْمَصَائِبِ وَيَنْفَعِلُ مَعَ الْأَوْهَامِ وَالْخَيَالَاتِ وَمَا يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ مِنَ الْأَفْكَارِ السَّيِّئَةِ
يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ لِضَعْفِ قَلْبِهِ بَعْضُ الْأَفْكَارِ السَّيِّئَةِ تُؤَرِّقُهُ وَتَمْنَعُهُ مِنَ النَّوْمِ، تَمْنَعُهُ مِنَ الرَّاحَةِ لَا لِشَيْءٍ إِلَّا لِمُجَرَّدِ أَفْكَارٍ سَيِّئَةٍ وَرَدَتْ إِلَى قَلْبِهِ وَتَوَهُّمَاتٍ تَوَهُّمَاتٍ يَبْنِي عَلَيْهَا أَشْيَاءَ فَيَمْرَضُ بِسَبَبِ ذَلِكَ، وَهِيَ مُجَرَّدُ أَوْهَامٍ يَمْشِي مَعَ أَوْهَامٍ تُؤَرِّقُ قَلْبَهُ تُزْعِجُ نَفْسَهُ تُقْلِقُهُ تُكَدِّرُ خَاطِرَهُ تَذْهَبُ عَنْهُ الرَّاحَةُ وَالنَّوْمُ، وَمَا هِيَ إِلَّا أَوْهَامٌ مَا هِيَ إِلَّا أَوْهَامٌ
هَذِهِ الْأَوْهَامُ لَيْسَ لَهَا عِلَاجٌ إِلَّا تَقْوِيَةُ الْقَلْبِ تَقْوِيَةُ الْقَلْبِ بِالْإِيمَانِ وَالثِّقَةِ بِاللَّهِ وَالتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا لَمْ يَعْمَلِ الْمَرْءُ عَلَى ذَلِكَ، عَلَى تَقْوِيَةِ قَلْبِهِ، هَذِهِ الْأَوْهَامُ مِنْ أَشَدِّ مَا يَكُونُ فِي الْأَمْرَاضِ مِنْ أَشَدِّ مَا يَكُونُ فِي الْأَمْرَاضِ حَتَّى تُحْدِثَ لِلْعَبْدِ يَعْنِي إِذَا مَا اسْتَعَانَ بِاللَّهِ وَلَجَأَ إِلَيْهِ تُحْدِثُ لَهُ الِانْهِيَارَ الْعَصَبِيَّ الْغُمُومَ وَالْأَمْرَاضَ حَتَّى الْبَدَنِيَّةَ نَعَمْ
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَمَتَى اعْتَمَدَ الْقَلْبُ عَلَى اللَّهِ وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَسْتَسْلِمْ لِلْأَوْهَامِ وَلَا مَلَكَتْهُ الْخَيَالَاتُ السَّيِّئَةُ وَوَثِقَ بِاللَّهِ وَطَمِعَ فِي فَضْلِهِ انْدَفَعَتْ عَنْهُ بِذَلِكَ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ وَزَالَتْ عَنْهُ كَثِيرٌ مِنَ الْأَسْقَامِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْقَلْبِيَّةِ وَحَصَلَ لِلْقَلْبِ مِنَ الْقُوَّةِ وَالِانْشِرَاحِ وَالسُّرُورِ مَا لَا يُمْكِنُ التَّعْبِيرُ عَنْهُ
فَكَمْ مُلِئَتِ الْمُسْتَشْفَيَاتُ مِنْ مَرْضَى الْأَوْهَامِ وَالْخَيَالَاتِ الْفَاسِدَةِ وَكَمْ أَثَّرَتْ هَذِهِ الْأُمُورُ عَلَى قُلُوبِ كَثِيرٍ مِنَ الْأَقْوِيَاءِ فَضْلًا عَنِ الضُّعَفَاءِ وَكَمْ أَدَّتْ إِلَى الْحُمْقِ وَالْجُنُونِ وَالْمُعَافَى مَنْ عَافَاهُ اللَّهُ وَوَفَّقَهُ لِجِهَادِ نَفْسِهِ لِتَحْصِيلِ الْأَسْبَابِ النَّافِعَةِ الْمُقَوِيَةِ لِلْقَلْبِ الدَّافِعَةِ لِقَلَقِهِ قَالَ تَعَالَى وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ أَيْ كَافِيهِ جَمِيعَ مَا يَهُمُّهُ مِنْ أَمْرِ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ
فَالْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ قَوِيُّ الْقَلْبِ لَا تُؤَثِّرُ فِيهِ الْأَوْهَامُ وَلَا تُزْعِجُهُ الْحَوَادِثُ لِعِلْمِهِ أَنَّ ذَلِكَ مِنْ ضَعْفِ النَّفْسِ وَمِنَ الْخَوَرِ وَالْخَوْفِ الَّذِي لَا حَقِيقَةَ لَهُ وَيَعْلَمُ مَعَ ذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَكَفَّلَ لِمَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِالْكِفَايَةِ التَّامَّةِ فَيَثِقُ بِاللَّهِ وَيَطْمَئِنُّ لِوَعْدِهِ فَيَزُولُ هَمُّهُ وَقَلَقُهُ وَيَتَبَدَّلُ عُسْرُهُ يُسْرًا، وَتَرَحُهُ فَرَحًا، وَخَوْفُهُ أَمْنًا
فَنَسْأَلُهُ تَعَالَى الْعَافِيَةَ وَأَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِقُوَّةِ الْقَلْبِ وَثَبَاتِهِ بِالتَّوَكُّلِ الْكَامِلِ الَّذِي تَكَفَّلَ اللَّهُ لِأَهْلِهِ بِكُلِّ خَيْرٍ وَدَفْعِ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَضَيْرٍآمِينَ
أَيْضًا هُنَا يُؤَكِّدُ الشَّيْخُ عَلَى مَا بِهِ يُقَوِّي الْقَلْبَ مَا بِهِ يُقَوِّي الْقَلْبَ يَعْنِي هَذَا الْفَصْلُ يَتَحَدَّثُ فِيهِ عَنْ عِلَاجٍ نَافِعٍ لِلْقَلَقِ وَدَفْعِهِ وَإِبْعَادِهِ عَنِ النَّفْسِ أَنْ يُقَوِّيَ الْمَرْءُ قَلْبَهُ وَبَيَّنَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ تَقْوِيَةَ الْقَلْبِ تَكُونُ بِتَحْصِيلِ الْأَسْبَابِ النَّافِعَةِ الْمُقَوِّيَةِ لِلْقَلْبِ لِأَنَّ الْقَلْبَ يَحْتَاجُ إِلَى أَسْبَابٍ نَافِعَةٍ يَحْصُلُ لَهُ بِهَا الْقُوَّةُ
وَقُوَّةُ الْقَلْبِ بِالتَّوَكُّلِ، بِالثِّقَةِ بِاللَّهِ بِالِاسْتِعَانَةِ بِاللَّهِ، بِالصَّبْرِ عَلَى قَضَاءِ اللَّهِ بِالرِّضَا بِاللَّهِ وَعَنِ اللَّهِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْقَلْبِيَّةِ الْمُهِمَّةِ
وَلِهَذَا كَتَبَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي أَعْمَالِ الْقُلُوبِ كِتَابَتُهُمْ فِي أَعْمَالِ الْقُلُوبِ هُوَ مِنْ أَجْلِ هَذَا الْأَمْرِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُقَوِّيَ الْإِنْسَانُ قَلْبَهُ يُقَوِّي قَلْبَهُ بِالْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ الْعَظِيمَةِ فَمَتَى اعْتَمَدَ الْقَلْبُ عَلَى اللَّهِ وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ وَوَثِقَ بِهِ وَحَصَلَتْ لَهُ قُوَّةُ الْإِيمَانِ لَمْ يَسْتَسْلِمْ لِلْأَوْهَامِ وَلَا مَلَكَتْهُ الْخَيَالَاتُ السَّيِّئَةُ الَّتِي أَضَرَّتْ بِكَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ
مِثْلُ مَا يَقُولُ الشَّيْخُ: كَمْ مُلِئَتِ الْمُسْتَشْفَيَاتُ مِنْ مَرْضَى الْأَوْهَامِ مَا بِهِ عِلَّةٌ إِلَّا الْوَهمُ وَالْوَهمُ يَعْنِي مَرَضٌ جَالِبٌ لِأَمْرَاضٍ كَثِيرَةٍ الْوَهمُ مَرَضٌ وَجَالِبٌ لِأَمْرَاضٍ كَثِيرَةٍ جِدًّا وَلَيْسَ لِلْوَهْمِ عِلَاجٌ إِلَّا تَقْوِيَةُ الْقَلْبِ الشَّيْخُ ضَرَبَ مِثَالًا مِنْ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ التَّوَكُّلُ وَأَوْرَدَ الْآيَةَ الْكَرِيمَةَ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
الْقَلْبُ الْقَوِيُّ بِالتَّوَكُّلِ يَحْصُلُ لَهُ بِهَذَا التَّوَكُّلِ مِنْ دِفَاعِ اللَّهِ عَنْهُ وَنُصْرَةِ اللَّهِ لَهُ وَحِفْظِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ وَوِقَايَتِهِ مِنَ الشُّرُورِ وَكِفَايَتِهِ مِمَّا أَهَمَّهُ يَحْصُلُ لَهُ شَيْءٌ عَجَبٌ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ فَقَوْلُهُ فَهُوَ حَسْبُهُ أَيْ كَافِيهِ جَمِيعَ مَا يَهُمُّهُ مِنْ أُمُورِ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ فَالْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ قَوِيُّ الْقَلْبِ إِذًا التَّوَكُّلُ مِنْ أَعْظَمِ مَا تَكُونُ بِهِ تَقْوِيَةُ الْقُلُوبِ
إِذَا حَصَلَتْ هَذِهِ الْقُوَّةُ لِلقَلْبِ بِالتَّوَكُّلِ انْدَفَعَتْ عَنِ الْعَبْدِ الْمَخَاوِفُ وَالْمَضَارُّ اُنْظُرْ إِلَى الْإِرْشَادِ النَّبَوِيِّ الْعَظِيمِ لِمَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِذَا خَرَجَ الْإِنْسَانُ مِنْ بَيْتِهِ وَقَالَ بِاسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ هَذِهِ الثَّلَاثُ الْكَلِمَاتُ كُلُّهَا كَلِمَاتُ تَوَكُّلٍ وَاسْتِعَانَةٍ
بِاسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مَاذَا يُقَالُ لَهُ؟ نَعَمْ هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ هِدَايَةٌ، وَكِفَايَةٌ، وَوِقَايَةٌ فَهِدَايَةٌ لِمَا أَحَبَّ مِنْ خَيْرٍ وَوِقَايَةٌ مِمَّا يَخْشَى مِنْ ضُرٍّ وَكِفَايَةٌ لِمَا أَهَمَّهُ مِنْ أَمْرٍ خَرَجَ لِأَجْلِهِ مِنْ مَصْلَحَةٍ دِينِيَّةٍ أَوْ دُنْيَوِيَّةٍ
فَالتَّوَكُّلُ قُوَّةٌ لِلْقَلْبِ التَّوَكُّلُ قُوَّةٌ لِلْقَلْبِ وَإِذَا حَصَلَتْ هَذِهِ الْقُوَّةُ زَالَ عَنْهُ هَذِهِ الْأَمْرَاضُ وَالْأَوْهَامُ وَالْمَخَاوِفُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ حَتَّى إِنَّ الْمَخَاوِفَ عِنْدَمَا تَأْتِي لِتُشَوِّشَ عَلَى قَلْبِهِ، قَلْبُهُ بِمَا عِنْدَهُ مُتَوَكِّلٌ يَقُولُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
نَعَم