3 Ciri Orang Bodoh

3 Ciri Orang Bodoh

Abu Darda’ radhiyallahu anhu mengatakan,

علامة الجاهل ثلاثٌ: العجب، وكثرة المنطق فيما لا يعنيه، وأن ينهى عن شيء ويأتيه

“Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Bangga diri.
  2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
  3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39)

Sebab Terbesar untuk Meningkatkan Taqwa

Sebab Terbesar Meningkatkan Taqwa

Allah berfirman,

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Bagaimana mungkin kalian bisa bertaqwa sementara kalian tetap kafir kepada hari kiamat yang menjadikan anak-anak beruban. (QS. Al-Muzammil: 17)

Inilah rahasia, mengapa iman kepada Allah sering digandengkan dengan iman kepada hari akhir, dalam banyak ayat al-Quran.

Allahu a’lam

Dua Sumber Kejahatan Manusia

Dua Sumber Kejahatan Manusia

Allah menawarkan amanah dalam bentuk mentaati perintah dan menjauhi larangan kepada makhluk-makhluk besar, seperti langit, bumi, dan gunung. Jika mereka sanggup melaksanakannya maka mereka akan mendapatkan pahala. Dan jika mereka melanggarnya maka mereka mendapat hukuman. Namun mereka tidak bersedia menerimanya, karena takut tidak mampu menanggungnya.

Kemudian Allah tawarkan kepada manusia, dan mereka sanggup menanggungnya.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab: 72)

Karena beban syariat ini, manusia terbagi menjadi 3, Allah sebutkan di lanjutan ayat,

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 73)

  1. Orang munafik: dari luar terlihat mereka melaksanakan amanah, namun batinnya membencinya.
  2. Orang musyrik: melanggar amanah lahir dan batin
  3. Orang beriman: melaksanakan amanah lahir dan batin

Syaikhul Islam mengatakan,

والجهل والظلم : هما أصل كل شر ، كما قال سبحانه : { وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا }

Kebodohan dan kedzliman, merupakan dua hal yang menjadi sebab segala kejahatan. Sebagaimana Allah berfirman,

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 138).

Agar Rindu Bertemu Allah

Agar Rindu Bertemu Allah

Allah adalah Dzat Yang Maha Indah. Pencipta segala keindahan. Dia memiliki nama al-Jamil (Yang Maha Indah), dan Dia mencintai keindahan. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

”Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim 91)

Agar para hamba selalu dekat dengan Allah, Allah jelaskan semua keindahan dan kesempurnaan diri-Nya, dalam bentuk nama-namanya yang indah dan sifat-sifatnya yang mulia. Semakin banyak seseorang mengenal nama dan sifat Allah, semakin besar pula kecintaannya untuk selalu bertemu Allah.

Karena itulah, shalat menjadi penyejuk pandangan mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

”Dijadikan penyejuk pandanganku dalam shalat.” (HR. Nasai 3940 dan dishahihkan al-Albani)

Mengapa shalat?

Karena ketika shalat bertemu dan bermunajat dengan Allah ta’ala.

إن أحدكم إذا قام في الصلاة، فإنه يناجي ربه

”Ketika kalian sedang melakukan shalat, hakekatnya dia bermunajat dengan Tuhannya.” (HR. Ahmad 4928 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Inilah keindahan sejati seorang muslim. Bermunajat dengan Allah ta’ala. Karena itulah, Allah balas mereka dengan keindahan mutlak, keindahan tiada bandingannya, keindahan ketika melihat wajah Dzat Yang Maha Indah.

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kerinduannya untuk bertemu Allah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani).

Keindahan-Nya Melupakan Segala Kenikmatan

Keindahan-Nya Melupakan Segala Kenikmatan

Dari sahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Ketika penduduk surga sudah masuk ke dalam surga, Allah berfirman menawarkan kepada mereka: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan?’ Merekapun menjawab, ’Bukankah Engkau telah membuat wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Kemudian dibukalah tabir (penutup wajah Allah), hingga tidak ada nikmat yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai, dari pada nikmat memandang wajah Allah ta’ala. (HR. Ahmad 18935, Muslim 181, Turmudzi 2552, dan yang lainnya)

Surga adalah taman yang penuh keindahan. Keindahan yang bisa dirasakan semua indera. Namun keindahan surga menjadi terlupakan, ketika penduduk surga memandang wajah Dzat Yang Maha Indah, Dzat yang telah menciptakan segala keindahan. Itulah nikmat terbesar surga, mengalahkan segala nikmat yang disediakan di surga.

Jasa Ulama bagi Semesta Alam

Jasa Ulama bagi Semesta Alam

Dari Abu Darda’ Radiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ

“Seorang ulama akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan-ikan di air” (HR. Ahmad 21715, Turmudzi 2682, Ibnu Majah 223 dan yang lainnya)

Mengapa binatang turut mendoakan ulama? Berikut keterangan al-Khithabi,

إن الله سبحانه قد قيض للحيتان وغيرها من أنواع الحيوان العلم على ألسنة العلماء أنواعا من المنافع والمصالح والأرزاق فهم الذين بينوا الحكم فيما يحل ويحرم منها وأرشدوا إلى المصلحة في بابها وأوصوا بالإحسان إليها ونفي الضرر عنها فألهمها الله الاستغفار للعلماء مجازاة على حسن صنيعهم بها وشفقتهم عليها

Allah ta’ala menjadikan ilmu yang disampaikan ulama bisa bermanfaat dan sebab lapangnya rizki bagi ikan dan binatang lainnya. Karena para ulama telah menjelaskan hukum tentang masalah halal haram, membimbing masyarakat tentang manfaat binatang, dan menyuruh mereka untuk bersikap baik terhadap binatang, dan tidak mendzalimi binatang. Karena itu, Allah ilhamkan kepada mereka untuk mendoakan kebaikan bagi para ulama, sebagai balasan dan rasa terima kasih atas jasa besar mereka terhadap binatang. (Aunul Ma’bud, 10/53).

Karena jasa ulama yang menjelaskan pengamalan syariat, mereka bisa hidup lebih tenang. Tanpa pengetahuan syariah, manusia akan semakin serakah. Benarlah apa disampaikan oleh Hasan al-Bashri,

لولا العلماء لكان الناس كالبهائم

“Andai bukan karena ulama, niscaya manusia akan seperti binatang.”

Maksiat = Merusak Bumi

Maksiat = Merusak Bumi

Allah berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-A’raf: 56)

Abu Bakr bin Ayasy – seorang ulama tabiin – pernah ditanya tentang tafsir ayat ini, jawaban beliau,

إن الله بعث محمداً إلى أهل الأرض وهم في فساد فأصلحهم الله بمحمد صلى الله عليه وسلم ، فمن دعا إلى خلاف ما جاء به محمد صلى الله عليه وسلم فهو من المفسدين في الأرض

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad ke penduduk bumi ketika mereka dalam kondisi rusak. Kemudian Allah perbaiki mereka dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, siapa yang mengajak pada keadaan yang bertentangan dengan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia termasuk orang yang berbuat kerusakan. (ad-Dur al-Mantsur, Tafsir bil Ma’tsur, As-Suyuthi, 4/250)

Orang yang melakukan kesyirikan, mereka telah berbuat kerusakan, sekalipun mereka sebut sebagaI kearifan lokal. Orang yang melakukan bid’ah, mereka telah berbuat kerusakan, meskipun nampaknya beribadah. Para pembela pemikiran sesat, sejatinya pelaku kerusakan, sekalipun mereka menyebutnya kebebasan individu. Wanita yang mengumbar aurat, mereka berbuat kerusakan, sekalipun lelaki yang memandangnya turut menikmati dengan dosa.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu melakukan perbaikan.

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat

Al-Baihaqi dalam syu’ab al-Iman membawakan riwayat bahwa dulu di usia mudanya, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang suka menghadang di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Ada satu peristiwa yang membuat beliau bertaubat,

Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS. Al-Hadid : 16).

Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam:

“Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).”

Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan misinya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.”

Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201)

Setelah bertaubat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau,

الإمام القدوة الثبت شيخ الإسلام

“Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam.”

Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau,

ثقة عابد امام

“Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar.”

Sekarang Saatnya!

Sekarang Saatnya!

Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua.

“Berapa usia anda?”, tanya Fudhail.

“60 tahun.”, Jawab orang itu.

“Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail

“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan.

“Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail.

“Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya.

“Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail.

“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu.

“Caranya mudah.” Tegas Fudhail.

Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas,

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ

Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113).

Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.”

”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.”

(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598).

Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik.

Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)