Kebenaran Harus Bersabar

Kebenaran Harus Bersabar

Memiliki aqidah dan manhaj yang benar, bukan jaminan mendapat kemenangan. Kebenaran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan adalah kebenaran yang bersabar. Sedikit yang penyabar, itulah yang akan mengalahkan kebatilan yang dalam jumlah besar.

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat

Kota Hijr adalah kota tempat tinggal kaum tsamud, umat Nabi Soleh ’alaihis salam. Ketika Nabi Soleh berdakwah di kota ini, ada 9 orang yang bersekongkol untuk menghalangi dakwah beliau. Sekalipun mereka hanya sembilan orang, namun jumlah yang sedikit ini bisa membinasakan seluruh kaum Nabi Soleh. Berkat jasa besar mereka, kaum Tsamud berani melawan Nabinya.

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

“Di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48)

Hati-hati dengan keberadaan orang jahat di lingkungan kita. Bisa jadi, dia menjadi sebab kerusakan masyarakat di lingkungan anda.

Sedih Karena Tidak Paham Tafsirnya

Sedih Karena Tidak Paham Tafsirnya
Allah menyatakan bahwa satu-satunya orang yang bisa memahami permisalan dalam al-Qur’an adalah orang yang berilmu,

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Demikianlah berbagai perumpamaan (permisalan) yang kami berikan kepada manusia. Dan tidak ada yang bisa merenungkan maknanya kecuali orang yang berilmu.” (QS. al-Ankabut: 43)

Dari Amr bin Murah beliau mengatakan,

ما مررت بآية من كتاب الله لا أعرفها إلا أحزنني، لأني سمعت الله تعالى يقول: { وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ

Setiap kali saya membaca ayat al-Quran yang tidak saya pahami maknanya, maka saya sangat sedih. Karena saya mendengar firman Allah, (yang artinya): “Demikianlah berbagai perumpamaan (permisalan) yang kami berikan kepada manusia. Dan tidak ada yang bisa merenungkan maknanya kecuali orang yang berilmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/280).

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat

Al-Hafidz Ibnu Rajab mendefinisikan al-Ilmu an-Nafi’ (ilmu yang manfaat) sebagai berikut,

ضبط نصوص الكتاب والسنة وفهم معانيها والتقيد في ذلك بالمأثور عن الصحابة والتابعين وتابعيهم في معاني القرآن والحديث

“Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil al-Qur’an dan Sunah, yang disesuikan dengan keterangan dari para sahabat, para Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadis.

Kemudian beliau melanjutkan,

وفيما ورد عنهم من الكلام في مسائل الحلال والحرام. والزهد. والرقائق. والمعارف

Termasuk beberapa keterangan dari mereka dalam masalah halal-haram, zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah).

(Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf, hlm. 6).

Semua metode kajian dalam memahami al-Quran dan sunah yang tidak pernah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk sahabat), bukanlah ilmu nafi’.

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟

”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?”

Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?

Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya).

Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Allah menceritakan keadaan para sahabat,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ

Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101)

Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal:

  1. Mereka selalu mempelajari al-Quran
  2. Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka.

Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu.

Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri.

Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar,

كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري

“Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya.

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30)

Di ayat lain, Allah berfirman,

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7)

Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip:

  • toleransi sepenuhnya kepada masyarakat,
  • sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat
  • jangan sampaikan masalah khilafiyah
  • jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah,

dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi.

Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian.

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى

Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118)

Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya.

Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji
Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran.

Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain.
Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya.

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

(Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.