Dua Cara Mudah Tadabbur Al-Quran – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama
Di antara metode agar Anda dapat merasakan nikmatnya al-Qur’an adalah dengan mentadaburi al-Qur’an ketika Anda sedang membacanya.
“Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Quran?” (QS. Muhammad: 24)
Allah ‘azza wa jalla memotivasi kita untuk mentadaburi al-Qur’an dengan cara kita menghayati ayat-ayatnya.
CARA TADABUR PERTAMA:
Ketika membaca Al-Quran, Anda menyadari bahwa Anda adalah orang yang diajak bicara oleh al-Qur’an.
Sehingga Anda senantiasa berhenti di setiap ayat yang Anda baca, ketika Anda dapati ayat berisi perintah, Anda perhatikan keadaan Anda terhadap perintah ini.
Apakah Anda termasuk orang yang melaksanakan perintah pada ayat tersebut?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun apabila Anda dapati diri Anda lalai, maka bersegeralah untuk mematuhinya…
Dan apabila Anda membaca ayat berisi larangan, Anda perhatikan diri Anda sendiri…
Apakah Anda sudah tinggalkan perbuatan dosa yang Allah ‘Azza wa Jalla larang untuk Anda kerjakan?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun jika Anda dapati Anda melakukan apa yang telah Allah larang dalam kitab-Nya, maka bersegeralah untuk mematuhinya dengan meninggalkan perbuatan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla larang.
CARA TADABUR KEDUA:
Anda memikirkan kandungan al-Qur’an, dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an. “Dan sesungguhnya dalam Al-Quran ini telah Kami jelaskan berulang-ulang agar mereka berpikir.” (QS. Al-Isra’: 41)
Allah telah mengulang-ulang ayat-ayat dalam al-Qur’an agar kita memikirkannya,agar kita merenungkan dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di dalam al-Qur’an.
Dan seorang mukmin yang mendapatkan taufik adalah dia yang bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya,
ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang ada di semesta ini, ayat-ayat Allah pada ciptaan-ciptaan-Nya, dan ayat-ayat Allah dalam berbagai peristiwa, sehingga dia termasuk orang yang mengambil pelajaran, karena ini akan membuahkan nikmatnya iman dalam hatinya.
Berdosakah Jika Tidak Mau Menikah? – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama
Dari Mesir, penanya berkata, “Wahai Syeikh, apakah seorang pemudi atau pemuda berdosa apabila dia bertekad untuk tidak menikah?”
Ya, dia berdosa apabila dia sebenarnya khawatir terjatuh dalam fitnah, maka sungguh dia wajib untuk menikah, agar dia tidak terjatuh dalam fitnah. Adapun apabila dia tidak khawatir dirinya terjatuh dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) saja.
Apabila dalam dirinya ada syahwat namun dia tidak khawatir terjerumus ke dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) hukumnya. Namun tidak ada seorang pun yang aman dari fitnah!
Jadi, bagaimana pun keadaannya, selagi seseorang mampu menikah hendaknya dia menikah!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian sudah mampu, maka menikahlah!
Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa bisa meredakan syahwat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan juga orang-orang yang shaleh dari kalangan budak-budak kalian yang laki-laki dan yang wanita.
Jika mereka miskin, Allah yang akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya, hingga Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33)
Baiklah, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda.
Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani? Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.
Arti “Bukan Golongan Kami” (Laisa Minnaa) dalam Hadis Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama
Makna sabda Rasulullah, “…maka bukan termasuk golongan kami (LAISA MINNAA)”. “Bukan golongan kami” (LAISA MINNAA) di sini maknanya seperti dalam sabda beliau, “Barangsiapa yang menipu kami, maka bukan golongan kami.” Bukan golongan kami (LAISA MINNAA), artinya: “Tidak berada di atas jalan dan tuntunan kami.” Dan yang dimaksud bukanlah menjadi kafir. Namun yang dimaksud adalah ia telah melakukan dosa besar. Melakukan dosa besar. Ketika Rasul bersabda, “Maka ia bukan golongan kami (LAISA MINNAA)” yakni ia telah melakukan dosa besar. Demikian.
Pentingnya Latihan Akal dalam Menghafal – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan adalah 2 kesalahan besar.
Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan adalah 2 kesalahan besar.
Pertama, tidak melatih akal untuk menghafal.
Tidak melatih akal untuk menghafal. Karena hafalan merupakan kemampuan yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit.
Karena hafalan merupakan kemampuan yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit, dan akal harus dilatih untuk menghafal dengan menghafal sedikit saja dulu. Kemudian setelah beberapa waktu ia dapat menambah jumlah hafalannya. Jika ia terus melakukan cara ini, maka akalnya akan semakin kuat dalam menghafal.Sedangkan orang yang tidak melatih akalnya untuk menghafal, dan ingin memiliki hafalan banyak begitu saja, maka ini akan memberatkan akalnya, sehingga akalnya enggan untuk menghafal. Seperti orang yang hendak mengangkat barang yang berat, padahal sebenarnya mengangkat sepersepuluh dari berat itupun ia tidak mampu, namun ia ingin segera mengangkat barang berat ini dengan tangannya sehingga ototnya putus dan tercerai berai, dan akhirnya ia tidak mampu mengangkat barang yang lebih ringan dari itu.
Demikian pula halnya dengan akal, Jika dibebani dengan hafalan yang banyak di permulaannya, tanpa ada latihan bagi akal terlebih dahulu, maka akal akan merasa berat dan enggan untuk menghafal. Maka hendaklah penuntut ilmu menghafal secara bertahap, Dengan mulai menghafal dengan kadar hafalan yang sedikit dan menjalani hal ini beberapa waktu, kemudian jika ia merasa akalnya telah mampu, maka ia dapat menambah kadar hafalannya. Seperti orang yang hendak menghafal al-Qur’an, hendaknya ia mulai menghafal al-Qur’an sedikit saja, mungkin beberapa ayat atau setengah halaman, jika ia memang mampu menghafalnya atau ia menghafal yang lebih sedikit dari itu dulu, kemudian setelah beberapa waktu, ia dapat menambah kadar hafalan sesuai dengan kemampuannya, jika ia merasa telah mampu menghafalnya. Jika ia konsisten melakukan ini, maka dirinya akan memiliki kemampuan untuk menghafal yang tidak ia miliki sebelumnya.
Terdapat satu cerita yang berkaitan dengan ini yang menjelaskan pentingnya melakukan latihan ini, yaitu cerita yang disebutkan Abu Hilal al-‘Askari dalam kitabnya. “Al-Hats ‘ala Hifzhi al-Ilmi”. Ia menceritakan dirinya. Pada awalnya, ia tidak mampu menghafal sya’ir meski hanya sedikit, namun ia terus melatih dirinya untuk menghafal sya’ir sedikit demi sedikit, dan terus menambah hafalannya, hingga pada akhirnya ia mampu menghafal sya’ir yang memiliki kalimat yang sulit. Yaitu sya’ir rajiz yang terkenal, yang dikarang oleh Ru’bah bin al-‘Ajjaj yang berjumlah 300 bait selama waktu sahur. Yakni ia dapat menghafalnya dalam waktu singkat, di waktu sebelum subuh. Ia dapat sampai pada level ini dalam menghafal dengan melatih akalnya, dan menambah hafalan sedikit demi sedikit.
Lima Cara Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil Setelah Shalat Fardhu – Syaikh Shalih al-Ushoimi
-ahsanallahu ilaikum-
Tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Pembacaan zikir-zikir ini memiliki 5 macam cara.
(1) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 10 kali.
(2) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar walaa ilaaha illallah.” Dibaca sebanyak 25 kali.
(3) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, tanpa menambahnya menjadi 100 kali.
(4) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan disempurnakan menjadi 100 dengan kalimat, “Allahu akbar.”
(5) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan disempurnakan menjadi 100 dengan kalimat, “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai’in qodir.”
Itulah cara kelima dari zikir yang dibaca setelah shalat fardhu, Yang terdiri dari tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
Zikir-zikir itu memiliki 5 cara pembacaan: Pertama,…
(PERTAMA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 10 kali. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan para penulis kitab as-Sunan, Dari riwayat Abdullah bin Amr -radhiyallahu ‘anhuma- Bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Terdapat dua hal, yang tidaklah dibaca oleh seorang muslim, melainkan ia akan masuk surga, dan dua hal ini cukup mudah…” Beliau menyebut salah satunya, yaitu mengucap zikir “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” sebanyak 10 kali.
“Yakni mengucap tasbih 10 kali, takbir 10 kali, dan tahmid 10 kali.” Sanad hadits ini shahih.
(KEDUA)
Membaca “Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 25 kali; dan ditambah bacaan tahlil (laa ilaaha illallah) 25 kali, sehingga menjadi 100 kali. Menjadi 100 kali.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan an-Nasa’i dari riwayat, Zaid bin Tsabit -radhiyallahu ‘anhu- bahwa seseorang dari kaum Anshar bermimpi dan dikatakan padanya dalam mimpi itu. “Bacalah dalam shalat kalian, ‘Subhanallah’ 25 kali, ‘Allahu akbar’ 25 kali, dan ‘Alhamdulillah’ 25 kali. Dan tambahlah dengan bacaan tahlil sebanyak 25 kali.”
Maka ia menceritakan mimpinya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka Nabi -shallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan mereka untuk mengamalkan apa yang disebutkan lelaki kaum Anshar itu. Sanad hadits ini shahih.
(KETIGA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, tanpa menambahnya menjadi 100 kali. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits itu disebutkan perintah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada mereka untuk bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali. Dan tidak disebutkan penambahannya menjadi 100 kali.
(KEEMPAT)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan menyempurnakannya menjadi 100 dengan mengucapkan kalimat, “Allahu akbar.” Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Ka’ab bin ‘Ujrah. Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim dari riwayat Ka’ab bin ‘Ujrah. Disebutkan pula dalam hadits riwayat seorang kaum Anshar yang diriwayatkan an-Nasa’i. Dan yang kelima;
(KELIMA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan menyempurnakannya menjadi 100 dengan mengucapkan kalimat, “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku, walahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.” Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim dari riwayat. Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-
Itulah lima cara pembacaannya yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Diriwayatkan pula cara keenam, yaitu dengan membaca zikir ini sebanyak 11 kali. Namun riwayat ini mengandung kesalahan periwayatan oleh Suhail bin Abu Shalih, dalam riwayat dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Dan riwayat yang benar dalam hadits ini bukan menyebutkan 11 kali, namun yang disebutkan adalah 10 kali. Disyariatkan bagi seorang hamba untuk membaca zikir ini dengan salah satu cara tersebut. tidak dengan menggabungkannya
Baik itu dengan membacanya 10 kali, atau 25 kali, atau dengan jumlah-jumlah lainnya. Dan yang terbaik, membaca dengan cara-cara itu secara bergantian. Yaitu dengan mengamalkan cara ini dalam shalat ini, cara itu di shalat lain, dan cara lainnya di shalat lainnya. Atau dengan cara ini di hari ini, dan cara lain di hari lain, dan cara lain di hari lainnya. Ini lebih baik daripada menggabungkan sunnah-sunnah yang memiliki beragam cara. Dan ini pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah al-Hafid, dan Abu al-Faraj Ibnu Rajab dalam kitabnya al-Qawaid. Demikian. Dan disyariatkan ketika membaca tasbih ini, untuk menghitungnya dengan ‘aqdul ashabi’. Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa kalian tidak berzikir setelah shalat? Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa makna ‘al-‘Aqd’? Maknanya yaitu menggenggamkan jari ke telapak tangan. Itulah makna ‘al-‘Aqd’. Menggenggamkan jari ke telapak tangan, disebut dengan ‘al-‘Aqd’. Adapun meletakkan ujung jari ke telapak tangan, bukanlah ‘al-‘Aqd’. Sambil mengucap, “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” (3x) Ini boleh dilakukan. Namun sunnahnya adalah dengan al-‘Aqd, yakni menggenggamkan jari-jari ke telapak tangan.Sambil mengucapkan, “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” (3x) Inilah yang dinamakan dengan al-‘Aqd. Demikian.