Kapan Membaca Dzikir Pagi? – Syaikh Shalih Al – Ushoimi #NasehatUlama Salah satu zikir yang memiliki waktu tertentu secara syariat adalah zikir pagi. Dan pagi ialah nama bagi waktu di awal siang. Pagi ialah nama bagi waktu di awal siang. Yakni awal siang disebut dengan pagi. Awal waktu siang disebut dengan pagi. Sehingga ‘pagi’ tidak …
Ini Tanda – tanda Seseorang yang Bertaqwa – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Pertanyaan: “Syeikh yang mulia, apakah ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang hamba telah mencapai derajat takwa sehingga dia bisa terus meniti jalan tersebut ataukah takwa adalah kedudukan yang tidak diketahui kecuali Allah saja?” Tidak diragukan lagi bahwa takwa ada tanda-tandanya, sehingga barang siapa …
Tawadhu Itu Ada pada Dua Perkara – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama
Segala puji bagi Allah, dua perkara ini disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud -radhiallaahu ‘anhu-, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah darinya. Pokok kerendahan hati (tawadhu) itu ada pada dua perkara. PERTAMA: Ketika Anda rela duduk di pinggiran pada majelis yang mulia, maksudnya di tempat yang tidak terlihat, tidak harus di tempat yang terhormat dalam majelis tersebut. KEDUA: Anda selalu memulai mengucapkan salam kepada siapa pun yang Anda temui, Anda yang memulai mengucapkan salam! Semoga Allah meridhai orang-orang yang rendah hati (tawadhu)
Dua Cara Mudah Tadabbur Al-Quran – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama
Di antara metode agar Anda dapat merasakan nikmatnya al-Qur’an adalah dengan mentadaburi al-Qur’an ketika Anda sedang membacanya.
“Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Quran?” (QS. Muhammad: 24)
Allah ‘azza wa jalla memotivasi kita untuk mentadaburi al-Qur’an dengan cara kita menghayati ayat-ayatnya.
CARA TADABUR PERTAMA:
Ketika membaca Al-Quran, Anda menyadari bahwa Anda adalah orang yang diajak bicara oleh al-Qur’an.
Sehingga Anda senantiasa berhenti di setiap ayat yang Anda baca, ketika Anda dapati ayat berisi perintah, Anda perhatikan keadaan Anda terhadap perintah ini.
Apakah Anda termasuk orang yang melaksanakan perintah pada ayat tersebut?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun apabila Anda dapati diri Anda lalai, maka bersegeralah untuk mematuhinya…
Dan apabila Anda membaca ayat berisi larangan, Anda perhatikan diri Anda sendiri…
Apakah Anda sudah tinggalkan perbuatan dosa yang Allah ‘Azza wa Jalla larang untuk Anda kerjakan?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun jika Anda dapati Anda melakukan apa yang telah Allah larang dalam kitab-Nya, maka bersegeralah untuk mematuhinya dengan meninggalkan perbuatan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla larang.
CARA TADABUR KEDUA:
Anda memikirkan kandungan al-Qur’an, dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an. “Dan sesungguhnya dalam Al-Quran ini telah Kami jelaskan berulang-ulang agar mereka berpikir.” (QS. Al-Isra’: 41)
Allah telah mengulang-ulang ayat-ayat dalam al-Qur’an agar kita memikirkannya,agar kita merenungkan dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di dalam al-Qur’an.
Dan seorang mukmin yang mendapatkan taufik adalah dia yang bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya,
ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang ada di semesta ini, ayat-ayat Allah pada ciptaan-ciptaan-Nya, dan ayat-ayat Allah dalam berbagai peristiwa, sehingga dia termasuk orang yang mengambil pelajaran, karena ini akan membuahkan nikmatnya iman dalam hatinya.
Berdosakah Jika Tidak Mau Menikah? – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama
Dari Mesir, penanya berkata, “Wahai Syeikh, apakah seorang pemudi atau pemuda berdosa apabila dia bertekad untuk tidak menikah?”
Ya, dia berdosa apabila dia sebenarnya khawatir terjatuh dalam fitnah, maka sungguh dia wajib untuk menikah, agar dia tidak terjatuh dalam fitnah. Adapun apabila dia tidak khawatir dirinya terjatuh dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) saja.
Apabila dalam dirinya ada syahwat namun dia tidak khawatir terjerumus ke dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) hukumnya. Namun tidak ada seorang pun yang aman dari fitnah!
Jadi, bagaimana pun keadaannya, selagi seseorang mampu menikah hendaknya dia menikah!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian sudah mampu, maka menikahlah!
Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa bisa meredakan syahwat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan juga orang-orang yang shaleh dari kalangan budak-budak kalian yang laki-laki dan yang wanita.
Jika mereka miskin, Allah yang akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya, hingga Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33)
Baiklah, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda.
Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani? Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.