Dua Dzikir Setelah Shalat Fardhu yang Digabung – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dua Dzikir Setelah Shalat Fardhu yang Digabung – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

-ahsanallahu ilaikum-
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu. Lahun ni’matu walahul fadhlu walahuts tsanaa’ul hasan. Laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diina walau karihal kaafiruun.” Dibaca sebanyak satu kali. Ini adalah zikir keempat yang dibaca setelah shalat wajib lima waktu.

Yaitu dengan mengucapkan, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaah… dan seterusnya. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Muslim dari riwayat Abu az-Zubair al-Makkiy, ia berkata, “Dahulu apabila Abdullah bin az-Zubair -radhiyallahu ‘anhu- telah melakukan salam di akhir shalatnya, ia lalu membaca: ‘Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu…dan seterusnya.’”
Kemudian ia berkata, “Ia menyebutkan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa bertahlil dengan zikir itu setiap selesai shalat.” Yakni beliau membaca tahlil itu setelah mendirikan shalat fardhu.

Dan dalam banyak kitab dari beberapa penulis yang menulis tentang kitab-kitab zikir secara umum, atau kitab-kitab zikir shalat secara khusus, zikir ini hanya disebutkan dari kalimat:
“Laa haula walaa quwwata illaa billaah, Laa ilaaha illallaahu… dan seterusnya. Dan mereka tidak menyebutkan kalimat pertamanya. Mereka menyebutkan zikir ketiga yang dibaca setelah shalat:
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Allaahumma laa maani’a limaa a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta… dan seterusnya. Kemudian mereka menyebutkan zikir yang keempat, dimulai dari kalimat:“Laa haula walaa quwwata illaa billaah… dst.” Apa yang mendasari mereka untuk melakukan ini? Iya, hai Badar? Itu jawaban para ahli hadits. Dan kita sekarang membahas metode para ahli fiqih. Kita butuh jawaban ahli fiqih. Benar. Hal ini termasuk dalam ‘penggabungan antar ibadah’. Dan ini dilakukan oleh para ahli fiqih dalam banyak perkara.

Jadi hal ini termasuk dalam ‘penggabungan antar ibadah’. Kalimat pertama pada zikir, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.” Mereka memandangnya sebagai permulaan pada zikir yang pertama, ketiga, dan keempat, sehingga cukup dibaca sekali saja. Oleh sebab itu, pada zikir keempat mereka cukup menyebutkan kalimat setelahnya saja. Maka pada zikir keempat, mereka cukup menyebutkan kalimat setelahnya saja.

Kalian paham perkara ini? Ini termasuk dalam perkara ‘penggabungan antar ibadah’, maka cukup melakukan satu saja, dari dua ibadah yang sama. Dan perkara ini telah dilakukan para ahli fiqih dalam banyak perkara ibadah. Maka hal ini adalah sesuatu yang sah dari sisi pengamalan fiqih. Sehingga apa tingkat hukumnya? Apa tingkat hukumnya? Boleh, Benar. Hukumnya, boleh. Akan tetapi, sunnahnya seperti apa? Sunnahnya, membaca dua zikir itu sepenuhnya. Akan tetapi, hukum sunnahnya adalah membaca dua zikir itu seluruhnya.

Perkara ini boleh dilakukan jika dilihat dari sisi kebolehannya. Namun dari sisi pengamalan sunnahnya, maka lebih utama bagi seorang hamba membaca seluruhnya sesuai sunnah. Dan fenomena fiqih ini menjelaskan kepadamu perbedaan antara fiqih zhahir yang dijalankan ahli hadits dan fiqih yang dijalankan ahli fiqih, yang merupakan metode ahli hadits terdahulu, seperti Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad. Dan yang dilakukan para ahli fiqih ini berdasarkan kaidah agung dalam syariat, yaitu ‘penggabungan antar ibadah’. Dan ini adalah perkara yang boleh. Sedangkan sunnahnya adalah dengan melakukan keduanya secara sempurna. Sehingga jika ada yang mengatakan ini adalah perkara bid’ah, maka itu adalah perkataan batil, karena tidak ada ulama terdahulu mengatakan itu. Dan perkara ini berdasarkan kaidah fiqih, yaitu ‘penggabungan antar ibadah’, karena beberapa ibadah terkadang serupa, sehingga yang satu ditinggalkan dan cukup melaksanakan yang satu lagi, tanpa harus mengulangi ibadah yang serupa. Namun sunnahnya adalah dengan membaca dua zikir ini secara sempurna. Dan barangsiapa yang luas ilmunya, maka akan mudah memaklumi. Orang yang luas ilmunya, akan mudah memaklumi orang lain, karena ia tahu pendapat-pendapat itu memiliki landasan yang diakui dalam syariat Sehingga ia tidak terburu-buru mengingkari dan melemahkan pendapat itu. Namun ia merujuknya kepada sumbernya. Kemudian menjelaskan bahwa sunnahnya adalah seperti ini dan itu.

================================================================================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ

لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

يَقُولُه مَرَّةً وَاحِدَةً

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الرَّابِعُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ

وَهُوَ قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ … إِلَى تَمَامِ هَذَا الذِّكْرِ

فِيمَا رَوَاهُ مُسْلمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ

قَالَ كَانَ عَبْدُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا سَلَّمَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ … حَتَّى ذَكَرَهُ

ثُمَّ قَالَ

وَكَانَ يَذْكُرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يُهَلِّلُ بِهِنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ

أَيْ أَنَّهُ كَانَ يَأْتِي بِهَذِهِ التَّهْلِيْلَةِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ

وَوَقَعَ فِي تَصَانِيفِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُصَنِّفِيْنَ فِي

الْأَذْكَارِ عُمُوْمًا أَوْ فِي أَذْكَارِ الصَّلَاةِ خُصُوْصًا

اِقْتِصَارُهُمْ فِي هَذَا الذِّكْرِ عَلَى جُمْلَةِ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِلَى آخِرِهِ

وَلَمْ يَذْكُرُوا الْجُمْلَةَ الْأُولَى

فَهُم يَذْكُرُونَ الذِّكْرَ الثَّالِثَ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ إِلَى تَمَامِهِ

ثُمّ يَذْكُرُونَ الرَّابِعَ مُبْتَدِأً بِـ

لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

مَا الْحَامِلُ لَهُمْ عَلَى ذَلِكَ؟

هَا يَا بَدْرُ

هَذَا جَوَابُ الْمُحَدِّثِيْنَ

وَنَحْنُ الْآنَ فِي صِنَاعَةِ فُقَهَاء

نُرِيْدُ جَوَابَ الْفُقَهَاءِ

أَحْسَنْتَ

أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ

وَهَذَا يَتَصَرَّفُ فِيهِ الْفُقَهَاءُ فِي مَوَاضِعَ عِدَّةٍ

أَنَّ هَذَا مِنْ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ

فَالْجُمْلَةُ الْأُولَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ

يَرَوْنَ أَنَّهَا تَكُونُ صَدْرًا لِلْأَوَّلِ وَصَدْرًا لِلثَّالِثِ وَصَدْرًا لِلرَّابِعِ

فَيَكْفِي الْإِتْيَانُ بِهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

فَيَقْتَصِرُوْنَ مِنَ الذِّكْرِ الرَّابِعِ عَلَى مَا زَادَ عَلَيْهِ

فَيَقْتَصِرُوْنَ مِنَ الذِّكْرِ الرَّابِعِ عَلَى مَا زَادَ عَلَيْهِ

فَهِمْتُمْ وَجْهَهُ؟

أَنَّ هَذَا مِنْ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ

فَيُكْتَفَى بِوَاحِدٍ عَنِ اثْنَيْنِ

وَهَذَا مِنْ تَصَرُّفِ الْفُقَهَاءِ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ

فَيَكُوْنُ صَحِيْحًا بِاعْتِبَارِ التَّصَرُّفِ الْفِقْهِيِّ

فَهُوَ مَا مَرْتَبَتُهُ الْحُكْمِيَّةُ ؟

أَيْش مَرْتَبَتُهُ الْحُكْمِيَّةُ ؟

جَائِزَةٌ أَحْسَنْتَ

مَرْتَبَتُهُ الحُكُومِيَّةُ جَائِزَةٌ

لَكِنَّ السُّنَّةَ ؟

الْإِتْيَانُ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ

لَكِنَّ السُّنَّةَ الْإِتْيَانُ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ

فَهُوَ بِاعْتِبَارِ بَابِ الْجَوَازِ جَائِزٌ

وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ بَابِ الِاتِّبَاعِ لِلسُّنَّةِ

فَالْأَكْمَلُ أَنْ يَأْتِيَ الْعَبْدُ

بِالسُّنَّةِ كَامِلَةً

وَهَذَا الْمَوْرِدُ الْفِقْهِيُّ يُبَيِّنُ لَكَ الْفَرْقَ

بَيْنَ فِقْهِ الظَّاهِرِ مِنَ الْمُشْتَغِلِ بِالْحَدِيْثِ

وَبَيْنَ فِقْهِ الْفَقِيهِ

الَّذِي هُوَ عَلَى طَرِيقَةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ الْأَوَائِلِ

كَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ

بِأَنَّ تَصَرُّفَ مَنْ تَصَرَّفَ مِنَ الْفُقَهَاءِ

مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ عَظِيْمٍ فِي الشَّرِيعَةِ

وَهُوَ تَدَاخُلُ الْعِبَادَاتِ

وَهُوَ مِنْ بَابِ الْجَائِزِ

وَأَمَّا السُّنَّةُ فَالْإِتْيَانُ بِهِمَا التَّامَّيْنِ

فَمَنْ يَزْعُمُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْبِدَعِ

هَذَا قَولٌ بَاطِلٌ

لِأَنَّهُ لَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ قَبْلَهُ

وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ فِقْهِيٍّ

وَهُو تَدَاخُلُ الْعِبَادَاتِ

وَالْعِبَادَاتُ قَدْ تَتَدَاخَلُ

فَيُتْرَكُ شَيْءٌ مِنْهَا لِشَيْءٍ اِسْتِغْنَاءً بِهِ

دُونَ حَاجَةٍ إِلَى تَكْرَارِ ذِكْرِهِ

لَكِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تَأْتِيَ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ

وَمَنِ اتَّسَعَ عِلْمُهُ عَظُمَ عُذْرُهُ

الَّذِيْ يَتَّسِعُ عِلْمُهُ يَعْظُمُ عُذْرُهُ لِلنَّاسِ

يَجِدُ أَنَّ هَذِهِ الْأَقْوَالَ لَهَا مَآخِذُ مُعْتَدٌّ بِهَا فِي الشَّرِيعَةِ

فَلَا يُبَادِرُ بِتَجْهِيْلِهَا أَوْ إِضْعَافِهَا أَوْ تَوْهِيْنِهَا

لَكِنْ يَحْمِلُهَا عَلَى مَأْخَذٍ

ثُمَّ يُبَيِّنُ أَنَّ السُّنَّةَ هِيَ كَذَا وَكَذَا

Dua Dzikir Khusus Setelah 2 Shalat Sunnah (Witir dan Dhuha) – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Dua Dzikir Khusus Setelah 2 Shalat Sunnah (Witir dan Dhuha) – Syaikh Shalih al-Ushoimi

– Ahsanallahu ilaikum-
Jenis kedua adalah zikir yang dibaca setelah shalat-shalat sunnah. Inilah jenis kedua dari zikir yang dibaca setelah shalat, yaitu zikir yang dibaca setelah shalat-shalat sunnah. Dan yang dimaksud dengan kata “dubur” (الدُّبُرُ) yakni membacanya setelah salam. Karena seseorang jika telah salam dari shalat sunnah, maka hendaklah ia membacanya. Demikian. Dan terdapat dua zikir pada jenis ini. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan bahwa zikir-zikir yang dibaca setelah shalat sunnah ada dua zikir. Sedangkan selain dua zikir itu, maka tidak dibaca saat itu.

Baik itu karena zikir tersebut tidak shahih riwayatnya, atau karena zikir itu tidak shahih secara dirayahnya. Seperti doa Shalat Istikharah penulis tidak menyebutkan doa istikharah sebagai zikir dalam jenis ini. Mengapa? Kamu benar!

Karena doa Shalat Istikharah masih termasuk zikir dalam shalat,Bukan zikir yang dibaca di luar shalat. Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Jika seorang dari kalian bertekad terhadap sesuatu maka hendaklah ia shalat dua rakaat kemudian membaca, “Allahumma innii astakhiiruka bi’ilmika…dst.”

Sehingga doa istikharah termasuk bacaan dalam shalat itu. Seandainya seseorang shalat dua rakaat, lalu setelahnya ia membaca doa itu, maka ia tidak dianggap melakukan Shalat Istikharah.

Ia dianggap tidak melakukan Shalat Istikharah, dan tidak termasuk dalam hadits tersebut. Demikian.

-Ahsanallahu ilaikum-

(Subhaanal malikil qudduus) dibaca sebanyak tiga kali…

Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga, setiap selesai Shalat Witir.

Inilah zikir pertama yang dibaca setelah shalat sunnah, yaitu zikir yang dibaca setelah Shalat Witir:

(Subhaanal malikil qudduus) dibaca sebanyak tiga kali. Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan an-Nasa’i dari riwayat Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-.

“Bahwa jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- selesai Shalat Witir, beliau membaca…

(Subhaanal malikil qudduus) sebanyak tiga kali. Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.” Dan dalam riwayat lain “Memanjangkan suaranya pada bacaan ketiga.” Namun keduanya memiliki makna yang sama. Yakni mengucapkan seperti ini, “Subhaanal malikil qudduus,…

Subhaanal malikil qudduus, Subhaaanal malikil qudduus (bacaan ketiga ini lebih keras).” Dan Imam ad-Daruquthni dan lainnya meriwayatkan lafazh tambahan, (Robbul malaa-ikati war ruuh), namun lafazh tambahan ini riwayatnya tidak shahih. Yang shahih adalah cukup dengan membaca,…

(Subhaanal malikil qudduus) sebanyak tiga kali. Jika beliau selesai salam pada Shalat Witir, beliau membaca zikir ini. Demikian.

-Ahsanallahu ilaikum-

(Allaahummaghfir lii, wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwaabul ghofuur) Dibaca sebanyak 100 kali setelah Shalat Dhuha. Risalah ini ditulis oleh Shalih bin Abdullah bin Hamad al-‘Ushaimi. Semoga Allah mengampuni beliau, orangtua beliau, para guru beliau, dan seluruh umat muslim. Selesai ditulis pada waktu ashar di hari Jum’at 24 Dzulhijjah 1433 H.

Ini merupakan zikir kedua yang dapat dibaca setelah shalat sunnah, yaitu zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

(Allaahummaghfir lii, wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwaabul ghofuur) Dibaca sebanyak 100 kali.

Berdasarkan riwayat Imam an-Nasa’i dalam kitab as-Sunan al-Kubra. Dari riwayat seorang kaum Anshar, bahwa ia pernah berjalan melalui Nabi -shallalahu ‘alaihi wa sallam- saat beliau Shalat Dhuha, lalu itu ia mendengar beliau membaca, “Allaahummaghfir lii wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwabul ghofuur.”

Ia berkata, aku menghitung beliau membacanya hingga 100 kali. Hadits ini memiliki sanad yang shahih.

Lafazh matan hadits ini berbeda-beda, namun inilah yang paling baik. Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan zikir ini sebagai zikir yang dibaca setelah shalat; menjadi dua pendapat.

Pendapat mereka terbagi menjadi dua dalam menetapkannya sebagai zikir setelah shalat.

Pendapat pertama:
Pendapat bahwa ia adalah zikir yang dibaca setelah shalat fardhu. Zikir ini adalah zikir yang dibaca setelah shalat fardhu. Dan ini pendapat Ibnu Abi Syaibah dan an-Nasa’i. Ini adalah pendapat Ibnu Abi Syaibah dan an-Nasa’i.

Dan pendapat kedua:…

Pendapat bahwa ia merupakan zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha. Zikir ini adalah zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha. Dan ini pendapat Abu Bakar al-Baihaqi.

Ini adalah pendapat Abu Bakar al-Baihaqi. Dan pendapat yang lebih kuat adalah, -wallahu a’lam-… Pendapat kedua lebih kuat daripada pendapat pertama. Yakni zikir ini merupakan zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha. Termasuk zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha. Shalat sunnah yang memiliki zikir khusus setelahnya adalah Shalat Witir dan Shalat Dhuha saja. Sedangkan setelah shalat sunnah lainnya tidak terdapat zikir khusus. Sehingga jika seseorang selesai shalat sunnah rawatib sebelum subuh, maka ia tidak perlu membaca “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.” Mengapa? Mengapa tidak perlu membacanya? Kamu benar! Karena zikir ini (istighfar 3 kali), khusus dibaca setelah shalat fardhu. Tidak ada riwayat dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tidak pula dari salah satu sahabat beliau… Bahwa mereka membaca zikir ini (istighfar 3 kali), setelah shalat sunnah.

================================================================================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ

دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الثَّانِي مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ

وَهُوَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَاةِ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ

وَالْمُرَادُ بِالدُّبُرِ هُنَا الْإِتْيَانُ بِهَا بَعْدَ السَّلَامِ

لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا سَلَّمَ مِنْ نَافِلَةٍ

جَاءَ بِهَا نَعَمْ

وَهُمَا ذِكْرَانِ

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ

أَنَّ هَذِهِ الْأَذْكَارَ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ الْمُتَنَفَّلِ بِهَا نَوْعَانِ

وَمَا عَدَاهُمَا فَهُو مَتْرُوْكٌ

إِمَّا لِعَدَمِ ثُبُوتِهِ رِوَايَةً

وَإِمَّا لِعَدَمِ ثُبُوتِهِ دِرَايَةً

كَدُعَاءِ صَلَاةِ الِاسْتِخَارَةِ

فَدُعَاءُ صَلَاةِ الِاسْتِخَارَةِ لَمْ يَعُدَّهُ الْمُصَنِّفُ وَتَرَكَهُ

لِمَاذَا؟

أَحْسَنْتَ

لِأَنَّهُ مِنَ الصَّلَاةِ نَفْسِهَا

وَلَيْسَ ذِكْرًا خَارِجًا عَنْهُ

فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ

فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ

ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ

فَدُعَاءُ الِاسْتِخَارَةِ مِنْ جُمْلَةِ صَلَاتِهَا

فَلَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

وَدَعَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَخِيرًا

لَمْ يَكُنْ مُسْتَخِيْرًا فَهُوَ لَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْبَابِ . نَعَم

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ يَقُولُه ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْوِتْرِ

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ فِي دُبُرِ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ

وَهُوَ مَا يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الْوِتْرِ

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

وَتَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالثَّالِثَةِ

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

مِنْ حَدِيثِ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ وِتْرِهِ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

يَرْفَعُ صَوْتَهُ فِي الثَّالِثَةِ

وَفِي لَفْظٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ

وَهُمَا بِمَعْنًى وَاحِدٍ

فَيَقُولُ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

وَرَوَى الدَّارُقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ

زِيَادَةَ رَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ

وَهِيَ زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ

فَالثَّابِتُ الِاخْتِصَارُ عَلَى قَوْلِ

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

إِذَا فَرَغَ مِنْ وِتْرِهِ مُسَلِّمًا جَاءَ بِهَذَا الذِّكْرِ . نَعَمْ

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ

يَقُولُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

وَكَتَبَهُ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَمَدٍ الْعُصَيْمِيُّ

غَفَرَ اللهُ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ

وَلِمَشَايِخِه وَلِلْمُسْلِمِين

عَصْرَ الْجُمُعَةِ الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ 1433 هـ

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الثَّانِي مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ

وَهُوَ مَا يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ

يَقُولُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى

مِنْ حَدِيثِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ

أَنَّهُ مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي الضُّحَى

فَسَمِعَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ

حَتَّى عَدَدْتُ مِئَةَ مَرَّةٍ

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

وَاخْتُلِفَ فِي لَفْظِهِ وَمَتْنِهِ عَلَى وُجُوْهٍ وَهَذَا أَحْسَنُهَا

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي

عَدِّهِ ذِكْرًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَوَاتِ عَلَى قَوْلَيْنِ

اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي عَدِّهِ ذِكرًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَوَاتِ عَلَى قَوْلَيْنِ

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ ذِكْرٌ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ

بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ

أَنَّه ذِكْرٌ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ

وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَالنَّسَائِيِّ

وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَالنَّسَائِيِّ

وَالْآخَرُ

أَنَّهُ يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

أَنَّهُ يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ الْبَيْهَقِيِّ

وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ الْبَيْهَقِيِّ

وَالْأَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ

أَنَّ الثَّانِيَ أَرْجَحُ مِنَ الْأَوَّلِ

وَأَنَّهُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى

الصَّلَوَاتُ النَّوَافِلُ الَّتِي لَهَا ذِكْرٌ

هُمَا الْوِتْرُ وَالضُّحَى فَقَط

وَمَا عَدَاهُمَا فَلَا ذِكْرَ لَهُمْ

فَإِذَا صَلَّى الْإِنْسَانُ رَاتِبَةَ الْفَجْرِ

فَلَا يَقُولُ بَعْدَ ذَلِكَ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

لِمَاذَا؟ لِيش مَا يَقُولُهَا؟

أَحْسَنْتَ

لِاخْتِصَاصِ هَذَا الذِّكْرِ بِالصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ

وَلَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ

أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ النَّفْلِ

 

Berdo’alah Seperti Do’a Orang yang Tenggelam – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Berdo’alah Seperti Do’a Orang yang Tenggelam – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Dalam sebuah riwayat yang shahih dari Huzaifah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Sungguh akan datang zaman dimana tidak ada seorang pun yang selamat pada zaman itu kecuali orang yang berdoa seperti doa orang yang tenggelam.” (Riwayat Abu Nu’aim) “Sungguh akan datang zaman dimana tidak …

Baca selengkapnya…Berdo’alah Seperti Do’a Orang yang Tenggelam – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Apa Beda Dzikir Pagi, Dzikir Petang dan Dzikir Harian? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #Nasehat Ulama

Apa Beda Dzikir Pagi, Dzikir Petang dan Dzikir Harian? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #Nasehat Ulama Kemudian beliau berkata, “Dalam sehari dan semalam.” (fi yaumihi wa lailatihi) al-yaum dan al-lailah merupakan dua sebutan bagi seluruh bagian hari, siang dan malamnya. Dua sebutan bagi seluruh bagian hari, siang dan malamnya. Ketika disebutkan kata al-yaum, maka yang dimaksud …

Baca selengkapnya…Apa Beda Dzikir Pagi, Dzikir Petang dan Dzikir Harian? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #Nasehat Ulama

Andai Kalian Mengetahui yang Aku Tahu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Andai Kalian Mengetahui yang Aku Tahu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dalam kitab al-Musnad disebutkan dari hadits Abu Dzar, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dapat melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku dapat mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit telah berderit, dan ia berhak untuk berderit, tidaklah ada tempat seluas empat jari di langit, melainkan terdapat padanya malaikat yang bersujud. Seandainya kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa, dan kalian akan banyak menangis. Dan kalian tidak akan dapat menikmati istri kalian di atas ranjang, serta kalian akan keluar ke tempat yang tinggi untuk memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, aku berharap seandainya aku hanyalah pohon yang digugurkan daunnya.” Hadits ini juga salah satu hadits yang penting dalam bab ini, oleh karena itu an-Nashih al-Amin, Rasulullah shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi bersabda, “Langit telah berderit, dan ia berhak untuk berderit.” “Langit telah berderit, dan ia berhak untuk berderit.” Makna kata ‘الأَطِيْطُ’ yakni suara yang dikeluarkan langit, akibat para malaikat yang begitu banyak yang memenuhi langit, atau yang ada di atas langit. Oleh karena itu Rasulullah shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi bersabda, “Tidaklah ada tempat seluas empat jari di langit, melainkan terdapat padanya malaikat yang bersujud.” “…terdapat padanya malaikat yang bersujud.”

Sekarang jika kamu mengangkat kepala dan memandang langit ini, yang mengelilingi seluruh bumi, dan jarak antara langit dan bumi adalah 500 tahun perjalanan. Langit itu bulat mengelilingi bumi karena begitu luas. Langit yang sangat luas ini, tidaklah ada tempat seluas empat jari di sana, melainkan terdapat padanya malaikat yang bersujud kepada Allah, melainkan ada padanya malaikat yang bersujud kepada Allah. Lalu langit yang ada di lapisan berikutnya. Lalu langit yang ada di lapisan berikutnya seperti itu juga (penuh dengan malaikat) dan lapisan ini lebih luas, dan lapisan di atasnya lagi lebih luas dan lebih besar.

Oleh sebab itu, tidak ada yang dapat menghitung jumlah malaikat kecuali Dzat Yang telah menciptakan mereka, Subhanahu wa Ta’ala. Dan subhanallah, ketika kamu menghayati hadits ini, dan kamu membaca ayat, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 56) Bayangkan berapa banyak malaikat yang bershalawat kepada beliau? Betapa banyak malaikat yang bershalawat kepada Nabi shalawatullahi wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihi. Dan pada intinya, malaikat yang begitu banyak ini semuanya bersujud, tunduk, dan takut kepada Allah. Tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis. dan kalian tidak akan dapat menikmati istri kalian di atas ranjang, serta kalian akan keluar ke tempat yang tinggi, memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Ketika seseorang menghayati hadits ini sekali, dua, tiga, dan empat kali. Apakah ia akan mampu hanya bersandar pada prasangka baik (kepada Allah)? Apakah ia akan mampu hanya bersandar pada prasangka baik (kepada Allah)? Sedangkan ia tetap berada dalam kelalaian dan perkara yang sia-sia?!

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui…” Yakni mengetahui azab, siksaan, balasan Allah yang telah Dia siapkan, dan lain sebagainya “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis, dan tidak dapat menikmati istri kalian di atas ranjang, dan kalian akan keluar ke tempat yang tinggi untuk memohon pertolongan…” Jika keadaannya demikian, maka apakah layak bagi seorang hamba untuk hanya bersandar pada prasangka baik, lalu ia tetap lalai terhadap hal yang seperti ini?! melalaikan perkara seperti ini?! Kemudian dalam sabda beliau, “Niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis…” Terkandung isyarat sebagaimana disebutkan para ulama untuk menyandingkan antara rasa harap dan rasa takut menyandingkan antara rasa harap dan rasa takut “Niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis…” karena ini berkaitan dengan rasa harap.

Yakni sebagaimana mengandung ancaman, gertakan, hukuman, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan rasa harap, namun harus disandingkan antara rasa harap dan rasa takut, agar seorang hamba dapat meraih keselamatan. Karena jika seorang hamba hanya menjalankan rasa harap saja, jika ia hanya menjalankan rasa harap saja, ia akan merasa aman dari makar dan siksaan Allah. Dan jika ia menjalankan rasa takut saja, ia akan putus asa dari rahmat dan kelembutan Allah. Dan keduanya, rasa aman dari makar Allah dan rasa putus asa dari rahmat Allah merupakan dosa besar. Dan tidak mungkin dapat diraih keseimbangan dalam hal ini kecuali dengan menjalankan rasa harap dan rasa takut secara bersamaan. Rasa harap dapat diraih melalui hadits-hadits yang menyebutkan janji kenikmatan dari Allah. Dan rasa takut dapat diraih melalui hadits-hadits yang menyebutkan ancaman Allah. Demikianlah seorang hamba dapat meraih keselamatan.
“Sampaikan kepada para hamba-Ku, bahwa Aku Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49-50) Rasa harap dan rasa takut, keduanya harus ada. Demikian.

================================================================================

وَفِي الْمُسْنَدِ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ

وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ

أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ

مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ

إِلَّا وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا

وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ

وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُوْدَاتِ

تَجْأَرُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

قَالَ أَبُو ذَرٍّ وَاللهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي شَجَرَةٌ تُعْضَدُ

هَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا مِنَ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي هَذَا الْبَابِ

يَقُولُ النَّاصِحُ الْأَمِينُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ

أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ

وَالأَطِيْطُ هُوَ الصَّوْتُ الَّذِي يَكُونُ لِلسَّمَاءِ مِنْ

الْمَلَائِكَةِ الْكُثُرِ الَّذِينَ عَلَى السَّمَاءِ

أَوْ فَوْقَ السَّمَاءِ

وَلِهَذَا قَالَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ

وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ

الْآنَ لَمَّا تَرْفَعُ رَأْسَكَ وَتَنْظُرُ هَذِهِ السَّمَاءَ

الْمُحِيطَةَ بِأَرْضِ كُلِّهَا

وَبَيْنَهَا وَبَيْنَ الْأَرْضِ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ

ثُمَّ هِيَ مُسْتَدِيرَةٌ عَلَى الْأَرْضِ كُلِّهَا فِي سَعَتِهَا

هَذِهِ السَّمَاءُ الْوَاسِعَةُ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ

إِلَّا وَفِيهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لِلهِ

إِلَّا وَفِيهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لِلهِ

ثُمَّ السَّمَاءُ الَّتِي فَوْقَهَا

ثُمَّ السَّمَاءُ الَّتِي فَوْقَهَا

مِثْلَ ذَلِكَ

وَسَعَتُهَا أَعْظَمُ

وَالَّتِي فَوْقَهَا أَوْسَعُ

وَأَعْظَمُ

وَلِهَذَا الْمَلَائِكَةُ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا الَّذِي خَلَقَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَسُبْحَانَ اللهِ لَمَّا تَتَأَمَّلُ هَذَا الْحَدِيثَ

وَتَقْرَأُ مَثَلًا إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

كَمْ هُمْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ ؟

كَمْ هُمْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ

فَالْحَاصِلُ أَنَّ هَذِهِ الْكَثْرَةَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ

كُلُّهُمْ سَاجِدُونَ لِلهِ خَاضِعُوْنَ خَائِفُوْنَ

خَاضِعُوْنَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

ثُمَّ يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ

لَضَحِكْتُم قَلِيْلًا

وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ

وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُوْدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

هَذَا الْحَدِيثُ عِنْدَمَا يَنْظُرُ فِيهِ الإِنْسانُ مَرَّةً وَاثْنَتَيْنِ وَثَلاَثَ وَأَرْبَعَ

أَيَسَعُهُ أَنْ يَتَّكِلَ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ

أَيَسَعُهُ أَنْ يَتَّكِلَ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ

وَيَبْقَى مُقِيْمًا عَلَى التَّفْرِيطِ والتَّضْيِيْعِ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ

أَيْ مِنْ عِقَابِ اللهِ وَبَطْشِهِ وَانْتِقَامِهِ وَمَا أَعَدَّ مِنَ الْعُقُوبَاتِ إِلَى آخِرِهِ

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا

وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ

وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُوْدَاتِ تَجْأَرُوْنَ

أَيَلِيْقُ بِعَبْدٍ وَالْأَمْرُ كَذَلِكَ

أَنْ يَتَّكِلَ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ وَيُغْفِلَ مِثْلَ هَذَا

يُغْفِلَ مِثْلَ هَذَا

ثُمَّ قَوْلُهُ هُنَا

لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

فِيهِ إِيْمَاءٌ كَمَا نَبَّهَ أَهْلُ الْعِلْمِ

إِلَى اجْتِمَاعِ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ

إِلَى اجْتِمَاعِ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ

لَضَحِكْتُم قَلِيْلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

لِأَنَّ فِي بَابِ رَجَاءٍ

يَعْنِي كَمَا أَنَّهُ فِيهِ وَعِيدٌ وَتَهْدِيْدٌ وَتَخْوِيْفٌ وَعُقُوبَاتٌ إِلَى آخِرِهِ فِي بَابِ رَجَاءٍ

لَكِنْ لَا بُدَّ مِنْ إِعْمَالِ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ

حَتَّى تَتَحَقَّقَ لِلْعَبْدِ النَّجَاةُ

لِأَنَّ الْعَبْدَ إِنْ أَعْمَلَ الرَّجَاءَ وَحْدَهُ

إِنْ أَعْمَلَ الرَّجَاءَ وَحْدَهُ أَمِنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ وَعُقُوْبَتِهِ

وَإِنْ أَعْمَلَ الْخَوْفَ وَحْدَهُ

قَنِطَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ وَيَئِسَ مِنْ رَوْحِ اللهِ

وَكُلٌّ مِنَ الْأَمْنِ مِنَ الْمَكْرِ وَالْقُنُوطِ مِنَ الرَّحْمَةِ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ

وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَحْصُلَ

الِاعْتِدَالَ وَالْقَوَامَ فِي ذَلِكَ

إِلَّا بِأَعْمَال الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ مَعًا

وَالرَّجَاءُ بَابُهُ أَحَادِيْثُ الْوَعْدِ

وَالْخَوْفُ بَابُهُ أَحَادِيثُ الْوَعِيدِ

وَبِهَذَا تَكُونُ نَجَاةُ الْعَبْدِ

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

هَذَا وَهَذَا لَا بُدَّ مِنْهُمَا. نَعَم

 

Kapan Membaca Dzikir Petang? Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Kapan Membaca Dzikir Petang? Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Zikir Petang. Waktunya dari terbenamnya matahari (maghrib) hingga hilangnya mega merah yang menjadi tanda permulaan waktu isya’. Setelah penulis -rahimahullah- selesai menyebutkan Zikir Pagi, beliau melanjutkannya dengan menyebutkan Zikir Petang. Sebagaimana dijelaskan bahwa pagi adalah awal waktu siang, demikian pula sore merupakan awal waktu malam. Jadi, awal …

Baca selengkapnya…Kapan Membaca Dzikir Petang? Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama