Mau Bahagia Dunia & Akhirat? Lakukan Amalan Ini! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr Dan salah satu faedah dari kisah ini bahwa takwa kepada Allah dan menjalankan tuntutan iman termasuk sebab-sebab untuk meraih kenikmatan dunia, keturunan yang banyak, rezeki, dan kekuatan tubuh. Faedah ini dapat diambil dari kisah Nabi Nuh dalam surat Nuh ketika beliau menyeru kaumnya …
Nasehat Salaf Untuk Pemuda: Bekerjalah! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama
Di antara nasehat para salaf bagi para pemuda adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya yang berjudul al-Wara’: Dari Abdul Wahab ats-Tsaqafi ia berkata, Ayyub as-Sikhtiyani mendatangi kami lalu berkata, “Wahai para pemuda, bekerjalah!” “Wahai para pemuda, bekerjalah! …sehingga kalian tidak perlu mendatangi pintu-pintu rumah mereka.” Lalu ia menyebutkan orang-orang yang ia benci. Lalu ia menyebutkan orang-orang yang ia benci.
“Bekerjalah!” Lihat para salaf rahimahumullahu Ta’ala menghimpun dalam nasehat mereka bagi para pemuda agar memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu dan hendaknya setiap mereka juga memiliki pekerjaan yang dengan pekerjaan itu ia dapat memperoleh harta atau rezeki untuk menafkahi dirinya serta keluarga dan anaknya kelak, dan janganlah ia menjadi beban bagi orang lain. Jika ia telah lanjut usia maka ia tidak butuh lagi untuk pergi kepada Si Fulan dan Si Fulan untuk meminta bantuan, pertolongan, dan lain sebagainya. Namun hendaklah ia memiliki pekerjaan dan suatu pintu yang dapat ia gunakan untuk memperoleh rezeki.
Dan rezeki yang paling banyak membawa berkah, manfaat, dan kebaikan adalah rezeki yang berasal dari usahanya sendiri. Maka hendaklah di masa mudanya, seseorang memiliki pekerjaan yang dia kuasai dan ia menjalani pekerjaan atau keterampilan tersebut untuk memperoleh rezeki, di samping ia juga tetap menjalani prosesnya dalam menuntut dan mencari ilmu.
Tips Mudah Mengenali Usia Kambing untuk Kurban – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
Dan berkenaan dengan gigi kambing dan sifat-sifatnya,
kita akan mempelajari sebagian dari hal tersebut dari penjelasan berikut ini:
Orang yang hendak berkurban hendaknya terlebih dahulu memperhatikan gigi-gigi hewan kurbannya,
karena ini teramat penting untuk mengetahui usia hewan kurbannya.
Dan jika diperhatikan bahwa gigi kambing hanya ada di bagian bawah saja karena kambing adalah pemakan rerumputan.
(PERTAMA: Jaża’)
Jika Anda mendapati gigi-giginya semua sangat kecil dan sama panjangnya,
inilah yang dikenal dengan istilah Jaża’.
(KEDUA: Ṡani)
Jika Jaża’ sudah genap berusia satu tahun,
akan nampak sepasang gigi di bagian depan yang sangat panjang,
jika dibandingkan dengan gigi-gigi lain yang cenderung kecil,
inilah yang dikenal dengan sebutan Ṡani.
(KETIGA: Raba’)
Dan jika sudah genap berusia dua tahun akan nampak adanya dua buah gigi Ṡani lagi yang lebih panjang dari gigi-gigi lain, namun lebih pendek dari dua pasang gigi yang ada di bagian depan,
satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri, inilah yang dikenal dengan istilah Raba’.
(KEEMPAT: Sadas)
Kemudian jika sudah memasuki tahun ketiga, akan terlihat gigi-gigi di bagian depan sudah besar semua dan nampak kokoh serta rapat satu sama lainnya,
yang berjumlah enam, inilah yang dikenal dengan istilah Sadas.
KELIMA: Zariḥ
Ketika sudah genap berusia tiga tahun dan memasuki tahun keempat, akan nampak gigi-gigi yang makin besar namun tidak saling rapat dan tidak kokoh lagi, sehingga bisa digerakkan dan dipatahkan dengan tangan,inilah yang dikenal dengan istilah Zariḥ, inilah usia kambing yang dagingnya tidak enak dimakan.
Dan kambing pada usia inilah orang-orang sering dicurangi dan ditipu.
Siapa yang Memindahkan Singgasana Ratu Bilqis (4 Jawaban) – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama
Singgasana negeri Saba’? Wallahu A’lam. Akan tetapi ia dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala. Tentang Nabi Sulaiman -‘alaihis shalatu wassalam-, “Siapa di antara kalian yang dapat mendatangkan singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri kepadaku?” sebelum mereka datang menyerahkan diri kepadaku?” Ifrit dari golongan jin berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu ini, aku mampu melakukannya dan dapat dipercaya.” Seorang yang memiliki ilmu al-Kitab berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.” Dan ketika Nabi Sulaiman melihat singgasananya telah di hadapannya…dst. (QS. An-Naml ayat 38 – 40) Jin yang ada dalam kisah ini, atau Ifrit dari golongan jin berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu ini…” Dikatakan bahwa majelisnya di waktu dhuha. Nabi Sulaiman duduk dari awal waktu dhuha kira-kira hingga mendekati waktu zhuhur. Inilah majelisnya. Yakni kita bisa katakan dua atau tiga jam. Beliau duduk mendengar rakyatnya, mungkin ada yang memiliki keluhan. Itulah majelisnya. Ifrit berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu.” Yakni sekitar dua jam. Lalu ada yang menyangkalnya. Orang yang memiliki ilmu al-Kitab berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”
PENDAPAT PERTAMA:
Ada yang berpendapat bahwa kalimat ini ditujukan kepada Nabi Sulaiman. Dan yang berkata kepada Nabi Sulaiman -‘alaihissalam-, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip” adalah lelaki dari golongan manusia Namanya Ashaf. Ia berkata pada Sulaiman, “Aku akan mendatangkannya padamu…” Dikatakan bahwa lelaki ini salah satu wali Allah, jika ia berdoa maka Allah akan mengabulkan doanya. Maka ia berdoa kepada Allah, dan Allah mendatangkannya dalam sekejap. Dan Allah jika menghendaki suatu perkara hanya cukup dengan berfirman, “Jadilah”. Maka jadilah ia.
PENDAPAT KEDUA:
Dikatakan pula bahwa yang mengatakan itu adalah seorang jin muslim. Seorang jin muslim. -saat Ifrit berkata-, karena Ifrit adalah jin kafir. Ifrit itu kafir, termasuk jin yang kafir. Maka jin muslim berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.” Ia berkata kepadanya, “Aku akan mampu melakukannya.”
PENDAPAT KETIGA:
Dan dikatakan juga bahwa Jibril turun dari langit untuk menyangkal jin Ifrit ini dan berkata kepada Nabi Sulaiman, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip… Jangan tertipu dengan kekuatannya.” “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”
PENDAPAT KEEMPAT:
Demikianlah tiga jawabannya. Dan ada jawaban keempat
bahwa ucapan itu ditujukan kepada jin (Ifrit), dan yang mengucapkannya adalah Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman -‘alaihissalam- menguji mereka dengan berkata, “Siapa dari kalian yang dapat mendatangkan singgasananya kepadaku?” Maka Ifrit berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu.” Maka Nabi Sulaiman -‘alaihissalam- menyangkalnya dengan berkata, “Bahkan aku dapat mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”
Yakni Nabi Sulaimanlah yang mendatangkannya. Namun ilmu pastinya ada di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Tidak ada yang pasti di sini. Semua pendapat ini hanya kemungkinan saja.
Hukum Menonton Sepak Bola – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama
Pertanyaan kedua dari saudara Muhammad dari Aljazair, dia berkata
“Setelah menunaikan ibadah, misalkan salat atau yang lainnya, aku sengaja menonton pertandingan bola, bagaimana hukumnya?”
Yang pertama, selayaknya orang yang beriman memanfaatkan waktunya pada perkara yang bermanfaat baginya dan orang lain.
Seseorang menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dunianya dan tidak pula untuk akhiratnya, bukanlah perbuatan orang mulia dan cerdas yang memahami akibat dari perbuatannya di kemudian hari. Waktu yang disia-siakan oleh umat islam untuk menonton pertandingan-pertandingan semacam ini perlu untuk kita kaji ulang apa manfaat yang mereka dapatkan. Apa manfaatnya bagi umat islam jika menonton pertandingan ini?
Sehingga kami menyarankan orang-orang agar menata kembali waktu mereka pada hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhirat mereka.
Sedangkan seseorang yang menonton sesuatu, jika tidak terdapat maksiat di dalamnya dan itu bukan tontonan yang haram seperti menyingkap aurat dan lain sebagainya maka hukum asalnya BOLEH.
Namun itu semua MENYIA-NYIAKAN WAKTU yang dimiliki seseorang yang merupakan hakikat kualitas dirinya dan modal utama yang dia miliki
serta wasilah yang bisa dia gunakan untuk mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhiratnya.
Demikian…
Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda.
Waktu Lebih Mahal daripada Emas – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Sebagian orang berkata, “Waktu adalah emas.” Namun pada hakikatnya, waktu lebih berharga daripada emas. Karena emas mungkin saja tidak dibutuhkan, namun waktu selalu dibutuhkan. Bahkan ia adalah jalan, menuju segala yang dapat mendatangkan keridhaan Allah dan mendekatkan kepada-Nya. Ia adalah ruang bagimu -wahai hamba Allah- …