Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi:

KONDISI PERTAMA:
Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya.

Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah.

“Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah…

KONDISI KEDUA:
Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi.

Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan.

Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan.

======================

الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى

الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى

نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ

قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ

لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ

هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا

مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ

يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ

كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ

وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ

الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ

بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ

وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ

يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ

أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا

لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ

هَذَا مُسْتَحَبٌّ

مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟

لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ

الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ

وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ

يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ

وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا

أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ

هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟

لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ

فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ

وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ

وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ

مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟

قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا

أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى

الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ

وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا

وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ

وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً

وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ

لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ

إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ

بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا

لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ

بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا

الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ

نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

 

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf.

Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.”
– Bahkan di Shalat Subuh?
– Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.”
Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa.

===============

طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟

تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ

فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ

أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ

إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ

الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ

ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ

فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ

وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ

فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ

مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ

نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ

– يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟
– نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ

يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ

لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ

كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟

نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا

كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ

وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?”

Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.

==========================================

يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟

الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka …

Baca selengkapnya…Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung.

Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat.

Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu.

Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar.

Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah.

================================

وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ

فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ

قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ

لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ

وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ

وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ

لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ

مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ

رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ

فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ

كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ

وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ

فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ

كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ

وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ

وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ

فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا

فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ

حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ

وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي

يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ

كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ

كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً

فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ

مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ

وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ

وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً

أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ

فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ

وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ

لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ

فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ

 

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Yang kedua:
Al-Qur’an merupakan kitab terakhir.
Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya.
Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir?
Dalil dari al-Qur’an.
Ya?
Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Ya, bagus.
Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi?
Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi.
Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar.
Ya?
Apa?
“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa?
agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.”
Ya?
Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran.
Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala.
Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala…
“Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir.
Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian.
Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya.
Jelas?
Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul.
Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab.
Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir.

==============

نِيهَا

كَوْنُ الْقُرْآنِ آخِرَ الْكُتُبِ

فَلِأَجْلِ ذَلِكَ

فَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا

مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ آخِرُ الْكُتُبِ؟

مِنَ الْقُرْآنِ

نَعَم

هَذَا مِنْهُ؟

الْقُرْآنُ أَمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟

أَيْ أَحْسَنْتَ

طَيِّبٌ وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَحْيَ لاَ يُنْزَلُ عَلَى النَّبِيِّ

وَالْآيَاتُ فِي سُورَةِ النَّحْلِ وَالْقَصَصِ ذِكْرُ الْوَحْيِ عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ

لاَ بُدَّ أَنْ تُرَتِّبَ إِجَابَتَكَ . أَنْتَ تَحُومُ حَوْلَ الْحِمَى

نَعَمْ

أَيْش؟

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ أَيْش؟

دِينَكُمْ

وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

نَعَمْ

وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ -الْأَخُ يَقُولُ- مِنْ قَبْلُ وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ

هَذَا دَلِيلٌ بِالْإِشَارَةِ . مَا يَجْرِي هَكَذَا

الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى

يَعْنِي أَنْتَ رَتِّبْ دَلِيلَ الْأَخِ . بَسْ هُوَ الَّذِيّ إِجَابَةُ الْآيَةِ

الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ

وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

وَإِذَا كَانَ هُوَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ

فَمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ

هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ

لِأَنَّ وَحْيَ الْبَعْثِ

الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيٍّ كِتَابًا

لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ وُجُودِ النُّبُوَّةِ

فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ إِلَّا بِنَبِيٍّ

وَقَدْ يُوجَدُ نَبِيٌّ بِلَا كِتَابٍ

وَاضِحٌ؟

قَالَ تَعَالَى كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً

فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ

فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ نَازِلٌ مِنَ اللهِ

إِلَّا وَنُزُولُهُ عَلَى نَبِيٍّ أَوْ رَسُولٍ

لَكِنْ قَدْ يُوجَدُ رَسُوْلٌ وَنَبِيٌّ بِلَا أَيْش؟

بِلَا كِتَابٍ

فَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ