Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah …

Baca selengkapnya…Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Hukum Mencukur Jenggot – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Hukum Mencukur Jenggot – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Berkenaan dengan jenggot pria, Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dia menciptakan kaum wanita dengan bentuk yang baik untuk mereka dan dan sesuai bagi mereka. Dan Dia menciptakan kaum pria dengan bentuk yang baik untuk mereka dan dan sesuai bagi mereka. Dia mengaruniakan kaum pria berupa jenggot. Dan mencukur jenggot secara keseluruhan hukumnya haram, sebagaimana ijma’ para ulama. Adapun hukum lain yang dikatakan sebagian ulama muta’akhir madzhab syafi’i, telah didahului adanya ijma’.

Ibnu Hazm rahimahullah ‘Azza wa Jalla berkata, “Dan para ulama telah bersepakat memotong seluruh jenggot merupakan bentuk merusak penciptaan, dan tidak boleh dilakukan.” Dan Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengomentari hal ini dalam kitab “Naqd Maratib al-Ijma'”, yakni beliau menyetujui pernyataan itu. Ibnu al-Qatthan rahimahullah ‘Azza wa Jalla juga berkata, “Dan para ulama telah bersepakat, memotong seluruh jenggot merupakan bentuk merusak penciptaan, tidak boleh dilakukan.” Dan demikianlah yang aku dapati di kitab para ulama fiqih generasi terdahulu. Mereka semua menyatakan haramnya mencukur jenggot secara keseluruhan. Dan juga pendapat yang rajih, tidak boleh mencukur sebagian jenggot, kecuali jika telah panjang sekali sehingga merusak penampilan, maka yang rajih menurutku -wallahu a’lam-, tidak mengapa dipotong.

Jika ia ingin, maka ia boleh memotong jenggot yang memanjang ke bawah dan ke samping, jika memang panjang sekali, hingga keluar dari batas normal, agar ia mengembalikannya ke batas normal saja. Adapun mengukurnya dengan satu genggaman, lalu memotong yang melebihinya. Maka ini diriwayatkan pernah dilakukan sebagian sahabat -ridhwanullah ‘alaihim- jika ada yang melakukannya, maka tidak boleh dicela. tidak boleh pula dicibir. Namun hukumnya yang menurutku benar -wallahu a’lam- secara fiqih dan pengamatan tidak boleh juga memotong jenggot yang panjangnya melebihi satu genggaman tangan. Namun wajibnya adalah memelihara dan memanjangkan jenggot. Kecuali jika telah panjang sekali melebihi batas normal maka boleh untuk dipotong agar kembali ke batas normal, Insya Allah. Jadi, kita punya beberapa perkara dalam masalah jenggot.

PERTAMA:
Mencukur secara keseluruhan, dan ini tidak boleh dilakukan
dan HARAM sesuai kesepakatan, sebagaimana yang aku baca dalam kitab para ulama fiqih generasi terdahulu serta yang diriwayatkan dan ditetapkan sebagian ulama yang perhatian pada ijma’.

KEDUA:
Memotong jenggot yang panjangnya kurang dari satu genggaman.
Dalam perkara ini terdapat perselisihan pendapat para ulama fiqih; namun yang rajih, itu tidak boleh dilakukan. tidak ada dalil yang membolehkannya.

KETIGA:
Memotong jenggot yang panjangnya lebih dari satu genggaman. Ini pernah dilakukan beberapa sahabat -ridhwanullah ‘alaihim- sehingga yang melakukan ini tidak boleh dicela, tidak boleh dianggap fasik, dan lain sebagainya. Namun menurutku -wallahu a’lam-, jenggot itu tetap wajib dipelihara. KEEMPAT:
Memotong jenggot yang melewati batas normal pada panjangnya yang ke bawah dan ke samping; agar kembali ke bentuk normal. Dan yang menurutku benar -wallahu a’lam-, itu boleh dilakukan karena itulah asalnya di syariat dalam hal ini.

================================================================================

مَا يَتَعَلَّقُ بِلِحْيَةِ الرَّجُلِ وَاللهُ حَكِيْمٌ عَلِيمٌ

خَلَقَ النِّسَاءَ عَلَى هَيْئَةٍ

تَصْلُحُ لَهُنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ

وَخَلَقَ الرِّجَالَ عَلَى هَيْئَةٍ

تَصْلُحُ لَهُمْ وَتُصْلِحُهُمْ

فَكَرَّمَ الرِّجَالَ بِاللِّحَى

وَحَلْقُ اللِّحْيَةِ بِالْكُلِّيَّةِ حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ أَهْلِ الْعِلْمِ

وَمَا حَكَاهُ بَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ الْمُتَأَخِّرُونَ مَسْبُوْقٌ بِالْإِجْمَاعِ

يَقُولُ ابْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّفَقُوا

أَنَّ حَلْقَ جَمِيعِ اللِّحْيَةِ مُثْلَةٌ

لَا تَجُوزُ

وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي نَقْدِ مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ

يَعْنِي أَنَّهُ يُوَافِقُهُ عَلَى ذَلِكَ

وَقَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ رَحِمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَاتَّفَقُوا أَنَّ حَلْقَ جَمِيعِ اللِّحْيَةِ مُثْلَةٌ لَا تَجُوزُ

وَهَذَا الَّذِي رَأَيْتُهُ فِي كُتُبِ الْفُقَهَاءِ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ

كُلُّهُمْ يَنُصُّوْنَ عَلَى حُرْمَةِ حَلْقِ اللِّحْيَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

وَكَذَلِكَ عَلَى الرَّاجِحِ لَا يَجُوزُ الْأَخْذُ مِنْهَا

إِلَّا إِذَا طَالَتْ طُوْلًا زَائِدًا مُشَوِّهًا

فَالرَّاجِحُ عِنْدِيْ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَرَجَ

إِنْ شَاءَ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ طُولِهَا وَعَرْضِهَا إِنْ زَادَ

حَتَّى خَرَجَ عَنِ الْحَدِّ الْمُعْتَادِ

لِيَرُدَّهَا إِلَى الْمُعْتَادِ فَقَطْ

وَأَمَّا الْقَبْضُ بِالْقَبْضَةِ وَأَخْذُ مَا زَادَ

فَهَذَا ثَبَتَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

فَمَنْ فَعَلَهُ لَا يُنْبَزُ

وَلَا يُتَنَقَّصُ مِنْه

لَكِنَّ الَّذِي يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ فِقْهًا وَنَظَرًا

أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْقَبْضَةِ

بَلِ الْوَاجِبُ إِحْفَاؤُ اللِّحْيَةِ وَتَرْكُ اللِّحْيَةِ

إِلَّا إِذَا طَالَتْ طُوْلًا زَائِدًا عَنِ الْمُعْتَادِ

فَتُرَدُّ إِلَى الْمُعْتَادِ فَلَا بَأْسَ إِنْ شَاءَ اللهُ

إِذًا عِنْدَنَا أُمُورٌ فِي اللِّحْيَةِ

الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الْحَلْقُ بِالْكُلِّيَّة وَهَذَا لَا يَجُوزُ

وَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ فِيمَا اطَّلَعْتُ عَلَيْهِ مِنْ كُتُبِ الْفُقَهَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ
وَنَقَلَهُ وَنَصَّ عَلَيْهِ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُهْتَمِّيْنَ بِالْإِجْمَاعِ

وَالْأَمْرُ الثَّانِي تَقْصِيرُ اللِّحْيَةِ أَقَلُّ مِنَ الْقَبْضَةِ

وَهَذَا مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ لَكِنَّ الرَّاجِحَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ

وَلَمْ يَأْتِ دَلِيلٌ عَلَى الْجَوَازِ

وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْقَبْضَةِ

وَهَذَا ثَبَتَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

وَهُوَ يَمْنَعُ التَّنَقُّصَ وَالتَّفْسِيْقَ وَغَيْرَ ذَلِكَ

لَكِنَّ الَّذِي يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ تُتْرَكَ

وَالْمَرْحَلَةُ الرَّابِعَةُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْمُعْتَادِ

فِي طُولِ اللِّحْيَةِ وَعَرْضِهَا حَتّى تُرَدَّ إِلَى الْمُعْتَادِ

وَهَذَا يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ جَائِزٌ لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ

فِي الشَّرِيعَةِ فِي مِثْلِ هَذَا

 

Doa Mustajab Ini di Setiap Malam, Jangan Kamu Lalai! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Doa Mustajab Ini di Setiap Malam, Jangan Kamu Lalai! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam hadits shahih dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang ‘ta’arra’ di malam hari…” Makna ta’arra yakni bangun tidur. “Barangsiapa bangun tidur di malam hari kemudian berdoa:
LAA ILAAHA ILLALLAAH
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

WAHDAHU LAA SYARIIKALAH
hanya Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya.

LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR

milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segalanya.

SUBHAANALLAAH WALHAMDULILLAAH

Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah.

WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR

tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar.

WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BIL-LAAH

dan tidak ada daya dan tidak ada upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

“Kemudian dia beristighfar…atau beliau bersabda: kemudian dia berdoa…maka doanya tersebut akan dikabulkan Allah. Lalu jika dia berdiri…lalu berwudhu dan shalat, maka shalatnya itu diterima.

Maka perhatikanlah hal ini… Yakni…Perhatikanlah tugas harian ini. Setiap malam, jika kamu terbangun dari tidur…maka segera mulai membaca.

LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya,

LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU

milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya segala puji,

WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR

dan Dia Maha Kuasa atas segalanya.

SUBHAANALLAAH WALHAMDULILLAAH

Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah…

WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR
WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BIL-LAAH

tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”
Setelah itu beristighfar dan berdoalah. Istighfar itu akan diterima dan doa itu akan dikabulkan.

Lalu setelah itu, berwudhu dan dirikanlah shalat. Dan shalat itu akan diterima. Dan shalat itu akan diterima.
Dan disebutkan dalam hadits bahwa shalat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam. Shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam. Dan bersegera untuk membaca zikir ini, dan bersegera untuk membaca zikir ini sesaat setelah kamu bangun dari tidur akan membantu kamu untuk berdoa dan akan membantu kamu untuk mendirikan shalat.

DOA KETIKA BANGUN MALAM

LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH
LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU
WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR
SUBHAANALLAAH WALHAMDULILLAAH
WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR
WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BIL-LAAH

(HR. Abu Daud)
***
Kemudian membaca istighfar, misal: ROBBIGHFIRLII
(Ya Allah ampunilah aku)
***
Kemudian berdoa sesuai dengan kebutuhan dan keinginanmu.

***
Kemudian bangkit untuk berwudu dan melakukan Shalat Tahajud (Shalat Malam)

==============================================================================

جَاءَ فِي الصَّحِيحِ

عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ

مَعْنَى تَعَارَّ يَعْنِي اسْتَيْقَظَ

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ

فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

ثُمَّ اسْتَغْفَرَ

أَوْ قَالَ دَعَا

اسْتُجِيْبَ لَهُ

ثُمَّ إِنْ قَامَ

فَتَوَضَّأَ فَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ

فَانْتَبِهْ لِهَذَا، يَعْنِي

انْتَبِهْ لِهَذِهِ الْوَظِيفَةِ اليَوْمِيَّةِ

كُلُّ لَيْلَةٍ إِذَا اسْتَيْقَظْتَ مِنَ النَّوْمِ

اِبْدَأْ مُبَاشَرَةً

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ

وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

بَعْدَ ذَلِكَ اسْتَغْفِرْ اُدْعُ

الِاسْتِغْفَارُ مُسْتَجَابٌ

وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ

ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَوَضَّأْ وَصَلِّ وَالصَّلَاةُ مَقْبُولَةٌ

وَالصَّلَاةُ مَقْبُولَةٌ

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ أَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

صَلَاةُ الْمَرْءِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

وَالْمُبَادَرَةُ إِلَى هَذَا الذِّكْرِ

الْمُبَادَرَةُ إِلَى هَذَا الذِّكْرِ أَوَّلُ مَا تَقُومُ مِنَ النَّوْمِ

مَعُونَةً لَكَ عَلَى الدُّعَاءِ

وَمَعُونَةً لَكَ عَلَى الصَّلَاةِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ شَرِيكَ لَهُ
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ
وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.’” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda …

Baca selengkapnya…Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan …

Baca selengkapnya…Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa.

Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.”

Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab.

Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya.

===========

قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ

عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً

وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ

وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ

أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا

سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ

حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا

هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ

فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ

فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ

إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ

سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ

بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ

الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ

ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ

ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ

وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ

سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ

الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ

اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ

لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ

الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ

أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ

اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ