Bahagia itu Sederhana (Tips Kebahagiaan Sejati) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Bahagia itu Sederhana (Tips Kebahagiaan Sejati) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Aku teringat, suatu hari aku pernah bertamu kepada salah seorang ahli ibadah yang saleh. Demikianlah aku menilainya dan hanya Allah yang menilainya dengan benar. Beliau sudah wafat -semoga Allah merahmati beliau-. Jadi, ini adalah cerita lama. Aku mengunjungi beliau dimana beliau terkekang di antara …

Baca selengkapnya…Bahagia itu Sederhana (Tips Kebahagiaan Sejati) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Agar Dunia Mengejarmu – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Agar Dunia Mengejarmu – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Selama kamu berniat untuk akhirat, niscaya Allah akan perbaiki duniamu. Jadikanlah akhirat tujuanmu, niscaya dunia akan datang tunduk padamu. Jiwamu akan bahagia, hatimu tentram, optimisme akan menghampirimu, dan rezeki yang halal dan baik akan mendatangimu. Semua yang kamu inginkan di dunia akan mendatangimu. Begitulah, karena dunia ini, bukankah milik Allah? Jika semua orang dari timur dan barat ingin menghalangimu dari sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Apakah mereka mampu? “Ketahuilah! Sungguh seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberikan manfaat untukmu,mereka tidak akan mampu memberi manfaat apapun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.

Dan seandainya umat manusia bersatu padu untuk menimpakan mara bahaya kepada Anda, … mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. At-Tirmidzi) Jadi, urusan segala sesuatu ada di tangan Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan. Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan berfirman, “Wahai hamba-Ku, selama Engkau berusaha meraih rida-Ku, Aku akan lakukan apa yang membuatmu rida. Dan barang siapa mencari rida Allah walaupun membuat manusia marah niscaya Allah akan meridai dia dan Allah jadikan orang-orang rida kepadanya.”Dan Allah telah berjanji padamu akan memperbaiki keadaanmu sehingga kalian temukan rasa bahagia dalam jiwa kalian “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dan di antara bentuk mengingat Allah yang paling agung adalah ketika kamu menjadikan Allah seolah-olah ada di depan kedua matamu dalam setiap perbuatanmu. Tidaklah kamu melakukan satu amalan pun kecuali kamu menghadirkan niat bahwa amalan itu hanya untuk Allah. Ketika itulah hatimu akan tenteram. Kamu bisa merasakan bahagia dengan istrimu di rumahmu selama amal perbuatanmu hanya untuk Allah. Karena Anda mempergauli istrimu untuk mendapatkan rida Allah bukan untuk mendapatkan rida istrimu. Dan bukan juga untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadimu. Melainkan untuk membuat rida Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan. Kamu berbicara dengan istrimu dengan perkataan yang baik karena Allah. Kamu perlakukan dia dengan sebaik-baik perlakuan karena Allah. Kamu penuhi keinginan dan kebutuhannya karena Allah, dengan demikian Allah karuniakan kepadamu kebahagiaan dunia. Bahkan ketika kamu berhubungan badan dengan istrimu, kamu melakukannya karena Allah. Karena Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkanmu untuk melampiaskan syahwatmu dengan cara yang halal.

Sehingga kamu mencukupkan diri dengan yang halal karena menaati Allah. Sehingga Allah pun rida kepadamu ketika kamu sedang menyalurkan syahwatmu. Demikian pula ketika kamu merasa bersama Allah dan amalan-amalanmu hanya untuk Allah, niscaya Allah akan jadikan dunia mendatangimu. Kamu berniat untuk akhirat sehingga Allah jadikan harta benda mendatangimu di dunia. Bukankah Allah telah berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan jadikan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) … Dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Ini janji siapa? Janji siapa ini? Janji Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan Apakah Dia lemah? Tidak, demi Allah! Apakah Dia miskin? Tidak, demi Allah!Apakah Dia akan mengingkari janji? Tidak, demi Allah! Allah Jalla wa ‘ala tidak pernah berdusta. Dan jika kita melihat kejadian-kejadian yang telah lalu, kita akan dapati bahwa Allah jalla wa ‘ala terkadang memberikan kekurangan kepada sebagian wali-wali-Nya namun hal tersebut akhirnya menjadi kesudahan yang baik baginya di dunia. Allah hanya mengujinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan dalam harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155) Allah ingin melihat, apakah kamu benar-benar beramal untuk Allah atau tidak demikian? Kemudian kesudahan yang baik menjadi milikmu. “Dan kesudahan yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128) “Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang beriman di kehidupan dunia dan khusus bagi mereka saja pada hari Kiamat.’” (QS. Al-A’raf: 32)

Kenikmatan tersebut datang kepadamu di dunia, selama kamu berpegang teguh dengan syariat, tapi bersama kenikmatan itu pasti ada kurangnya, sakitnya, dan cobaannya, namun di akhirat semua itu murni, murni hanya kenikmatan saja, Ada seseorang menemuimu dan berkata, “Aku punya toko, aku menjual barang haram ini di tokoku. Untung saja aku menjualnya! Barang haram inilah yang membuat pelanggan berdatangan.” Maha Suci Allah! Bagaimana bisa barang haram memberikan kamu rezeki Yang memberi kami rezeki adalah Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan Dia berkata, “Pelangganku berkurang.” Maka kita katakan, “Sabar sejenak!”
Dan kalian menyaksikan keadaan manusia, baik dari kalangan Muslim atau non-Muslim. Bagaimana mereka ketika berbuat sesuatu yang menyelisihi syariat? Pasti sebabnya adalah karena alasan ekonomi di dunia ini.

Adapun orang yang beriman, terkadang permulaannya mereka sering diolok-olok. “Fulan orang miskin, dia tidak mengerti, dia tidak melakukan ini dan itu, katanya haram.” Ini adalah para pelontar was-was, yang tidak memperhatikan, tidak mempertimbangkan akibat di hari kemudian. Pasti Anda merasa kesulitan awalnya, tapi “Sungguh bersamaan dengan kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5) “Sungguh bersamaan dengan kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)

===============

مَتَى قَصَدْتَ الْآخِرَةَ أَصْلَحَ اللهُ لَكَ الدُّنْيَا

لِيَكُنْ قَصْدُكَ الْآخِرَةَ سَتَأْتِيكَ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

تَسْعَدُ فِي نَفْسِكَ يَطْمَئِنُّ قَلْبُكَ يَأْتِيكَ الْيَقِينُ يَأْتِيكَ الرِّزْقُ الْحَلَالُ الطَّيِّبُ

يَأْتِيكَ كُلُّ مَا تَطْلُبُهُ فِي الدُّنْيَا

نَعَمْ هَذَا هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَيْسَتْ مُلْكًا لِلهِ؟

لَوْ أَرَادَ النَّاسُ كُلُّهُمْ مِنْ مَشْرِقٍ وَمَغْرِبٍ أَنْ يَمْنَعُوا عَنْكَ شَيْئًا مِمَّا يُقَدِّرُهُ اللهُ لَكَ

يَسْتَطِيعُونَ؟

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ

لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

وَلَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ

لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

إِذَنْ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ بِيَدِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا – هود: ٦

رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ يَقُولُ: مَتَى كُنْتَ يَا عَبْدِي تَسْعَى فِي رِضَايَ

سَعَيْتُ فِي رِضَاكَ وَمَنِ ابْتَغَى رِضَا اللهِ بِسَخَطِ الْخَلْقِ

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ

وَقَدْ وَعَدَكُمْ بِصَلَاحِ أَحْوَالِكُمْ

فِي نُفُوسِكُمْ تَسْعَدُونَ

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ – الرعد: ٢٨

وَمِنْ أَعْظَمِ ذِكْرِ اللهِ أَنْ تَجْعَلَ اللهَ

بَيْنَ عَيْنَيْكَ فِي جَمِيعِ أَعْمَالِكَ

22
00:01:56,220 –> 00:02:03,180
لَا تُقْدِمُ عَلَى عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ إِلَّا وَأَنْتَ تَسْتَشْعِرُ أَنَّ ذَلِكَ الْعَمَلَ لِلهِ

حِينَئِذٍ يَطْمَئِنُّ قَلْبُكَ

تَسْعَدُ مَعَ زَوْجَتِكَ فِي بَيْتِكَ

مَتَى كَانَ عَمَلُكَ لِلهِ

لِأَنَّكَ تُعَامِلُ زَوْجَتَكَ لِإِرْضَاءِ اللهِ لَا لِإِرْضَائِهَا

وَلَا لِتَحْقِيقِ مَقْصُودِكَ الشَّخْصِيِّ

وَإِنَّمَا لِإِرْضَاءِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

تُخَاطِبُهَا بِالْحُسْنَى لِلهِ

تُعَامِلُهَا بِأَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ لِلهِ

تُلَبِّي حَوَائِجَهَا لِلهِ

فَيُوْرِثُكَ اللهُ سَعَادَةَ الدُّنْيَا

حَتَّى إِذَا جَامَعْتَ زَوْجَتَكَ تُجَامِعُهَا لِلهِ

لِأَنَّ اللهَ عَزّ وَجَلَّ قَدْ أَمَرَكَ بِقَضَاءِ الْوَطَرِ بِالْحَلَالِ

فَأَنْتَ تَقْتَصِرُ عَلَى الْحَلَالِ طَاعَةً لِلهِ

فَيَرْضَى اللهُ عَنْكَ عِنْدَمَا تَقْضِي شَهْوَتَكَ

هَكَذَا أَيْضًا إِذَا كُنْتَ مَعَ اللهِ وَكَانَتْ أَعْمَالُكَ لِلهِ

يَجْعَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الدُّنْيَا تَأْتِيكَ

أَنْتَ قَصَدْتَ الْآخِرَةَ فَجَعَلَ الْأَمْوَالَ تَأْتِيكَ فِي الدُّنْيَا

أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا – الطلاق: ٢

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ – اَلطَّلَاقُ ٣

هَذَا وَعْدُ مَنْ ؟ وَعْدُ مَنْ؟ رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

هَلْ هُوَ عَاجِزٌ؟ لَا وَاللهِ

هَلْ هُوَ فَقِيرٌ؟ لَا وَاللهِ

هَلْ هُوَ يُخْلِفُ الْمَوْعِدَ؟ لَا وَاللهِ

لَا يَكْذِبُ جَلَّ وَعَلَا

إِذَا نَظَرْنَا فِي شَوَاهِدِ التَّارِيخِ وَجَدْنَا

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يُلْحِقُ بَعْضَ النَّقْصِ بِأَوْلِيَائِهِ

لَكِنَّ لَهُمُ الْعَاقِبَةَ الطَّيِّبَةَ فِي الدُّنْيَا

يَخْتَبِرُهُمْ فَقَطْ – وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ

وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ – الْبَقَرَةُ: ١٥٥

يَنْظُرُ هَلْ أَنْتَ حَقِيْقَةً لِلهِ أَوْ لَيْسَ كَذَلِكَ؟

ثُمَّ عَاقِبَةُ الْأَمْرِ تَكُوْنُ لَكَ

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ – الْأَعْرَافُ: ١٢٨

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ – الْأَعْرَافُ: ٣٢

فِي الدُّنْيَا تَأْتِيكُمُ النِّعَمُ

مَتَى تَمَسَّكْتُمْ بِالشَّرْعِ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ مَعَهَا أَقْدَارٌ وَبَلَاءٌ وَبَلْوَى

لَكِنْ فِي الْآخِرَةِ خَالِصَةً نِعَمٌ صَافِيَةٌ

يَأْتِيكَ وَيَقُولُ: أَنَا عِنْدِي مَحَلٌّ أَبِيْعُ فِيهِ هَذَا الْمُحَرَّمَ

لَوْ لَمْ أَبِعْهُ هَذَا الْمُحَرَّمَ هُوَ الَّذِي يَجْلِبُ لِيَ الزَّبَائِنَ

سُبْحَانَ اللهِ كَيْفَ كَانَتِ الْمُحَرَّمَاتُ هِيَ الَّتِي تَرْزُقُكَ

يَرْزُقُكَ رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

قَالَ: نَقَصَ عِنْدِي الزَّبَائِنُ

قُلْنَا: انْتَظِرْ قَلِيلًا

وَأَنْتُمْ تُشَاهِدُونَ أَحْوَالَ النَّاسِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَغَيْرِ الْمُسْلِمِينَ

كَيْفَ أَنَّهُمْ إِذَا عَمِلُوا بِأَمْرٍ يُخَالِفُ الشَّرْعَ

جَاءَتْهُمُ الْأَزَمَاتُ الْاِقْتِصَادِيَّةُ فِي الدُّنْيَا

وَأَهْلُ الْإِيمَانِ قَدْ يُسْتَهْزَأُ بِهِمْ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ

فُلَانٌ مِسْكِينٌ مَا يَعْرِفُ تَرَكَ الشَّيْءَ يَقُولُ أَنَّهُ حَرَامٌ

هَذَا مُوَسْوِسٌ وَلَا يَنْظُرُ وَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى عَوَاقِبِ الْأُمُورِ

تَضِيقُ اَوَّلًا لَكِنْ – فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – الشَّرْحُ: ٥

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – الشَّرْحُ: ٦

 

Maafkan Dia (Kisah yang Menginspirasi) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maafkan Dia (Kisah yang Menginspirasi) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Di antara contohnya adalah kisah Abu Bakar dan Misṭaḥ. Misṭaḥ berasal dari kalangan Muhajirin, termasuk orang Muhajirin yang fakir. Ia masih termasuk kerabat Abu Bakar As-Siddiq. Abu Bakar menanggung nafkahnya. Abu Bakar memberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, Misṭaḥ ternyata ikut andil dalam menyebarkan Ḥādiṡatul Ifki. Sebuah fitnah dusta yang menimpa ibunda kaum mukminin, Aisyah -semoga Allah meridai beliau-, hingga turun ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kesucian Aisyah dari fitnah ini. Maka ketika kabar ini sampai kepada Abu Bakar -semoga Allah meridai beliau- bahwa Misṭaḥ termasuk orang-orang yang menyebarkan kabar dusta itu, Abu Bakar bersumpah dengan nama Allah bahwa beliau tidak akan menafkahinya lagi.

Ketika turun ayat yang menjelaskan kesucian Aisyah Ibunda kaum mukminin -semoga Allah meridai beliau-, di antara isi dari ayat ini adalah firman Allah subḥānahu wa ta’alā “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, ” “Lā ya’tali” artinya jangan bersumpah! “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat mereka, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, maka hendaklah mereka memberi maaf dan ampunan. Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) Ketika Abu Bakar mendengar hal ini, ketika ayat ini sampai kepada beliau, beliau langsung berkata, “Ya, tentu saja!” Beliau langsung berkata, “Ya, tentu saja!” Kemudian kembali menafkahi Misṭaḥ, langsung! Tanpa berpikir panjang.

Dan ayat ini tidak khusus untuk Abu Bakar -semoga Allah meridai beliau-, sehingga hikmahnya berdasarkan keumuman ayat ini, oleh sebab itulah Allah berfirman; “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan di antara kamu bersumpah, …”Ini bisa mencakup siapa saja yang tertimpa hal serupa, atau hal yang mirip seperti itu atau semacam itu maka hendaknya dia merenungkan keagungan makna ayat inidan memperhatikan firman Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi; “Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) Abu Bakar berkata, “Ya, tentu saja! Ya, tentu saja!” dan langsung menafkahinya lagi.

Dan pada kesempatan ini, aku ceritakan pada kalian sebuah kisah yang menakjubkan, sangat bagus, dan sangat menyentuh jiwa. Di masjid ini, di antara jamaah mulia yang pernah datang ke sini, dia pernah duduk berdua bersamaku dan mulai berbincang-bincang denganku tentang salah seorang kerabatnya, dia berkata, “Aku jauhi dia karena Allah dan aku tidak berbicara dengannya.” Dan dia adalah suami saudarinya orang yang berbincang dengan saya ini dahulu adalah orang kaya dan pedagang sukses Dan suami saudarinya itu orang miskin, tidak punya apa-apa. Dia berkata, “Aku adalah pedagang dan punya harta, aku sangat ingin saudariku dan anak-anaknya serta suaminya hidup dengan penghidupan yang baik.”

“Sehingga aku menuliskan sertifikat sebuah bangunan yang terdapat padanya sebuah toko, aku tulis sertifikatnya atas nama lengkapnya.”
Dia berkata, “Ini adalah hadiah dariku untukmu dan tinggallah di sini.”
Dia berkata, “Kemudian, setelah beberapa lama, Allah mentakdirkan bahwa usaha dagang saya bangkrut.”
Hingga aku tidak memiliki apa-apa dan tidak ada yang ada di benakku kecuali ipar saya tadi.
Kemudian aku pergi menemuinya, aku beramah tamah dengannya dan aku berkata bahwa aku sedang membutuhkan tempat yang bisa aku tempati sementara waktu hingga aku bisa mengatur kembali kehidupanku. Dia bercerita, “Dia malah mengusir, mencelaku, dan berkata kasar kepadaku, … bahkan mengingkari pemberianku kepadanya.

Maka kemudian aku menjauhinya dan aku putuskan hubunganku dengannya sejak hari itu.” Dan ketika itu orang ini berbincang kepadaku dengan rasa sakit hati yang sangat Aku berkata kepadanya, “Walaupun dengan semua hal yang telah dilakukan oleh kerabatmu tersebut, …” … apakah mempengaruhi kehormatanmu? Apakah dia merusak kehormatan dan kemuliaanmu dan keluargamu?” Dia jawab, “Tidak sama sekali!”
Aku berkata, “Seandainya dia merusak kehormatanmu, itu masalah yang lebih berat atau lebih ringan?”
Dia berkata, “Tidak, tentu itu lebih berat. Urusan dunia tidak sebanding dengan urusan kehormatan.”
Aku berkata, “Masalah kehormatan lebih berat bagimu?” Dia jawab, “Iya.”
Aku bacakan ayat ini dan aku kisahkan kepadanya kejadian yang menimpa Abu Bakar.
Langsung dia berkata, “Selesai urusan!” Dia berkata, “Masalah selesai!”
Dia berkata, “Selesai sudah, tidak ada apa-apa lagi dalam hatiku!”

Dan sebenarnya, nilai-nilai seperti ini harus bisa kita pahami, sehingga kita mengerti betapa agungnya sifat pemaaf walau apapun yang terjadi, kita tetap meyakini firman Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
“Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)
Hendaknya hal ini selalu ada dalam diri seseorang, jangan sampai hilang!
Karena betapa banyak kejadian antar kerabat saling boikot dan memutus hubungan karena urusan dunia yang sepele namun dibesar-besarkan oleh setan dalam hati mereka, hingga hubungan mereka terputus terus menerus hingga turun kepada anak-anak mereka dan begitu seterusnya. Apa manfaat yang seseorang harapkan dari perbuatan semacam itu? Dan maaf dari Allah dan ampunan-Nya jauh lebih agung. Oleh karena itu, hendaknya seseorang memaafkan agar Allah memaafkannya, dan memberi ampunan agar Allah mengampuninya, dan mengharapkan dari hal tersebut apa yang ada di sisi Allah.

Jangan melihat kepada orang yang menyakitinya atau menyusahkannya bahwa dia pantas untuk dimaafkan atau tidak, jangan lihat hal ini! Lihatlah betapa agungnya apa yang ada di sisi Allah, sehingga dia memaafkan agar Allah memaafkannya, dan memberi ampunan agar Allah subḥānahu wa ta’alā mengampuninya. Demikian.

================================

فَمِنَ الْأَمْثِلَةِ قِصَّةُ أَبِي بَكْرٍ مَعَ مِسْطَحٍ

وَمِسْطَحٌ كَانَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ

وَمِنْ قَرَابَاتِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ

فَتَكَفَّلَ أَبُو بَكْرٍ بِالنَّفَقَةِ عَلَيْهِ

فَكَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ

لَكِنَّهُ خَاضَ أَعْنِي مِسْطَحٌ فِيْ مَنْ خَاضُوا فِي حَادِثَةِ الْأِفْكِ

الْأَمْرُ الَّذِي أُمِّيَتْ بِهِ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

وَنَزَلَتْ آيَاتُ التَّبْرِئَةِ تُتْلَى فِي كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَلَمَّا بَلَغَ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ مِسْطَحًا خَاضَ مَعَ مَنْ خَاضُوا

حَلَفَ بِاللهِ أَنْ لَا يُنْفِقَ عَلَيْهِ

لَمَّا نَزَلَتِ الْآيَاتُ فِي تَبْرِئَةِ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

جَاءَ فِي ضِمْنِ هَذِهِ الْآيَاتِ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَه وَتَعَالَى

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ – النُّورُ: ٢٢

لَا يَأْتَلِ أَيْ لَا يَحْلِفُ

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ

أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

لَمَّا سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ وَبَلَغَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ

مُبَاشَرَةً قَالَ بَلَى قَالَ بَلَى مُبَاشَرَةً

وَأَعَادَ النَّفَقَةَ لِمِسْطَحٍ مُبَاشَرَةً بِدُونِ التَّرَدُّدِ

فَهَذِهِ الْآيَةُ لَا تَخُصُّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

الْعِبْرَةُ بِعُمُومِهَا وَلِهَذَا اللهُ قَالَ

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ

هَذَا يَشْمَلُ كُلَّ إِنْسَانٍ حَصَلَ لَهُ مِثْلُ هَذَا الْمَوْقِفِ

أَوْ قَرِيبٌ مِنْهُ أَوْ نَحْوَهُ

فَعَلَيْهِ أَنْ يَنْتَبِهَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى الْعَظِيمِ

وَأَنْ يَنْتَبِهَ لِقَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

قَالَ بَلَى قَالَ بَلَى وَأَعَادَ لَهُ النَّفَقَةَ

أَرْوِي لَكُمْ هُنَا قِصَّةً عَجِيبَةً جِدًّا

وَجَمِيلَةً وَمُؤَثِّرَةً

فِي هَذَا الْمَسْجِدِ أَحَدُ الزُّوَّارِ الْكِرَامِ

جَلَسَ مَعِي جَلْسَةً خَاصَّةً وَأَخَذَ يُحَدِّثُنِي

عَنْ قَرِيبٍ لَهُ يَقُولُ

هَجَرْتُهُ فِي اللهِ وَلَا أُكَلِّمُهُ وَهُوَ زَوْجٌ لِأُخْتِهِ

هَذَا الَّذِي يُحَدِّثُنِي كَانَ صَاحِبَ مَالٍ وَتِجَارَةٍ

وَكَانَ زَوْجُ أُخْتِهِ فَقِيرًا لَا شَيءَ عِندَهُ

يَقُولُ فَأَحْبَبْتُ وَأَنَا تَاجِرٌ عِنْدِي أَمْوَالٌ أَحْبَبْتُ اَنْ تَعِيشَ أُخْتِي وَأَوْلَادُهَا

مَعَ زَوْجِهَا حَيَاةً كَرِيمَةً

فَكَتَبْتُ عِمَارَةً لِي بِمَحَلَّاتٍ تِجَارِيَّةٍ فِيهَا

كَتَبْتُهَا بِاسْمِهِ كَامِلَةً

قُلْتُ هَذِهِ هَدِيَّةٌ لَكَ فَتَعِيشُونَ هَذِهِ

يَقُولُ ثُمَّ بَعْدَهَا بِفَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ قَدَّرَ اللهُ عَلَيَّ فَخَسِرْتُ تِجَارَتِيْ

وَمَا أَصْبَحَ عِنْدِيْ شَيْءٌ مَا فَكَّرْتُ فِي أَحَدٍ إِلَّا زَوْجَ أُخْتِي

فَذَهَبْتُ إِلَيْهِ

وَتَلَطَّفْتُ مَعَهُ وَقُلْتُ أُرِيدُ فَقَطْ شُقَّةً

أَسْكُنُ فِيهَا مُؤَقَّتًا إِلَى أَنْ أُرَتِّبَ نَفْسِيْ مِنْ جَدِيدٍ

وَيَقُوْلُ: فَطَرَدَنِي وَشَتَمَنِي وَأَسْمَعَنِي كَلاَمًا غَلِيظًا

وَجَحَدَ إِحْسَانِي إِلَيْهِ

فَهَجَرْتُهُ وَقَطَعْتُهُ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

وَكَانَ يُكَلِّمُنِي بِأَلَمٍ شَدِيدٍ

قُلْتُ لَهُ: مَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ الَّتِي حَصَلَتْ مِنْ قَرِيبِكَ كُلَّهَا

هَلْ وَصَلَ إِلَى عِرْضِكَ وَطَعْنٌ فِي عِرْضِكَ وَشَرَفِكَ وَفِي أَهْلِكَ؟

قَالَ: لَا أَبَدًا

قُلْتُ: لَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ طَعَنَ فِي الْعِرْضِ الْأَمْرُ أَشَّدُ عَلَيْكَ وَإِلَّا أَقَلُّ؟

قَالَ: لَا أَشَدُّ الدُّنْيَا مَا تُسَاوِي شَيْئًا يَقُولُ عِنْدَ الْعِرْضِ

قُلْتُ: أَشَدُّ عَلَيْكَ مِنْ هَذَا ؟

قَالَ: نَعَمْ

فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ وَذَكَرْتُ قِصَّةَ أَبِيْ بَكْرٍ

فَقَالَ لِي مُبَاشَرَةً: اِنْتَهَى الْمَوْضُوعُ قَالَ: اِنْتَهَى

مَا بَقِيَ يَقُولُ: اِنْتَهَى مَا بَقِيَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ

فَهَذَا لَا بُدَّ فِي حَقِيقَةٍ مِثْلُ هَذِهِ الْمَعَانِي نَحْنُ نَعْرِفُهَا

وَنَعْرِفُ قِيْمَةَ الْعَفْوِ

مَهْمَا كَانَتْ الْأُمُورُ نَقِفُ عِنْدَ قَوْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

دَائِمًا هَذِهِ تَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ لَا يَقِفُ

يَعْنِي كَمْ حَصَلَتْ بَيْنَ أَقارِبَ هَجْرٌ أَوْ قَطِيعَةٌ

فِي تَوَافِهَ مِنْ تَوَافِهِ الدُّنْيَا عَظَّمَهَا الشَّيْطَانُ فِي نُفُوسِهِمْ

فَبَقِيَتْ قَطِيعَةٌ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَوْلاَدِهِمْ وَاسْتَمَرَّتْ

مَا الثَّمَرَةُ الَّتِي يَرْجُوهَا الْإِنْسَانُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ

لَكِنْ عَفْوُ اللهِ وَمَغْفِرَتُهُ أَعْظَمُ

فَيَعْفُو لِيَعْفُوَ اللهُ عَنْهُ

وَيَغْفِرُ لِيَغْفِرَ اللهُ لَهُ

وَيَطْلُبُ بِذَلِكَ مَا عِنْدَ اللهِ

لَا يَنْظُرُ إِلَى هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي آذَاهُ أَوْ … أَوْ أَتْعَبَهُ

أَنَّه مُسْتَحِقٌّ أَنْ نَعْفُوَهُ لَا يَنْظُرُ إِلَى هَذَا

يَنْظُرُ إِلَى شَيْءٍ عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ جِدًّا

فَيَعْفُو لِيَعْفُوَ اللهُ عَنْهُ

وَيَغْفِرُ لِيَغْفِرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ
نَعَمْ

Bacaan Istiftah Penuh dengan Tauhid yang Sebaiknya Kamu Hafal – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Bacaan Istiftah Penuh dengan Tauhid yang Sebaiknya Kamu Hafal – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Pembahasan tentang manfaat zikir secara terperinci membutuhkan pembahasan yang panjang lebar, namun aku akan membahas satu contoh saja. Dengan contoh itu dapat diketahui manfaat dari yang semisalnya dalam bab ini. Yaitu tentang hadits agung dan menyeluruh dalam perkara aqidah. Bahkan sebatas pengetahuan …

Baca selengkapnya…Bacaan Istiftah Penuh dengan Tauhid yang Sebaiknya Kamu Hafal – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Apakah Dibaca Keras atau Pelan – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Apakah Dibaca Keras atau Pelan – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

-ahsanallahu ilaikum-
Seorang yang selesai mengerjakan shalat fardhu, ia disunnahkan membaca zikir setelah shalat dengan mengeraskan semua bacaan zikirnya (jahr), kecuali Ayat Kursi yang dibaca dengan suara pelan (sirr).  Penulis -waffaqahullah- menyebutkan bahwa sunnah ketika membaca zikir-zikir tersebut adalah dengan mengeraskan suara (jahr), setiap selesai shalat fardhu. Dan yang dimaksud dengan jahr adalah mengeraskan suara untuk memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut tidak mendengarnya.

Jahr adalah mengeraskan suara untuk memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut tidak mendengarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan sirr (israr) adalah memelankan suara tanpa tujuan memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut mendengarnya. Israr/sirr adalah memelankan suara tanpa tujuan memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang itu mendengarnya.

Itulah perbedaan antara keduanya, sebagaimana disebutkan sebelumnya. Dan orang yang membaca zikir setelah shalat, disunnahkan untuk membacanya dengan jahr bacaan zikir-zikirnya, dengan ia mengeraskan suaranya.
Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Ibnu ‘Abbas, yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Mengeraskan suara saat berzikir setelah shalat adalah amalan yang ada di zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
“Mengeraskan suara saat berzikir setelah shalat, adalah amalan yang ada di zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”
Orang yang berzikir disunnahkan untuk mengeraskan suaranya saat membaca zikir setelah shalat. Ini adalah pendapat yang dipilih beberapa ulama al-Muhaqqiq; di antaranya Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari, Abu al-‘Abbas Ibnu Taimiyah, Abu Muhammad Ibnu Hazm, dan Abu al-Faraj Ibnu Rajab.
Berbeda dengan pendapat yang masyhur dalam empat madzhab. Pendapat masyhur dalam empat madzhab adalah memelankan bacaan (sirr/israr). Namun pendapat yang lebih kuat adalah disunnahkannya mengeraskan bacaan zikir setelah shalat. Dan inilah pendapat yang dipilih para pemuka dakwah negeri Najd -rahimahumullah- berdasarkan ilmu dan amalan mereka. Mereka berpandangan, sunnahnya zikir setelah shalat adalah dengan mengeraskan bacaan (jahr). Dan bacaan yang dikeraskan meliputi seluruh zikir setelah shalat,

Tidak hanya pada permulaannya saja. Dan bacaan zikir setelah shalat yang dikeraskan meliputi seluruh zikirnya, tidak hanya pada permulaannya saja. Adapun amalan banyak orang yang mengeraskan bacaan di awal zikir, kemudian memelankannya; maka ini adalah pengamalan yang tidak didasari dalil. Sebagaimana yang dikatakan guru dari para guru kami, Sulaiman bin Sihman -rahimahullah-
Maka barangsiapa yang hendak mengamalkan sunnah, maka hendaklah ia mengeraskan bacaan zikir ini semuanya dari awal hingga selesai.
Dan hendaklah seseorang membaca zikir sendiri-sendiri. tanpa membacanya bersama dengan orang lain, yang dikenal dengan zikir berjamaah.
Karena zikir berjamaah itu perkara yang mungkar, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dan asy-Syathibi dalam kitab al-I’tisham dan lainnya. Dan yang dimaksud dengan zikir berjamaah adalah zikir yang dilakukan bersama-sama, namun jika bacaannya pas kebetulan bersamaan dengan orang lain tanpa disengaja, maka ini tidak mengapa.

Karena orang-orang jika telah selesai shalat, seringkali bacaan zikir mereka dimulai secara bersamaan;Mereka sama-sama membaca, “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah”…atau “Astaghfirullaha wa atubu ilaih, astaghfirullaha wa atubu ilaih, astaghfirullaha wa atubu ilaih”. Ini bukan hal yang tercela. Namun yang tercela adalah yang sengaja membacanya bersamaan (zikir berjamaah).  Adapun bacaan yang berbarengan tanpa disengaja
maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dan mengeraskan suara (jahr) yang dimaksud hanya dikhususkan pada lima zikir pertama pada zikir setelah shalat. Adapun zikir keenam yang merupakan bacaan Ayat Kursi, maka para ulama sepakat bahwa ia dibaca dengan suara pelan, bukan dikeraskan. Ayat Kursi dibaca dengan suara pelan (sirr), bukan dikeraskan (jahr). Tidak ada satupun ulama yang berpandangan Ayat Kursi dibaca dengan suara keras (jahr). Demikian…

================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَجْهَرَ الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ كُلِّهَا

إِلَّا آيَةَ الْكُرْسِيِّ فَيَقْرَأُهَا سِرًّا

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ

أَنَّ السُّنَّةَ فِيمَا تَقَدَّمَ مِنَ الْأَذْكَارِ

الْجَهْرُ بِهَا بَعْدَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ

وَالْمُرَادُ بِالْجَهْرِ

رَفْعُ الصَّوْتِ مَعَ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَلَوْ لَمْ يَسْمَعْ

رَفْعُ الصَّوْتِ مَعَ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَلَوْ لَمْ يَسْمَعْ

وَالْإِسْرَارُ هُوَ خَفْضُ الصَّوْتِ

مَعَ عَدَمِ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَإِنْ سَمِعَ

خَفْضُ الصَّوْتِ مَعَ عَدَمِ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ

وَلَوْ سَمِعَ

هَذَا هُوَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا كَمَا تَقَدَّمَ

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَجْهَرَ الذَّاكِرُ بَعْدَ الصَّلَاةِ

بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ

فَيَرْفَعُ صَوْتَهُ

لِمَا فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ

لِمَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ

كَانَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كَانَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ

بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَالسُّنَّةُ أَنْ يَرْفَعَ الذَّاكِرُ صَوْتَهُ

بِالْأَذْكَارِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

وَهَذَا اخْتِيَارُ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ

مِنْهُمْ أَبُو جَعْفَرٍ ابْنُ جَرِيْرٍ الطَّبَرِيُّ

وَأَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ

وَأَبُو مُحَمَّدٍ ابْنُ حَزْمٍ

وَأَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ

خِلَافًا لِلْمَشْهُورِ فِي الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ

الْمَشْهُورُ فِي الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ الْإِسْرَارُ بِهَا

لَكِنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْجَهْرُ

وَعَلَيْه أَئِمَّةُ الدَّعْوَةِ النَّجْدِيَّةِ رَحِمَهُمُ اللهُ عِلْمًا وَعَمَلًا

فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ السُّنَّةَ هِيَ الْجَهْرُ

وَالْجَهْرُ يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَذْكَارِ

وَلَا يَخْتَصُّ بِأَوَّلِهَا

وَالْجَهْرُ يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَذْكَارِ وَلَا يَخْتَصُّ بِأَوَّلِهَا

فَمَا عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْجَهْرِ بِأَوَّلِ الذِّكْرِ ثُمَّ

يُسِرُّونَ فَهَذَا تَحَكُّمٌ لَا دَلِيلَ عَلَيْهِ

أَفَادَهُ شَيْخُ شُيُوخِنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سِحْمَانِ رَحِمَهُ اللهُ

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَافِقَ السُّنَّةَ

فَإِنَّهُ يَجْهَرُ بِهَذِه الْأَذْكَارِ جَمِيْعًا

حَتَّى يُتِمَّهَا

وَيَكُونُ ذِكْرُ الْعَبْدِ لِنَفْسِهِ

دُونَ مُوَاطَأَةِ غَيْرِهِ اِتِّفَاقًا

مِمَّا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الجَمَاعِيِّ

فَإِنَّه مُسْتَنْكَرٌ

بَسَطَهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ

وَالشَّاطِبِيُّ فِي الِاعْتِصَامِ وَغَيْرِهِ

وَالْمُرَادُ بِالذِّكْرِ الجَمَاعِيِّ مَا وَقَعَ عَنِ التِّفَاقِ

أَمَّا مَا وَقَعَ مُصَادَفَةً بِالِاتِّفَاقِ فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا

فَإِنَّ النَّاسَ إِذَا انْصَرَفُوا مِنَ الصَّلَاةِ

وَقَعَ غَالِبًا اتِّفَاقُهُمْ فِي الِابْتِدَاءِ

أَنَّهُمْ يَقُولُوْنَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

أَوْ يَقُولُوْنَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

هَذَا لَيْسَ مَحَلًّا لِلذَّمِّ

وَإِنَّمَا الذَّمُّ إِذَا كَانَ عَنْ اِتِّفَاقٍ وَمُوَاطَأَةٍ

وَأَمَّا إِذَا كَانَ مُصَادَفَةً بِلَا اتِّفَاقٍ

فَلَا يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْمَنْعِ

وَالْجَهْرُ الْمَذْكُورُ يَخْتَصُّ

بِالْأَذْكَارِ الْخَمْسَةِ الْأُولَى

أَمَّا الذِّكْرُ السَّادِسُ وَهُوَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ

فَأَهْلُ الْعِلْمِ مُطْبِقُوْنَ عَلَى أَنَّهُ يُسَرُّ بِهَا وَلَا يُجْهَرُ

أَنَّهُ يُسَرُّ بِهَا وَلَا يُجْهَرُ

فَلَمْ يَذْكُرْ أَحدٌ الْجَهْرَ بِقِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ
نَعَمْ

Ayo Pelajari al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Pelajari al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pembahasan ketiga: al-Qur’an

Oh, pembahasan keempat: al-Qur’an, Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang hasan dari hadits Abdurrahman bin Syibl -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Pelajarilah al-Qur’an.”

Hadits ini diriwayatkan oleh banyak sahabat dengan lafazh yang berbeda-beda, namun intinya adalah perintah untuk mempelajari al-Qur’an. Ia adalah kitab Allah yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Mempelajari al-Qur’an dapat membentengi keselamatan pemahaman, karena al-Qur’an adalah kitab petunjuk.

Ketika kamu membaca dari awal mushaf setelah al-Fatihah, kamu akan membaca, “Alif Lam Mim. Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai PETUNJUK bagi orang-orang bertakwa. Al-Qur’an adalah kitab hidayah, dan hidayah ini tidak terbatas pada suatu bidang atau suatu jenis keilmuan atau pengamalan.

Namun ia adalah hidayah menyeluruh yang meliputi segala yang dibutuhkan manusia. Hal ini menumbuhkan pada diri orang-orang yang memahami hakikat al-Qur’an, rasa pencukupan diri dengan al-Qur’an itu. Sehingga mereka menulis kitab tentang pencukupan diri dengan al-Qur’an atau menulis bab khusus tentangnya.

Di antara yang menulis bab tentang ini, imam dalam dakwah (Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitab ‘Fadhlul Islam’. Dan salah satu yang menulis kitab tentang ini adalah Abu al-Faraj Ibnu Rajab, Beliau menulis kitab yang penuh manfaat tentang mencukupkan diri dengan al-Qur’an. Akan tetapi kitab ini tidak ada saat ini, yang ada hanya ringkasannya, yang salah satunya telah ditahqiq di Jami’ah Islamiyah, yaitu ringkasan yang ditulis Ibnu Abdul Hadi ash-Shaghir, yang dikenal dengan Ibnu al-Mibrad.

Beliau telah menulis kitab yang meringkas kitab Abu al-Faraj Ibnu Rajab. Kitab ini membuat seseorang dapat mencermati hakikat pencukupan diri dengan al-Qur’an; di antaranya adalah dapat mencukupkan diri dengannya dalam menjaga keselamatan pemikiran, karena seorang hamba jika menghadapkan diri pada al-Qur’an, mempelajarinya, dan menjadikannya sebagai kitab hidayah dari Allah, maka hal-hal yang merusak pemikiran tidak akan mendatanginya, karena hidayah yang dia dapat dari al-Qur’an melindunginya dari hal-hal yang merusak itu.

Al-Qur’an bagaikan matahari, sedangkan hal-hal yang merusak itu bagaikan serangga yang berbahaya. Jika cahaya matahari menerpanya, maka serangga itu akan mati. Demikian juga jika matahari petunjuk dari al-Qur’an telah terbit dalam hati, akan mengeluarkannya dari segala yang merusak dan memberinya segala yang dapat menguatkan hatinya.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa al-Qur’an adalah sumber segala ilmu dan kebaikan. Ibnu Abbas pernah bersya’ir:

“Seluruh ilmu ada dalam al-Qur’an, namun pemahaman manusialah yang tidak dapat mencapainya.”

Maka orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an dengan memandangnya sebagai kitab petunjuk, maka ia akan mendapat banyak manfaat dalam berbagai hal. Di antaranya adalah keselamatan pemikiran.

Al-Qur’an akan memberinya perlindungan pemikiran dari kerusakan. Jika ia senantiasa bersama al-Qur’an, maka pemikirannya akan lurus, karena petunjuk dari Allah telah memenuhi hatinya yang berasal dari al-Qur’an al-Karim.

===========

الْمُفْرَدَةُ الثَّالِثَةُ الْقُرْآنُ

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةُ الْقُرْآنُ

وَقَدْ جَاءَ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ

بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ

وَجَاءَ هَذَا مِنْ حَدِيثِ جَمَاعَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ

مَعَ اخْتِلَافِ سِيَاقِ الْمُتُونِ

لَكِنْ أَصْلُهَا وَمُقَدَّمُهَا الْأَمْرُ بِتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ

وَهُوَ كِتَابُ اللهِ الَّذِي أَنْزَلَهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَتَعَلُّمُ الْقُرْآنِ يُثْمِرُ حِفْظَ الْأَمْنِ الفِكْرِيّ

لِأَنَّ الْقُرْآنَ كِتَابُ هِدَايَةٍ

فَأَنْتَ تَقْرَأُ فِي أَوَّلِ الْمُصْحَفِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ

الٓمٓ ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

هُدًى لِلْمُتَّقِيْن

فَالْقُرْآنُ كِتَابُ هِدَايَةٍ

وَهَذِهِ الْهِدَايَةُ لَا تَنْحَصِرُ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ

أَوْ نَوْعٍ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْعِلْمِيَّةِ أَوِ الْعَمَلِيَّةِ

بَلْ هِيَ هِدَايَةٌ عَامَّةٌ

تَسْتَوْعِبُ جَمِيعَ مَا يَحْتَاجُهُ النَّاسُ

وَهَذَا أَنْشَأَ عِنْدَ الْمُدْرِكِيْنَ لِحَقِيقَةِ الْقُرْآنِ

الِاسْتِغْنَاءَ بِه

فَصَنَّفُوْا فِيْهِ الِاسْتِغْنَاءَ بِالْقُرْآنِ

أَوْ بَوَّبُوْا عَلَى ذَلِكَ

وَمِمَّن بَوَّبَ عَلَى ذَلِكَ إِمَامُ الدَّعْوَةِ فِي كِتَابِهِ فَضْلِ الْإِسْلَامِ

وَمِمَّن صَنَّفَ فِيهِ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ

فَلَهُ كِتَابٌ نَافِعٌ فِي الِاسْتِغْنَاءِ بِالْقُرْآنِ

لَكِنَّهُ لَا يُوجَدُ الْيَوْمَ

وَإِنَّمَا يُوجَدُ لَهُ مُخْتَصَرَاتٌ

حُقِّقَ أَحَدُهَا فِي الْجَامِعَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ

وَهُوَ مُخْتَصَرٌ لِابْنِ عَبْدِ الْهَادِي الصَّغِيرِ

الْمَعْرُوفُ بِابْنِ الْمِبْرَدِ

فَإِنَّه صَنَّفَ كِتَابًا فِي اخْتِصَارِ كِتَابِ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ

يُوقِفُ الْمَرْءَ عَلَى حَقِيقَةِ الِاسْتِغْنَاءِ بِالْقُرْآنِ

وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ حُصُولُ الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ

فِي حِفْظِ الْأَمْنِ الفِكْرِيّ

فَالْعَبْدُ إذَا أَقْبَلَ عَلَى الْقُرْآنِ

وَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ كِتَابَ هِدَايَةِ اللهِ

لَمْ يُمْكِنْ لِمُفْسِدَاتِ الْعَقْلِ أَنْ تَعْرِضَ لَهُ

لأَِنَّ الْهِدَايَةَ الَّتِي يَسْتَمِدُّهَا مِنَ الْقُرْآنِ

تَدْفَعُ تِلْكَ الْغَوَائِلَ

فَالْقُرْآنُ بِمَنْزِلَةِ الشَّمْسِ

وَتِلْكَ الْغَوَائِلُ بِمَنْزِلَةِ مَا يَضُرُّ مِنَ الْحَشَرَاتِ

وَإِذَا طَلَعَتْ عَلَيْهَا الشَّمْسُ قَتَلَتْهَا

فَكَذَلِكَ إذَا طَلَعَتْ شَمْسُ الْهِدَايَةِ الْقُرْآنِيَّةِ عَلَى الْقَلْبِ

أَخْرَجَتْهُ مِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُهُ

وَأَمَدَّتْهُ بِكُلِّ مَا يُقَوِّيْهِ

وَمِنْ هُنَا

عُلِمَ أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ أَصْلُ الْعِلْمِ وَالْخَيْرِ

وَقَدْ أَنْشَدَ ابْنُ عَبَّاسٍ

جَمِيعُ الْعِلْمِ فِي الْقُرْآنِ لَكِنْ

تَقَاصَرَ عَنْهُ أَفْهَامُ الرِّجَالِ

فَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَعَلَّمُهُ

نَاظِرًا إِلَيْهِ كَوْنَهُ كِتَابَ هِدَايَةٍ

يَنْتَفِعُ بِهِ فِي أَبْوَابٍ كَثِيْرَةٍ

وَمِنْ جُمْلَتِهَا مَا يُسَمَّى بِالْأَمْنِ الفِكْرِيّ

فَيُثْمِرُ الْقُرْآنُ فِيهِ حِفْظَ عَقْلِهِ مِنْ الِاخْتِلَالِ

وَإِذَا أَدْمَنَ الْقُرْآنَ وَلَزِمَهُ صَارَ عَقْلُهُ مُسْتَقِيْمًا

لاِسْتِيلَاءِ الْهِدَايَةِ الرَّبَّانِيَّةِ عَلَى قَلْبِهِ

مِمَّا جَاءَ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ