Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)?

==
“Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis:

(1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka.

(2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka.
Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini.
Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka,
dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka.

Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka.

Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua.
Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali.

Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa.
Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu!

Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka.
Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu.

=========================================

مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ

فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ

وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ

فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا

وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ

وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ

الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ

فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ

طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ

يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا

يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ

أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ

أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ

وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ

وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ

وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ

 

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau,
YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari)

Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat.

Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan.

Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik.

Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai.

===========================================

هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ

إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ

وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ

الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي

بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ

بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ

وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا

وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ

وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ

تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ

يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ

وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ

وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ

ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ

بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ

ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ

وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
.
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
.
اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ

سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ

فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ

وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ

لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى

وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ

كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ

لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ

وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ

صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ

أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ

لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا

يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ

وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ

تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ

فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ

مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى

يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ

وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ

هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ

كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى

وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟

هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ

وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ

فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan …

Baca selengkapnya…Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka.

Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain.

Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka.

===========================

يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ

حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي

الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ

بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ

كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ

كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ

فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ

كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ

فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ

وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ

فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ

كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ

فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ

وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ

إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ

وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ

وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ

فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ

عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ

 

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’” Beliau bertanya lagi, …

Baca selengkapnya…Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa …

Baca selengkapnya…Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi