Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kemudian beliau berkata, “Dan bersabarlah dalam menjauhi maksiat, menerima takdir-Nya, dan dalam ketaatan kepada-Nya, agar kamu bahagia.” Dalam bait yang indah ini, beliau menyebutkan tiga jenis kesabaran. Sabar ada tiga jenis:

(1) sabar dalam ketaatan,

(2) sabar dalam menjauhi maksiat, dan

(3) sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Demikianlah, beliau kumpulkan tiga jenis kesabaran dalam bait ini.

(SABAR MENJAUHI MAKSIAT)
“Bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan,” ini jenis pertama. Maksudnya, “Tahan dan larang dirimu dari berbuat maksiat.” Setiap kali jiwamu ingin berbuat maksiat, larang ia, takut-takuti ia dengan Allah, dan ingatkan ia tentang-Nya dan bahwa Dia mengawasi dan melihatmu. Bersabarlah! Karena barang siapa berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali dirimu ingin bermaksiat, sabarkan ia! “Wahai jiwa, bersabarlah! Bersabarlah, karena kematian teramat dekat!” Sebagian orang tidak mampu bersabar menjauhi maksiat, hingga dia mati saat bermaksiat kepada Allah. Banyak sekali, orang meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, padahal orang yang berusaha bersabar, pasti Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali jiwa ingin melakukan maksiat, katakan “Bersabarlah, wahai jiwa! Bersabarlah, agar kau mendapat hasil yang terpuji!” “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maka, hendaknya seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat.

(SABAR MENERIMA TAKDIR ALLAH)
Kemudian beliau berkata, “Bersabarlah menerima hukum-Nya,” yaitu bersabar menerima takdir-Nya. Jadi, ketika seseorang tertimpa musibah, hendaknya ia bersabar. “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rājiʿūn.'” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

(SABAR DALAM KETAATAN)
“Dan bersabarlah dalam ketaatan,” dan ini jenis ketiga dari jenis-jenis kesabaran, yaitu sabar dalam menaati Allah. “Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (QS. Taha: 132) Bersabarlah dalam ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak mampu bersabar, akankah dia mengerjakan salat Subuh? Akankan mengerjakan salat-salat lainnya? Akankah berbakti kepada orang tuanya? Sanggupkah berbuat kebaikan? Jika tidak punya kesabaran, pasti tidak mampu berbuat ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran, sehingga orang yang tidak bersabar tidak akan mampu. Sehingga, seorang hamba butuh kesabaran untuk taat kepada Allah, untuk menjauhi maksiat kepada-Nya, dan untuk menghadapi musibah-musibah menyakitkan. Inilah maksud perkataan beliau, “Dan bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan, dalam menerima hukum-Nya, dan dalam ketaatan, agar kamu bahagia.” Dan perkataan beliau—semoga Allah merahmatinya—di penghujung bait ini, “agar kamu bahagia,” di dalamnya ada pesan dari beliau—semoga Allah merahmatinya— bahwasanya kesabaran dengan ketiga jenisnya tersebut merupakan jalan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

=======================================================================

ثُمَّ قَالَ: تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ

فِي هَذَا الْبَيْتِ الْجَمِيلِ ذَكَرَ أَنْوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

الصَّبْرُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ صَبْرٌ عَلَى الطَّاعَاتِ

وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَصَبْرٌ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ الْمُؤْلِمَةِ

وَجَمَعَ رَحِمَهُ اللهُ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَنَوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ هَذَا النَّوْعُ الْأَوَّلُ

أَيْ احْرِصْ نَفْسَكَ وَامْنَعْهَا عَنِ الْمَعْصِيَةِ

كُلَّمَا أَرَادَتْ نَفْسُكَ مَعْصِيَةً امْنَعْهَا وَخَوِّفْهَا بِاللهِ

وَذَكِّرْهَا بِهِ وَذَكِّرْهَا بِرُؤْيَةِ اللهِ لَكَ وَاطِّلَاعِهِ عَلَيْكَ

تَصَبَّرْ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا هَمَّتْ نَفْسُكَ بِمَعْصِيَةٍ صَبِّرْهَا

يَا نَفْسُ اصْبِرِي يَا نَفْسُ اصْبِرِي فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

بَعْضُ النَّاسِ لَمْ يَصْبِرْ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَمَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

وَهُمْ كَثِيرُونَ مَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

لَكِنْ مَنْ يُصَبِّرْ نَفْسَهُ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا أَرَادَتِ النَّفْسُ مَعْصِيَةً مِنَ الْمَعَاصِي قَالَ: يَا نَفْسُ اصْبِرِي

اصْبِرِي لَكِ الْعَاقِبَةُ الْحَمِيدَةُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللهَ

فَيُصَبِّرُ نَفْسَهُ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَقَالَ: وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَهَذَا الصَّبْرُ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ

إِذَا أُصِيبَ الْمَرْءُ بِمُصِيبَةٍ يَصْبِرُ

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ

قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ وَهَذَا النَّوعُ الثَّالِثُ مِنْ أَنْوَاعِ الصَّبْرِ

الصَّبْرُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْعَلَيْهَا

صَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ الطَّاعَةُ تَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ

مَنْ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّبْرُ هَلْ يُصَلِّي الْفَجْرَ؟

هَلْ يُصَلِّي الصَّلَوَاتِ؟

هَلْ يَبِرُّ وَالِدَيْهِ؟

هَلْ يَقُومُ بِأَعْمَالِ إِحْسَانٍ؟

إِذَا مَا عِنْدَهُ الصَّبْرُ مَا يَعْمَلُ الطَّاعَاتِ

الطَّاعَاتُ تَحْتَاجُ إِلَى صَبْرٍ وَمَنْ لَا صَبْرَ عِنْدَهُ لَا يَتَمَكَّنُ

فَالْعَبْدُ يَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيُطِيعَ اللهَ

وَيَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيَكُفَّ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَيَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى الصَّبْرِ فِي الْمَصَائِبِ الْمُؤْلِمَةِ

هَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ عَلَّكَ تَسْعَدُ

وَقَوْلِهِ رَحِمَهُ اللهُ فِي خَاتِمَةِ هَذَا الْبَيْتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ فِيهِ تَنْبِيهٌ مِنْهُ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

إِلَى أَنَّ الصَّبْرَ بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ سَبِيلُ السَّعَادَةِ

وَالْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

 

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ada perkataan seorang salaf, saya tidak ingat siapa namanya,bahwa dia berkata kepada beberapa saudara-saudaranya, “Aku tahu doa mana yang akan Allah kabulkan bagiku.” Mereka berkata, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Aku tahu doa mana yang Allah kabulkan bagiku, aku mengetahuinya.” Mereka bertanya, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Ketika hatiku khusyuk, seluruh badanku tenang, mataku meneteskan air mata, dan kesungguhanku dalam doa bertambah, aku yakin bahwa doa ini akan dikabulkan.”

Adapun doa yang keluar dari hati yang tidak khusyuk, lalai, dan tidak fokus, bagaimana mungkin akan dikabulkan? Sebagaimana sabda nabi kita ʿalaihiṣ ṣalātu was salām, “Berdoalah kepada Allah dengan meyakini bahwa doamu akan dikabulkan, karena, ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” “… Sungguh Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi)

Hati yang lalai, yaitu hati yang berpaling dan tidak menghadap kepada Allah, yang tidak yakin dalam doanya, sebagaimana telah kita bahas dalam atsar dari Ibnu Mas’ud, doa seperti ini, sangat layak untuk tidak dikabulkan! Allah akan mengabulkan doa dari hamba-Nya yang menghadapkan wajahnya kepada-Nya, memfokuskan hati kepada-Nya, jujur terhadap Tuhannya, sungguh-sungguh dalam doanya, khusyuk dalam doanya, dan yakin kepada Tuhannya yang Mahasuci lagi Mahatinggi, doa seperti ini yang sangat layak untuk dikabulkan, doa seperti ini sangat layak untuk dikabulkan.

===========

جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ لَا أَذْكُرُ مَنْ هُوَ الْآنَ

أَنَّهُ قَالَ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ

إِنَّنِيْ أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي يَسْتَجِيبُهُ اللهُ لِيْ

قَالُوا: وَكَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي اسْتَجَابَهُ اللهُ لِيْ أَعْرِفُهُ

قَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: إِذَا خَشَعَ قَلْبِيْ وَلَانَتْ جَوَارِحِيْ وَدَمَعَتْ عَيْنِيْ

وَعَظُمَ إِلْحَاحِيْ أَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا دُعَاءٌ مُسْتَجَابٌ

أَمَّا الدُّعَاءُ الَّذِي يَصْدُرُ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ وَمِنْ قَلْبٍ لَاهٍ وَمِنْ قَلْبٍ مُعْرِضٍ

فَهَذَا أَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ

فَإِنَّ اللهَ أَوْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ

فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ ‏- رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

أَيْ الْقَلْبُ الَّذِي مُنْصَرِفٌ عَنِ الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

لَيْسَ ثَبْتًا فِي الدُّعَاءِ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي أَثَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ بِأَنْ لَا يُسْتَجَابَ لَهُ

فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَجِيبُ مِنْ عَبْدِهِ الَّذِي أَقْبَلَ بِوَجْهِهِ

وَأَقْبَلَ بِقَلْبِهِ وَصَدَقَ مَعَ رَبِّهِ وَأَلَحَّ فِي دُعَائِهِ

وَأَقْبَلَ فِي سُؤَالِهِ وَوَاثِقٌ بِرَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ

حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ

 

 

Perbanyak Doa Ini! Rasakan Hasilnya – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Perbanyak Doa Ini! Rasakan Hasilnya – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis—rahimahullah—berkata, Salah satu hal paling bermanfaat dalam memandang masa depan adalah dengan membaca doa yang senantiasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ALLAAHUMMA ASHLIH LII DIINIL LADZI HUWA ‘ISHMATU AMRII WA ASHLIH LII DUNYAAYAL LATII FIIHAA MA’AASYII WA ASHLIH LII AAKHIRATIL LATII ILAIHAA MA’AADII …

Baca selengkapnya…Perbanyak Doa Ini! Rasakan Hasilnya – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Bolehkah Menutup Masjid Apabila Ada Kebutuhan – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Bolehkah Menutup Masjid Apabila Ada Kebutuhan – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Qutaibah bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dia berkata, “Laits mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari Ayahnya, bahwa dia berkata, ‘Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masuk ke Ka’bah dan beliau bersama Usamah bin Zaid, Bilal, dan Uṡman bin Ṭalḥah. Kemudian mereka menutup …

Baca selengkapnya…Bolehkah Menutup Masjid Apabila Ada Kebutuhan – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta …

Baca selengkapnya…Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.

Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”.

===============

ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ

يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا

كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11

فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا

الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ

مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ

وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ

وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى

رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ

فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي

فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ

مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ

وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا

حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2

وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ

أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ

لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ

هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ

وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ

وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا

فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ