Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Di antara asas pergaulan rumah tangga adalah menampakkan cinta dengan ucapan dan perbuatan, dan melakukan hal-hal yang bisa menambah rasa cinta. Manusia secara naluriah membutuhkan kasih sayang dan cinta; seorang suami membutuhkan istri yang mencintainya dan menampakkan cinta dan kasih sayang padanya, dengan perkataan dan perbuatannya; seorang istri pun membutuhkan cinta yang ditampakkan padanya, dengan perkataan dan perbuatan.

Oleh sebab itu, para lelaki harus menyadari hal ini, karena tabiat seorang lelaki, cenderung tidak banyak bicara dan bertutur kata, sehingga sebagian mereka melalaikan kebutuhan istrinya yang ingin cinta ditampakkan padanya, dan diajak ngobrol dengan kata-kata yang romantis, yang menunjukkan rasa cinta dan sayang. Sehingga perkara ini adalah salah satu asas penting dalam pergaulan rumah tangga. Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” Hadis ini ada dalam Ṣahīhain.

Perhatikan! Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau menunjukkan cinta beliau kepada Aisyah di hadapan orang-orang. Ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau tidak berkata, “Abu Bakar,” tapi berkata, “Ayahnya.” Ini adalah bentuk beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan rasa cintanya. Beliau juga menunjukkan kecintaan beliau dengan perbuatan beliau, diriwayatkan dari Aisyah—semoga Allah meridainya—dia berkata, “Aku pernah minum ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan gelasku kepada beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau meletakkan bibirnya pada tempat bekas bibirku (di gelas), kemudian beliau minum. Aku juga pernah memakan daging ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan tulangnya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau meletakkan mulutnya pada tempat bekas gigitanku. Hadis riwayat Muslim dalam kitab Sahih beliau.

Jadi, Aisyah ketika sedang haid, beliau mengambil gelas, kemudian minum, kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi menerima gelas bekas Aisyah minum, dan tidak sampai di sini saja, tapi memutar gelasnya ke posisi yang darinya Aisyah minum, tempat bekas bibir Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— kemudian Nabi minum dari tempat bekas Aisyah minum, —ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam wa raḍiya ʿanha— Dan ketika Aisyah menggigit al-‘Arq, yaitu tulang yang ada dagingnya, dia menggigitnya kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menerimanya, dan meletakkan mulutnya pada bekas mulut Aisyah, dan menggigit dari tempat itu.

Dari kisah ini, pada perbuatan Nabi ini, ada wujud menampakkan besarnya kecintaan, dan menunjukkan luasnya kasih sayang, ketika Nabi meminum dari gelas di tempat bekas mulutnya Aisyah, dan tidak sampai di sini saja, bahkan Nabi sengaja meletakkan mulut beliau—ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam—yang mulia, pada bekas mulutnya Aisyah. Bayangkan jika seorang suami melakukan hal ini kepada istrinya, betapa besar cinta yang akan masuk ke dalam hatinya? Dan betapa besar hal ini akan menambah kecintaanya kepada suaminya? Begitu juga ketika makan, Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menggigit daging pada tempat bekas gigitan Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— Ini adalah perkara agung, yang seorang lelaki dan wanita harus memahaminya, dan mengamalkannya, karena betapa butuhnya rumah tangga zaman sekarang terhadap pemenuhan cinta dan kasih sayang.

=========================================================================

وَمِنْ أُصُولِ الْعِشْرَةِ فِي الْبَيْتِ إِظْهَارُ الْمَحَبَّةِ قَوْلًا وَعَمَلًا

وَفِعْلُ مَا يَزِيدُ الْمَحَبَّةَ

الْإِنْسَانُ فِي خِلْقَتِهِ يَحْتَاجُ إِلَى الْعَاطِفَةِ يَحْتَاجُ إِلَى الْمَحَبَّةِ

فَالزَّوْجُ يَحْتَاجُ أَنْ تَتَحَبَّبَ إِلَيْهِ زَوْجَتُهُ وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَوَدَّةَ بِقَوْلِهَا وَفِعْلِهَا كَذَلِكَ

وَالزَّوْجَةُ كَذَلِكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَنْ تُظْهَرَ لَهَا الْمَحَبَّةُ

بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَيَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ أَنْ يَتَنَبَّهُوا لِهَذَا

لِأَنَّ طَبِيعَةَ الرَّجُلِ فِي الْغَالِبِ لَا تَمِيلُ إِلَى الْأَقْوَالِ لَا تَمِيلُ إِلَى اللِّسَانِ

فَيُهْمِلُ بَعْضُ الْأَزْوَاجِ حَاجَةَ امْرَأَتِهِ إِلَى أَنْ يُظْهِرَ لَهَا الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ يُكَلِّمَهَا بِالْكَلَامِ الطَّيِّبِ الَّذِي فِيهِ الْحُبُّ وَالْوُدُّ

فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ مِنَ الْأُصُولِ الْمُهِمَّةِ فِي الْعِشْرَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

قَالَ: أَبُوهَا

وَالْحَدِيثُ فِي الصَّحِيحَيْنِ

فَانْظُرُوْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ: مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

فَأَظْهَرَ حُبَّهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَمَامَ النَّاسِ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

مَا قَالَ: أَبُو بَكْرٍ
قَالَ: أَبُوهَا

وَذَلِكَ إِظْهَارًا لِمَحَبَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُظْهِرُ مَحَبَّتَهُ بِأَعْمَالِهِ

فَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

يَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ

فَعَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَهِيَ حَائِضٌ تَأْخُذُ الْإِنَاءَ فَتَشْرَبُ

فَتُعْطِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَأْخُذُ مِنْهَا الْإِنَاءَ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يُدِيرُ الْإِنَاءَ إِلَى الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرَبَتْ مِنْهُ

إِلَى مَوْضِعِ فَمِهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

فَيَشْرَبُ مِنَ الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَضِيَ عَنْهَا

وَتَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ أَيْ الْعَظْمَ عَلَيْهِ اللَّحْمُ تَتَعَرَّقُ

ثُمَّ تُنَاوِلُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْخُذُهُ

وَيَضَعُ فَمَهُ عَلَى مَوْضِعِ فَمِهَا وَيَأْكُلُ مِنْهُ

وَفِي هَذِهِ فِي هَذَا الْعَمَلِ إِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَحَبَّةِ

وَإِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَوَدَّةِ يَشْرَبُ مِنَ الْإِنَاءِ وَقَدْ شَرِبَتْ مِنْهُ

وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يَتَعَمَّدُ أَنْ يَضَعَ فَمَهُ الشَّرِيفَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْضِعَ فَمِهَا

اُنْظُرْ لَوْ أَنَّ الزَّوْجَ فَعَلَ هَذَا مَعَ زَوْجَتِهِ

كَمْ يُدْخِلُ هَذَا السُّرُورَ إِلَى قَلْبِهَا؟

وَكَمْ يَجْعَلُهَا تَزْدَادُ مَحَبَّةً لَهُ؟

كَذَلِكَ فِي الطَّعَامِ يَتَعَرَّقُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَرْقَ

فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي تَعَرَّقَتْ مِنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ أَنْ يَفْقَهُوهُ

وَأَنْ يَعْمَلُوا بِهِ مَا أَحْوَجَ الْبُيُوتَ الْيَوْمَ إِلَى أَنْ تُمْلَأَ بِالْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama Tawakal yang baik dan benar kepada Allah, adalah ketika seseorang rida dengan apa yang Allah Taʿāla takdirkan untuknya. Yaitu, sekarang, saat Anda berkata, “Aku bertawakal kepada Allah,” apa arti tawakal tersebut? Artinya, Anda serahkan urusan Anda kepada Allah, yaitu, Anda menjadikan Allah …

Baca selengkapnya…Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat …

Baca selengkapnya…4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya.

Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri!

Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.”

Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

============================================

فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ

إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا

أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ

بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ

أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً

لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا

يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ

عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ

بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا

هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ

اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا

وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا

الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ

فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ

وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ

بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ

مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ

وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا

 

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.”

Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia.

Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

==========================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا

عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ

وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ

يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ

الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ

أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ

ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ

تَسْأَلُهُ

يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا

تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ

ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ

فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ

حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا

وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ

الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ

إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ

وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ

إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ

وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ

يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ

بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ

وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.”

“Empat perkara yang membahagiakan:

(1) istri yang salihah,

(2) tempat tinggal yang luas,

(3) tetangga yang baik, dan

(4) kendaraan yang nyaman.

Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan:

(1) tetangga yang buruk,

(2) istri yang tidak salihah,

(3) tempat tinggal yang sempit, dan

(4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban)

Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia.

(ISTRI SALIHAH)
Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia.

(TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG)
Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang,
yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya.

(TETANGGA YANG BAIK)
Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia.

(KENDARAAN YANG NYAMAN)
Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia.

===============================================================================

بَابُ السَّعَادَةِ

وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ

مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ

الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ

وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ

وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ

وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ

فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ

كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ

الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا

فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا

وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ

وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ

وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ

فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا

أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ

إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ

وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ

وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ

الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ

إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ

وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ

فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا