Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19)

Langit terbuka.
“Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16)
sebagaimana dalam ayat lain,
“Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1)

Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1)

Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu,
yang jika seseorang memandangnya,
seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya.

“Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20)

yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan,
lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa.

Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan.

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya.

Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā,
Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14)
terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla
“Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105)

Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan
tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah,
yakni timbunan pasir.
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla:
“Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras,
hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14)
yakni timbunan pasir.

Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan,
yakni bulu hewan yang dihamburkan,
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla:

“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)

Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan,

“Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6)

yakni seperti butiran debu yang berterbangan.
Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla

“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa?

“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5)

“Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6)
hingga habis gunung-gunung di bumi,
sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih,

sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari)

Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

===

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

فُتِحَتِ السَّمَاءُ

وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ

كَمَا فِي آيَةٍ أُخَرَ

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

وَانْفَطَرَتْ السَّمَاءُ

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

تَشَقَّقَتْ فَكَانَ فِيهَا مِمَّا فَتَحَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبْوَابًا

يَنْظُرُ النَّاظِرُ إِلَيْهَا

فَيَرَاهَا كَالْْأَبْوَابِ وَاللهُ أَعْلَمُ

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

كَالسَّرَبِ الَّذِي يَرَاهُ الْإِنْسَانُ مِنْ بُعْدٍ

يَتَخَيَّلُهُ مَاءً ثُمَّ لَا يَجِدُهُ شَيْئًا

وَالْجِبَالُ يَا إِخْوَانُ تَمُرُّ بِأُمُورٍ وَأَحْوَالٍ

وَقَدْ ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَعْرِضُ لَهَا

فَمَرَّةً بِالدَّكِّ كَمَا فِي قَوْلِ تَعَالَى

هَا يَا إِخْوَانُ؟

وَحُمِلَتِ الأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا

وَأَحْيَانًا بِالنَّسْفِ كَمَا فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

وَيَذْكُرُ الْمُفَسِّرُونَ كَالشَّيْخِ ابْنِ الْعُثَيْمِينِ وَغَيْرِهِ

ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ ذُكِرَتْ فِي كِتَابِ اللهِ حَوْلَ الْجِبَالِ

الْحَالُ الْأُوْلَى أَحَدٌ يَذْكُرُ يَا إِخْوَانُ

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

نَعَمْ أَنَّهَا تَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًا

كَكَثِيبِ الرَّمْلِ

وَهَذَا فِي قَوْلِ عَزَّ وَجَلَّ

يَوْمَ تَرْجُفُ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ

وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيْبًا مَّهِيْلًا

كَكَثِيْبِ الرَّمْلِ

الثَّانِي تُشْبِهُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

كَالصُّوفِ الْمُنْتَفِشِ

وَهَذَا فِي قَوْلِ عَزَّ وَجَلَّ

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ

الثَّالِثُ تَزُولُ الْجِبَالُ تَمَامًا وَتُشْبِهُ كَمَا ذَكَرَ اللهُ

هَبَاءً مُنْبَثًّا

يَكُونُ كَرَهَاجِ الْغُبَارِ كَالْغُبَارِ

وَهَذَا فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ

إِذَا رُجَّتِ الأَرْضُ رَجًّا

أَيشْ؟

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا

فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

وَتَنْتَهِي الْجِبَالُ يَا إِخْوَانُ

حَتَّى تُشْبِهُ الْأَرْضُ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ أَوْ نَقِيٍّ

كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: كَقُرْصَةٍ

لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

كُلُّ شَيْءٍ زَالَ فِيهَا وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla,

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang
dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87)

Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut
kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, Allah berfirman,
Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara?
Apa?

“Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu
kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88)

Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini?

Aku juga ikut ujian seperti kalian.
Apa?
Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya
dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …”
Apa?
Merasa cukup dengan Al-Qur’an.

Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla,
maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya,
karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki,
yaitu kekayaan hati.

Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta,
seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan,

“Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda,
akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah)

Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana?
Al-Qur’an ada dalam hati.
Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara,
bukan di lisan.

Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman,

“Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192)

“Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193)
“Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194)

“Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati,
niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya
untuk melihat dunia dan seisinya.

Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia.

Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia,
apa yang terjadi?

Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara,
karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain.

====

كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي

وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ

عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا

الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ

هَا؟

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ

إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ

طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟

أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ

هَا؟

الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ

ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ

هَا؟

الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ

أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ

وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ

فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ

كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ

إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ

وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟

إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ

هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ

وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ

وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

عَلَى قَلْبِكَ

عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ

أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ

إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا

فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا

فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟

مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟

يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga …

Baca selengkapnya…Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya.

“Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)

Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

nbsp;

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, …

Baca selengkapnya…Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Adapun tentang surat al-Ikhlas,
maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.”

Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran
adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum,
ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan),
dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah.

Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla.

Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi,

sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas.

(ARTI AYAT PERTAMA)
Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.”

Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah,
Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu
dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
dan dalam uluhiyah-Nya.

Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi.

Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya.

Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya,
karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah.

Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid,
yaitu kalimat “La ilaha illallah”.

(ARTI AYAT KEDUA)
Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan.

Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya,
dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi.
Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk
untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya.

Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan,
sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap,
terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan.

(ARTI AYAT KETIGA)
Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji
dari memiliki seorang anak.

Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah,
dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah,
serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah.

Bagaimana Dia memiliki anak,
sedangkan Dia tidak memiliki istri?!
Mahasuci Allah dari memiliki anak.

Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi.
Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya,
sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji.

Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya.

Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi.

Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya.
Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya.

Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui.

(ARTI AYAT KEEMPAT)
Tidak ada yang setara dengan-Nya.

Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
—Subhanahu wa bihamdihi.

Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)

llah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21)

===

أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ

فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ

وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ

وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ

وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ

قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ

أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ

الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ

فِي رُبُوبِيَّتِهِ

وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ

فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ

وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ

إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ

وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ

كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا

وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ

وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ

أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ

وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم

فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا

طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ

لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ

وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ

وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ

أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ

وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ

سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ

وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ

وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ

وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ

وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ

وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ

سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ