Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!”

Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

======================================================================================================

فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ

خَوْفَ مَضَرَّتِهَا

كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا

الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا

إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ

لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri …

Baca selengkapnya…Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Saja Salat Sunah Rawatib? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

\

Apa Saja Salat Sunah Rawatib? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa saja yang termasuk Salat Sunah Rawatib? Terdapat perbedaan pendapat, apakah Salat Sunah Rawatib terdiri dari 10 atau 12 rakaat. Ada perbedaan pendapat, apakah Salat Sunah Rawatib 10 atau 12 rakaat.

Adapun yang berpendapat 10 rakaat, maka itu adalah 2 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelah Zuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Inilah yang 10 rakaat. Sedangkan yang berpendapat 12 rakaat, maka yang sebelum Zuhur adalah 4 rakaat (2 rakaat salam dan 2 rakaat salam)

Inilah salat-salat Sunah Rawatib. Makna Salat Sunah Rawatib adalah salat-salat sunah yang senantiasa dilaksanakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada juga salat sunah lainnya, tetapi bukan Sunah Rawatib, seperti Salat Duha; Nabi dahulu melaksanakannya dan terkadang meninggalkannya, seperti juga salat sunah antara Salat Maghrib dan Isya, terkadang Nabi melaksanakannya dan terkadang tidak; untuk menjelaskan itu sunah, yakni menjelaskan bahwa itu Salat Sunah Mutlaq saja. Para ulama menyebutnya sebagai sunah yang bukan rawatib. Adapun Sunah Rawatib adalah sunah yang senantiasa dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

======================================================================================================

مَا السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ؟

السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ يُخْتَلَفُ فِيهَا أَهِيَ عَشْرٌ أَمِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً

مُخْتَلَفٌ فِيهَا هَذِهِ عَشْرُ رَكَعَاتٍ أَوِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً

مَنْ يَقُولُ عَشْرَ رَكَعَاتٍ يَقُولُ اثْنَتَانِ قَبْلَ الظُّهْرِ اثْنَتَانِ بَعْدَهَا

وَاثْنَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَاثْنَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَاثْنَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ

هَذِهِ عَشْرٌ

وَمَنْ قَالَ هِيَ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً يَجْعَلُ قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا

فَيَقُولُ هَذِهِ السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ

وَمَعْنَى الرَّوَاتِبِ هِيَ الَّتِي كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لَكِنْ فِيهِ سُنَنٌ أُخْرَى لَكِنَّهُ غَيْرُ رَاتِبَةٍ

مِثْلُ سُنَّةِ الضُّحَى النَّبِيُّ كَانَ يَفْعَلُهَا وَيَتْرُكُهَا

مِثْلُ الصَّلَاةِ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

13
كَانَ النَّبِيُّ يُصَلِّيَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَأَحْيَانًا لَا يُصَلِّي لِيُبَيِّنَ السُّنَّةَ

الَّتِي هِيَ النَّفْلُ الْمُطْلَقُ هَكَذَا

هَذِهِ يُسَمُّونَهَا سُنَنًا غَيْرَ رَاتِبَةٍ

الرَّاتِبَةُ هِيَ الَّتِي كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

 

3 Cara Terbebas dari Godaan Was-was Setan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

3 Cara Terbebas dari Godaan Was-was Setan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Bagaimana cara agar seseorang dapat terbebas dari setan dan godaannya?
PERTAMA:
Seseorang dapat terbebas darinya dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena zikir kepada Allah adalah hal paling agung yang dapat melindungi seorang Muslim dari godaan waswas setan. Zikir merupakan benteng yang kokoh dan perlindungan yang kuat yang jika seorang Muslim memasukinya, maka setan tidak akan mampu menembusnya dengan cara apa pun.

KEDUA:
Seseorang harus meminta perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari setan ketika ia sedang menggoda. Dalam hadis Utsman bin Abi al-Ash yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahih disebutkan bahwa ia pernah mengadu, “Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangiku dari salatku, ia membuatku ragu dalam salatku.” Beliau menanggapi, “Itu adalah setan yang disebut dengan Khinzab, jika kamu merasakan kehadirannya, maka tiuplah ke arah kirimu sebanyak 3 kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah darinya.”
Utsman bin Abi al-Ash berkata, “Lalu aku mempraktekkannya, sehingga Allah pun menjauhkannya dariku.” Yakni ia menengok sedikit ke arah kiri, meskipun ia sedang salat, kemudian meniup sebelah kirinya seraya berkata, “A’uudzubillaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Ia pun mengatakan, “… sehingga Allah pun menjauhkan setan dariku.”

KETIGA:
Hal ketiga yang menjadi cara untuk menangani godaan-godaan setan ini yang terbesit di dalam hati dan mendatangi jiwa, adalah dengan segera menghentikan bisikan itu. Jika setan membisikkan godaan itu ke dalam dirimu, wahai hamba Allah, maka segera hentikanlah, karena ia akan berkesinambungan (jika tidak dihentikan). Jika seseorang dapat segera memotongnya dengan kekuatan dari Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya, maka godaan itu akan berakhir. Namun jika ia membiarkannya, maka ia tidak akan usai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu ia akan membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika seseorang mendapati hal itu, maka hendaklah ia katakan, ‘Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.’” Lalu hendaklah ia segera berhenti mengikuti bisikan itu. Jika ia berhenti darinya dan tidak mempedulikannya lagi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskannya darinya.

======================================================================================================

وَكَيْفَ يَتَخَلَّصُ الْإِنْسَانُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ؟

يَتَخَلَّصُ مِنْهُ أَوَّلًا بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ

أَعْظَمُ مَا يَعْتَصِمُ بِهِ الْمُسْلِمُ

مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِيْنِ

فَالذِّكْرُ هُوَ الْحِصْنُ الْحَصِيْنُ وَالْحِرْزُ الْمَكِيْنُ

الَّذِي إِذَا دَخَلَ فِيهِ الْمُسْلِمُ

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْفُذَ إِلَيْهِ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَتَعَوَّذَ الْإِنْسَانُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الشَّيْطَانِ عِنْدَ الْوَسْوَسَةِ

وَفِي حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيحِ

إِنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ

إِنَّ الشَّيْطَانَ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ

قَالَ ذَلِكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ

فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَانْفُثْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا

وَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ

قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّيْ

أَيْ يَلْتَفِتُ عَنْ يَسَارِهِ حَتَّى وَلَوْ كَانَ فِي الصَّلَاةِ قَلِيلًا

وَيَنْفُثُ عَنْ يَسَارِهِ وَيَقُولُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَالَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي

الْأَمْرُ الثَّالِثُ مِنْ وَسَائِلِ

الْعِلَاجِ عِلَاجِ هَذِهِ الْوَسَاوِسِ

وَالَّتِي تَخْطُرُ عَلَى الصُّدُورِ

وَتَرِدُ عَلَى النُّفُوسِ

أَنْ يَنْتَهِيَ الْإِنْسَانُ مِنْهَا

فَإِذَا قَذَفَ الشَّيْطَانُ فِي رُوعِكَ يَا عَبْدَ اللهِ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْوَسَاوِسِ

فَانْتَهِ

فَإِنَّهَا حَلَقَاتٌ

إِنْ تَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَقْصِمَهَا بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِهِ انْتَهَتْ

وَإِنْ تَرَكَهَا فَإِنَّهَا لَا تَنْتَهِي

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ

فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ هَذَا؟ مَنْ خَلَقَ هَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ اللهَ؟

فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

ثُمَّ لِيَنْتَهِي

فَإِذَا انْتَهَى عَنْهَا تَشَاغَلَ عَنْهَا

فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُرِيْحُهُ مِنْهَا

 

Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kalimat yang terucap oleh lisan, yang berupa zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla memiliki berbagai jenis. Di antara yang paling agung adalah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Kalimat yang paling Allah cintai ada empat: Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.”

Empat kalimat ini adalah kalimat yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini disepakati menjadi kalimat yang paling dicintai oleh Allah, karena dua hal yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua riwayat hadis yang telah disebutkan itu. Riwayat pertama adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling baik adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).”

Lalu riwayat kedua adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling utama adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).” Empat kalimat tersebut berada dalam kedudukan yang sempurna ini, karena empat kalimat itu adalah ucapan yang paling baik, dan empat kalimat itu juga merupakan ucapan yang paling utama, sehingga dengan itu, empat kalimat ini menjadi ucapan yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ucapan yang paling Allah cintai adalah lisan yang berucap ketika salah satu dari kita berkata: “Subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.”

================================================================================

وَالْكَلِمَاتُ الَّتِي يَجْرِي بِهَا اللِّسَانُ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

أَنْوَاعٌ مُخْتَلِفَةٌ

وَمِنْ أَعْظَمِهَا مَا ذَكَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي قَوْلِهِ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَاتَّفَقَ كَوْنُهُنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ

لِأَمْرَيْنِ ذَكَرَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي رِوَايَتَيِ الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ

إِحْدَاهُمَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَطْيَبُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

وَالْأُخْرَى قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَفْضَلُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْمُنِيْفِ

لِأَنَّهُنَّ مِنْ أَطْيَبِ الْكَلَامِ

وَهُنَّ أَيْضًا مِنْ أَفْضَلِ الْكَلَامِ

فَبِذَلِكَ صَارَتْ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ

أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَأَحَبُّ الكَلَامِ إِلَيْهِ جَرَيَانُ اللِّسَانِ فِي قَوْلِ أَحَدِنَا

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

 

Dengan Siapa Kau Belajar? – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Dengan Siapa Kau Belajar? – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara keanehan zaman ini juga, bahwa sebagian orang mulai belajar ilmu pada orang-orang bodoh yang dianggap ulama. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa di akhir zaman, manusia akan belajar ilmu agama dan meminta fatwa kepada orang-orang bodoh yang dianggap ulama, sehingga mereka …

Baca selengkapnya…Dengan Siapa Kau Belajar? – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama