Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis rahimahullah menyebutkan hadits yang agung ini, yaitu hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,
tentang kisah sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang sedang safar dan melewati suatu kaum, lalu mereka meminta agar dapat singgah bertamu pada kaum itu, tetapi mereka menolak.

Lalu pemuka kaum itu tersengat hewan berbisa,
sehingga kaum itu mengejar para sahabat Nabi yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam,
dan menceritakan bahwa pemimpin mereka tersengat, dan telah menempuh segala cara untuk mengobatinya,
akan tetapi, itu semua tidak dapat menyembuhkannya.

Karena itu, mereka mendatangi para sahabat Nabi tersebut, dan meminta jikalau mereka memiliki obat,
maka seorang dari mereka berkata, “Ya, demi Allah, aku adalah peruqyah; aku dapat meruqyah.”

“Demi Allah aku dapat meruqyah. Namun, kami telah meminta kalian agar kami dapat bertamu, tetapi kalian enggan menerima kami.”

Pada akhirnya, seorang sahabat itu meruqyahnya dengan bacaan surat al-Fatihah saja,
lalu pemimpin kaum itu dapat terbangun, seakan-akan terlepas dari ikatan, dan tidak tertimpa sesuatu apa pun.

Lihatlah kesembuhan yang cepat ini!

Dengan wasilah pengobatan ini, yang sebenarnya racun hewan yang mengalir di tubuhnya itu dapat menyebabkan
seseorang meninggal dunia,
dapat menjadikannya meninggal dunia.

Racunnya dapat mengalir ke jantung, sehingga itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Pemimpin kaum itu dapat berdiri, seakan-akan ia terlepas dari ikatan.
Seakan-akan ia terlepas dari ikatan.

Sahabat ini meruqyahnya dengan surat al-Fatihah saja.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tahukah kamu bahwa itu adalah ruqyah?!”

Ini menunjukkan bahwa ruqyah dengan bacaan al-Fatihah adalah hal yang paling agung untuk
pengobatan bermacam-macam penyakit.

Oleh sebab itu, surat al-Fatihah disebut juga dengan asy-Syafiyah (penyembuh) atau asy-Syifa’ (kesembuhan), berdasarkan hadits yang agung ini. Demikian.

======================================================================================================

ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيْمَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

فِي قِصَّةِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَالَّذِينَ مَرُّوا بِقَوْمٍ وَطَلَبُوا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَأَبَوْا

ثُمَّ لُدِغَ سَيِّدُ الْقَوْمِ

ثُمَّ لَحِقُوا بِهَؤُلَاءِ النّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

وَذَكَرُوا لَهُمْ أَنَّ سَيِّدَهُمْ لُدِغَ وَأَنَّهُم سَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ

لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ

فَأَتَوْا إِلَى هَؤُلَاءِ وَطَلَبُوا مِنْهُمْ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ

فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ أَرْقِي

وَاللهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا

الْحَاصِلُ أَنَّهُ رَقَاهُ بِالْفَاتِحَةِ فَقَطْ

فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ يَعْنِي مَا يَشْتَكِي مِنْ شَيْءٍ

فَانْظُرِ الشِّفَاءَ الْعَاجِلَ

مِنْ هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي سَرَيَانِ سُمِّ ذَوَاتِ السُّمُومِ

إِلَى أَنْ يَمُوتَ الْإِنْسَانُ

إِلَى أَنْ يَمُوتَ

يَسْرِي السُّمُّ إِلَى أَنْ يَصِلَ الْقَلْبَ وَقَدْ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهِ

فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ

كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ

فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَقَطْ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ

وَهَذَا فِيهِ أَنَّ الرُّقْيَةَ بِالْفَاتِحَةِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ فِي بَابِ

الِْاسْتِشْفَاءِ لِلْأَمْرَاضِ الْمُتَنَوِّعَةِ

وَلِهَذَا تُسَمَّى الشَّافِيَةَ أَوِ الشِّفَاءَ أَخْذًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ الْعَظِيمِ نَعَمْ

Dua Kitab Tafsir al-Quran yang Mudah – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Ketika kamu membaca kitab tafsir, bacalah terlebih dahulu kitab-kitab yang mudah dipahami, yang tidak membutuhkan usaha besar darimu untuk memahaminya. Namun setiap orang berbeda-beda, Saudara-saudara. Orang yang sudah ahli, dapat membaca kitab mana saja yang ia inginkan. Adapun orang yang membaca agar dapat memahami firman Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia butuh membaca kitab-kitab yang …

Baca selengkapnya…Dua Kitab Tafsir al-Quran yang Mudah – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Apakah aku boleh mandi sekaligus meniatkan wudhu?”

Ini pertanyaan pertama, dan pertanyaan kedua yaitu:

“Aku berwudhu dalam keadaan telanjang (apakah itu boleh?)” Demikianlah pertanyaannya.

Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama, sunahnya adalah:

Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi.

Beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berwudhu, baik itu sebelum mandi junub, mandi Shalat Jum’at, atau lainnya.

Beliau memulai dengan wudhu, setelah itu beliau mandi.

Begitu juga sebelum mandi untuk ihram atau mandi lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dulu sebelum mandi.

Ini adalah sunah, yaitu seseorang berwudhu dulu sebelum mandi.

Namun jika ia mandi tanpa berwudhu sebelumnya, apakah ia harus berwudhu setelah mandi?

Dalam hal ini ada perinciannya.

Jika mandi yang dilakukan itu adalah mandi yang disyariatkan,
seperti mandi junub, mandi untuk Shalat Jum’at, mandi untuk ihram, atau mandi untuk Shalat Id.
Yakni mandi yang diperintahkan, baik itu diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab (anjuran),
maka para ulama berpendapat bahwa mandi ini sudah cukup, tanpa perlu berwudhu juga.

Ia tidak perlu berwudhu lagi, karena mandi itu sudah cukup baginya.

Masalahnya adalah jika mandi yang dilakukan bukan mandi yang disyariatkan,
yakni mandi itu tidak diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab. Sebagai contoh, jika ada orang yang selesai bermain bola,
atau selesai keluar rumah, seperti di hari-hari ini yang hujan,
atau keluar rumah sore hari dan pulang dalam keadaan berkeringat,
lalu ia ingin berenang untuk mandi
agar dapat membersihkan keringat itu.

Orang ini jika mandi dan ia meniatkan
selain mandinya untuk menghilangkan keringat, juga agar sekaligus berwudhu untuk shalat,
apakah wudhunya itu sah? Apakah ia boleh mendirikan shalat dengan wudhu dan mandi tersebut, atau itu tidak sah?

Sebenarnya dalam masalah ini, mayoritas ulama tidak berpendapat bahwa itu sah baginya.

Mereka berkata bahwa ia tetap harus berwudhu, baik itu sebelum atau sesudah mandi,
karena pada dasarnya mandinya itu bukan mandi yang disyariatkan.

Itu bukan mandi wajib dan bukan pula mandi sunah.

Mandi itu disebut dengan mandi untuk kebersihan, untuk menghilangkan keringat,
atau bisa juga kita katakan mandi untuk kesenangan saja. Baik?

Ulama berpendapat bahwa mandi itu tidak dapat menggantikan wudhu.

Inilah pendapat mayoritas ulama. Meskipun diriku lebih condong
pada pendapat bahwa selama ia telah berniat untuk sekaligus berwudhu
maka itu telah cukup baginya. Ilmu yang benar hanya di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Namun yang lebih aman adalah dengan tetap berwudhu,
baik itu berwudhu sebelum atau setelah mandi.

Pertanyaan kedua: hukum berwudhu dalam keadaan telanjang. Insya Allah Ta’ala tidak ada masalah dengan itu (boleh). Demikian.

===

هَلْ يَجُوزُ لِي أَنْ أَسْتَحِمَّ وَأَنْوِي نِيَّةَ الْوُضُوءِ؟

هَذَا السُّؤَالُ الْأَوَّلُ
السُّؤَالُ الثَّانِي الَّذِي هُوَ

أَنِّي أَتَوَضَّأُ وَأَنَا عَارِيُ الْجَسَدِ هَذَا هُوَ السُّؤَالُ

هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلسُّؤَالِ الْأَوَّلِ وَهُوَ السُّنَّةُ

سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ

كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ هَذِهِ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كَانَ يَتَوَضَّأُ سَوَاءً الْجَنَابَةُ أَوِ الْجُمُعَةُ أَوْ غَيْرُهَا

كَانَ يَتَوَضَّأُ ابْتِدَاءً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَحِمُّ

لِلْإِحْرَامِ أَيْ أَيُّ غُسْلٍ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

هَذِهِ هِيَ السَّنَةُ الْإِنْسَانُ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ

لَكِنْ إِذَا اغْتَسَلَ دُونَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَهَلْ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟

فِيهِ تَفْصِيلٌ

إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ غُسْلًا مَشْرُوعًا

كَغُسْلِ جَنَابَةٍ غُسْلِ جُمُعَةٍ غُسْلِ إِحْرَامٍ غُسْلٍ لِلْعِيدِ

يَعْنِي شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَأْمُورٌ بِهِ أَمْرَ الْإِيْجَابِ أَوْ أَمْرَ الْاسْتِحْبَابِ

فَقَالُوا هَذَا الْغُسْلُ يَكْفِي عَنِ الْوُضُوءِ يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ

وَمَا يَحْتَاجُ أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ وَإِنَّمَا يَكْفِيهِ هَذَا الْغُسْلُ

الإِشْكَالِيَّةُ هِيَ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ لَيْسَ غُسْلًا مَشْرُوْعًا

يَعْنِي لَا مَأْمُورَ بِهِ وُجُوبًا وَلَا مَأْمُورَ بِهِ اسْتِحْبَابًا مِثْلُ وَاحِدٍ لَعِبَ كُرَةً مَثَلًا

أَوْ خَرَجَ يَمْشِي مِثْلَ هَذِهِ الأَيَّامِ هَذِهِ رُطُوبَةٌ مَثَلًا

أَوْ مَشَى الْعَصْرَ مَثَلًا وَرَجَعَ مُعَرِّقًا مَثَلًا

وَيُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَثَلًا سَبُوحٌ لِيَغْتَسِلَ

حَتَّى يُذْهِبَ عَنْهُ هَذَا الْعَرَقَ

فَهَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا اغْتَسَلَ وَفِي نِيَّتِهِ

أَنَّهُ كَمَا أَنَّهُ يُزِيلُ الْعَرَقَ أَنَّهُ يَكُونُ مُتَوَضِّئًا لِلصَّلَاةِ

فَهَلْ يَصِحُّ وُضُوءُهُ؟ وَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بِهَذَا الْوُضُوءِ بِهَذَا الْغُسْلِ أَوْ لَا يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ؟

حَقِيقَةً يَعْنِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ

يَقُولُ لَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ إِمَّا قَبْلَ الْغُسْلِ وَإِمَّا بَعْدَ الْغُسْلِ

لِأَنَّ هَذَا الْغُسْلَ غَيْرُ مَشْرُوعٍ أَصْلًا

لَا هُوَ وَاجِبٌ وَلَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ

هَذَا غُسْلٌ يُسَمُّونَهُ غَسْلَ التَّنَظُّفِ غُسْلٌ عَلَى الْعَرَقِ

غَسْلُ التَّرَفُّهِ لِنَقُولُ طَيِّبٌ

يَقُولُ لَا يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ

هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَقِيقَةً وَإِنْ كَانَتِ النَّفْسُ تَمِيْلُ

إِلَى أَنَّهُ طَالَمَا أَنَّهُ نَوَى أَنْ يَتَوَضَّأَ

فَإِنَّهُ يَكْفِيهِ هَذَا وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْأَحْوَطُ أَنْ يَتَوَضَّأَ

سَوَاءٌ قَبْلَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَ الْغُسْلِ

الثَّانِي أَنْ يَتَوَضَّأَ وَهُوَ عَارٍ مَا يَضُرُّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا فِيهِ بَأْسٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى نَعَم

Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Seseorang tidak akan sampai ke puncak, sebagaimana para ulama besar, kecuali jika ia bersegera menuntut ilmu di usia muda. Kita akan membahasnya sebentar lagi, bahwa Imam al-Bukhari ketika meriwayatkan dari para gurunya hadis-hadis dengan sanad 3 perawi ini saat beliau berusia 20 tahun atau kurang dari itu, atau juga 1 hingga 2 tahun lebih dari …

Baca selengkapnya…Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Aku mendatangi masjid dan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid, setelah itu dikumandangkan azan. Apakah aku wajib shalat dua rakaat lagi? Tidak. Apakah wajib? Tidak wajib bagimu. Namun jika itu sebelum Shalat Zuhur dan Subuh, maka ada Shalat Sunah Qabliyah. Sebelum Shalat Zuhur dan Subuh. Adapun jika itu sebelum Shalat Maghrib atau Isya, maka dianjurkan bagimu shalat …

Baca selengkapnya…Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Bersikap sombong haram hukumnya

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)

Bersikap sombong hukumnya haram.

Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.”

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku.

Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.”

Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga.

Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan)

Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala.

Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir.

Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri,
siapa pun itu.
Selain Allah tidak berhak untuk sombong.

Apa yang mau disombongkan?!

Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?!

Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.”

Lalu apa yang dapat ia sombongkan?!

Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya.

Apa yang mau ia sombongkan?!

Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya.

Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala,
karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya,
maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13)

Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong.

Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina.

===

الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ

وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي

فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ

فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ

وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا

لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ

أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ

أَيًّا كَانَ

لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ

يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟

فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ

وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا

فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ

فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ

تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى