Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya: “Jika aku shalat di belakang imam dan aku juga membaca surat al-Fatihah
pada shalat jahriyah( shalat yang bacaannya dikeraskan.), lalu imam sudah sampai pada akhir surat al-Fatihah, maka aku mengucapkan “aamiin” bersama imam.

Apakah aku harus mengulang al-Fatihah atau melanjutkan ayat yang sudah aku baca tadi?

Tidak, cukup melanjutkan pada ayat yang kamu berhenti tadi. Tidak perlu mengulang dari awal.

Namun jika kamu mengucapkan “aamiin” bersama imam, dan misalnya kamu sudah sampai ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”,
maka cukup kembali melanjutkan dari ayat “ihdinash shirothol mustaqim …”

Kamu tidak perlu mengulangi bacaan al-Fatihah dari awal.

Ia masih bertanya lagi: “Bagaimana makmum bacaannya sampai pada pertengahan al-Fatihah, itu berarti ia tidak mendengarkan bacaan imam?”

Benar begitu pertanyaannya?

Itu berarti makmum tidak mendengar bacaan imamnya.

Intinya, ini terjadi jika makmum membaca al-Fatihah saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat.

Terkadang makmum dapat membaca saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat, seperti yang dikatakan Ibnu al-Mundzir.

Sebagai contoh jika imam membaca surat al-Fatihah dengan tenang
sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya.

Dahulu beliau membaca satu ayat satu ayat, dan berhenti di setiap akhir ayat.

Yakni membaca seperti ini, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.”
“Arrohmanirrohim.”
“Maliki yaumiddin.”
“Iyyaka na’budu …” Beliau tidak menyambung bacaan dua ayat sekaligus.

Namun beliau memisahkannya satu ayat satu ayat.

Di sini jika makmum membaca al-Fatihah di belakang imam, maka ia membaca perayat juga.

Yakni jika imam membaca, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” Maka makmum juga membaca “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.”

“Arrohmanirrohim.” Makmum juga membaca, “Arrohmanirrohim.”

“Maliki yaumiddin.” Makmum juga membaca, “Maliki yaumiddin.” Begitu seterusnya.

Jika imam sampai pada kalimat, “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin”, lalu langsung mengucapkan “aamiin”,
maka makmum tidak terus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya,

akan tetapi mengucapkan “aamiin” dulu, lalu kembali menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya.

====

يَقُولُ إِذَا كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ الْإِمَامِ وَأَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ

فِي الْجَهْرِيَّةِ فَوَصَلَ الْإِمَامُ إِلَى نِهَايَةِ الْفَاتِحَةِ فَقُلْتُ مَعَهُ آمِينَ

هَلْ أَرْجِعُ وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنَ الْأَوَّلِ أَوْ أُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتُ

لَا، تُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُهَا مِنْ أَوَّلٍ

وَلَكِنْ لَوْ قُلْتَ مَعَهُ آمِينَ وَأَنْتَ وَصَلْتَ مَثَلًا إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

تَرْجِعُ مَرَّةً ثَانِيَةً تُكْمِلُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنْ أَوَّلِهَا

وَيَسْتَشْكِلُ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ وَصَلَ إِلَى مُنْتَصَفِ الْفَاتِحَة مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ

هَكَذَا السُّؤَالُ؟ أَيْ نَعَمْ

أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ

الْمُهِمُّ هَذَا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ

أَحْيَانًا يَقْرَأُ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ

يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْإِمَامُ مَثَلًا الْفَاتِحَةَ مُتَأَنِّيًا

كَمَا كَانَ يَقْرَأُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كَانَ يَقْرَأُهَا آيَةً آيَةً وَيَقِفُ عَلَى رُؤُوسِ الْآيَةِ

يَعْنِي يَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ مَا يَصِلُ آيَتَيْنِ مَعًا

وَإِنَّمَا آيَةً آيَةً يُفَصِّلُهَا آيَةً آيَةً

فَهُنَا لَوْ قَرَأَ الْمَأْمُومُ مَعَ الْإِمَامِ آيَةً آيَةً أَيْضًا

يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ الْمَأْمُومُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ وَهَكَذَا

فَإِذَا وَصَلَ إِلَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ وَقَال آمِينَ مُبَاشَرَةً

مَا يَمْضِي الْمَأْمُومُ مِمَّا يَقُولُهَا

فَيَقُولُ آمِينَ مَعَهُ ثُمَّ يُعِيدُ وَيُكْمِلُ

Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Bab ke-16: Tempat-tempat untuk mengokohkan dasar ilmu.

Pengokohan dasar-dasar ilmu yang kita sebutkan ini
memiliki tempat-tempat yang menjadi pusatnya, yang disebut juga dengan lingkungannya.

Secara umum, lingkungan ini adalah setiap tempat yang digunakan untuk pengokohan dasar-dasar ilmu,
dan ia terbagi menjadi dua jenis:

Yang pertama disebut dengan tempat primer, dan yang kedua disebut dengan tempat sekunder.

Adapun tempat utamanya adalah masjid,
karena ia adalah tempat pertama yang dipakai Nabi untuk mengajarkan ilmu.

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid)
untuk membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya …”

Sedangkan jenis kedua (tempat sekunder)
yaitu tempat yang dalam perkembangannya menjadi tempat untuk menuntut ilmu,
seperti sekolah-sekolah, universitas-universitas,
pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah tinggi, dan rumah.

Semua ini adalah tempat-tempat untuk memperdalam ilmu.

Lalu akhir-akhir ini muncul tempat yang ketiga, yaitu
dunia maya.

Dunia maya yang ada di jaringan internet dengan berbagai macam
platform yang menjadi penyedianya, baik itu twitter, facebook, dan lain sebagainya.

Ini merupakan dunia tersendiri
yang menurut saya adalah tempat yang sangat lemah (untuk menuntut ilmu).

Pendalaman dasar-dasar ilmu dengan jarak jauh melalui majelis online memiliki kelemahan, meskipun ada manfaatnya juga.

Namun orang yang bisa mendalami ilmu di tempat jenis pertama, maka hendaklah ia mendahulukan itu. Jika tidak bisa, maka di tempat jenis kedua.

Adapun jenis ketiga, maka seperti perkara darurat (hanya dipakai saat yang lain tidak bisa),
karena mendalami ilmu harus dengan bertemu langsung dengan guru.

===

الْمَنَارَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ مَحَاضِنُ التَّأْصِيْلِ

إِنَّ هَذَا التَّأْصِيلَ الَّذِي نَذْكُرُهُ

لَهُ مَحَاضِنُ هِيَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا بِالْبِيْئَةِ

وَهَذِه الْبِيئَةُ مِنْ مُجْمَلَاتِهَا الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّأْصِيلُ

وَهُوَ نَوْعَانِ

أَحَدُهُمَا مَوْضِعٌ أَصْلِيٌّ وَالْآخَرُ مَوْضِعٌ فَرْعِيٌّ

فَالْمَوْضِعُ الْأَصْلِيُّ هُوَ الْمَسْجِدُ

فَإِنَّهُ ابْتِدَاءُ التَّعْلِيمِ النَّبَوِيِّ

وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ

يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي

وَهُوَ مَا صَارَ بَعْدَ ذَلِكَ مَحَلًّا لِلْعِلْمِ

مِثْلُ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ

وَالْمَعَاهِدِ وَالْكُلِّيَّاتِ وَالْبُيُوتِ

كُلُّ هَذِهِ مَحَاضِنُ لَهُ

وَنَشَأَ مُتَأَخِّرًا مَحْضَنٌ ثَالِثٌ وَهُوَ

يَعْنِي الْعَالَمُ الْاِفْتِرَاضِيُّ

الْعَالَمُ الاِفْتِرَاضِيُّ فِي شَبَكَةِ الْإِنْتِرْنِت عَلَى اخْتِلَافِ

الْقَنَوَاتِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا سَوَاءً كَانَ تُوِيْتِر أَوْ فِيسْبُوك أَوْ غَيْرَهَا

وَهَذَا عَالَمٌ خَاصٌّ

هُوَ عِنْدِي أَوْهَنُ مِنْ بَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ

فَالْبِنَاءُ الشَّبَكِيُّ عَبْرَ الْإِلْقَاءِ بِالْغَيْبِ

فِيهِ ضَعْفٌ لَكِنَّهُ فِيهِ نَفْعٌ

لَكِنْ مَنْ قَدِرَ عَلَى الْأَوَّلِ فَهُوَ يُقَدِّمُهُ ثُمَّ بَعْدَهُ الثَّانِي

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الضَّرُورَةِ

إِذْ لاَ بُدَّ مِنْ تَلَقٍّ مُبَاشِرٍ

Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Pertanyaan:
“Apa hikmah di balik gugurnya kewajiban Shalat Jum’at bagi musafir, di lain sisi kewajiban shalat jamaah tidak gugur darinya?”

Seorang musafir, gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at,
gugur juga darinya kewajiban puasa,
dan ia boleh menjamak dua shalat sekaligus, serta boleh meng-qasar shalat (shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat).

Semua ini untuk memberi kemudahan bagi musafir.

Adapun pendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jamaah darinya,
maka jika ia berkelompok, yakni ada para musafir lain yang pergi bersamanya,
maka wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah.

Sedangkan jika ia melakukan safar sendirian, maka tidak wajib baginya shalat berjamaah.

Sebagaimana gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur pula kewajiban shalat berjamaah darinya. Wallahu a’lam.

===

مَا الْحِكْمَةُ مِنْ سُقُوطِ الْجُمُعَةِ لِلْمُسَافِر وَعَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ؟

الْمُسَافِرُ تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ

وَيَسْقُطُ عَنْهُ الصَّوْمُ

وَيَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ

كُلَّهَا مِنْ بَابِ التَّخْفِيفِ عَلَى الْمُسَافِرِ

أَمَّا قَوْلُ عَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ

إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً يَعْنِي كَانَ مَعَهُ آخَرُوْنَ مُسَافِرُونَ مَعَهُ

فَهَذَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ

أَمَّا إِذَا سَافَرَ وَحْدَهُ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ

كَمَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ تَسْقُطُ عَنْهُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika ada yang bertanya kepada Anda, “Bagaimana cara menghitung dengan jari-jari
ketika bertasbih?”

Siapa yang menjawab? Bagaimana menghitungnya?

Bagaimana menghitung dengan jari-jari?
Silakan.
Anda katakan begini?
Bagaimana? Itu menggenggam (ʿaqdun) atau mengulurkan (hallun)?
Mengulurkan.

Jadi, jawaban Anda bukan mengulurkan.
Al-ʿAqdu (menggenggam) adalah melipat jari ke telapak tangan bagian dalam.

Melipat jari ke telapak tangan bagian dalam.
Ini yang disebut al-ʿAqdu (menggenggam),
sambil Anda mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar.

Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar.
Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar
Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, kemudian Anda mengulurkannya
sambil mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, sampai Anda menyelesaikan hitungannya.

Inilah sunah Nabi, ini yang disebut dengan al-ʿAqdu (menggenggam).
Jika seorang hamba mengombinasikan antara menggenggam dan mengulurkan,
bagaimanapun caranya, maka hal itu diperbolehkan.

Begitu juga jika dia hanya menghitung dengan lipatan-lipatan jari,
melakukan itu sambil mengatakan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar.
Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar.

Seperti ini juga boleh.
Intinya bahwa sunah Nabi adalah al-ʿAqdu (dengan menggenggam),
yaitu dengan melipat atau menekuk jari ke telapak bagian dalam.

===

يَقُولُ لَكَ مَا هِيَ صِفَةُ عَقْدِ الْأَصَابِعِ

عِنْدَ التَّسْبِيحِ؟

مَنْ يُجِيبُ؟ كَيْفَ الْعَقْدُ؟

كَيْفَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ؟

نَعَمْ

أَنْتَ قُلْتَ هَكَذَا

هَا؟ هَذَا عَقْدٌ أَمْ حَلٌّ؟

حَلٌّ

فَجَوَابُكَ لَيْسَ حَلًّا نَعَمْ

الْعَقْدُ هُوَ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ

ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ

هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا

فَتَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

ثُمَّ تَحُلُّهَا

ثُمَّ تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

حَتَّى تَتِمُّ بِذَلِكَ

هَذَا هُوَ السُّنَّةُ هَذَا الَّذِي يُسَمَّى عَقْدًا

فَإِنْ جَمَعَ الْعَبْدُ بَيْنَ الْعَقْدِ وَالْحَلِّ

عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا

وَكَذَا لَوْ أَنَّهُ اقْتَصَرَ عَلَى مَثَانِي الْأَصَابِعِ

فَفَعَلَ هَكَذَا قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

فَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا

وَالْمَقْصُودُ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْعَقْدُ

بِرَدِّ الْإِصْبَعِ وَثَنْيِهِ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ

Siapa Orang yang Rugi di Dunia? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Kebaikan dibalas dengan 700 kali lipat, sedangkan keburukan kadang dicatat dan kadang tidak. Lalu ada orang yang keburukannya mengalahkan kebaikannya?! Apa yang dilakukan orang ini di dunia?! Apa yang ia lakukan?! Maka dari itulah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Orang yang merugi adalah orang yang ‘satuannya’ mengalahkan ‘puluhannya’.” Ia berkata bahwa kebaikan dibalas puluhan, …

Baca selengkapnya…Siapa Orang yang Rugi di Dunia? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Hukuman Bagi Orang yang Menzinai Mahramnya – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukuman Bagi Orang yang Menzinai Mahramnya – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Pertanyaannya, “Apakah akan diampuni orang yang menzinai mahramnya sendiri, —semoga Allah melindungi kita—karena dia sembrono ketika tidur?” Ini adalah bencana yang sangat besar! Karena orang yang menzinai mahramnya sendiri, secara syariat Islam, dia harus dihukum mati. Baik dia sudah menikah atau belum, baik …

Baca selengkapnya…Hukuman Bagi Orang yang Menzinai Mahramnya – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama