Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangSurah al-Fatihah. Al-Fatihah merupakan surah yang paling agung dalam kitab Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Inilah surah yang Allah Tabāraka wa Ta’ālā wajibkanuntuk dibaca dalam salat,sehingga tidak ada salat kecuali dengan membaca Ummul Kitab (al-Fatihah). Surah yang diberkahi ini diturunkan di Makkah.Ada yang mengatakan bahwa ia diturunkan di …
Akhlak ini mungkin saja terlewatkan oleh sebagian penuntut ilmu,sehingga ia berinteraksi dengan orang lain dengan cuek dan kasar,sehingga orang lain pun menghindar darinya. Oleh sebab itu, seorang penuntut ilmu harus memiliki akhlak yang baik, sikap yang mulia,rendah hati, mudah bergaul, lemah lembut, dan mudah memaafkan,serta tampak darinya akhlak yang terpuji. Allah Ta’ala telah berfirman kepada …
Beda Ikhlas & Tulus Hati – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama
Kesimpulan dari ucapan Abu Abdillah Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala, tentang “ketulusan niat” di sini maksudnya adalah memfokuskan azam. Maka jika azam terfokus pada suatu hal, maka pelakunya itu disebut dengan orang yang tulus. Dan jika “keikhlasan” dan “ketulusan” disebut secara bersamaan, maka makna “keikhlasan” adalah penyatuan tujuan, sedangkan “ketulusan” adalah pemfokusan azam, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala.
Maka jika seseorang itu ikhlas, berarti ia hanya menghadap kepada satu tujuan yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun jika ia tulus, berarti azamnya terfokus pada satu hal saja. Sebagai contoh, orang yang ikhlas dalam shalat adalah orang yang mendirikan shalat hanya untuk Allah. Bukan untuk riya’ atau sum’ah. Sedangkan orang yang tulus adalah yang hatinya fokus tertuju pada shalat.
Dalam hal ini, terdapat hadits riwayat Utsman bin Affan dalam kitab ash-Shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat dua rakaat untuk Allah, tanpa berbicara dengan diri sendiri di dalamnya, …” Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “untuk Allah” memberi isyarat tentang keikhlasan. Sedangkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tanpa berbicara dengan diri sendiri di dalamnya” memberi isyarat tentang ketulusan.
“(Yaitu) orang-orang yang berzikir mengingat Allah ketika berdiri, duduk, atau berbaring, …” (QS. Ali Imran: 191)
Dalam semua keadaan mereka, karena hati mereka terpaut dengan Allah, ada cinta pada Allah di dalamnya. Barang siapa yang mencintai sesuatu, dia akan sering menyebut-nyebutnya, meskipun cintanya itu hanya sedikit. Semakin sering kau menyebut-nyebut sesuatu, maka hatimu akan terpaut dengannya dan semakin mencintainya. Allah berfirman, “… mereka memikirkan …” Perhatikan! Mereka berzikir dan bertafakur (berpikir dan merenungkannya).
Mereka menggabungkan antara Zikir dan Tafakur (berpikir dan merenungkannya). Inilah zikir yang bermanfaat, yaitu Zikir yang dilandasi dengan Tafakur terhadap keagungan Allah. “… mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” Apa hasilnya? Hati mereka mendahului lisan mereka dalam berdoa: “… Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, … … Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191) Disebutkan juga dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas—semoga Allah meridai keduanya— Beliau berkata, “Aku bermalam di rumah bibiku, yaitu Maimunah, …”
Ibnu Abbas—semoga Allah meridai keduanya—ingin mengetahui bagaimana Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melewati malamnya. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bangun, kemudian keluar rumah dan mengangkat kepalanya ke langit untuk bertafakur. Lalu beliau masuk, bersiwak, berwudu, dan salat dua rakaat. Lalu beliau berbaring, sesaat kemudian bangun dan keluar lagi untuk melihat langit lalu masuk rumah, bersiwak, wudu, dan melakukan salat dua rakaat, … begitu seterusnya.” Renungkan, bagaimana Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara ibadah dan tafakur. Artinya, bukan sekedar sekali saja mengarahkan pandangan ke langit. Hanya memandang langit sekali, lalu salat semampunya, hingga Subuh tiba, tidak!
Setiap kali beliau salat, keluar untuk memandang langit beberapa saat, lalu kembali, demikian terus. Kita sekarang, mungkin tidak bisa bertafakur dengan memandang langit, karena kita hidup di bawah atap rumah-rumah kita. Kita tidak keluar rumah dan salat di luar, kemudian melihat langit seperti ini, langsung beratapkan langit, tapi kau cobalah! Demi Allah, kau akan dapati salat yang berbeda dengan salat-salat yang kau lakukan sebelumnya.
Bertafakurlah tentang makhluk-makhluk Allah, dan janganlah kau berpaling dari memikirkan semesta ini! “… mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, …” Demikianlah keadaan Nabi kita ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dahulu, sebelum beliau diutus menjadi Nabi, beliau terbiasa menyendiri saat bulan Ramadan, dalam waktu yang lama di gua Hira’ untuk bertafakur, berzikir mengingat Allah dan keagungan-Nya.
Allah menyebutkan orang-orang saleh (di surga):“Mereka di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. al-Mutaffifin: 23) Objek dalam kalimat ini dihapus.Apabila objek dihapus, para ulama berkata—dan ini kaidah dalam tafsir. Jika objek dihapus, maka itu menunjukkan apa, Saudara-saudara? Menunjukkan keumuman. “Mereka di atas dipan-dipan sambil memandang,” yakni memandang segala kebaikan. Memandang segala yang nikmat dan yang baik …
Ilmu adalah syarat untuk segala amalan. Oleh sebab itu, amalan tidak sah tanpa adanya ilmu. Oleh karena itu, Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19) Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata:“Dia memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Hal …