Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu?
Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu.
“Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40).
Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya.
Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai.
Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?”
Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk.
=====
يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟
الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ
اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ
وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ
مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟
فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ