Ia bertanya: “Wahai Syaikh yang mulia, mohon jelaskan hukum masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan.” Masturbasi adalah amalan mengeluarkan air mani secara sengaja, baik dengan tangan maupun sarana lainnya. Ini hukumnya haram, baik dilakukan pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.
Dalil pengharamannya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7).
Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sisi pendalilannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Beliau tidak bersabda: “Barang siapa yang belum mampu, maka keluarkanlah air maninya dengan cara apa pun.” Seandainya masturbasi dibolehkan, niscaya Rasulullah tidak akan mengalihkan perintahnya kepada amalan puasa. Sebab, puasa itu jauh lebih berat, lebih berat bebannya daripada melakukan masturbasi.
Pada intinya, melakukan masturbasi hukumnya haram. Baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Apabila hal itu dilakukan saat sedang berpuasa, maka puasanya batal. Puasanya batal jika sampai mengeluarkan air mani. Jika terjadi di bulan Ramadan, maka ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga Magrib (meskipun puasanya telah batal), dan wajib mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari yang lain.
Kita memohon kepada Allah agar memudahkan generasi muda kita untuk segera menikah, dengan biaya mahar yang terjangkau, dan melunakkan hati para wali nikah. Karena tantangan saat ini terkadang justru datang dari pihak wali. Terkadang juga karena mahalnya mahar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman). Nabi juga pernah ingin menikahkan seseorang dengan mahar cincin besi. Jika cincin besi saja sudah cukup menjadi mahar, dan pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan biayanya, maka marilah kita tempuh jalan ini, agar para pemuda dan pemudi kita tidak terjerumus ke dalam kerusakan.
=====
يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَرْجُو تَوْضِيحَ حُكْمِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ يَعْنِي بِهَا الإِسْتِمْنَاء بِالْيَدِ أَوْ بِغَيْرِهَا وَهِيَ حَرَامٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِ رَمَضَانَ
وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ
وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ وَلَمْ يَقُلْ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيُخْرِجْ مَاءَهُ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ جَائِزاً مَا عَدَلَ عَنْهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى الصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ أَشَقُّ أَشَقُّ مِنَ الإِسْتِمْنَاءِ
فَعَلَى كُلِّ حَالٍ الإِسْتِمْنَاءُ مُحَرَّمٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا وَقَعَ وَالْإِنْسَانُ صَائِمٌ فَسَدَ صَوْمُهُ فَسَدَ صَوْمُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِذَا كَانَ فِي رَمَضَانَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَيَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ
نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُهَيِّئَ لِشَبَابِنَا نِكَاحًا عَاجِلًا فِي رُخَصِ الْمُهُورِ وَخُضُوعِ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ لِأَنَّ الْبَلَاءَ الْآنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ أَحْيَانًا وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُهُورِ أَحْيَانًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً وَأَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ شَخْصًا عَلَى خَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ فَإِذَا كَانَ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ يَكْفِي مَهْرًا وَأَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً فَلْنَسْلُكْ هَذَا الْمَسْلَكَ حَتَّى لَا يَضِيعَ شَبَابُنَا مِنْ ذُكُورٍ وَإِنَاثٍ