Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat.
Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu.
Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa.
Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya.
Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa.
=====
وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ
وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي
وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ
وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ
وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ
فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا
فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ