Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya.
Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).
Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah.
=====
وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ
وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ