Kisah Dalam al-Quran: Perkara Penting yang Diacuhkan

Kisah Dalam al-Quran: Perkara Penting yang Diacuhkan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagi sebagian orang, membaca kisah itu selera. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Terlebih kisah dalam al-Quran. Dianggap monoton, kurang menarik oleh kebanyakan orang. Sehingga banyak kaum muslimin terkesan mengacuhkan.

Padahal, salah satu metode yang Allah gunakan untuk menguatkan hati nabi dan kekasih-Nya yang paling Mulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melalui kisah.

Allah berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Semua kisah dari para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud: 120)

Salah seorang ulama mengatakan,

الحكايات جند من جنود الله تعالى، يثبت الله بها قلوب أوليائه

Kisah adalah salah satu pasukan Allah. Melalui kisah, Allah kuatkan hati para kekasih-Nya. (Shafahat min Shabr al-Ulama, hlm. 5)

Tapi mengapa kebanyakan kita kurang bisa mendapatkan pelajaran dari kisah-kisah al-Quran?

Jawabannya, karena kita masih jauh dari kriteria ulul albab (manusia sempurna akalnya) atau karena kita lebih menyukai kisah fiktif dari pada kisah nyata.

Allah jelaskan,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi ulul albab (orang-orang yang mempunyai akal). Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf: 111)

Imam Abu Hanifah mengatakan,

الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحب الي من كثير من الفقه، لأنها آداب القوم

Kisah tentang para ulama dan kebaikan mereka lebih saya sukai dari pada banyaknya fikih. Karena kisah mereka adalah adab perjalanan hidup masyarakat. (Shafahat min Shabr al-Ulama, hlm. 5)

Demikian,

Allahu a’lam

Membatasi Rizqi Allah dalam Doa

Membatasi Rizqi Allah dalam Doa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terkadang karena benci dan tidak suka, kita berdoa memohon kepada Allah agar tidak memberikan keberkahan dan rizkinya bagi orang yang tidak kita sukai. Bahkan hal ini tidak hanya dilakukan manusia biasa, sampai dilakukan oleh seorang nabi.

Ketika Ibrahim berdoa memohon keberkahan kepada Allah untuk kota Mekah, beliau memohon agar penduduk Mekah diberikan buah-buahan khusus bagi mereka yang beriman saja. Namun doa Ibrahim Allah luruskan, bahwa Allah juga akan memberikan keberkahan itu kepada orang kafir, namun terbatas usianya ketika hidup di dunia.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Ingatlah, ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al-Baqarah: 126)

Pernyataan: “Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka” merupakan koreksi dari Allah untuk doa Ibrahim, yang memohon agar keberkahan itu hanya diberikan orang yang beriman saja.

Anda bisa perhatikan, doa Ibrahim hanyalah membatasi orang kafir agar tidak mendapatkan rizki dan keberkahan dari Allah. Anda bisa bayangkan, bagaimana dengan orang yang memohon agar temannya yang muslim tidak diberi rizki dari Allah. Bukankah ini lebih parah dari pada di atas?

Namun itulah manusia. Kadang perasaannya menyeretnya sampai membatasi sesuatu yang luas. Rizki dan keberkahan dari Allah yang tidak ada batasnya.

Mungkin kita perlu belajar  untuk menyadari bahwa Allah Maha Kaya, sehingga sebanyak apapun Dia memberikan hamba-Nya, kekayaan Allah tidak akan berkurang sepeserpun.

Kita juga perlu sadar bahwa Allah Maha Pemurah. Dia bisa memberikan rahmatnya kepada siapapun yang Dia kehendaki.

Allahu a’lam

Siapa yang akan Menshalati Jenazah Anda?‎

Siapa yang akan Menshalati Jenazah Anda?‎

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,‎

Adanya shalat jenazah merupakan karunia dari Allah bagi semua orang yang beriman. Karena ‎dengan shalat jenazah, seorang mukmin bisa saling memberi manfaat berupa doa dan syafaat ‎bagi saudaranya sesama mukmin. ‎

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‎

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً، كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ، إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

‎“Jika ada seorang mayit yang dishalati kaum muslimin yang jumlahnya 100 orang, dan semua ‎memberi syafaat (mendoakan kebaikan) untuk jenazah, maka doanya akan dikabulkan.” (HR. ‎Muslim 947).‎

Bahkan dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa jika ‎jumlah orang yang menshalati jenazah mencapai 40 orang muslim yang tidak memiliki dosa ‎syirik, maka doa mereka diterima oleh Allah. ‎
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ، فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ

Jika ada seorang muslim yang meninggal kemudian dishalati oleh 40 orang, yang mereka tidak ‎menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka Allah akan kabulkan syafaat mereka. (HR. ‎Muslim 948). ‎

Hadis ini menunjukkan bahwa syafaat dalam bentuk doa permohonan ampunan dari 40 orang ‎muslim, ahli tauhid, yang tidak membawa dosa syirik, sudah bisa menggantikan syafaat dari 100 ‎orang muslim bagi jenazah. Sebagaimana keterangan Imam Ibnu Baz rahimahullah. ‎

Oleh karena itu, hadis ini menjadi dalil anjuran untuk memperbanyak jumlah peserta dalam ‎pelaksanaan shalat jenazah. Semakin banyak orang yang menshalati, semakin besar pelung ‎doanya dikabulkan oleh Allah. ‎
Hadis ini juga menjadi bahan renungan bagi kita, ‎

‎‘Siapa yang akan menshalati jenazah kita ketika kita meninggal?’ ‎

Sebagai orang mukmin, kita sangat berharap agar yang menshalati jenazah kita adalah orang-‎orang baik, ahli tauhid, tidak membawa dosa kesyirikan. Sebakin banyak teman baik yang kita ‎miliki, kita berharap semoga semakin banyak pula orang baik yang akan menshalati kita. ‎

Berbeda ketika anda hanya dikelilingi orang-orang yang jahat, apa yang bisa diharapkan dari ‎mereka. ‎

Bagaimana anda berharap mereka akan menshalati jenazah anda, sementara mereka sendiri ‎tidak shalat? Bagaimana anda berharap mereka akan mendoakan anda, sementara mereka tidak ‎pernah berdoa? Bagaimana anda berharap mereka akan mengirim tahlil, bacaan yasin untuk ‎anda, sementara mereka sendiri tidak pernah kenal al-Quran. ‎

Teman yang tidak bermutu, ketika hidup akan mengajak anda bermaksiat dan ketika anda ‎meninggal, anda akan dilupakan. ‎

Allahu a’lam

Hanya Mereka yang Selamat

Hanya Mereka yang Selamat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ أَرْسَلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الْجَنَّةِ، فَقَالَ: انْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا ‏فِيهَا. فَنَظَرَ إِلَيْهَا فَرَجَعَ، فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا. فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ، فَقَالَ: ‏اذْهَبْ إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا. فَنَظَرَ إِلَيْهَا، فَإِذَا هِيَ قَدْ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ، فَقَالَ: ‏وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ. قَالَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَى النَّارِ وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا. فَنَظَرَ ‏إِلَيْهَا فَإِذَا هِيَ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا، فَرَجَعَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ لَا يَدْخُلُهَا أَحَدٌ. فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ، ‏فَقَالَ: ارْجِعْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا. فَنَظَرَ إِلَيْهَا فَإِذَا هِيَ قَدْ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ، فَرَجَعَ وَقَالَ: وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا ‏يَنْجُوَ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus jibril ‘alaihis salam untuk menuju ‎surga. Allah berfirman: “Lihatlah dan semua nikmat yang Aku janjikan bagi penghuninya.”‎
Jibrilpun melihatnya, lalu kembali menuju Allah. ‎

‎”Demi Keagungan-Mu, tidak ada seorangpun yang mendengar surga kecuali dia ingin ‎memasukinya.” kata Jibril. ‎

Kemudian Allah perintahkan agar surga dikelilingi dengan semua hal yang tidak disukai nafsu.‎

‎”Sekarang lihat kembali, dan lihat apa saja isinya yang Aku siapkan untuk penghuninya.” ‎perintah Allah.‎

Jibrilpun melihatnya, ternyata sudah dikelilingi dengan semua yang tidak disukai nafsu. ‎

‎”Demi Keagungan-Mu, saya khawatir, tidak ada seorangpun yang berhasil memasukinya.” kata ‎Jibril.

Allah perintahkan, ”Lihatlah neraka, dan siksa yang Aku janjikan untuk penghuninya.”‎

Jibrilpun melihatnya, ternyata satu sama lain saling tumpang tindih. Lalu beliau kembali. ‎

‎”Demi Keagungan-Mu, tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.” kata Jibril. ‎

Lalu Allah perintahkan agar dikelilingi dengan syahwat. ‎

‎”Kembalilah, dan lihat neraka.” perintah Allah kepada Jibril. ‎

Jibrilpun melihatnya, ternyata sudah dikelilingi dengan semua yang sesuai syahwat. Lalu ‎beliau kembali. ‎

”Demi Keagungan-Mu, saya khawatir tidak ada seorangpun yang bisa selamat untuk ‎terjerumus ke dalam neraka.” kata Jibril. ‎

‎(HR. Ahmad 8398, Nasai 3763, Abu Daud 4744, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). ‎

Hanya mereka yang mendapat rahmat Allah, yang akan selamat…

Cara Benar Menjamu Tamu

Cara Benar Menjamu Tamu‎

Kita simak cerita Ibrahim,

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ *‏‎ ‎‏ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ *‏‎ *‎‏* ‏فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ ‏‎ ‎ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ * فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا ‏تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيم

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-‎malaikat) yang dimuliakan? * (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu ‎mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang ‎yang tidak dikenal.” * Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, ‎kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. *  Lalu dihidangkannya kepada mereka. ‎Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” * (Tetapi mereka tidak mau makan), ‎karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. mereka berkata: “Janganlah kamu ‎takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak ‎yang alim (Ishak). (QS. Az-Dzariyat: 24 – 28)‎

Ketika Ibrahim kedatangan tamu malaikat, beliau tidak tahu bahwa mereka malaikat. ‎Beliau terima tamu itu, dan dipersilahkan masuk. Yang unik, begitu mereka masuk, ‎Ibrahim diam-diam ke belakang menemui istrinya dan langsung menyuguhkan daging ‎anak sapi yang gemuk. Beliau hidangkan dan beliau persilahkan mereka makan. Namun ‎apa yang terjadi, mereka tidak memakannya. ‎

Seperti inilah seorang nabi memuliakan tamu. Beliau memuliakan tamunya dengan ‎suguhan tanpa bertanya dan menawarkannya terlebih dahulu. Jika Ibrahim bertanya, tentu ‎mereka tidak akan bersedia disuguhi, karena mereka tidak makan. ‎
‎ ‎
Untuk menjamu tamu, tidak perlu ditanya terlebih dahulu, apakah tamunya bersedia ‎dijamu ataukah tidak. Kecuali jika tamunya tidak doyan jamu. ‎

Tidak Semua yang Ada Dalilnya Pasti Benar

Tidak Semua yang Ada Dalilnya Pasti Benar

Ada dua hal yang perlu diperhatikan ketika berdalil:‎

  1. Keshahihan dalil (Shihatud Dalil)‎
  2. Kebenaran dalam (Shihatul Istidlal)‎

Karena itu, semata punya dalil, bukan jaminan itu benar. ‎

Banyak kelompok sesat yang menggunakan ayat al-Quran untuk mendukung ‎kesesatannya. Bahkan, Iblis tidak mau tunduk kepada perintah Allah untuk sujud kepada ‎Adam, dia menggunakan dalil qiyas.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ‏

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu ‎aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik dari pada dia, Engkau ciptakan saya ‎dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)‎

Di ayat lain, Allah berfirman,‎

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

Ingatlah, tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada ‎Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada ‎orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)‎

Menurut iblis, api lebih mulia dari pada tanah. Dengan logika ini, dia beralasan, makhluk ‎yang lebih baik asal penciptaannya, tidak selayaknya memberikan hormat kepada ‎makhluk yang lebih rendah asal penciptaannya. ‎

LDII punya dalil al-Qur’an dan hadis‎
Syiah punya dalil al-Qur’an dan hadis
Khawarij punya dalil al-Qur’an dan hadis
Bahkan ahmadiyah juga punya dalil al-Qur’an dan hadis

Semata berdalil, bukan jaminan itu benar. Namun perlu juga ditimbang dengan ‎keshahihan cara berdalil. Ini menuntut kita untuk semakin cerdas memahami dalil. ‎

Yang Kuat, Belum Tentu Pemenang

Yang Kuat, Belum Tentu Menang

Salah satu cara Allah menyemangati Nabi-nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‎yakinkan bahwa kekuatan besar, belum tentu bisa mengalahkan kekuatan yang kecil. ‎Karena kemenangan tidak selalu ditentukan oleh kekuatan. Ada faktor lain yang di luar ‎perhitungan manusia yang menentukan kemenangan.
Allah berfirman, ‎

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ‏

Betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu ‎‎(Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ‎ada seorang penolongpun bagi mereka. (QS. Muhammad: 13)‎

Jangan kita silau dengan kekuatan lawan, sehingga membuat kita gentar. ‎

Mereka Menuduh Allah Lupa

Sesungguhnya syariat islam yang sempurnah telah mengajarkan kepada umat manusia ‎segala yang mereka butuhkan untuk mewujudkan peribadatan yang sempurna kepada ‎Allah. Baik amal zahir maupun batin, tak terkecuali tata cara puasa. ‎

Syariat ini Allah turunkan 14 abad yang lalu. Dan kita meyakini bahwa ketika Allah ‎menurunkan syariat ini, Allah ta’ala juga mengetahui bahwa di masa mendatang, akan ‎ada berbagai macam perkembangan teknologi yang demikian canggih. Kita juga yakin, ‎bahwa ketika Allah menurunkan syariatnya, Allah tidak lupa bahwa besok akan ada ‎komputer canggih, alat teropong canggih, berbagai macam teknologi canggih lainnya.‎

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
‎‎

”Bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64).

Ketika Allah menurunkan syariat mencuci sebanyak 7 kali, bekas najis air yang dijilat ‎anjing, salah satunya dengan tanah, Allah tahu bahwa besok akan ada sabun dan alat ‎pembersih lainnya. Dan Allah tidak lupa. ‎

Ketika Allah menurunkan syariat menetapkan masuknya ramadhan dengan rukyatul hilal, ‎Allah tahu besok akan ada komputer canggih yang mampu melakukan hisab dengan ‎akurat. Dan Allah tidak lupa. ‎

Ketika Allah menurunkan syariat qashar bagi musafir, Allah tahu besok akan ada ‎kendaraan serba mewah, ber-AC, lebih cepat dan lebih jauh jangkauannya. Dan Allah ‎tidak pernah lupa. ‎

Ketika Allah menurunkan syariat tentang tata cara menyembelih yang benar, Allah tahu, ‎besok akan akan ada mesin canggih yang bisa menyembelih puluhan hewan atau suntikan ‎bius yang bisa membuat pingsan hewan yang akan disembelih. Dan Allah tidak lupa. ‎

Ketika ada orang yang menganggap bahwa tata cara yang ada dalam syariat ini perlu ‎disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi. Bukankah ini ‎termasuk menuduh bahwa Allah tidak tahu perkembangan zaman atau Allah lupa akan ‎ada semacam ini? ‎

Setan Bermalam di Rongga Hidung

Setan Bermalam di Rongga Hidung

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ

Apabila kalian bangun tidur, hendaknya menghirup air ke dalam hidung lalu membuangnya sebanyak 3 kali. Karena setan bermalam di rongga hidungnya. (HR. Bukhari 162 dan Muslim 238)

hadis ini mengingatkan kita untuk menghindari bahaya dan perbuatan setan. Dan kita tidak mungkin bisa menghindarinya kecuali dengan memahami keterangan syariat tentang apa saja yang diperbuat setan terhadap kaum muslimin.