Rakus Harta dan Kedudukan, Merusak Agama

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama

Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً

“Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada.

Beliau melanjutkan,

يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل

“Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.”

[Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64].

Sebuah Contoh:

KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-,

Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya.
menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA.

demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri.
Ibrah:

Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun.

Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Ibarat Menggenggam Bara Api

Ibarat Menggenggam Bara Api

Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth].

Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar.

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,”

Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.”

(HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004)

Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat.

Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan,
“Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram

Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman,

أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4)

Ibnul Qoyim mengatakan,

ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء

“Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.”

[Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]

Beribadah dengan Ilmu

Mereka Beribadah dengan Ilmu

Abu Darda :

مذاكرة العلم ساعة خير من قيام ليلة

“Mengkaji ilmu sesaat lebih baik dari pada shalat malam”

Abu Hurairah:

لأن أفقه ساعة أحب إلي من أن أحيي ليلة أصليها حتى أصبح

“Saya belajar sesaat lebih saya cintai dari pada saya habiskan waktu malam untuk shalat sampai subuh.”

Abu Hurairah:

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Allah.”

Ibnu Abbas :

تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.”

Abu Musa al-Asy’ari:

لمجلس أجلسه مع عبد الله بن مسعود أوثق في نفسي من عمل سنة

“Aku duduk belajar bersama Ibnu Mas’ud, itu lebih menenangkan hatiku dari pada beramal satu tahun.”

Hasan al-Bashri :

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

“Aku memahami satu masalah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yan aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Hasan al-Bashri:

مداد العلماء ودم الشهداء مجرى واحد

Usaha ulama dan darah syuhada, statusnya sama

Ibnu Syihab az-Zuhri

تعلم سنة أفضل من عبادة مائتي سنة

Belajar sunah lebih utama dibandingkan ibadah 200 tahun

Sufyan at-Tsauri dan Abu Hanifah:

ليس بعد الفرائض أفضل من طلب العلم

“Tidak ada amal setelah yang wajib, yang lebih utama dibanding belajar agama.”

Sufyan At-Tsauri :

لا نعلم شيئاً من الأعمال أفضل من طلب العلم والحديث لمن حسنت فيه نيته

“Saya tidak mengetahui ada amal yang lebih afdhal dari pada belajar ilmu dan hadis.”

Suatu hari Imam Malik melihat temannya menulis ilmu, kmd dia meninggalkannya dan shalat sunah. Beliau langsung berkomentar:

عجباً لك ! ما الذي قمت إليه بأفضل من الذي تركته

“Kamu sungguh mengherankan! Apa yang kamu lakukan tidak lebih afdhal dibandingkan apa yang kamu tinggalkan (mencatat ilmu).”

[Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1/36].

Mereka merasa mendapat pahala besar ketika belajar dan mengajar ilmu agama. Apakah kita juga demikian?

Ilmu dan Sabar

Sabar Ketika Menuntut Ilmu

Imam Ahmad menceritakan pengalamannya,

مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه

“Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.]

Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata:

كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن

“Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]

3 Ciri Orang Bodoh

3 Ciri Orang Bodoh

Abu Darda’ radhiyallahu anhu mengatakan,

علامة الجاهل ثلاثٌ: العجب، وكثرة المنطق فيما لا يعنيه، وأن ينهى عن شيء ويأتيه

“Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Bangga diri.
  2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
  3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39)

Sebab Terbesar untuk Meningkatkan Taqwa

Sebab Terbesar Meningkatkan Taqwa

Allah berfirman,

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Bagaimana mungkin kalian bisa bertaqwa sementara kalian tetap kafir kepada hari kiamat yang menjadikan anak-anak beruban. (QS. Al-Muzammil: 17)

Inilah rahasia, mengapa iman kepada Allah sering digandengkan dengan iman kepada hari akhir, dalam banyak ayat al-Quran.

Allahu a’lam

Dua Sumber Kejahatan Manusia

Dua Sumber Kejahatan Manusia

Allah menawarkan amanah dalam bentuk mentaati perintah dan menjauhi larangan kepada makhluk-makhluk besar, seperti langit, bumi, dan gunung. Jika mereka sanggup melaksanakannya maka mereka akan mendapatkan pahala. Dan jika mereka melanggarnya maka mereka mendapat hukuman. Namun mereka tidak bersedia menerimanya, karena takut tidak mampu menanggungnya.

Kemudian Allah tawarkan kepada manusia, dan mereka sanggup menanggungnya.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab: 72)

Karena beban syariat ini, manusia terbagi menjadi 3, Allah sebutkan di lanjutan ayat,

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 73)

  1. Orang munafik: dari luar terlihat mereka melaksanakan amanah, namun batinnya membencinya.
  2. Orang musyrik: melanggar amanah lahir dan batin
  3. Orang beriman: melaksanakan amanah lahir dan batin

Syaikhul Islam mengatakan,

والجهل والظلم : هما أصل كل شر ، كما قال سبحانه : { وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا }

Kebodohan dan kedzliman, merupakan dua hal yang menjadi sebab segala kejahatan. Sebagaimana Allah berfirman,

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 138).

Agar Rindu Bertemu Allah

Agar Rindu Bertemu Allah

Allah adalah Dzat Yang Maha Indah. Pencipta segala keindahan. Dia memiliki nama al-Jamil (Yang Maha Indah), dan Dia mencintai keindahan. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

”Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim 91)

Agar para hamba selalu dekat dengan Allah, Allah jelaskan semua keindahan dan kesempurnaan diri-Nya, dalam bentuk nama-namanya yang indah dan sifat-sifatnya yang mulia. Semakin banyak seseorang mengenal nama dan sifat Allah, semakin besar pula kecintaannya untuk selalu bertemu Allah.

Karena itulah, shalat menjadi penyejuk pandangan mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

”Dijadikan penyejuk pandanganku dalam shalat.” (HR. Nasai 3940 dan dishahihkan al-Albani)

Mengapa shalat?

Karena ketika shalat bertemu dan bermunajat dengan Allah ta’ala.

إن أحدكم إذا قام في الصلاة، فإنه يناجي ربه

”Ketika kalian sedang melakukan shalat, hakekatnya dia bermunajat dengan Tuhannya.” (HR. Ahmad 4928 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Inilah keindahan sejati seorang muslim. Bermunajat dengan Allah ta’ala. Karena itulah, Allah balas mereka dengan keindahan mutlak, keindahan tiada bandingannya, keindahan ketika melihat wajah Dzat Yang Maha Indah.

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kerinduannya untuk bertemu Allah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani).

Keindahan-Nya Melupakan Segala Kenikmatan

Keindahan-Nya Melupakan Segala Kenikmatan

Dari sahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Ketika penduduk surga sudah masuk ke dalam surga, Allah berfirman menawarkan kepada mereka: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan?’ Merekapun menjawab, ’Bukankah Engkau telah membuat wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Kemudian dibukalah tabir (penutup wajah Allah), hingga tidak ada nikmat yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai, dari pada nikmat memandang wajah Allah ta’ala. (HR. Ahmad 18935, Muslim 181, Turmudzi 2552, dan yang lainnya)

Surga adalah taman yang penuh keindahan. Keindahan yang bisa dirasakan semua indera. Namun keindahan surga menjadi terlupakan, ketika penduduk surga memandang wajah Dzat Yang Maha Indah, Dzat yang telah menciptakan segala keindahan. Itulah nikmat terbesar surga, mengalahkan segala nikmat yang disediakan di surga.