Bolehkah Mengqada Salat Sunah? – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Menurut para ulama, kaidahnya adalah
bahwa sunah yang dibatasi dengan waktu tertentu,
maka tidak sah jika dikerjakan sebelum waktunya
atau setelah keluar dari waktunya.

Adapun melakukannya sebelum waktunya, maka ini tidak sah.

Hal ini tidak diragukan lagi.

Adapun setelah keluar dari waktunya, maka ini disebut qada.

Tidak ada qada untuk ibadah sunah apa pun,
kecuali yang ada landasan dalilnya dari Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam
pernah mengqada Salat Sunah,
baik Salat Malam atau salat lainnya yang dikerjakan di siang hari,
kecuali jika salatnya adalah Salat Witir atau Salat Sunah Rawatib.

Berdasarkan hal ini, maka tidak ada qada untuk Salat Malam
bagi orang yang mendapati fajar telah terbit
sedangkan ia belum mengerjakan Salat Malam.

Dia tidak perlu mengqada salat apa pun setelah terbitnya fajar,|
kecuali Salat Witir saja, tidak untuk salat lainnya.

Dia boleh mengqadanya setelah terbit fajar.

Hal ini memiliki beberapa keadaan, yang barangkali akan kita bahas dengan izin Allah ʿAzza wa Jalla
dalam pertemuan kedua yang berkaitan tentang Salat Witir dan hukum-hukumnya.

====

الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ

أَنَّ السُّنَنَ إِذَا كَانَتْ مُؤَقَّتَةً بِوَقْتٍ

فَإِنَّهُ لَا يَصْلُحُ فِعْلُهَا قَبْلَ وَقْتِهَا

وَلَا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا

فَأَمَّا فِعْلُهَا قَبْلَ وَقْتِهَا فَلَا يَصِحُّ

وَلَا شَكَّ فِي ذَلِكَ

وَأَمَّا بَعْدَ خُرُوجِ الْوَقْتِ فَإِنَّهُ يُسَمَّى قَضَاءً

وَلَا يُقْضَى شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ

إِلَّا مَا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُ قَضَى شَيْئًا مِنَ الصَّلَوَاتِ

لَا مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَلَا مِنْ غَيْرِهَا مِنْ صَلَوَاتِ النَّهَارِ

إِلَّا أَنْ تَكُونَ الصَّلَاةُ وِتْرًا

أَوْ أَنْ تَكُونَ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ

وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يُقْضَى مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ

لِمَنْ طَلَعَ عَلَيْهِ الْفَجْرُ

وَلَمْ يَكُنْ قَدْ صَلَّى صَلَاةَ اللَّيْلِ

فَإِنَّهُ لَا يُصَلِّي بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ شَيْئًا مِنَ الصَّلَوَاتِ

إِلَّا الْوِتْرَ فَقَطْ دُونَ مَا عَدَاهُ

فَيُصَلِّيهِ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

وَلَهُ أَحْوَالٌ لَعَلَّنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهَا إِنَّ شَاءَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

فِي لِقَائِنَا الثَّانِي الْمُتَعَلِّقِ بِصَلَاةِ الْوِتْرِ وَأَحْكَامِهَا

Dua Tanda Wanita Telah Suci dari Haid – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ini adalah masalah penting bagi kaum wanita. Bagaimana seorang wanita dapat mengetahui bahwa ia telah suci dari haid? Jawabannya, wanita dapat mengetahui hal itu dengan salah satu dari dua tanda. Tanda yang pertama adalah keluarnya cairan putih. Yaitu cairan putih yang keluar dari wanita pada akhir haid yang dikenali kaum wanita. Namun cairan putih ini …

Baca selengkapnya…Dua Tanda Wanita Telah Suci dari Haid – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Makna Syahadat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Syahadat (bersaksi) esensinya adalah
lafaz yang mencakup keyakinan
dan perkataan, serta pengabaran
yang merupakan pemberitahuan.

Berdasarkan hal inilah para Salaf menafsirkan kata “bersaksi”.
Jadi, firman Allah Jalla wa ʿAlā
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang benar) selain Dia; (dan bersaksi pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

“Allah bersaksi …”

Apa maksudnya bahwa Allah bersaksi?

Maknanya, bahwa sesuatu apabila bersaksi
maksudnya ia memberitahu dan mengabarkan.

Jadi, kesaksian seorang Muslim bahwa tiada Tuhan yang benar kecuali Allah,
tidaklah benar jika disembunyikan.

Inilah syahadat (kesaksian).

Barang siapa yang bersaksi demikian dengan hatinya,
akan tetapi tidak menampakkan kesaksian ini
tanpa uzur syar’i,
maka kesaksiannya tidak dianggap.

Bahkan menjadi keharusan dalam kesaksian,
secara makna lafaz yang ditunjukkan oleh bahasa
dan juga yang ditunjukkan oleh dalil syariat,
kesaksian harus disertai dengan menampakkan.

Ini selaras dengan makna Islam,
yang merupakan amalan-amalan lahiriah.

Jadi, masuknya Syahadatain dalam rukun Islam
yang merupakan amalan lahiriah merujuk pada makna syahadat tersebut,
yaitu syahadat yang bermakna menampakkan,
yakni setelah meyakininya,
kemudian menampakkan, memberitahu, atau menyiarkan.

Dari sinilah keyakinan, keyakinan dalam dua kalimat syahadat,
tercakup di dalamnya,
karena dalam makna “bersaksi”
mencakup semua rukun-rukun iman.

====

وَالشَّهَادَةُ فِي نَفْسِهَا

لَفْظٌ فِيهِ الْاِعْتِقَادُ

وَالتَّحَدُّثُ وَالْإِخْبَارُ

الَّذِي هُوَ الْإِعْلَامُ

وَعَلَى هَذَا فَسَّرَ السَّلَفُ كَلِمَةَ شَهِدَ

فَقَوْلُهُ جَلَّ وَعَلَا

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ

وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

شَهِدَ اللهُ

مَا مَعْنَى أَنِ اللهُ يَشْهَدُ؟

بِمَعْنَى أَيِّ شَيْءٍ يَشْهَدُ

بِمَعْنَى يُعْلِنُ وَيُخْبِرُ

فَإِذَنْ شَهَادَةُ الْمُسْلِمِ بِأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

لَا تَسْتَقِيمُ مَعَ كِتْمَانِهِ

هَذِهِ الشَّهَادَةُ

فَمَنْ شَهِدَ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ

وَلَمْ يُظْهِرْ هَذِهِ الشَّهَادَةَ

دُونَ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

فَإِنَّهُ لَا شَهَادَةَ لَهُ

بَلْ لَا بُدَّ فِي الشَّهَادَةِ

مِنْ حَيْثُ اللَّفْظُ الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ اللُّغَةُ

وَأَيْضًا مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ

لَا بُدَّ فِيهَا مِنَ الْإِظْهَارِ

وَهُوَ الْمُوَافِقُ لِمَعْنَى الْإِسْلَامِ

الَّذِي هُوَ الْأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ

فَإِذَنْ دُخُولُ الشَّهَادَتَيْنِ فِي الْإِسْلَامِ

الَّذِي هُوَ الْأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ رَاجِعٌ إِلَى مَعْنَى الشَّهَادَةِ

وَهُوَ أَنَّ مَعْنَى الشَّهَادَةِ الْإِظْهَارُ

يَعْنِي بَعْدَ الْاِعْتِقَادِ

الْإِظْهَارُ وَالْإِعْلَامُ وَالْإِخْبَارُ

وَهُنَا يَأْتِي الْاِعْتِقَادُ… اعْتِقَادُ الشَّهَادَتَيْنِ

يَرْجِعُ إِلَيْهِ

لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى شَهِدَ

يَرْجِعُ إِلَيْهَا أَرْكَانُ الْإِيمَانِ جَمِيعًا

Kadar Minimal Iman Kepada Allah – Syaikh Shahlih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Kadar Minimal Iman Kepada Allah – Syaikh Shahlih Alu asy-Syaikh #NasehatUlama

Jika ini telah jelas, maka rukun iman yang enam ini
memiliki kadar wajib
yang Islam seseorang tidak sah tanpanya.

Kadar iman minimal yang harus dimiliki seorang mukallaf, orang yang tidak memilikinya tidak dianggap beriman.

(Mukallaf: orang yang mendapat kewajiban syariat (sudah baligh dan berakal).

Ada kadar tambahan atas kadar minimal ini,
sesuai dengan ilmu atau dalil yang ia ketahui.

Lalu apa itu kadar iman minimal, yang jika ada orang yang tidak memilikinya, maka ia menjadi kafir?

Ada kadar minimal iman kepada Allah, kadar minimal iman kepada para Rasul,
kadar minimal iman kepada kitab-kitab, kadar minimal iman kepada hari akhir dan takdir, dan seterusnya.

Adapun iman kepada Allah, maka ia terbagi menjadi tiga bagian:

(1) Iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam rububiyah-Nya.

(2) Iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam uluhiyah-Nya, yakni hanya Dia yang berhak disembah.

(3) Dan iman kepada Allah bahwa Dia Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tidak ada yang serupa dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. “Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11)

Kadar iman minimal dari bagian pertama adalah dengan meyakini
bahwa Allah Jalla Jalaluhu adalah Tuhan bagi alam semesta ini.

Yakni Allah adalah yang menciptakan, mengatur, dan menguasainya.

Allah adalah Penciptanya, Pengaturnya, dan yang memperlakukannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Inilah iman dengan rububiyah Allah.

Sedangkan iman kepada uluhiyah Allah adalah dengan meyakini tidak ada yang berhak disembah
atau ditujukan padanya bentuk ibadah apa pun.

Tidak ada satu makhluk pun yang berhak dipersembahkan kepadanya bentuk ibadah apa pun.

Namun yang berhak disembah hanyalah Allah Jalla Jalaluhu semata.

Ketiga adalah dengan beriman bahwa Allah Jalla wa ‘Ala
memiliki nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat tertinggi,
tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk,

dan tanpa menafikan Allah dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
baik itu dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara keseluruhan atau sebagiannya
setelah jelas baginya dalil tentang ini.

Inilah kadar minimal keimanan kepada Allah.

======================================================================================================

إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَأَرْكَانُ الْإِيمَانِ السِّتَّةِ هَذِهِ

فِيهَا قَدْرٌ وَاجِبٌ

لَا يَصِحُّ إِسْلَامٌ بِدُونِهِ

قَدْرٌ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ فَلَيْسَ بِمُؤْمِنٍ

وَهُنَاكَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَلَى هَذَا

تَبَعٌ لِلْعِلْمِ أَوْ تَبَعٌ لِمَا يَصِلُهُ مِنَ الدَّلِيلِ

فَمَا هُوَ الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ وَهُوَ الَّذِي مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ صَارَ كَافِرًا؟

فَهَذَا هُنَاكَ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِاللهِ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالرُّسُلِ

قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ قَدْرٌ مُجْزِئٌ فِي الْإِيمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ إِلَى آخِرِهِ

أَمَّا الْإِيمَانُ بِاللهِ فَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ

إِيْمَانٌ بِاللهِ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي رُبُوبِيَّتِهِ

وَإِيْمَانٌ بِاللهِ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي أُلُوهِيَّتِهِ يَعْنِي فِي اسْتِحْقَاقِهِ الْعِبَادَةَ

وَإِيْمَانٌ بِاللهِ يَعْنِي بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

لاَ مَثِيلَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ مِنَ الْأَوَّلِ أَنْ يَعْتَقِدَ

أَنَّ اللهَ جَلَّ جَلَالُهُ هُوَ رَبُّ هَذَا الْوُجُودِ

يَعْنِي أَنَّهُ هُوَ الْخَالِقُ لَهُ الْمُدَبِّرُ لَهُ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِ

خَالِقٌ لَهُ مُدَبِّرٌ لَهُ وَمُتَصَرِّفٌ فِيهِ كَيْفَ يَشَاءُ

هَذِهِ الرُّبُوبِيَّةُ

بِالْإِلَهِيَّةِ بِأَنَّهُ لَا أَحَدَ يَسْتَحِقُّ الْعِبَادَةَ

أَوْ شَيْئًا مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ

لَا أَحَدَ يَسْتَحِقُّ شَيْئًا مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ مِنَ الْخَلْقِ

بَلِ الَّذِي يَسْتَحِقُّ هُوَ اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ وَحْدَهُ

وَالثَّالِثُ أَنْ يُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا

لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ الْعُلَى

دُونَ تَمْثِيْلٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ

وَدُونَ تَعْطِيلٍ لَهُ عَنْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

بِالْكُلِّيَّةِ أَوْ جَحْدٍ لِشَيْءٍ مِنْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

بَعْدَ وُضُوحِ الْحُجَّةِ فِيهَا لَهُ

هَذَا الْقَدْرُ الْمُجْزِئُ مِنَ الْإِيمَانِ بِاللهِ

6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Para ulama fiqih mengatakan
bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah.

Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi.

Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj.

Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah.

Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi.

Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …”
Yakni celaan yang tidak tercela.

“Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam:

Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan,
orang yang menyingkap kefasikan,
orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.

” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah,
dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain.

Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela.

Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam:

(1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …”

Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim.

Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst.

Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “…

(4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa,

(6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.”

====

وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ

إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ

سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ

لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ

لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ

نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ

جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ

يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا

الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ

مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ

وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا

وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ

هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ

وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ

مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا

أَعِدْهَا

يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ

مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ

مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ

وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ

وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ

وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ

وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ

Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala,
beliau meninggal dunia tahun 204 H.

Imam asy-Syafi’i dijuluki dengan “Nashirul Hadits” (penolong hadits) dan “Nashirus Sunnah” (penolong sunnah),
padahal beliau tidak memiliki banyak riwayat hadits.

Kitab Musnad asy-Syafi’i yang sudah tercetak sekarang, hanya mengandung jumlah hadits yang tidak seberapa.

Namun, mengapa (beliau mendapat julukan ini)?

Dahulu, para ulama hadits di zaman beliau memiliki banyak perbendaharaan hadits,
sedangkan para ulama Irak dikenal memiliki kemampuan qiyas, pemahaman dan pemikiran yang detail.

Perguruan Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala yang melayani sunnah dari sisi ini;
yakni dari sisi pemahaman as-Sunnah, qiyas, dan lain sebagainya.

Namun, ada beberapa hadits yang tidak mereka ketahui,
dan ada beberapa hadits yang belum sampai kepada mereka.

Ditambah pula, mereka sangat ketat dalam menerima riwayat hadits, karena banyaknya kedustaan dalam periwayatan di Irak.
Dahulu para ulama hadits menjadi ‘mainan’ di hadapan para ulama ra’yi (perguruan Abu Hanifah),
hingga
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
“Dahulu, Ilmu Fiqih terkunci, hingga Allah membukanya melalui Imam asy-Syafi’i.”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkolaborasikan dua perguruan.

Beliau belajar kepada Imam Malik (ulama hadits), dan belajar juga kepada Muhammad bin al-Hasan, murid Abu Hanifah.

Beliau juga tumbuh di lingkungan badui, di suku Hudzail (sehingga lisannya fasih)

Ucapan beliau adalah hujjah dalam bahasa Arab, pemahaman beliau tajam,
dirinya dihiasi dengan ketakwaan dan keikhlasan.

Sehingga hal ini semua, menjadikan beliau mampu meletakkan asas-asas dalam memahami sunnah
yang disebut dengan Ilmu Ushul Fiqih.

Diskusi-diskusi mulai terjadi di Irak,
dan penegakan hujjah dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang mendalam,
sehingga Qutaibah bin Said berkata, “Aku melihat Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah)
di hadapan Imam asy-Syafi’i seperti bola yang beliau mainkan sesuka hati.”

Subhanallah!

Namun, mereka semua rahimahumullahu Ta’ala adalah Imam-imam besar.

Oleh sebab itu, Imam Ahmad berkata —ketika beliau ditanya tentang Imam asy-Syafi’i—
beliau berkata, “Imam asy-Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.”

Beliau menambahkan, “Dan tidaklah aku mendirikan shalat, melainkan aku mendoakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam shalatku.”

Demikianlah para imam dalam ilmu hadits.

====

الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

تُوُفِّيَ سَنَةَ مِائَتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ

الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ لُقِّبَ بِنَاصِرِ الْحَدِيثِ نَاصِرِ السُّنَّةِ

مَعَ أَنَّ مَا عِنْدَهُ رِوَايَةً كَثِيرَةً الْأَحَادِيثَ

مُسْنَدُ الشَّافِعِيِّ المَطْبُوعُ الْآنَ فِيهِ يَعْنِي قَدْرٌ يَسِيرٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ

لَكِنْ لِمَاذَا؟

كَانَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ عِنْدَهُمُ الْكُنُوزُ عِنْدَهُمُ الْأَحَادِيثُ

لَكِنْ أَهْلُ الْعِرَاقِ اُشْتُهِرُوا بِالْقِيَاسِ وَدِقَّةِ الْفَهْمِ وَالرَّأْيِ

مَدْرَسَةُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الَّذِي خَدَمَ السُّنَّةَ مِنْ هَذِهِ النَّاحِيَةِ

فِي فِقْهِ السُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ وَ

لَكِنْ تَخْفَى بَعْضَ الْأَحَادِيثِ

مَا تَصِلُ إِلَيْهِمْ بَعْضُ الْأَحَادِيثِ

يَتَشَدَّدُوْنَ فِي قَبُولِ الْأَحَادِيثِ لِمَا ظَهَرَ مِنَ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ فِي الْعِرَاقِ

فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ لُعْبَةً فِي يَدِ أَهْلِ الرَّأْيِ

حَتَّى

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ

كَانَ الْفِقْهُ قُفْلًا حَتَّى فَتَحَهُ اللهُ بِالشَّافِعِيِّ

الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَدْرَسَتَيْنِ

دَرَسَ عِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ وَدَرَسَ عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ

وَتَرَبَّى فِي الْبَادِيَةِ عِنْدَ هُذَيْلٍ

كَلَامُهُ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ فَهْمُهُ ثَاقِبٌ

مَعَ تَقْوَى وَإِخْلَاصٍ

فَنَتَجَ عَنْ ذَلِكَ أَنَّهُ وَضَعَ الضَّوَابِطَ فِي فَهْمِ السُّنَّةِ

وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِأُصُولِ الْفِقْهِ

وَبَدَأَتِ الْمُنَاظَرَاتُ فِي الْعِرَاقِ

وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَهْمِ الثَّاقِبِ

حَتَّى قَالَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ

بَيْنَ يَدَيْ الشَّافِعِيّ كَالْكُرَةِ يُدِيْرُهَا أَيْنَمَا دَارَتْ

سُبْحَانَ اللهِ

وَكُلُّهُم رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَئِمَّةٌ

وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ

قَالَ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ

قَالَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلنَّاسِ وَالْعَافِيَةِ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ

قَالَ وَلَا أُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا وَأَدْعُو فِيهَا لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ

وَهَكَذَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ