Anak Berbakti

Anak Berbakti

Ibnu Aun bercerita, 

كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيْرِيْن إِذَا كَانَ عِنْدَ أُمِّهِ خَفِضَ مِنْ صَوْتِهِ وَتَكَلَّمَ رُوَيْدًا

“Muhammad bin Sirin, itu jika bersama ibunya bersuara lirih dan berbicara pelan-pelan.”

(Makarim al-Akhlaq karya Ibnu Abid Dunya dalam Min Akhbar as-Salaf as-Shalih hlm 399)

Cara berbakti kepada ortu itu dengan berbuat baik kepada ortu dengan perkataan, perbuatan, harta, dll.

Diantara contoh berbuat baik dengan perkataan adalah asyik ngobrol dengan orang tua.

Diantara bentuk kurang berbakti kepada ortu adalah tidak bisa ngobrol panjang, ngobrol asyik dengan ortu padahal bisa ngobrol demikian asyik dan panjang dengan isteri atau temannya

Diantara bentuk bakti kepada ortu dengan perkataan adalah bersuara lirih, tidak berteriak dan meninggikan suara ketika berbicara dengan ortu. Demikian pula berbicara pelan-pelan, tidak ngebut ketika ngobrol dengan ortu. 

Muhammad bin Sirin adalah salah satu ulama besar era Tabiin.

Anak yang berpotensi besar tulus berbakti adalah anak yang kenal ilmu agama. Dengan ilmu agama anak akan menyadari dengan baik kewajiban berbakti dengan ortu dan bentuk-bentuknya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sehebat Apapun Kamu Pasti Kalah

Sehebat Apapun Kamu Pasti Kalah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Adalah unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak terkalahkan. Lalu ada seorang arab badui datang dengan untanya dan berhasil mengalahkan unta Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka para shahabat merasa kecewa hingga diketahui oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Maka beliau bersabda:

حق على الله أن لا يرتفع شيء من الدنيا إلا وضعهُ

“Sudah kepastian dari Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang tinggi dari dunia kecuali akan Dia rendahkan.” (HR Al-Bukhari)

Demikianlah dunia..
Sehebat apapun seseorang..
Pasti suatu ketika akan ada yang mengalahkannya..
Karena dunia itu hina..

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

Peluang Emas Pahala Syahid

Peluang Emas Pahala Syahid

Seburuk apapun kondisi saat ini, seorang mukmin akan tetap berlapang dada dan berbesar hati. Sebab dia memiliki panduan hidup dari Rabbul alamin. Hanya orang yang tidak punya pegangan, yang akan terjangkiti kepanikan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur,

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un (wabah)”.

Beliau menjawab,

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ.

“Sesungguhnya wabah adalah azab yang ditimpakan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Namun Dia menjadikan wabah sebagai rahmat untuk kaum mukminin.

Saat terjadi wabah, siapapun yang berdiam di rumahnya. Dengan penuh kesabaran dan berharap pahala. Sambil meyakini bahwa dia tidak akan terkena sesuatu, kecuali yang telah ditakdirkan Allah. Orang yang seperti itu, pasti akan mendapatkan pahala orang yang syahid”. (HR. Ahmad dan sanad nya dinilai sahih oleh al-Arna’uth)

Hadits di atas menjelaskan empat kriteria yang bila dipenuhi, maka seseorang akan mendapat pahala syahid.

Pertama: Berdiam di rumah. Sebagai salah satu upaya agar tidak tertular wabah atau menulari orang lain. Ini tentu sangat selaras dengan himbauan pemerintah supaya kita melakukan social distancing.

Kedua: Sabar dan ridha. Tidak banyak mengeluh. Sebab ini adalah ujian dari Allah.

Ketiga: Berharap pahala. Pahala menjalankan perintah Allah dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pahala berdiam di rumah, walaupun terasa jenuh dan bosan.

Keempat: Beriman dengan takdir. Bahwa apapun yang terjadi, itu adalah dengan kehendak Allah. Sehingga bila Allah menakdirkan tidak kena wabah, maka tidak mungkin kena. Namun bila terkena, maka itulah yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Siapapun yang memenuhi empat kriteria di atas, dia akan mendapatkan pahala orang yang syahid. Walaupun ia tidak terjangkiti wabah. Apalagi bila terjangkit dan meninggal. Atau terjangkiti dan bisa sembuh. Semuanya dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pahala syahid. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn Hajar rahimahullah dalam kitab beliau Fath al-Bariy (X/204).

Wajarlah bila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wabah adalah rahmat bagi kaum mukminin.

Namun tentu tetap harus dihadapi dengan upaya lahiriah maksimal dan tawakal total kepada Allah Ta’ala.

Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh, Purbalingga

Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

TERFITNAH SAAT BERIBADAH

TERFITNAH SAAT BERIBADAH

Bahkan tatkala seseorang sedang melaksanakan ibadah sekalipun, hendaknya dia tidak merasa aman dan tetap menjaga pandangannya.

Berkata Al-Fadl bin ‘Ashim,”Tatkala seorang pria sedang thawaf di ka’bah tiba-tiba dia memandang seorang wanita yang ayu dan tinggi semampai, maka diapun terfitnah disebabkaan wanita tersebut, hatinyapun gelisah. Maka diapun melantunkan sebuah syair,

Aku tidak menyangka kalau aku bisa jatuh cinta….tatkala sedang thawaf mengelilingi rumah Allah yang diberi “kiswah”
Hingga akhirnya akupun ditimpa bencana maka jadilah aku setengah gila…

Gara-gara jatuh cinta kepada seorang seorang wanita yang parasnya menawan laksana rembulan…

Duhai…sekirainya aku tidak memandang elok rupanya

Demi Allah apa kiranya yang bisa aku harapkan dari pandanganku dengan memandangnya? “

Berkata Ma’ruf Al-Kurkhi , “Tundukkanlah pandangan kalian walaupun kepada kambing betina”

Berkata Sufyan At-Tsauri menafsirkan firman Allah وَخُلِقَ الإِنْساَنُ ضَعِيْفًا (Dan manusia dijadikan bersifat lemah 4,28), “Seorang wanita melewati seorang pria, maka sang pria tidak mampu menguasai dirinya untuk menundukkan pandangannya pada wanita tersebut…maka adakah yang lebih lemah dari hal ini?”

Sumber: Firanda.com

 

Setelah Hijrah, Belum Tentu Rejeki Melimpah

Setelah Hijrah Apakah Akan Mendapatkan Rejeki Melimpah?

Belum tentu, ada seorang manager B** S***H, mengundang pengajian, setelah pengajian dia bertobat gegara sang ustadz tidak mau menerima amplop yg diberikannya alasanya riba, tema acaranya terkait riba,

Kemudian dia menceritakan ttg pengunduruan dirinya dengan harus membayar ganti rugi 200 juta.

Setelah dibayarkan dia hidup semiskin miskinnya miskin dalam kehidupan, dibodoh2in masyarakat dan keluarga..

Barakallahu fikum..

===

الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? [Al-Ankabut: 1-2]

Jika mereka sabar dengan ujian ini, mereka akan mendapatkan janji Allah dengan sebaik-baik pahala.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar – 10)

=Minanurrohman=

Keledai Tidak Mau Makanan Haram

Keledai Ajaib

Ibnu Katsir menyebutkan kisah Syaikh Muhammad bin Manshur al-Qubari,
Beliau pernah menjual keledainya ke seseorang.

Setelah berlangsung beberapa hari, pembeli ini datang ke beliau dan komplain,

ﻳﺎﺳﻴﺪﻱ ﺇﻥ ﺍﻟﺪﺍﺑﺔ ﻻ ﺗﺄﻛﻞ ﻋﻨﺪﻱ ﺷﻴﺌﺎ

“Wahai tuanku, keledai ini tidak mau makan apapun makanan yang aku punya.”

ﻓﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ﻣﺎ ﺗﻌﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻨﺎﺋﻊ

Syaikh Muhammad bin Manshur lalu memandanginya dan bertanya, “Apa pekerjaan kamu?”

Jawab pembeli,

ﺭﻗﺎﺹ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻮﺍﻟﻲ

“Saya penari di kerajaan.”

Jawab Syaikh,

ﺇﻥ ﺩﺍﺑﺘﻨﺎ ﻻ ﺗﺄﻛﻞ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ. ﻭﺩﺧﻞ ﻣﻨﺰﻟﻪ ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺩﺭﺍﻫﻤﻪ

Keledai ini tidak mau makan dari hasil yang haram.

Beliaupun masuk ke rumahnya dan mengembalikan uangnya.

Al-Bidayah wa an-Nihayah, 17/456