Akan tetapi, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menangguhkannya, meng-istidrajnya (membiarkannya terus terbuai secara bertahap), terus melimpahkan nikmat kepadanya, dan menjauhkan berbagai musibah darinya, hingga ia menjadi angkuh. Kita berlindung kepada Allah.
Dan ia bergembira dengan kegembiraan yang tercela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ketika itulah ia menemui Rabbnya dalam keadaan tenggelam dalam dosa-dosanya, lalu ia dihukum karena dosa-dosanya di akhirat. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
Maka jika engkau melihat seseorang terang-terangan menentang Allah dengan kemaksiatan, sementara Allah menjaganya dari cobaan dan terus melimpahkan nikmat kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Mengapa? Karena Allah menangguhkan hukumannya hingga ia menghadap pada hari Kiamat dengan dosa tersebut.
Kemudian disebutkan dalam hadis ini bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya cobaan. Artinya, semakin besar cobaan, semakin besar pula balasannya. Cobaan yang ringan memiliki pahala yang sedikit, sedangkan cobaan yang berat memiliki pahala yang besar. Apabila Allah menguji mereka dengan berbagai kesulitan berat, Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat banyak karenanya. Sebaliknya, apabila musibah itu ringan, pahalanya pun ringan.
“Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa rida, baginya keridaan; dan barang siapa murka, baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah).
Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Ketika ia diuji dengan musibah, janganlah ia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Bahkan, boleh jadi hal itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya dengan berbagai musibah. Apabila seseorang rida dan bersabar, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka baginya keridaan. Namun, jika ia murka, maka baginya kemurkaan.
Dalam hadis ini terdapat dorongan agar seseorang bersabar menghadapi berbagai musibah, hingga ditetapkan baginya keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah-lah yang memberi taufik.
=====
لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْهَلَ لَهُ وَاسْتَدْرَجَهُ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ وَدَفَعَ عَنْهُ النِّقَمَ حَتَّى يَبْطَرَ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ
وَيَفْرَحَ فَرَحًا مَذْمُومًا بِمَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ وَحِينَئِذٍ يُلَاقِي رَبَّهُ وَهُوَ مَغْمُورٌ بِسَيِّئَاتِهِ فَيُعَاقَبُ بِهَا فِي الْآخِرَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ
فَإِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يُبَارِزُ اللهَ بِالْعِصْيَانِ وَقَدْ وَقَاهُ اللهُ الْبَلَاءَ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ أَخَّرَ عَنْهُ الْعُقُوبَةَ حَتَّى يُوَافِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
ثُمَّ ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ الْبَلَاءِ يَعْنِي أَنَّهُ كُلَّمَا عَظُمَ الْبَلَاءُ عَظُمَ الْجَزَاءُ فَالْبَلَاءُ السَّهْلُ لَهُ أَجْرٌ يَسِيرٌ، وَالْبَلَاءُ الشَّدِيدُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ إِذَا ابْتَلَاهُمْ بِالشَّدَائِدِ أَعْطَاهُمْ عَلَيْهَا مِنَ الْأَجْرِ الْكَثِيرِ وَإِذَا هَانَتِ الْمَصَائِبُ هَانَ الْأَجْرُ
وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
وَهَذِهِ أَيْضًا بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِ إِذَا ابْتُلِيَ بِالْمُصِيبَةِ فَلَا يَظُنَّ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُبْغِضُهُ بَلْ قَدْ يَكُونُ هَذَا مِنْ عَلَامَةِ مَحَبَّةِ اللهِ لِلْعَبْدِ يَبْتَلِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْمَصَائِبِ فَإِذَا رَضِيَ الْإِنْسَانُ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ فَلَهُ الرِّضَا وَإِنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
وَفِي هَذَا حَثٌّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ الرِّضَا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ