Nasihat Penting untuk Anda yang Merasa Berakidah Salaf – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ini adalah poin ketiga yang kita lalui dalam majelis yang sama, ketika menjelaskan salah satu wujud nyata dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Jejak dan wujud nyata rahmat Allah termasuk perkara yang paling luas di alam ini. Ini sesuai kandungan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Rabb kami meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya.” (Lihat QS. Al-A’raf: 89 dan QS. Ghafir: 7)

Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah memiliki penjelasan yang indah tentang jejak rahmat Allah ‘Azza wa Jalla pada makhluk-Nya. Ini adalah cabang dari apa yang pernah saya sebutkan kepada kalian tentang ilmu Asmaul Husna. Sebab, nama Ar-Rahim dan Ar-Rahman, jika seseorang ingin membahasnya melalui jejak-jejaknya dalam syariat dan alam semesta, maka itu memerlukan waktu yang panjang. Jika pembahasan lisannya saja demikian luas, lalu bagaimana seharusnya makna itu hidup dalam hati yang benar-benar memahaminya?

Bagaimana seharusnya penyaksian terhadap kedudukan ini tertanam dalam hati yang memahami berbagai sisi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah bagian terbesar dari ilmu akidah, karena di dalamnya terdapat pengenalan makhluk kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu akidah menuntun manusia untuk mengenal Allah. Namun bukan seperti cara akidah dipelajari sekarang: Asya’irah berkata begini, Muktazilah berkata begitu, kelompok ini berkata begini, kelompok itu berkata begitu.

Itu adalah ilmu milal wal firaq, pembahasan tentang agama dan kelompok-kelompok. Ilmu seperti itu dipelajari belakangan, bukan di awal. Yang pertama kali harus diambil adalah ilmu akidah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Dengan menetapkan maknanya, menjelaskan batas-batasnya, dan merinci pokok-pokok besarnya. Jika akidah itu telah meresap ke dalam hati, barulah hati benar-benar memahaminya.

Adapun jika ia belum meresap ke dalam hati, engkau akan melihat hati itu terjatuh dalam kebodohan yang luas dalam perkara akidah. Sekarang, banyak orang menisbatkan dirinya kepada agama dan ilmu. Namun dalam perkara akidah, engkau dapati agama dan akidahnya lemah, sementara ia tidak menyadarinya. Ia mengira akidahnya kokoh, dan ia merasa berada di atas akidah Salaf Ahlusunah yang murni.

Akidah Salaf Ahlusunah yang murni itu bukan sekadar informasi. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni adalah apa yang benar-benar didapati seseorang di dalam hatinya berupa hakikat-hakikat keimanan. Itulah akidah Ahlusunah yang murni.

Adapun ketika engkau mendapati seseorang melakukan perkara-perkara besar yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatannya, lalu ia tetap menisbatkan dirinya kepada akidah Ahlusunah yang murni, maka ketahuilah: akidah Ahlusunah yang murni itu tidak semudah itu.

Ada seseorang yang pernah bertemu Raja Abdul Aziz rahimahullah. Raja Abdul Aziz berkata kepadanya, “Berdoalah kepada Allah agar Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya.” Maka orang alim yang mengenal Allah itu menjawab, “Jangan katakan, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya…’ Sebab, jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, niscaya kita binasa. Namun katakanlah, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan karunia-Nya.’”

Perhatikan. Dua lafaz itu tampak dekat. Sama-sama berakhir dengan lam dan ha. Yang berbeda hanya dua huruf: ‘adl dengan ‘ain dan dal, sedangkan fadhl dengan fa dan dhad. Namun orang yang mengenal hakikat akidah tidak akan menerima redaksi doa seperti itu.

Di antara contohnya, guru kami, Syaikh Fahd bin Humayyin rahimahullah Ta’ala, beliau adalah dosen akidah di Universitas Al-Imam. Suatu ketika, beberapa ikhwan bertemu beliau di depan pintu. Mereka ingin menyalami beliau saat beliau hendak masuk, lalu mereka pun mengucapkan salam. Syaikh bertanya tentang kabar mereka. Salah seorang ikhwan menjawab, dengan maksud menyenangkan hati Syaikh dan menunaikan hak beliau, Ia menjawab, “Kami tetap dalam kebaikan selama Anda dan orang-orang seperti Anda masih berada di tengah-tengah kami.” Maka Syaikh berkata, “Jangan katakan begitu. Kalian akan tetap dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.”

Perhatikan. Inilah orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Ia berkata, “Kalian berada dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Kita ini makhluk. Kita hidup dan mati. Namun jika tauhid tetap ada pada kalian, kebaikan pun akan tetap ada pada kalian. Jika tauhid hilang dari kalian, kebaikan pun akan hilang dari kalian.

Salah seorang pejabat rahimahullah pernah berkata kepada Syaikh Shalih bin Fauzan waffaqahullah, ketika ia melihat beliau setelah lama tidak berjumpa. Pejabat itu berkata, “Wahai Syaikh Shalih, kepada siapa Anda meninggalkan kami? Mengapa kami jarang sekali melihat Anda?” Beliau menjawab, “Kami meninggalkan kalian kepada Allah. Jika kalian menaati-Nya, kalian tidak memerlukan kami. Jika kalian durhaka kepada-Nya, kami tidak akan dapat memberi manfaat kepada kalian.”

Mereka itulah ahli tauhid. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar memahami akidah. Akidah bukan sekadar informasi.Lalu di Twitter, lihatlah berbagai hal yang menyelisihi akidah.

Inilah akidah yang hak. Akidah yang memenuhi hati, dan membuat hati merasakan manisnya. Engkau pun mengetahui bahwa akidah itulah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjadikan hatimu bersih, jiwamu suci, dan batinmu indah. Maka seseorang akan merasakan lezatnya akidah yang mengenalkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan hak-Nya.

Adapun kalau hanya sekadar informasi, misalnya, “Ahlusunah wal Jamaah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” “Asya’irah menetapkan nama-nama Allah dan tujuh sifat, lalu menakwilkan sifat-sifat yang lain.” “Muktazilah menetapkan nama-nama Allah dan menafikan sifat-sifat-Nya. Jahmiyah menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” Namun di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Tinggalkan dulu lisanmu. Di dalam hatimu, engkau bersama siapa?

Betapa banyak orang yang tidak bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan sifat-sifat Ilahi, tetapi hanya bermuamalah dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu lahiriah semata. Ia tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan kaum mukminin, tidak pula mengindahkan perjanjian; tidak ada kasih sayang, tidak ada rasa kasihan, dan tidak pula rasa takut. Lalu ia menisbatkan dirinya kepada jurusan akidah, karena mengira penisbatan itu menjadikannya pemilik akidah salaf.

Pemilik akidah salaf yang sejati adalah orang yang lebih menjaga hak Allah daripada menjaga pandangan makhluk, dan lebih takut kepada Allah daripada takut kepada makhluk. Ia mengatakan di hadapan Allah apa yang ia katakan di hadapan manusia. Tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ia memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia inginkan. Ucapannya kepada penguasa sama seperti ucapannya kepada rakyat. Ucapannya kepada orang dekat sama seperti ucapannya kepada orang jauh. Inilah orang yang jujur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka setiap kita seharusnya mencari akidah seperti ini. Akidah seperti ini tidak didapat hanya dengan menghadiri majelis kajian kitab Al-Wasithiyah, Lum’atul I’tiqad, Al-Hamawiyah, dan At-Tadmuriyah.

Akidah ini akan ditemukan ketika engkau menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang duduk mengintrospeksi dirinya, dalam majelis sunyi antara dirinya dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala, di sanalah ia akan menemukan akidah yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang hamba seharusnya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengintrospeksi dirinya, menegurnya, mencelanya, mengecamnya dengan keras, menahannya dari penyimpangan, dan mengingatkannya tentang kewajiban dirinya. Sebagian salaf dahulu menganjurkan agar hal ini dilakukan setiap hari.

Jika seseorang terhalang melakukannya karena banyak kesibukan, maka minimal ia menyendiri bersama Rabbnya pada hari Jumat. Orang-orang saleh terdahulu menjadikan hari Jumat sebagai hari yang mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun sekarang, banyak manusia justru semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Jumat, karena maksiat-maksiat baru yang mereka lakukan. Adapun para salaf, engkau dapati sepanjang hari Jumat mereka berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan ketaatan yang membuat sebagian orang mengira bahwa cerita itu terlalu berlebihan. Namun orang-orang yang jujur, yang benar-benar mengenal cara menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mampu melakukan hal seperti itu.

Dahulu guru kami, Syaikh Abdul Aziz bin Shalih bin Mursyid rahimahullah Ta’ala, beliau wafat pada tahun 1417 H, dalam usia 104 tahun. Beliau memiliki beberapa kali khatam Al-Qur’an setiap bulannya. Salah satunya, beliau khatam setiap hari Jumat. Beliau memulainya setelah Salat Subuh, lalu khatam sebelum khatib naik ke mimbar. Bagi beliau, itu seperti minum seteguk air. Ringan sekali. Namun kita tidak mampu melakukannya. Mengapa? Karena hakikat ilmu, pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kesibukan mencari kedekatan kepada-Nya yang ada di hati mereka berbeda dengan keadaan kita.

Kita telah teperdaya oleh dunia. Kita condong kepadanya dan bersandar padanya. Manusia sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriahnya daripada hakikat batinnya. Saat itulah ia terhalang dari permata-permata batin, sibuk dengan yang tampak di luar, lalu kehilangan makna-makna agung seperti ini.

Namun kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita semua, agar Dia menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya. Semoga Allah meliputi kita dengan ampunan-Nya, menjaga kita dengan pemeliharaan-Nya, dan menolong kita menghadapi diri kita sendiri.

=====

هَذَا مَوْضِعٌ ثَالِثٌ يَمُرُّ مَعَنَا فِي نَفْسِ الْمَجْلِسِ فِي بَيَانِ مَشْهَدٍ مِنْ مَشَاهِدِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى آثَارُهَا وَمَشَاهِدُهَا مِنْ أَوْسَعِ مَا فِي الْوُجُودِ هَذَا تَصْدِيقُ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا

وَابْنُ الْقَيِّمِ فِي الصَّوَاعِقِ الْمُرْسَلَةِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ فِي آثَارِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْقِ وَهَذَا فَرْعٌ مِمَّا ذَكَرْتُ لَكُمْ مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى فَإِنَّ اسْمَ الرَّحِيمِ وَالرَّحْمَنِ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِمَا يُشْهَدُ مِنْ آثَارِهِ فِي الشَّرْعِ وَالْوُجُودِ لَاحْتَاجَ ذَلِكَ إِلَى وَقْتٍ كَثِيرٍ وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْكَلَامِ الْمُعَبَّرِ بِهِ، فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْقَلْبِ الْمُدْرِكِ لَهُ؟

كَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ شُهُودُ هَذَا الْمَقَامِ فِي الْقَلْبِ الَّذِي يُدْرِكُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ وَهَذَا جُلُّ عِلْمِ الِاعْتِقَادِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْرِيفِ الْخَلْقِ بِرَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمُ الِاعْتِقَادِ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ لَكِنْ لَيْسَ كَمَا يُدْرَسُ الْآنَ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ: قَالَ الْأَشَاعِرَةُ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ، وَقَالَ كَذَا، وَقَالَ كَذَا

هَذَا عِلْمُ الْمِلَلِ وَالْفِرَقِ، وَهَذِهِ تُؤْخَذُ آخِرًا وَلَا تُؤْخَذُ أَوَّلًا أَوَّلًا يُؤْخَذُ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ كَمَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ تَقْرِيرِ مَعَانِيهِ، وَإِيضَاحِ حُدُودِهِ، وَتَفَاصِيلِ جُمَلِهِ فَإِذَا تَغَرْغَرَتِ الْقُلُوبُ بِهَا عَقَلَتْ ذَلِكَ

وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَتَغَرْغَرِ الْقُلُوبُ بِهَا، تَجِدُهَا تَقَعُ فِي جَهْلٍ عَرِيضٍ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّينِ وَالْعِلْمِ تَجِدُ أَنَّهُ فِي أُمُورِ الِاعْتِقَادِ يَضْعُفُ دِينُهُ وَاعْتِقَادُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ يَظُنُّ أَنَّ اعْتِقَادَهُ مَتِينٌ وَأَنَّهُ عَلَى عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ سُنِّيَّةٍ صَافِيَةٍ

الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتِ الْمَعْلُومَاتِ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ مَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْحَقَائِقِ الْإِيمَانِيَّةِ هَذِهِ هِيَ الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ

أَمَّا أَنْ تَجِدَ الْإِنْسَانَ تَقَعُ مِنْهُ أُمُورٌ عِظَامٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِكَلَامِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ ثُمَّ يَنْسُبُ نَفْسَهُ إِلَى الْعَقِيدَةِ السُّنِّيَّةِ الصَّافِيَةِ! الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتْ سَهْلَةً

قَالَ رَجُلٌ لَمَّا عَرَضَ لِلْمَلِكِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ، قَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَامِلَنَا بِعَدْلِهِ فَقَالَ ذَلِكَ الْعَالِمُ بِاللهِ: لَا تَقُل اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ فَإِنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا وَلَكِنْ قُلِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ

شُوفْ! كُلُّهَا فِيهَا لَامٌ وَهَاءٌ، يَعْنِي حَرْفَيْنِ. عَدْلٌ: الْعَيْنُ وَالدَّالُ، وَفَضْلٌ: الْفَاءُ وَالضَّادُ لَكِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْعَقِيدَةِ لَا يَقْبَلُ بِمِثْلِ هَذَا

وَلِذَلِكَ مِنْ شَوَاهِدِ هَذَا، أَنَّ شَيْخَنَا فَهْدَ بْنَ حُمَيِّنٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ أُسْتَاذًا لِلْعَقِيدَةِ فِي جَامِعَةِ الْإِمَامِ لَقِيَهُ بَعْضُ الْإِخْوَانِ عِنْدَ بَابِهِ وَقَدْ أَرَادُوا السَّلَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَدْخُلَ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فَسَأَلَ الشَّيْخُ الْإِخْوَانَ عَنْ حَالِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ مُرِيدًا تَطْيِيبَ خَاطِرِ الشَّيْخِ وَأَدَاءَ حَقِّهِ عَلَيْهِ قَالَ: نَحْنُ بِخَيْرٍ مَا زِلْتَ أَنْتَ وَأَمْثَالُكَ فِينَا فَقَالَ لَهُ: لَا تَقُلْ هَذَا، فَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ

شُوفْ! هَذَا اللَّي عَرَفَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ: أَنْتُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ إِحْنَا خَلْقٌ نَمُوتُ وَنَحْيَا، لَكِنْ إِذَا بَقِيَ فِيكُمُ التَّوْحِيدُ يَبْقَى فِيكُم الْخَيْرُ وَإِذَا ذَهَبَ مِنْكُمُ التَّوْحِيدُ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مِنْكُم الْخَيْرُ

قَالَ أَحَدُ الْمَسْؤُولِينَ رَحِمَهُ اللهُ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَدْ رَآهُ بَعْدَ غِيَابٍ طَوِيلٍ قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْمَسْؤُولُ: يَا شَيْخُ صَالِحُ لِمَنْ تَتْرُكُونَنَا؟ لِمَاذَا مَا نَرَاكُمْ إِلَّا قَلِيلًا؟ قَالَ: نَتْرُكُكُمْ لِلهِ فَإِنْ أَطَعْتُمُوهُ اسْتَغْنَيْتُمْ عَنَّا، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُ لَمْ نَنْفَعْكُمْ

هَذُولِ الْمُوَحِّدِينَ، هَذُولِ اللَّي يَعْرِفُونَ الْعَقِيدَةَ، مَا هِي بِالْعَقِيدَةِ الْمَعْلُومَاتِ ثُمَّ فِي التُّوِيتَرِ شُوفْ مَا يُخَالِفُ الْعَقِيدَةَ

هَذِهِ الْعَقِيدَةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تُمْلَأُ بِهَا الْقُلُوبُ وَتَذُوقُ حَلَاوَتَهَا وَتَعْرِفُ أَنَّ الْعَقِيدَةَ هِيَ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، تَجْعَلُكَ صَافِيَ الْقَلْبِ، طَاهِرَ النَّفْسِ، حُلْوَ السَّرِيرَةِ فَيَجِدُ الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعَقِيدَةِ الْمُعَرِّفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُعَظِّمَةِ لِحَقِّهِ

وَأَمَّا الْمَعْلُومَاتُ: وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَالْأَشَاعِرَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَسَبْعَ صِفَاتٍ وَيُؤَوِّلُونَ الْبَاقِيَ وَالْمُعْتَزِلَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَيَنْفُونَ الصِّفَاتِ، وَالْجَهْمِيَّةُ يَنْفُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَأَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ دَعْكَ مِنْ لِسَانِكَ، أَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟

كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَا يُعَامِلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يُعَامِلُ رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ لَا يَرْقُبُ فِي الْمُؤْمِنِينَ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً، وَلَا رَحْمَةَ، وَلَا شَفَقَةَ، وَلَا خَوْفَ وَيَنْتَسِبُ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ، ظَنًّا أَنَّ الِانْتِسَابَ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ يَجْعَلُهُ صَاحِبَ عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ

صَاحِبُ الْعَقِيدَةِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي يَرْعَى اللهَ أَعْظَمَ مِنْ رِعَايَةِ الْخَلْقِ، وَيَخَافُ اللهَ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِ الْخَلْقِ وَيَقُولُ أَمَامَ اللهِ مَا يَقُولُ أَمَامَ الْخَلْقِ فَلَيْسَ عِنْدَهُ سِرٌّ يُخْفِيهِ فَهُوَ يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ اللهُ وَلَا يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ الْخَلْقُ فَقَوْلُهُ لِلْحَاكِمِ كَقَوْلِهِ لِلْمَحْكُومِ، وَقَوْلُهُ لِلْقَرِيبِ كَقَوْلِهِ لِلْبَعِيدِ، هَذَا هُوَ الصَّادِقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا هَذِهِ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ لَا تُوجَدُ فِي حُضُورِ مَجَالِسِ الْوَاسِطِيَّةِ وَلُمْعَةِ الِاعْتِقَادِ وَالْحَمَوِيَّةِ وَالتَّدْمُرِيَّةِ

هَذِهِ الْعَقِيدَةُ تُوجَدُ إِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا جَلَسَ الْإِنْسَانُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ فِي مَجْلِسٍ يَخْلُو بِهِ مَعَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَجِدُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ الَّتِي تُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْعَبْدِ مِنْ نَفْسِهِ مَقَامَاتٌ يَخْلُو فِيهَا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحَاسِبُهَا، وَيُعَاتِبُهَا، وَيَلُومُهَا، وَيُعَنِّفُهَا، وَيَرُدُّهَا عَنْ غَيِّهَا، وَيُذَكِّرُهَا بِمَا يَجِبُ عَلَيْهَا وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَكُونَ هَذَا كُلَّ يَوْمٍ

وَإِذَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشَّوَاغِلِ، فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يَخْلُوَ بِنَفْسِهِ مَعَ رَبِّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنَ الصَّالِحِينَ يَكُونُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَهُ مُقَرِّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَالْآنَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَبْعُدُونَ فِيهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَسْتَجِدُّ لَهُمْ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَمَّا مَنْ سَلَفَ، تَجِدُهُمْ طُولَ يَوْمِهِمْ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ طَاعَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَقَعُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ مَا يَظُنُّ الْإِنْسَانُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْمُجَازَفَاتِ وَلَكِنَّ الصَّادِقِينَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ الْإِقْبَالَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا

فَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صَالِحِ بْنِ مُرْشِدٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِمِئَةِ وَالْأَلْفِ، عَنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ بَعْدَ الْمِئَةِ لَهُ خَتَمَاتٌ فِي شَهْرِهِ، مِنْهَا خَتْمَةٌ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ يَبْدَأُ فِيهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَخْتِمُ قَبْلَ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَمِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، عِنْدَهُ مِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، وَلَكِنْ نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ حَقَائِقَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالِاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُهُمْ غَيْرُ مَا عَلَيْنَا

نَحْنُ اغْتَرَرْنَا بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَمِلْنَا إِلَيْهَا وَرَكَنَّا إِلَيْهَا صَارَ الْإِنْسَانُ يَهْتَمُّ بِمَظْهَرِهِ أَعْظَمَ مِنْ عِنَايَتِهِ بِجَوْهَرِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُحْرَمُ الْجَوَاهِرَ وَيُشْغَلُ بِالظَّاهِرِ، فَيَذْهَبُ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي

لَكِنْ نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَنَا جَمِيعًا أَنْ يَتَدَارَكَنَا بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَشْمَلَنَا بِعَفْوِهِ، وَأَنْ يَكْلَأَنَا بِرِعَايَتِهِ، وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.