Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Barangkali Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang besar bagi umat ini melalui jalan tersebut.
Sekiranya beliau berkeluarga, mungkin beliau akan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan sejenisnya. Namun, beliau sepenuhnya mencurahkan hidup untuk ilmu dan dakwah di jalan Allah Azza wa Jalla.
Beliau tidak menikah, dan yang mengurus keperluan beliau adalah saudara laki-lakinya. Saat berada di hadapan Ibnu Taimiyah, saudaranya itu bersikap sangat tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Saudaranya segan kepadanya, sebagaimana bersikap segan kepada seorang penguasa. “Kami merasa heran terhadap hal itu, lalu kami berkata, ‘Biasanya, keluarga dekat tidak bersikap segan layaknya kepada orang asing. Bahkan, mereka biasanya lebih leluasa dan akrab dengannya dibandingkan dengan orang asing. Namun, kami melihatmu bersama sang Syaikh (Ibnu Taimiyah) seperti seorang murid yang sangat berlebihan dalam menjaga rasa segan dan penghormatan kepadanya.’” Lalu saudaranya menjawab, “Aku melihat darinya sesuatu yang tidak tampak bagi orang lain. Itulah yang mendorongku untuk bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian lihat.”
Sebagaimana ungkapan, “Orang yang paling sedikit mengambil manfaat seorang ulama adalah keluarganya sendiri.” Maksudnya, sering kali keluarga tidak menghormati seorang ulama sebagaimana orang lain menghormatinya. Namun kaidah ini dilanggar oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saudaranya sangat menghormatinya, penuh rasa segan kepadanya sebagaimana bersikap segan kepada penguasa. Ia duduk di hadapannya dengan begitu tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Mereka pun merasa heran terhadapnya. Mereka berkata, “Beliau itu saudaramu. Biasanya, orang-orang terdekat tidak bersikap segan kepadanya, bahkan bersikap akrab dan leluasa dengannya, dan semisal itu.”
Ia menjawab, “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat dari lelaki ini perkara-perkara yang membuatku bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian saksikan. Aku melihat keajaiban dalam kepribadian dan perjalanan hidupnya, yang menghadirkan kewibawaan besar pada dirinya.” Inilah salah satu sisi kemuliaan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Abu Hafsh Al-Bazzar juga mengisahkan dalam buku ini (Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah), tepatnya pada poin ke-448, sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada masa kecil beliau. Al-Bazzar bercerita, “Seseorang yang tepercaya mengisahkan kepadaku, dari guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Ibnu Taimiyah.” Guru tersebut bercerita, “Ayahnya—yaitu Abu Ahmad bin ‘Abdussalam—berkata kepadaku saat Ibnu Taimiyah masih kecil: ‘Aku ingin Anda menasihatinya, agar ia tidak berhenti dan terus konsisten menghafal Al-Qur’an. Untuk itu, aku akan menitipkan kepada Anda uang sebesar 40 dirham setiap bulannya.’ Ayahnya berpesan, ‘Berikan uang itu kepadanya karena ia masih kecil (agar ia senang). Katakan padanya: Kamu akan mendapat uang saku yang sama setiap bulan.’” Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah menolak, beliau benar-benar enggan menerimanya. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak mengambil upah sepeser pun dari Al-Qur’an.” Maka Ibnu Taimiyah pun tidak mengambil uang tersebut.
“Lalu aku menyadari,” kata sang guru, “sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian khusus dari Allah kepadanya.” Allahu Akbar! Aku katakan, “Gurunya benar. Karena perhatian Allah itulah yang mengantarkannya kepada segala kebaikan yang ia capai.” Ini terjadi saat beliau masih sangat belia. Ayahnya menitipkan pemberian kepada guru Al-Qur’an beliau. Ayahnya berpesan kepada sang guru, “Aku titipkan 40 dirham setiap bulan, yang penting ia terus istiqamah menghafal Al-Qur’an.” Namun, Ibnu Taimiyah justru menolak. Lihatlah jawabannya, apa yang ia katakan? Beliau menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Padahal, beliau masih sangat kecil kala itu. Orang-orang pun takjub terhadapnya. Bagaimana mungkin sikap seperti ini muncul dari seorang anak kecil? Mereka berkata, “Ini menunjukkan besarnya perhatian dari Allah terhadap sosok tokoh ini semenjak awal pertumbuhannya.”
Demikianlah para imam. Sejak kecil, sudah tampak kelembutan dan perhatian dari Allah terhadap mereka. Jika kita menilik biografi para imam besar seperti Imam Ahmad dan Al-Imam Asy-Syafi’i, serta banyak imam lainnya, kita akan mendapati kelembutan dan penjagaan Allah terhadap mereka begitu nyata sejak mereka kecil. Sebagaimana dikatakan, mereka tidak memiliki masa muda yang sia-sia. Mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sikap dan jawaban seperti itu tidaklah mungkin muncul kecuali dari seorang yang telah dewasa. Padahal beliau masih kecil. Masih memerlukan harta. Meski begitu, beliau tetap menolak imbalan itu, tidak mau mengambil dirham-dirham tersebut. Subhanallah! Orang-orang pun terkagum-kagum terhadapnya. Mereka pun berkata: “Sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian, kelembutan, dan pilihan dari Allah terhadapnya.” Allah memilih para imam dan ulama, menyeleksi mereka, sejak mereka kecil.
Jejak-jejak kelembutan dan penjagaan Allah begitu jelas terlihat dalam perjalanan hidup mereka. Al-Bazzar juga menceritakan kisah lain dalam buku yang sama. Al-Bazzar bertutur, “Sesungguhnya syaikh—yakni Ibnu Taimiyah—pada masa kecilnya, apabila hendak pergi ke tempat belajar Al-Qur’an (kuttab), ada seorang Yahudi—yang rumahnya berada di jalan yang ia lewati—sering menghampirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, karena orang Yahudi tersebut melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, spontan, dan cerdas, hingga membuat orang Yahudi itu takjub. Dan subhanallah, melalui wasilah jawaban-jawaban itu, orang Yahudi tersebut akhirnya memeluk Islam, dan baik keislamannya.” Seorang anak kecil mampu meyakinkan orang Yahudi tersebut bahwa Islam adalah agama yang benar. Orang Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam, dan baik keislamannya. Beliau ketika itu hanyalah seorang anak kecil. Ini menunjukkan besarnya perhatian dan kelembutan Allah terhadap imam ini sejak beliau kecil. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin.
=====
ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ
يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ
فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ
أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا
فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ
فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ
وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ