APA MAKSUD SILATURAHMI MEMANJANGKAN UMUR DAN MELAPANGKAN REZEKI? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana silaturahmi dapat menjadi salah satu sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur, padahal ajal dan rezeki telah ditakdirkan dan dicatat?”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Lalu bagaimana silaturahmi dapat menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur?

Para ulama menjawab hal tersebut dengan beberapa jawaban.

Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah nama baiknya tetap dikenang setelah ia wafat, sehingga seakan-akan ia belum mati. Pendapat ini dinukil oleh Al-Qadhi ‘Iyadh, tetapi pendapat tersebut lemah.

Pendapat kedua: yang dimaksud dengan pertambahan di sini adalah keberkahan pada umurnya, taufik untuk melakukan berbagai ketaatan, mengisi waktu-waktunya dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta keberkahan pada rezekinya.

Pendapat ketiga: bahwa kelapangan rezeki dan panjangnya umur itu bersifat relatif, maksudnya, orang yang menyambung silaturahmi benar-benar ditambah rezekinya dan Allah benar-benar memanjangkan umurnya.

Namun hal itu terjadi pada catatan-catatan yang berada di tangan para malaikat. Adapun yang terdapat dalam Lauhul Mahfudz, tidak bertambah dan tidak berkurang. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” (QS. Ar-Ra’d: 39)

Dan yang dimaksud dengan Ummul Kitab adalah Lauhul Mahfudz. Sebagai contoh, dalam catatan yang berada di tangan para malaikat tertulis bahwa umur Fulan bin Fulan adalah 60 tahun, kecuali jika ia menyambung silaturahmi, maka umurnya menjadi 70 tahun. Sedangkan yang tertulis di Lauhul Mahfudz adalah bahwa umurnya 70 tahun.

Dan dalam catatan yang berada di tangan para malaikat tertulis bahwa rezeki Fulan bin Fulan adalah sekian. Jika ia menyambung silaturahmi, maka rezekinya menjadi sekian. Sedangkan yang tercatat di Lauhul Mahfudz adalah rezekinya setelah dilapangkan dan ditambahkan.

Dan inilah makna ayat, “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” (QS. Ar-Ra’d: 39)

Maka catatan yang berada di tangan para malaikat mengalami penghapusan dan penetapan. Namun, hasil akhirnya itulah yang tertulis di Lauhul Mahfudz. Maka Lauhul Mahfudz tidak mengalami penghapusan maupun penetapan. Dan inilah pendapat yang lebih kuat.

Inilah pendapat yang lebih kuat: bahwa pelapangan rezeki dan pemanjangan umur terjadi pada catatan yang berada di tangan para malaikat. Adapun yang terdapat di Lauhul Mahfudz tidak mengalami penghapusan maupun penetapan, tidak pula pertambahan maupun pengurangan. Dan hal inilah yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia, “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” (QS. Ar-Ra’d: 39)

=====

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: كَيْفَ تَكُونُ صِلَةُ الرَّحِمِ مِنْ أَسْبَابِ بَسْطِ الرِّزْقِ وَطُولِ الْعُمْرِ وَالْآجَالُ وَالْأَرْزَاقُ مُقَدَّرَةٌ مَكْتُوبَةٌ

كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

وَكَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ فَكَيْفَ تَكُونُ صِلَةُ الرَّحِمِ سَبَبًا لِبَسْطِ الرِّزْقِ وَطُولِ الْعُمْرِ؟

أَجَابَ الْعُلَمَاءُ عَنْ ذَلِكَ بِعِدَّةِ أَجْوِبَةٍ

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ الْمُرَادَ بِذَلِكَ بَقَاءُ ذِكْرِهِ الْجَمِيلِ بَعْدَهُ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَمُتْ حَكَاهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ وَلَكِنَّ هَذَا ضَعِيفٌ

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّ الْمُرَادَ بِالزِّيَادَةِ هُنَا الْبَرَكَةُ فِي عُمْرِهِ وَالتَّوْفِيقُ لِلطَّاعَاتِ وَعِمَارَةُ أَوْقَاتِهِ بِمَا يَنْفَعُهُ فِي الْآخِرَةِ وَالْبَرَكَةُ فِي رِزْقِهِ

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَسْطَ الرِّزْقِ وَطُولَ الْعُمْرِ نِسْبِيٌّ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِذَلِكَ أَنَّ مَنْ يَصِلُ رَحِمَهُ يُزَادُ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُطِيلُ اللهُ عُمْرَهُ حَقِيقَةً وَلَكِنَّ هَذَا إِنَّمَا هُوَ فِي الصُّحُفِ الَّتِي بِأَيْدِي الْمَلَائِكَةِ وَأَمَّا فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَمَا فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ وَعَلَى ذَلِكَ دَلَّ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

وَأُمُّ الْكِتَابِ: اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَالصُّحُفُ الَّتِي بِأَيْدِي الْمَلَائِكَةِ يُكْتَبُ فِيهَا بِأَنَّ عُمْرَ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ مَثَلًا سِتُّونَ إِلَّا إِنْ وَصَلَ رَحِمَهُ فَعُمْرُهُ سَبْعُونَ وَالَّذِي يُكْتَبُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ أَنَّ عُمْرَهُ سَبْعُونَ

وَيُكْتَبُ فِي الصُّحُفِ الَّتِي بِأَيْدِي الْمَلَائِكَةِ بِأَنَّ رِزْقَ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ كَذَا فَإِنْ وَصَلَ رَحِمَهُ فَيَكُونُ رِزْقُهُ كَذَا وَالَّذِي فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ هُوَ رِزْقُهُ بَعْدَ الْبَسْطِ وَالزِّيَادَةِ

وَهَذَا مَعْنَى الْآيَةِ: يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

فَالصُّحُفُ الَّتِي بِأَيْدِي الْمَلَائِكَةِ يَدْخُلُهَا الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ لَكِنْ مَا يَنْتَهِي إِلَيْهِ الْأَمْرُ هُوَ الَّذِي يُكْتَبُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَلَا يَدْخُلُهُ الْمَحْوُ وَلَا الْإِثْبَاتُ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ

هَذَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ: أَنَّ بَسْطَ الرِّزْقِ وَطُولَ الْعُمْرِ إِنَّمَا يَكُونُ بِالنِّسْبَةِ لِلصُّحُفِ الَّتِي بِأَيْدِي الْمَلَائِكَةِ وَأَمَّا مَا فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَلَا يَدْخُلُهُ مَحْوٌ وَلَا إِثْبَاتٌ وَلَا زِيَادَةٌ وَلَا نَقْصٌ وَإِلَى هَذَا تَدُلُّ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.