Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?”

“Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan:

Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya.

Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah.

Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya.

Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga.

Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya.

Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu.

Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian.

======================================================================================================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ

مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟

وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟

أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ

رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ

وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ

الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ

وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ

وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ

لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ

وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ

وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ

فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ

وَلِذَلِكَ

نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ

فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ

وَيُقَلْقِلُ

وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ

وَالْمَدَّ الْجَائِزَ

وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ

كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ

هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ

وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ

فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ

كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ

وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَأَمَّا الْإِطَالَةُ

فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ

وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ

أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ

أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ

لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا

فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ

أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ

وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا

فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ

وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم

 

Renungkan ini Sebelum Kau Sakit – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Renungkan ini Sebelum Kau Sakit – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya …” maksudnya, merugi dengan keduanya, karena banyak orang tidak bisa memanfaatkan dua nikmat ini. “… yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Allah memberikan Anda kesehatan dan keselamatan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seorang hamba yang lebih baik setelah yakin, melainkan kesehatan.” (HR. Tirmizi) Jadi, kesehatan adalah nikmat yang agung, karena orang yang sakit mungkin tidak mampu melakukan banyak amal ketaatan. Sakit menghalangi Anda dari banyak ketaatan.

Hari ini Anda sehat, bisa berjalan ke masjid, kuat berpuasa di siang hari, mampu melakukan Salat Malam, bisa menghafal al-Quran, mampu berdakwah mengajak kepada Allah, dan sanggup membantu orang yang kesulitan. Namun besok, mungkin Anda terhalang dari berbagai amal ketaatan ini. Anda terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak. Anda berharap bisa bersujud kepada Allah walaupun satu kali, ingin memperlama sujud dan salat Anda, dan berangan-angan bisa berjalan ke masjid. Namun, Anda terhalang dari semua ini, dan mungkin karena rasa sakit yang sangat, hingga Anda tidak bisa menikmati zikir dan bacaan al-Quran Anda.

Andai kata orang yang sakit berusaha sekuat tenaga, tetap tak bisa diragukan bahwa di kala sehat dan selamat seseorang mampu menikmati seninya beribadah kepada Allah, maksudnya dengan berbagai jenisnya, sehingga bisa melakukan beragam ketaatan. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah Ta’ālā agar membantu kita memanfaatkan nikmat yang besar ini.

======================================================================================================

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

يَعْنِي خَسِرَهُمَا

وَمَا اسْتَغَلَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَاتَيْنِ النِّعْمَتَيْنِ

الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

أَعْطَاكَ اللهُ تَعَالَى الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ

وَكَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: مَا أُوتِيَ عَبْدٌ

بَعْدَ الْيَقِينِ أَعْظَمُ مِنَ الْعَافِيَةِ

فَالْعَافِيَةُ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ

لِأَنَّ الْإِنْسَانَ الْمَرِيضَ رُبَّمَا مَا يَسْتَطِيعُ

أَنْ يُؤَدِّيَ كَثِيرًا مِنَ الطَّاعَاتِ

يَحُوْلُ الْمَرَضُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ كَثِيرٍ مِنَ الطَّاعَاتِ

الْيَوْمَ أَنْتَ صَحِيحٌ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَى الْمَسْجِدِ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ النَّهَارَ

تَسْتَطِيعُ أَنَّ تَقُومَ اللَّيْلَ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَحْفَظَ الْقُرْآنَ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَدْعُوَ إِلَى اللهِ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تُسَاعِدَ الْمُحْتَاجِيْنَ

لَكِنْ غَدًا رُبَّمَا يُحَالُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ هَذِهِ الطَّاعَاتِ

تَكُونُ قَعِيدَ الْفِرَاشِ

لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَحَرَّكَ

تَتَمَنَّى أَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً

تَتَمَنَّى أَنْ تُطِيلَ فِي سُجُودِكَ وَفِي قِيَامِكَ

تَتَمَنَّى أَنْ تَمْشِيَ إِلَى بَيْتِ اللهِ

لَكِنْ حِيْلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ هَذَا

رُبَّمَا بِسَبَبِ الْآلَامِ

رُبَّمَا مَا تَسْتَطِيعُ حَتَّى أَنْ تَسْتَمْتِعَ

بِذِكْرِكَ أَوْ قِرَاءَتِكَ لِلْقُرْآنِ

وَإِنْ كَانَ الْمَرِيضُ جَاهِدَ نَفْسَهُ لَكِنْ

لَا شَكَّ أَنَّ وَقْتَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ

يَسْتَطِيعُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَفَنَّنَ فِي عِبَادَةِ اللهِ فِي فُنُونِهَا

يَعْنِي فِي أَنْوَاعِهَا وَيُنَوِّعُ فِي الطَّاعَاتِ

فَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا

عَلَى اسْتِغْلَالِ هَذِهِ النِّعْمَةِ الْعَظِيمَةِ

 

4 Cara Tasbih Sesudah Shalat Wajib – Syaikh Samiy Ash-Shuqair #NasehatUlama

4 Cara Tasbih Sesudah Shalat Wajib – Syaikh Samiy Ash-Shuqair #NasehatUlama Tasbih setelah Salat Wajib. Kebanyakan orang, setelah Salat Wajib, mengucapkan: SUBHANALLAH 33 kali, ALHAMDULILLAH 33 kali, ALLAHU AKBAR 33 kali, kemudian mengucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIR. Padahal sunahnya yang diajarkan oleh Rasulullah ṣallallaāhu …

Baca selengkapnya…4 Cara Tasbih Sesudah Shalat Wajib – Syaikh Samiy Ash-Shuqair #NasehatUlama

Takutlah Seperti Mikail – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takutlah Seperti Mikail – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Di dalamnya juga ada riwayat darinya, bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril, “Kenapa aku belum pernah melihat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Dia tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.” (HR. Ahmad) Beliau berkata, “Kenapa aku …” Dia berkata, “Di dalamnya …” maksudnya dalam …

Baca selengkapnya…Takutlah Seperti Mikail – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

5 Adab Berdoa agar Doa Mustajab – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

5 Adab Berdoa agar Doa Mustajab – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara adab ketika berdoa: PERTAMA: adalah seseorang mengawali doanya dengan memuji dan menyanjung Allah, KEDUA:
lalu berselawat kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, KETIGA:
kemudian bertawasul kepada Allah ʿAzza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang agung, bertawasul kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dengan nama-Nya yang sesuai dengan permohonannya.

Jika dia meminta ampunan, hendaknya berkata: “Wahai Yang Maha Pengampun, ampuni aku.” atau ucapkan: “Wahai Tuhanku, ampuni dan rahmati aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemberi Rahmat.” Jika dia meminta rezeki, hendaknya berkata: “Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki, berilah aku rezeki.”

Demikianlah, hendaknya bertawasul kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berselawat kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180)

Hendaknya seseorang bersungguh-sungguh dalam doanya, dan merendahkan diri di hadapan Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa dalam salatnya, akan tetapi tanpa memuji Allah Ta’ālā dan tidak berselawat atas Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” Lalu beliau memanggilnya dan berkata, “Apabila salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah Ta’ālā, lalu berselawat atas Nabi-Nya Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdoa sekehendaknya.” (HR. Tirmizi)

Jadi, apabila seseorang berdoa, hendaklah memulai doanya dengan memuji Allah: “Ya Allah, sungguh aku memuji-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menyanjung-Mu, aku haturkan selawat dan salam atas hamba dan utusan-Mu, Muhammad. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan bertawasul dengan kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, Yang tidak ada sesembahan Yang berhak disembah selain Engkau, Yang Maha Esa, yang semua makhluk bergantung pada-Nya, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Yang tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya, …” (HR. Abu Dawud) bertawasul dengan kalimat-kalimat pembuka yang agung ini, yang akan menjadi salah satu sebab dikabulkannya doa seorang hamba.

Yang paling utama, penting, dan dibutuhkan KEEMPAT:adalah keyakinannya kepada Allah ʿAzza wa Jalla KELIMA:
dan menghadirkan hatinya. Sebagaimana firman Allah ʿAzza wa Jalla,“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara lembut.” (QS. Al-A’raf: 55)

======================================================================================================

وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ

أَنْ يَسْتَفْتِحَ الْإِنْسَانُ دُعَاءَهُ

بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَيَتَوَسَّلُ… إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَا

وَيَتَوَسَّلُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْاِسْمِ الَّذِي يُوَافِقُ حَاجَتَهُ

فَإِنْ طَلَبَ مَغْفِرَةً

قَالَ: يَا غَفُورُ اغْفِرْ لِي

أَوْ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي

إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

وَإِنْ طَلَبَ رِزْقًا

قَالَ: يَا رَزَّاقُ ارْزُقْنِي

وَهَكَذَا فَيَتَوَسَّلُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِحَمْدِهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ تَعَالَى: وَلِلهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

فَادْعُوْهُ بِهَا

فَيَجْتَهِدُ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ

وَيَتَضَرَّعُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

وَقَدْ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا

يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى

وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَقَالَ: عَجِلَ هَذَا

ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ

بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ثُمَّ لِيَدْعُوَ بِمَا شَاءَ

فَإِذَا دَعَا الْإِنْسَانُ لِيَسْتَفْتِحَ دَعْوَتَهُ بِحَمْدِ اللهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَحْمَدُكَ وَأَشْكُرُكَ وَأُثْنِي عَلَيْكَ

وَأُصَلِّي وَأَسَلِّمُ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ

أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

مِنْ هَذِهِ الْمُقَدِّمَاتِ الْعَظِيمَةِ

الَّتِي تَكُونُ سَبَبًا فِي إِجَابَةِ دَعْوَةِ الْعَبْدِ

وَأَعْظَمُ ذَلِكَ وَأَحْضُرُهُ وَأَهَمُّهُ

ثِقَتُهُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَحُضُورُ قَلْبِهِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً

 

Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Meraih puncak peribadatan adalah perkara yang agung, tidak seperti yang kita sangka. Kita salat, berzikir kepada Allah, dan puasa, tapi mungkin tidak merasakan khusyuk dalam hati kita. Kita memohon keselamatan dan kebaikan kepada Allah Ta’ālā.

Renungkan, bagaimana pikiran seperti ini terlintas dalam salat, tentang emas, bagaimana bisa mengganggu hati Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, hingga beliau cepat-cepat keluar dan terburu-buru untuk segera melepaskan diri darinya, lalu beliau bersabda, “Aku tidak suka emas itu menahan diriku.” (HR. Muslim) “menahan diriku” yaitu menahan hati dari khusyuk menghadap Allah. Mahasuci Allah!

Inilah sebabnya, salah seorang sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka—berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari terpecahnya fokus atau kacaunya hati.” Mereka bertanya, “Bagaimana itu?” Dia berkata, “Ketika kamu sudah punya harta di setiap lembah.” artinya, ketika seseorang sudah memiliki banyak harta dunia hingga kacau hatinya karena memikirkannya, dia sibuk memikirkan bangunannya, pertaniannya, dan perniagaannya berpikir dan terus berpikir, tak pernah selesai, sampai saat berdiri dalam salatnya pun masih memikirkannya. Hal itu mengganggunya, karena beginilah tabiat manusia.

Wahai Saudaraku, hati manusia disebut “qalbu” karena ‘taqallub’ (berbolak-balik), dan setan menjadikannya jalan untuk memasukkan was-was. Namun, ini hanya terjadi pada hati yang sudah mencintai dunia dan terkait dengannya. Adapun orang mukmin yang mengetahui hakikat dunia dan kerendahannya, yang tidak bernilai, terbatas hari-harinya, dan semua yang ada padanya pasti sirna. “Semua yang ada padanya akan binasa, dan wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan yang kekal.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 27)

Berapa pun banyak dan melimpah harta benda dan perniagaan seseorang, akan tetapi hatinya tidak terikat dengan dunia. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—adalah pedagang. Utsman—semoga Allah meridainya—juga pedagang. Tidak masalah! Masalahnya adalah jika hati sudah terkait. Dunia tidak ada di hati para sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka— tapi dunia hanya ada di tangan mereka, bukanlah di hati. Namun, hari ini, keadaannya terbalik.

======================================================================================================

هَذِهِ الْعُبُودِيَّةُ تَحْقِيقُهَا أَمْرٌ عَظِيمٌ

لَيْسَ كَمَا… نَظُنُّ نَحْنُ

نَحْنُ نُصَلِّي وَنَذْكُرُ اللهَ وَنَصُومُ

وَرُبَّمَا مَا نَشْعُرُ بِالْخُشُوعِ فِي قُلُوبِنَا

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

تَأَمَّلْ كَيْفَ أَنَّ مِثْلَ هَذَا الْفِكْرِ الَّذِي يَصِيرُ فِي الصَّلَاةِ

فِي الذَّهَبِ كَيْفَ كَدَّرَ قَلْبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَخَرَجَ فَزِعًا مُسْرِعًا بَعْدَ الصَّلَاةِ لِيَتَخَلَّصَ مِنْهُ

وَقَالَ: كَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي

يَحْبِسَنِي- يَحْبِسُ قَلْبِي عَلَى الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

سُبْحَانَ اللهِ

وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ يَقُولُ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ تَفْرِقَةِ الْهَمِّ أَوْ تَفْرِقَةِ الْقَلْبِ

قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَنْ يَكُونَ لَكَ فِي كُلِّ وَادٍ مَالٌ

يَعْنِي رُبَّمَا يَكْثُرُ مَتَاعُ الدُّنْيَا عَلَى الْإِنْسَانِ

فَيَتَفَرَّقُ قَلْبُهُ فِيهِ

يُفَكِّرُ فِي بِنَايَتِهِ فِي مَزْرَعَتِهِ وَيُفَكِّرُ فِي تِجَارَتِهِ

يُفَكِّرُ يُفَكِّرُ مَا يَنْتَهِي التَّفْكِيرُ

حَتَّى إِذَا قَامَ فِي صِلَاتِهِ يُفَكِّرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ

تَهْجُمُ عَلَيْهِ وَهَذَا مِنْ طَبْعِ الْإِنْسَانِ

الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَةُ قَلْبُهُ مَا سُمِّيَ قَلْبًا إِلَّا مِنْ تَقَلُّبِهِ

وَالشَّيْطَانُ جُعِلَ لَهُ السَّبِيلُ فِي الْوَسْوَسَةِ

لَكِن هَذَا إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ

إِذَا أَحَبَّ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِهَا

أَمَّا الْمُؤْمِنُ الَّذِي عَرَفَ حَقِيقَاتِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتَهَا

وَأَنَّهَا لَا شَيْءَ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَكُلُّ مَا فِيهَا يَذْهَبُ

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَى ٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

فَمَهْمَا كَثُرَ مَالُهُ وَكَثُرَ مَتَاعُهُ وَكَثُرَتْ تِجَارَتُهُ

لَا يَتَعَلَّقُ الْقَلْبُ بِهَا

أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

مَا يَمْنَعُ لَكِن الْمُشْكِلَةُ فِي تَعَلُّقِ الْقُلُوبِ

الدُّنْيَا مَا كَانَتْ فِي قُلُوبِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

كَانَتْ فِي أَيْدِيِهِمْ لَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ

لَكِنَّ الْيَوْمَ انْعَكَسَتِ الْمَسْأَلَةُ