Penulis menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia.” (HR. Bukhari & Muslim).
Penafsiran hadis ini dijelaskan dalam riwayat lain bahwa beliau menyebutkan tentang kentut, lalu bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang juga keluar darinya?” “Sesuatu yang juga keluar darinya” merujuk pada angin yang keluar disertai dengan suara, yakni kentut dan yang semacamnya.
Tindakan ini tentu tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang. Sebab, hal itu bertentangan dengan rasa malu, sedangkan rasa malu adalah bagian dari iman. Karena malu bagian dari iman, maka ketika berada di suatu majelis, seseorang tidak boleh melakukan hal itu. Ia tidak boleh sengaja kentut atau semacamnya di hadapan orang lain. Namun, jika itu terjadi pada seseorang tanpa sengaja, maka sepantasnya orang lain tidak menertawakannya.
Bagaimana mungkin Anda menertawakan orang lain, padahal Anda sendiri melakukan hal yang sama? Oleh sebab itu, perawi menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang ia juga mengeluarkannya?” Artinya, ini adalah tanda kurangnya akal sehat, jika seseorang menertawakan sesuatu yang juga keluar dari dirinya sendiri. Sebab, itu bukan hal asing, tidak hanya ia, itu juga terjadi pada Anda, si A dan si B.
Jika hal itu terjadi pada seseorang, bisa jadi itu keluar tanpa unsur kesengajaan. Mungkin ia sedang mengalami gangguan pada usus besar. Mungkin ia sekadar bergerak, lalu tiba-tiba angin itu keluar begitu saja. Maka, tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menertawakannya. Karena tawa Anda hanya akan membuatnya merasa sangat malu.
Dahulu pada zaman jahiliah, apabila ada seseorang yang kentut, orang-orang akan menertawakannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kebiasaan tersebut. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa kita hendaknya bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu ketika mendengar suara kentut. Jika itu terjadi, sepantasnya berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa.
Ini berlaku jika itu terjadi pada salah seorang di majelis tanpa disengaja. Sebab, menertawakan orang yang tidak sengaja melakukan itu dapat membuatnya sangat malu. Bayangkan jika hal itu terjadi pada seseorang seumpama punya problem di usus besarnya, lalu tiba-tiba suara kentut itu terdengar. Kemudian semua orang di majelis tertawa, bagaimana kira-kira perasaannya? Tidak diragukan lagi, pasti ia sangat terganggu.
Maka dari itu, Islam mendidik adab para pengikutnya. Hendaknya kita bersikap tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Ini merupakan bagian dari akhlak mulia, apabila hal semacam ini terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mendengar apa pun.
=====
ثُمَّ سَاقَ الْمُصَنِّفُ بِسَنَدِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ
جَاءَ تَفْسِيرُ هَذَا فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى أَنَّهُ يَعْنِي ذَكَرَ الضَّرْطَةَ ثُمَّ قَالَ لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ وَمِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ هُوَ مَا يَخْرُجُ مِنَ الرِّيحِ الْمَصْحُوبَةِ بِالصَّوْتِ وَيَعْنِي كَضُرَاطٍ وَنَحْوِهِ
فَهَذَا لَا يَتَعَمَّدُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي الْحَيَاءَ وَالْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ لَا يَفْعَلُ هَذَا لَا يَتَعَمَّدُ أَنْ يَأْتِيَ بِالضُّرَاطِ وَنَحْوِهِ أَمَامَ الْآخَرِينَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ مِنْ أَحَدٍ رَغْمًا عَنْهُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَلَّا يَضْحَكَ مِنْهُ
كَيْفَ تَضْحَكُ مِنْ إِنْسَانٍ وَأَنْتَ يَخْرُجُ مِنْكَ مِثْلُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي هَذَا مِنْ قِلَّةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْحَكُ مِنْ شَيْءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي لَيْسَ شَيْئًا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ يَخْرُجُ مِنْكَ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ
لَكِنْ قُدِّرَ أَنَّ هَذَا الْإِنْسَانَ يَعْنِي خَرَجَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ قَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ مَثَلًا مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ قَدْ يَكُونُ تَحَرَّكَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ هَذِهِ الضَّرْطَةُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ فَلَا يَلِيقُ بِالْعَاقِلِ أَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْهُ لِأَنَّ هَذَا الضَّحِكَ مِمَّا يُخَجِّلُهُ
وَقَدْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَعَ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ ضَرْطَةٌجَعَلُوا يَضْحَكُونَ مِنْهُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّهُ يَنْبَغِي الْإِغْمَاضُ وَالتَّجَاهُلُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الضُّرَاطِ وَأَنَّهُ إِذَا وَقَعَ فَالْمَطْلُوبُ التَّغَافُلُ عَنْهُ
وَهَذَا إِذَا وَقَعَ يَعْنِي مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِأَنَّ الضَّحِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ هَذَا الشَّيْءُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ هَذَا يُسَبِّبُ لَهُ حَرَجًا عَظِيمًا لَوْ حَصَلَ هَذَا مِنْ إِنْسَانٍ مَثَلًا عِنْدَهُ مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ هَذَا الصَّوْتُ فَضَحِكَ جَمِيعُ مَنْ فِي الْمَجْلِسِ فَكَيْفَ تَكُونُ مَشَاعِرُهُ؟ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ كَثِيرًا
فَيَعْنِي الْإِسْلَامُ أَدَّبَ أَتْبَاعهُ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّغَافُلُ كَأَنَّكَ مَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَهَذَا مِنْ مَكَارِمِ الْخُلُقِ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ مِثْلُ هَذَا لِلْإِنْسَانِ يَعْنِي كَأَنَّهُ مَا سَمِعَ شَيْئًا