Penanya berkata, “Syaikh yang mulia, saya seorang pemuda yang tampak saleh dan hafal sebagian besar Al-Qur’an. Namun diam-diam saya bermaksiat, di antaranya kebiasaan rahasia (onani).
Apakah menampakkan kesalehan sambil menyembunyikan maksiat ini termasuk kemunafikan? Dan apa obat terbaik untuk penyakit onani ini?”
Ini tidak terhitung nifak. Seseorang yang menutup diri dengan tutupan Allah ketika bermaksiat kepada-Nya, itu bukanlah kemunafikan. Sebab ia takut kepada Allah, gentar kepada Allah, beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengakui kesalahannya, dan malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang seperti ini bukan munafik. Justru yang sepatutnya, bila seseorang berbuat maksiat, ia tidak memberitahukannya kepada siapa pun.
Dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang terang-terangan, yaitu mereka yang berbuat maksiat, lalu pagi harinya menceritakannya kepada orang-orang.” (Muttafaq ‘alaih) Orang seperti ini tidak termasuk yang dimaafkan.
Tidak ada yang lebih penyayang kepadamu daripada Allah, dan tidak ada yang lebih gembira dengan tobat daripada Allah. Bila engkau berbuat salah dan tidak memberitahukannya kepada siapa pun, perkaranya menjadi antara engkau dan siapa? Antara engkau dan Allah! Dan selesailah masalahnya.
Maka kami katakan kepada saudara penanya: tutupilah dirimu dengan tutupan Allah, itu bukan nifak. Dan bersungguh-sungguhlah bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha.
Jika engkau diuji dengan perkara ini, renungkanlah bahwa ini perbuatan haram, dan ia berdampak buruk bagi tubuh, terlebih bagi masa depan seseorang. Orang yang berakal menjadikan akalnya sebagai penentu. Orang berakal adalah orang yang akalnya mengalahkan syahwatnya. Jauhilah perkara ini dan sibukkan dirimu dengan yang lain.
Lalu berupayalah untuk menikah, berusahalah segera menikah, berdasarkan sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah, menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih)
=====
سَائِلٌ يَقُولُ: فَضِيلَةَ الشَّيْخِ، أَنَا شَابٌّ ظَاهِرِي الِالْتِزَامُ، وَأَحْفَظُ جُلَّ الْقُرْآنِ إِلَّا أَنَّنِي أُبْطِنُ مَعَاصِيَ وَمِنْهَا الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ
هَلْ مِنَ النِّفَاقِ إِظْهَارِي لِلِالْتِزَامِ وَإِبْطَانِي لِهَذِهِ الْمَعْصِيَةِ؟ وَمَا هُوَ الْعِلَاجُ الْأَمْثَلُ لِدَاءِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ؟
هَذَا لَا يُعَدُّ نِفَاقًا كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَسْتَتِرُ بِسِتْرِ اللَّهِ فِي مَعَاصِي اللَّهِ هَذَا لَيْسَ بِنِفَاقٍ لِأَنَّهُ يَخْشَى اللَّهَ وَيَخَافُ اللَّهَ، وَهُوَ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمُعْتَرِفٌ بِخَطِيئَتِهِ وَخَجِلٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا لَيْسَ بِمُنَافِقٍ وَالَّذِي يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ إِذَا فَعَلَ مَعْصِيَةً أَلَّا يُخْبِرَ أَحَدًا بِذَلِكَ
فَفِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ الَّذِينَ يَفْعَلُونَ الْمَعْصِيَةَ، ثُمَّ يُصْبِحُونَ يُحَدِّثُونَ بِهَا النَّاسَ هَذَا مَا هُوَ فِي عَافِيَةٍ
لَا أَحَدَ أَرْأَفُ بِكَ مِنَ اللَّهِ، وَلَا أَحَدَ أَفْرَحُ بِالتَّوْبَةِ مِنَ اللَّهِ فَإِذَا أَسَأْتَ وَلَمْ تُخْبِرْ أَحَدًا، صَارَتِ الْمَسْأَلَةُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَنْ؟ وَبَيْنَ اللَّهِ! وَانْتَهَتِ الْمُشْكِلَةُ
فَنَقُولُ لِلْأَخِ: اسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ، وَلَيْسَ هَذَا مِنَ النِّفَاقِ وَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تَتُوبَ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
وَإِذَا كُنْتَ مُبْتَلًى بِهَذَا الْأَمْرِ، فَتَفَكَّرْ فِيهِ أَنَّهُ حَرَامٌ وَلَهُ آثَارٌ سَيِّئَةٌ عَلَى الْبَدَنِ، وَلَا سِيَّمَا عَلَى مُسْتَقْبَلِ الْإِنْسَانِ وَالْإِنْسَانُ الْعَاقِلُ يُحَكِّمُ الْعَقْلَ وَالْعَاقِلُ هُوَ مَنْ يَغْلِبُ عَقْلُهُ شَهْوَتَهُ تَجَنَّبْ هَذَا وَتَلَهَّ عَنْهُ
ثُمَّ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَتَزَوَّجَ، احْرِصْ عَلَى أَنْ تَتَزَوَّجَ مُبَكِّرًا لِقَوْلِ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ