بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
١ – تَفُتُّ فُؤَادَكَ الأَيَّامُ فَتَّا … وَتَنْحِتُ جِسْمَكَ السَّاعَاتُ نَحْتَا
Hari demi hari meremukkan hatimu … dan jam demi jam menyusutkan tubuhmu.
٢ – وَتَدْعُوكَ المَنُونُ دُعَاءَ صِدْقٍ … أَلَا يَا صَاحِ، أَنْتَ أُرِيدُ أَنْتَا
Kematian memanggilmu dengan panggilan yang pasti …
“Wahai sahabatku, engkaulah yang kuinginkan. Ya, engkau!”
٣ – أَرَاكَ تُحِبُّ عِرْساً ذَاتَ غَدْرٍ … أَبَتَّ طَلَاقَهَا الأَكْيَاسُ بَتَّا
Kulihat engkau mencintai istri yang gemar mengingkari janji, yaitu dunia …
padahal orang-orang berakal telah menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk.
٤ – تَنَامُ الدَّهْرَ – وَيْحَكَ – فِي غَطِيطٍ … بِهَا، حَتَّى إِذَا مِتَّ انْتَبَهْتَا
Duhai malangnya engkau! Sepanjang masa engkau tertidur mendengkur bersamanya …
hingga ketika mati, barulah engkau tersadar.
٥ – فَكَمْ ذَا أَنْتَ مَخْدُوعٌ وَحَتَّى … مَتَى لَا تَرْعَوِي عَنْهَا وَحَتَّى؟
Berapa lama lagi engkau akan terus tertipu? …
Sampai kapan engkau tak juga menahan diri dan jera darinya? Sampai kapan?
٦ – «أَبَا بَكْرٍ» دَعَوْتُكَ لَوْ أَجَبْتَا … إِلَى مَا فِيهِ حَظُّكَ إِنْ عَقَلْتَا
Wahai Abu Bakar, putraku, aku menyerumu, andai engkau mau menyambut …
kepada sesuatu yang di dalamnya ada bagian kebaikan bagimu, jika engkau berakal.
٧ – إِلَى عِلْمٍ تَكُونُ بِهِ إِمَاماً … مُطَاعاً إِنْ نَهَيْتَ وَإِنْ أَمَرْتَا
Kepada ilmu yang dengannya engkau menjadi seorang imam …
yang ditaati ketika melarang maupun memerintah.
٨ – وَيَجْلُو مَا بِعَيْنِكَ مِنْ عَشَاهَا … وَيَهْدِيكَ السَّبِيلَ إِذَا ضَلَلْتَا
Ilmu menyingkap rabun yang melemahkan penglihatan matamu …
dan menunjukkan jalan kepadamu ketika engkau tersesat.
٩ – وَتَحْمِلُ مِنْهُ فِي نَادِيكَ تَاجاً … وَيَكْسُوكَ الجَمَالَ إِذَا اغْتَرَبْتَا
Di tengah majelismu, ilmu menjadi mahkota yang engkau kenakan …
dan menghiasimu dengan keindahan ketika engkau di perantauan.
١٠ – يَنَالُكَ نَفْعُهُ مَا دُمْتَ حَيّاً … وَيَبْقَى ذُخْرُهُ لَكَ إِنْ ذَهَبْتَا
Manfaatnya terus engkau peroleh selama engkau hidup …
dan simpanannya tetap menjadi milikmu setelah engkau tiada.
١١ – هُوَ العَضْبُ المُهَنَّدُ لَيْسَ يَنْبُو … تُصِيبُ بِهِ مَقَاتِلَ مَنْ ضَرَبْتَا
Ilmu laksana pedang India yang tajam, tak pernah meleset dari sasaran …
dengannya engkau mengenai titik mematikan orang yang engkau tebas.
١٢ – وَكَنْزٌ لَا تَخَافُ عَلَيْهِ لِصّاً … خَفِيفُ الحَمْلِ يُوجَدُ حَيْثُ كُنْتَا
Ilmu adalah harta simpanan yang tak perlu engkau khawatirkan dicuri …
ringan dibawa, dan selalu ada bersamamu di mana pun engkau berada.
١٣ – يَزِيدُ بِكَثْرَةِ الإِنْفَاقِ مِنْهُ … وَيَنْقُصُ إِنْ بِهِ كَفّاً شَدَدْتَا
Ilmu bertambah ketika semakin banyak engkau bagikan …
dan berkurang ketika engkau menggenggamnya erat-erat.
١٤ – فَلَوْ قَدْ ذُقْتَ مِنْ حَلْوَاهُ طَعْماً … لَآثَرْتَ التَّعَلُّمَ وَاجْتَهَدْتَا
Seandainya engkau telah mencicipi manisnya ilmu …
niscaya engkau lebih memilih belajar dan bersungguh-sungguh.
١٥ – وَلَمْ يَشْغَلْكَ عَنْهُ هَوىً مُطَاعٌ … وَلَا دُنْيَا بِزُخْرُفِهَا فُتِنْتَا
Hawa nafsu yang dituruti tak akan menyibukkanmu darinya …
tidak pula dunia dengan segala gemerlapnya akan memikatmu.
١٦ – وَلَا أَلْهَاكَ عَنْهُ أَنِيقُ رَوْضٍ … وَلَا خِدْرٌ بِرَبْرَبِهِ كَلِفْتَا
Taman yang indah tak akan melalaikanmu darinya …
tidak pula gadis-gadis jelita di balik tirai pingitan yang membuatmu jatuh hati.
١٧ – فَقُوتُ الرُّوحِ أَرْوَاحُ المَعَانِي … وَلَيْسَ بِأَنْ طَعِمْتَ وَأَنْ شَرِبْتَا
Sebab makanan bagi ruh adalah makna-makna yang menghidupkan hati …
bukan sekadar apa yang engkau makan dan minum.
١٨ – فَوَاظِبْهُ وَخُذْ بِالجِدِّ فِيهِ … فَإِنْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ أَخَذْتَا
Maka tekunilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah padanya …
sebab bila Allah menganugerahkannya kepadamu, engkau pun meraihnya.
١٩ – وَإِنْ أُوتِيتَ فِيهِ طُولَ بَاعٍ … وَقَالَ النَّاسُ إِنَّكَ قَدْ سَبَقْتَا
Jika engkau dikaruniai penguasaan yang luas dan mendalam dalam ilmu …
dan orang-orang berkata bahwa engkau telah mengungguli yang lain,
٢٠ – فَلَا تَأْمَنْ سُؤَالَ اللَّهِ عَنْهُ … بِتَوْبِيخٍ: عَلِمْتَ؛ فَهَلْ عَمِلْتَا؟
jangan merasa aman dari pertanyaan Allah tentang ilmu itu …
dengan teguran, “Engkau telah mengetahui, lalu apakah engkau mengamalkannya?”
٢١ – فَرَأْسُ العِلْمِ تَقْوَى اللَّهِ حَقّاً … وَلَيْسَ بِأَنْ يُقَالَ: لَقَدْ رَأَسْتَا
Sebab puncak ilmu yang sebenarnya adalah bertakwa kepada Allah …
bukan sekadar agar dikatakan, “Engkau telah menjadi pemimpin.”
٢٢ – وَضَافِي ثَوْبِكَ الإِحْسَانُ، لَا أَنْ … تُرَى ثَوْبَ الإِسَاءَةِ قَدْ لَبِسْتَا
Hendaklah pakaianmu yang lapang menutupi itu adalah ihsan …
bukan agar engkau terlihat telah mengenakan pakaian keburukan.
٢٣ – إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ العِلْمُ خَيْراً … فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَا
Jika ilmu tidak mendatangkan kebaikan bagimu …
maka lebih baik seandainya engkau tetap tidak mengetahuinya.
٢٤ – وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ … فَلَيْتَكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَا
Jika pemahamanmu justru menjatuhkanmu ke jurang-jurang yang dalam …
alangkah baiknya, sungguh alangkah baiknya, jika dahulu engkau tidak memahaminya.
٢٥ – سَتَجْنِي مِنْ ثِمَارِ العَجْزِ جَهْلاً … وَتَصْغُرُ فِي العُيُونِ وَإِنْ كَبِرْتَا
Engkau akan menuai kebodohan sebagai buah dari kelemahanmu …
dan menjadi kecil di mata manusia meskipun usiamu bertambah tua.
٢٦ – وَتُفْقَدُ إِنْ جَهِلْتَ وَأَنْتَ بَاقٍ … وَتُوجَدُ إِنْ عَلِمْتَ وَإِنْ فُقِدْتَا
Engkau seakan tiada jika bodoh, meskipun masih hidup …
dan seakan tetap ada jika berilmu, meskipun engkau telah tiada.
٢٧ – وَتَذْكُرُ قَوْلَتِي لَكَ بَعْدَ حِينٍ … وَتَغْبِطُهَا إِذَا عَنْهَا شُغِلْتَا
Kelak engkau akan mengingat nasihatku ini …
dan memandangnya sebagai kebaikan, ketika engkau telah tersibukkan darinya.
٢٨ – وَسَوْفَ تَعَضُّ مِنْ نَدَمٍ عَلَيْهَا … وَمَا تُغْنِي النَّدَامَةُ إِنْ نَدِمْتَا
Kelak engkau akan menggigit jari karena penyesalan …
namun apa gunanya penyesalan ketika engkau telah menyesal?
٢٩ – إِذَا أَبْصَرْتَ صَحْبَكَ فِي سَمَاءٍ … قَدِ ارْتَفَعُوا عَلَيْكَ وَقَدْ سَفُلْتَا
Ketika engkau melihat teman-temanmu seakan berada di langit …
mereka telah menjulang di atasmu, sedangkan engkau berada di bawah,
٣٠ – فَرَاجِعْهَا وَدَعْ عَنْكَ الهُوَيْنَا … فَمَا بِالبُطْءِ تُدْرِكُ مَا طَلَبْتَا
maka kembalilah menekuni ilmu dan tinggalkan langkah yang lamban …
sebab dengan berlambat-lambat engkau takkan meraih apa yang engkau cari.
٣١ – وَلَا تَحْفِلْ بِمَالِكَ وَالْهَ عَنْهُ … فَلَيْسَ المَالُ إِلَّا مَا عَلِمْتَا
Jangan pedulikan hartamu dan tinggalkan saja ia …
sebab kekayaan sejati hanyalah ilmu yang engkau miliki.
٣٢ – وَلَيْسَ لِجَاهِلٍ فِي النَّاسِ مَعْنىً … وَلَوْ مُلْكُ العِرَاقِ لَهُ تَأَتَّى
Orang bodoh tidak memiliki nilai berarti di tengah manusia …
meskipun kekuasaan atas Irak dimudahkan baginya.
٣٣ – سَيَنْطِقُ عَنْكَ عِلْمُكَ فِي نَدِيٍّ … وَيُكْتَبُ عَنْكَ يَوْماً إِنْ كَتَبْتَا
Ilmumu kelak akan berbicara tentang dirimu di tengah majelis …
dan suatu hari tulisanmu akan dinukil orang, jika engkau menulis.
٣٤ – وَمَا يُغْنِيكَ تَشْيِيدُ المَبَانِي … إِذَا بِالجَهْلِ نَفْسَكَ قَدْ هَدَمْتَا
Apa gunanya engkau mengokohkan dan meninggikan bangunan …
jika dengan kebodohan engkau justru meruntuhkan dirimu sendiri?
٣٥ – جَعَلْتَ المَالَ فَوْقَ العِلْمِ جَهْلاً … لَعَمْرُكَ فِي القَضِيَّةِ مَا عَدَلْتَا
Karena kebodohanmu, engkau menempatkan harta di atas ilmu …
sungguh, dalam perkara ini engkau tidak berlaku adil.
٣٦ – وَبَيْنَهُمَا بِنَصِّ الوَحْيِ بَوْنٌ … سَتَعْلَمُهُ إِذَا «طَهَ» قَرَأْتَا
Padahal antara keduanya ada jarak yang jauh menurut nas wahyu …
engkau akan mengetahuinya ketika membaca Surah Thaha.
٣٧ – لَئِنْ رَفَعَ الغَنِيُّ لِوَاءَ مَالٍ … لَأَنْتَ لِوَاءَ عِلْمِكَ قَدْ رَفَعْتَا
Jika orang kaya mengibarkan panji hartanya …
maka engkau telah mengibarkan panji ilmumu.
٣٨ – وَإِنْ جَلَسَ الغَنِيُّ عَلَى الحَشَايَا … لَأَنْتَ عَلَى الكَوَاكِبِ قَدْ جَلَسْتَا
Jika orang kaya duduk di atas kasur-kasur empuk berisi kapas …
maka engkau seakan telah duduk di atas bintang-bintang.
٣٩ – وَإِنْ رَكِبَ الجِيَادَ مُسَوَّمَاتٍ … لَأَنْتَ مَنَاهِجَ التَّقْوَى رَكِبْتَا
Jika ia menunggang kuda-kuda pilihan bertanda …
maka engkau telah meniti jalan-jalan ketakwaan.
٤٠ – وَمَهْمَا اقْتَضَّ أَبْكَارَ الغَوَانِي … فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الحِكَمِ اقْتَضَضْتَا
Sekalipun ia menggauli para gadis jelita yang masih perawan …
betapa banyak hikmah yang masih perawan telah engkau singkap.
٤١ – وَلَيْسَ يَضُرُّكَ الإِقْتَارُ شَيْئاً … إِذَا مَا أَنْتَ رَبَّكَ قَدْ عَرَفْتَا
Sempitnya penghidupan tidak akan memudaratkanmu sedikit pun …
selama engkau telah mengenal Rabbmu.
٤٢ – فَمَاذَا عِنْدَهُ لَكَ مِنْ جَمِيلٍ … إِذَا بِفِنَاءِ طَاعَتِهِ أَنَخْتَا
Betapa banyak kebaikan yang tersedia di sisi-Nya untukmu …
bila engkau menambatkan diri di pelataran ketaatan kepada-Nya.
٤٣ – فَقَابِلْ بِالقَبُولِ صَحِيحَ نُصْحِي … فَإِنْ أَعْرَضْتَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرْتَا
Maka sambutlah dengan penerimaan nasihatku yang tulus ini …
jika engkau berpaling darinya, sungguh engkau telah merugi.
٤٤ – وَإِنْ رَاعَيْتَهُ قَوْلاً وَفِعْلاً … وَتَاجَرْتَ الإِلَهَ بِهِ رَبِحْتَا
Namun jika engkau mengamalkannya dalam ucapan dan perbuatan …
serta berniaga dengan Allah melaluinya, niscaya engkau beruntung.
٤٥ – فَلَيْسَتْ هَذِهِ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ … تَسُوؤُكَ حِقْبَةً وَتَسُرُّ وَقْتَا
Dunia ini bukanlah sesuatu yang berarti …
ia menyusahkanmu dalam rentang masa yang panjang, dan menyenangkanmu hanya sesaat.
٤٦ – وَغَايَتُهَا إِذَا فَكَّرْتَ فِيهَا … كَفَيْئِكَ أَوْ كَحُلْمِكَ إِنْ حَلَمْتَا
Puncaknya, jika engkau merenungkannya …
dunia hanyalah seperti bayanganmu, atau seperti mimpi yang engkau alami.
٤٧ – سُجِنْتَ بِهَا وَأَنْتَ لَهَا مُحِبٌّ … فَكَيْفَ تُحِبُّ مَا فِيهِ سُجِنْتَا؟
Engkau terpenjara di dunia, tetapi justru mencintainya …
bagaimana mungkin engkau mencintai tempat yang menjadi penjaramu?
٤٨ – وَتُطْعِمُكَ الطَّعَامَ وَعَنْ قَرِيبٍ … سَتَطْعَمُ مِنْكَ مَا مِنْهَا طَعِمْتَا
Dunia memberimu makanan, dan tak lama lagi …
ia akan memakan dari tubuhmu sebagaimana engkau telah memakan darinya.
٤٩ – وَتَعْرَى إِنْ لَبِسْتَ لَهَا ثِيَاباً … وَتُكْسَى إِنْ مَلَابِسَهَا خَلَعْتَا
Engkau sejatinya telanjang bila mengenakan pakaian dunia …
dan engkau akan terbalut kemuliaan bila menanggalkannya.
٥٠ – وَتَشْهَدُ كُلَّ يَوْمٍ دَفْنَ خِلٍّ … كَأَنَّكَ لَا تُرَادُ بِمَا شَهِدْتَا
Setiap hari engkau menyaksikan pemakaman seorang sahabat karib …
seolah-olah kematian yang engkau saksikan itu tidak ditujukan kepadamu.
٥١ – وَلَمْ تُخْلَقْ لِتَعْمُرَهَا وَلَكِنْ … لِتَعْبُرَهَا فَجِدَّ لِمَا خُلِقْتَا
Engkau tidak diciptakan untuk hidup kekal di dunia …
melainkan untuk melintasinya, maka bersungguh-sungguhlah untuk tujuan penciptaanmu.
٥٢ – وَإِنْ هُدِمَتْ فَزِدْهَا أَنْتَ هَدْماً … وَحَصِّنْ أَمْرَ دِينِكَ مَا اسْتَطَعْتَا
Jika dunia telah runtuh, tambahlah keruntuhannya olehmu …
dan kokohkanlah urusan agamamu semampumu.
٥٣ – وَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا … إِذَا مَا أَنْتَ فِي أُخْرَاكَ فُزْتَا
Jangan bersedih atas apa yang luput darimu di dunia …
selama engkau meraih kemenangan di akhiratmu.
٥٤ – فَلَيْسَ بِنَافِعٍ مَا نِلْتَ مِنْهَا … مِنَ الفَانِي، إِذَا البَاقِي حُرِمْتَا
Apa yang engkau raih dari dunia yang fana tidaklah berguna …
jika engkau terhalang dari kenikmatan yang kekal.
٥٥ – وَلَا تَضْحَكْ مَعَ السُّفَهَاءِ لَهْواً … فَإِنَّكَ سَوْفَ تَبْكِي إِنْ ضَحِكْتَا
Jangan tertawa dalam senda gurau bersama orang-orang yang ringan akalnya …
sebab kelak engkau akan menangis jika tenggelam dalam tawa semacam itu.
٥٦ – وَكَيْفَ لَكَ السُّرُورُ وَأَنْتَ رَهْنٌ … وَلَا تَدْرِي أَتُفْدَى أَمْ غَلِقْتَا
Bagaimana mungkin engkau bergembira sementara dirimu tergadai …
dan engkau tak tahu, akankah engkau ditebus, atau tertahan selamanya tanpa dapat ditebus?
٥٧ – وَسَلْ مِنْ رَبِّكَ التَّوْفِيقَ فِيهَا … وَأَخْلِصْ فِي السُّؤَالِ إِذَا سَأَلْتَا
Mintalah taufik kepada Rabbmu dalam semua itu …
dan tuluslah dalam permohonan ketika engkau meminta.
٥٨ – وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافاً … بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّى
Berserulah kepada-Nya ketika bersujud dengan penuh pengakuan …
sebagaimana seruan Dzun Nun, yaitu Yunus bin Matta ‘alaihis salam.
٥٩ – وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعاً عَسَاهُ … سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَا
Teruslah mengetuk pintu-Nya tanpa jemu …
mudah-mudahan Dia membukakan pintu itu bagimu jika engkau terus mengetuk.
٦٠ – وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الأَرْضِ دَأْباً … لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَا
Perbanyaklah mengingat-Nya di bumi dengan tekun terus-menerus …
agar engkau disebut di langit ketika engkau mengingat-Nya.
٦١ – وَلَا تَقُلِ الصِّبَا فِيهِ مَجَالٌ … وَفَكِّرْ كَمْ صَغِيرٍ قَدْ دَفَنْتَا
Jangan berkata, “Masa muda masih panjang.” …
Renungkan, berapa banyak orang muda yang telah engkau kuburkan?
٦٢ – وَقُلْ لِي: يَا نَصِيحُ لَأَنْتَ أَوْلَى … بِنُصْحِكَ، لَوْ بِعَقْلِكَ قَدْ نَظَرْتَا
Lalu katakanlah kepadaku, “Wahai pemberi nasihat yang tulus, engkau lebih pantas …
menerima nasihatmu sendiri, jika engkau mau berpikir dengan akalmu.
٦٣ – تُقَطِّعُنِي عَلَى التَّفْرِيطِ لَوْماً … وَبِالتَّفْرِيطِ دَهْرَكَ قَدْ قَطَعْتَا
Engkau mencercaku habis-habisan karena kelalaianku …
padahal seluruh umurmu sendiri telah engkau habiskan dalam kelalaian.
٦٤ – وَفِي صِغَرِي تُخَوِّفُنِي المَنَايَا … وَمَا تَجْرِي بِبَالِكَ حِينَ شِخْتَا
Ketika aku masih kecil, engkau menakut-nakutiku dengan kematian …
sedangkan setelah engkau menua, kematian tak terlintas dalam pikiranmu.
٦٥ – وَكُنْتَ مَعَ الصِّبَا أَهْدَى سَبِيلاً … فَمَا لَكَ بَعْدَ شَيْبِكَ قَدْ نُكِسْتَا
Ketika muda dahulu jalanmu justru lebih lurus …
lalu mengapa setelah beruban engkau berbalik kepada keburukan?
٦٦ – وَهَا أَنَا لَمْ أَخُضْ بَحْرَ الخَطَايَا … كَمَا قَدْ خُضْتَهُ حَتَّى غَرِقْتَا
Lihatlah aku, belum pernah aku mengarungi lautan dosa …
seperti engkau yang telah mengarunginya hingga tenggelam.
٦٧ – وَلَمْ أَشْرَبْ حُمَيَّا أُمِّ دَفْرٍ … وَأَنْتَ شَرِبْتَهَا حَتَّى سَكِرْتَا
Aku belum meminum arak Ummu Dafr yang memabukkan kepala …
sedangkan engkau telah meminumnya hingga mabuk.
٦٨ – وَلَمْ أَحْلُلْ بِوَادٍ فِيهِ ظُلْمٌ … وَأَنْتَ حَلَلْتَ فِيهِ وَانْهَمَلْتَا
Aku belum pernah singgah di lembah yang penuh kezaliman …
sedangkan engkau tinggal di dalamnya dan berkeliaran tanpa kendali.
٦٩ – وَلَمْ أَنْشَأْ بِعَصْرٍ فِيهِ نَفْعٌ … وَأَنْتَ نَشَأْتَ فِيهِ وَمَا انْتَفَعْتَا
Aku tidak tumbuh pada masa yang penuh manfaat …
sedangkan engkau tumbuh pada masa itu, tetapi tidak mengambil manfaatnya.
٧٠ – وَقَدْ صَاحَبْتَ أَعْلَاماً كِبَاراً … وَلَمْ أَرَكَ اقْتَدَيْتَ بِمَنْ صَحِبْتَا
Engkau telah bergaul dengan tokoh-tokoh besar …
tetapi aku tak melihatmu meneladani orang-orang yang engkau temani.
٧١ – وَنَادَاكَ الكِتَابُ فَلَمْ تُجِبْهُ … وَنَهْنَهَكَ المَشِيبُ فَمَا انْتَبَهْتَا
Al-Qur’an telah memanggilmu, tetapi engkau tidak menjawabnya …
uban telah menghardikmu agar berhenti, tetapi engkau tetap tidak tersadar.
٧٢ – لَيَقْبُحُ بِالفَتَى فِعْلُ التَّصَابِي … وَأَقْبَحُ مِنْهُ شَيْخٌ قَدْ تَفَتَّى
Betapa buruk seorang pemuda yang larut dalam kesia-siaan ala anak-anak …
dan lebih buruk lagi seorang tua yang berlagak muda dalam kesia-siaan itu.
٧٣ – فَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّفْنِيدِ مِنِّي … وَلَوْ سَكَتَ المُسِيءُ لَمَا نَطَقْتَا
Engkau lebih pantas dicela daripada aku …
dan seandainya orang yang bersalah harus diam, tentu engkau pun tak akan berbicara.
٧٤ – وَنَفْسَكَ ذُمَّ لَا تَذْمُمْ سِوَاهَا … بِعَيْبٍ فَهْيَ أَجْدَرُ مَنْ ذَمَمْتَا
Cela dirimu sendiri, jangan cela selainnya karena suatu aib …
sebab dirimulah yang paling pantas menjadi sasaran celaanmu.
٧٥ – فَلَوْ بَكَتِ الدِّمَا عَيْنَاكَ خَوْفاً … لِذَنْبِكَ لَمْ أَقُلْ لَكَ قَدْ أَمِنْتَا
Seandainya kedua matamu menangis darah karena takut akan dosamu …
aku tetap tidak akan berkata kepadamu, ‘Engkau telah aman.’
٧٦ – وَمَنْ لَكَ بِالأَمَانِ وَأَنْتَ عَبْدٌ … أُمِرْتَ فَمَا ائْتَمَرْتَ وَلَا أَطَعْتَا
Siapa yang dapat menjamin keamanan bagimu, padahal engkau hanyalah hamba? …
Engkau diperintah, tetapi tidak melaksanakannya dan tidak taat.
٧٧ – ثَقُلْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَلَسْتَ تَخْشَى … لِجَهْلِكَ أَنْ تَخِفَّ إِذَا وُزِنْتَا
Engkau berat oleh dosa-dosa, tetapi karena kebodohanmu engkau tidak takut …
bahwa kelak timbanganmu justru ringan ketika ditimbang.
٧٨ – وَتُشْفِقُ لِلْمُصِرِّ عَلَى المَعَاصِي … وَتَرْحَمُهُ وَنَفْسَكَ مَا رَحِمْتَا
Engkau merasa iba kepada orang yang terus-menerus bermaksiat …
dan mengasihaninya, tetapi dirimu sendiri tidak engkau kasihani.
٧٩ – رَجَعْتَ القَهْقَرَى وَخَبَطْتَ عَشْوَا … لَعَمْرُكَ لَوْ وَصَلْتَ لَمَا رَجَعْتَا
Engkau berjalan mundur dan melangkah meraba tanpa arah …
sungguh, seandainya engkau telah sampai, tentu engkau tidak akan berbalik.
٨٠ – وَلَوْ وَافَيْتَ رَبَّكَ دُونَ ذَنْبٍ … وَنَاقَشَكَ الحِسَابَ؛ إِذاً هَلَكْتَا
Seandainya engkau menghadap Rabbmu tanpa membawa dosa …
lalu Dia memeriksa hisabmu dengan teliti, niscaya engkau binasa.
٨١ – وَلَمْ يَظْلِمْكَ فِي عَمَلٍ وَلَكِنْ … عَسِيرٌ أَنْ تَقُومَ بِمَا حَمَلْتَا
Dia tidak menzalimimu sedikit pun dalam amalmu …
namun sungguh berat menunaikan apa yang engkau pikul.
٨٢ – وَلَوْ قَدْ جِئْتَ يَوْمَ الفَصْلِ فَرْداً … وَأَبْصَرْتَ المَنَازِلَ فِيهِ شَتَّى
Seandainya engkau datang seorang diri pada Hari Keputusan …
dan melihat betapa beragamnya kedudukan manusia ketika itu,
٨٣ – لَأَعْظَمْتَ النَّدَامَةَ فِيهِ لَهْفاً … عَلَى مَا فِي حَيَاتِكَ قَدْ أَضَعْتَا
niscaya penyesalanmu memuncak, penuh sesal dan duka …
atas apa yang telah engkau sia-siakan sepanjang hidupmu.
٨٤ – تَفِرُّ مِنَ الهَجِيرِ وَتَتَّقِيهِ … فَهَلَّا عَنْ جَهَنَّمَ قَدْ فَرَرْتَا
Engkau lari dan berlindung dari puncak panas tengah hari …
lalu mengapa engkau tidak lari dari Jahannam?
٨٥ – وَلَسْتَ تُطِيقُ أَهْوَنَهَا عَذَاباً … وَلَوْ كُنْتَ الحَدِيدَ بِهَا لَذُبْتَا
Engkau tidak sanggup menahan siksaannya yang paling ringan …
bahkan seandainya engkau terbuat dari besi, engkau akan meleleh di dalamnya.
٨٦ – فَلَا تُكْذَبْ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ جِدٌّ … وَلَيْسَ كَمَا حَسِبْتَ وَلَا ظَنَنْتَا
Maka jangan sampai engkau lengah lalu membenarkan dusta yang dibisikkan kepadamu,
karena perkara ini sungguh serius …
dan tidak seperti yang selama ini engkau kira dan sangka.”
٨٧ – «أَبَا بَكْرٍ» كَشَفْتَ أَقَلَّ عَيْبِي … وَأَكْثَرَهُ وَمُعْظَمَهُ سَتَرْتَا
Wahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit dari aibku …
sedangkan sebagian besar dan yang terbesar darinya masih engkau tutupi.
٨٨ – فَقُلْ مَا شِئْتَ فِيَّ مِنَ المَخَازِي … وَضَاعِفْهَا فَإِنَّكَ قَدْ صَدَقْتَا
Maka katakanlah tentangku keburukan apa pun yang engkau kehendaki …
bahkan lipat gandakanlah, karena sungguh engkau berkata benar.
٨٩ – وَمَهْمَا عِبْتَنِي فَلِفَرْطِ عِلْمِي … بِبَاطِنَتِي كَأَنَّكَ قَدْ مَدَحْتَا
Seberapa pun engkau mencelaku, karena aku terlalu tahu keadaan batinku …
celaanmu itu terasa seakan-akan engkau sedang memujiku.
٩٠ – فَلَا تَرْضَ المَعَايِبَ؛ فَهْيَ عَارٌ … عَظِيمٌ، يُورِثُ الإِنْسَانَ مَقْتَا
Maka jangan pernah meridai berbagai aib, karena ia kehinaan …
yang besar, yang mendatangkan kebencian yang paling dalam kepada seseorang.
٩١ – وَتَهْوِي بِالوَجِيهِ مِنَ الثُّرَيَّا … وَتُبْدِلُهُ مَكَانَ الفَوْقِ تَحْتَا
Aib menjatuhkan orang yang berkedudukan dan terhormat dari ketinggian bintang Tsurayya …
dan mengganti kedudukannya yang tinggi menjadi rendah.
٩٢ – كَمَا الطَّاعَاتُ تَنْعَلُكَ الدَّرَارِي … وَتَجْعَلُكَ القَرِيبَ وَإِنْ بَعُدْتَا
Sebaliknya, ketaatan meninggikanmu sampai bintang-bintang gemerlap menjadi sandal di kakimu …
dan menjadikanmu dekat meskipun engkau berada jauh.
٩٣ – وَتَنْشُرُ عَنْكَ فِي الدُّنْيَا جَمِيلاً … فَتَلْقَى البِرَّ فِيهَا حَيْثُ كُنْتَا
Ketaatan menyebarkan nama baikmu di dunia …
sehingga engkau menjumpai kebaikan di mana pun engkau berada.
٩٤ – وَتَمْشِي فِي مَنَاكِبِهَا كَرِيماً … وَتَجْنِي الحَمْدَ مِمَّا قَدْ غَرَسْتَا
Engkau berjalan di tempat-tempat tinggi bumi dalam keadaan mulia …
dan memanen pujian dari apa yang telah engkau tanam.
٩٥ – وَأَنْتَ الآنَ لَمْ تُعْرَفْ بِعَيْبٍ … وَلَا دَنَّسْتَ ثَوْبَكَ مُذْ نَشَأْتَا
Saat ini engkau belum dikenal memiliki aib …
dan belum menodai pakaianmu sejak engkau tumbuh.
٩٦ – وَلَا سَابَقْتَ فِي مَيْدَانِ زُورٍ … وَلَا أَوْضَعْتَ فِيهِ وَلَا خَبَبْتَا
Engkau belum pernah berlomba di medan kebatilan …
tidak pula memacu langkah ataupun berlari kecil di dalamnya.
٩٧ – فَإِنْ لَمْ تَنْأَ عَنْهُ نَشِبْتَ فِيهِ … وَمَنْ لَكَ بِالخَلَاصِ إِذَا نَشِبْتَا
Jika engkau tidak menjauh darinya, engkau akan tersangkut tanpa jalan keluar …
lalu siapa yang akan membebaskanmu setelah engkau tersangkut?
٩٨ – وَدَنَّسَ مَا تَطَهَّرَ مِنْكَ حَتَّى … كَأَنَّكَ قَبْلَ ذَلِكَ مَا طَهَرْتَا
Ia akan menodai bagian dirimu yang sebelumnya bersih …
hingga seakan-akan sebelum itu engkau tak pernah bersih.
٩٩ – وَصِرْتَ أَسِيرَ ذَنْبِكَ فِي وَثَاقٍ … وَكَيْفَ لَكَ الفَكَاكُ وَقَدْ أُسِرْتَا؟
Lalu engkau menjadi tawanan dosamu, terikat erat dalam belenggu …
dan bagaimana engkau dapat terlepas setelah engkau tertawan?
١٠٠ – وَخَفْ أَبْنَاءَ جِنْسِكَ وَاخْشَ مِنْهُمْ … كَمَا تَخْشَى الضَّرَاغِمَ وَالسَّبَنْتَى
Waspadalah terhadap sesama manusia dan berhati-hatilah kepada mereka …
sebagaimana engkau mewaspadai singa-singa dan harimau.
١٠١ – وَخَالِطْهُمْ وَزَايِلْهُمْ حِذَاراً … وَكُنْ كَـ«السَّامِرِيِّ» إِذَا لُمِسْتَا
Berbaurlah dengan mereka, namun tinggalkan perbuatan mereka yang tidak diridai
Allah dan Rasul-Nya, dengan penuh kewaspadaan …
dan jadilah seperti Samiri ketika hendak disentuh: “Jangan menyentuhku!”
١٠٢ – وَإِنْ جَهِلُوا عَلَيْكَ فَقُلْ سَلَاماً … لَعَلَّكَ سَوْفَ تَسْلَمُ إِنْ فَعَلْتَا
Jika mereka melontarkan cacian dan hinaan ala orang bodoh kepadamu,
katakanlah, “Salam.” …
mudah-mudahan engkau selamat jika engkau melakukannya.
١٠٣ – وَمَنْ لَكَ بِالسَّلَامَةِ فِي زَمَانٍ … يَنَالُ العُصْمَ إِلَّا إِنْ عُصِمْتَا
Siapa yang dapat menjamin keselamatanmu pada zaman yang bencananya
sampai menimpa kambing-kambing gunung di puncak-puncak sana …
kecuali bila engkau dijaga oleh Allah?
١٠٤ – وَلَا تَلْبَثْ بِحَيٍّ فِيهِ ضَيْمٌ … يُمِيتُ القَلْبَ إِلَّا إِنْ كُبِلْتَا
Jangan menetap di lingkungan yang penuh kezaliman dan perendahan …
yang mematikan hati, kecuali jika engkau terbelenggu tak berdaya.
١٠٥ – وَغَرِّبْ فَالغَرِيبُ لَهُ نَفَاقٌ … وَشَرِّقْ إِنْ بِرِيقِكَ قَدْ شَرِقْتَا
Merantaulah ke barat, karena perantau justru laku dan dihargai …
atau pergilah ke timur jika di negerimu sendiri engkau sampai tercekik.
١٠٦ – فَلَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا خُمُولاً … لَأَنْتَ بِهَا الأَمِيرُ إِذَا زَهِدْتَا
Zuhud terhadap dunia bukan berarti engkau menjadi orang yang tak dikenal
dan tak disebut orang …
justru engkaulah penguasa atas dunia ketika engkau zuhud terhadapnya.
١٠٧ – وَلَوْ فَوْقَ الأَمِيرِ تَكُونُ فِيهَا … سُمُوّاً وَافْتِخَاراً كُنْتَ أَنْتَا
Bahkan dalam ketinggian dan kemuliaan di dunia ini …
engkaulah yang berada di atas seorang penguasa.
١٠٨ – وَإِنْ فَارَقْتَهَا وَخَرَجْتَ مِنْهَا … إِلَى دَارِ السَّلَامِ فَقَدْ سَلِمْتَا
Jika engkau berpisah dengan dunia dan keluar darinya …
menuju Darussalam (surga), sungguh engkau telah selamat.
١٠٩ – وَإِنْ أَكْرَمْتَهَا وَنَظَرْتَ فِيهَا … بِإِجْلَالٍ فَنَفْسَكَ قَدْ أَهَنْتَا
Namun jika engkau memuliakan dunia dan memandangnya …
dengan penuh pengagungan, sungguh engkau telah menghinakan dirimu sendiri.
١١٠ – جَمَعْتُ لَكَ النَّصَائِحَ فَامْتَثِلْهَا … حَيَاتَكَ فَهْيَ أَفْضَلُ مَا امْتَثَلْتَا
Telah kuhimpun berbagai nasihat untukmu, maka amalkanlah …
sepanjang hidupmu, sebab itulah sebaik-baik yang dapat engkau amalkan.
١١١ – وَطَوَّلْتُ العِتَابَ وَزِدْتُ فِيهِ … لِأَنَّكَ فِي البَطَالَةِ قَدْ أَطَلْتَا
Aku memperpanjang celaan dan menambah-nambahinya …
karena engkau pun telah terlalu lama larut dalam kesia-siaan dan kebodohan.
١١٢ – فَلَا تَأْخُذْ بِتَقْصِيرِي وَسَهْوِي … وَخُذْ بِوَصِيَّتِي لَكَ إِنْ رَشَدْتَا
Maka jangan jadikan kekurangan dan kelalaianku sebagai pegangan …
tetapi peganglah wasiatku kepadamu, jika engkau menghendaki petunjuk.
١١٣ – وَقَدْ أَرْدَفْتُهَا سَبْعاً حِسَاناً … وَكَانَتْ قَبْلُ ذَا مِئَةً وَسِتَّا
Dan aku telah menyusulkan tujuh bait yang indah kepadanya …
sedangkan sebelumnya berjumlah seratus enam bait.
تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِ
Selesai, dengan segala puji bagi Allah.