RAHASIA MEMBENTUK HATI YANG PEMBERANI – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Beliau rahimahullah berkata, “Keberanian adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, tetapi ada hal-hal yang dapat menguatkannya.” Ini menjawab pertanyaan: Bagaimana agar aku menjadi pemberani? Bagaimana aku menguatkan keberanian di dalam hatiku? Bagaimana agar aku menjadi berani? Apa saja yang dapat membantuku memiliki keberanian?

Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh di sini. Beliau berkata, “Ada hal-hal yang dapat menguatkannya…” “Menguatkannya,” yakni menguatkan sifat ini, yaitu sifat keberanian.

Hal terbesar yang menguatkan dan menumbuhkan keberanian adalah iman, yakni iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada segala sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengimaninya. Serta kuatnya tawakal kepada Allah. Kuatnya tawakal kepada-Nya.

Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berbagai hal yang menakutkan datang, hatinya akan tetap teguh. Hatinya tetap teguh karena ia bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya.

Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mencelakakannya, mereka tidak akan mampu mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Karena itu, hatinya tetap teguh ketika menghadapi hal-hal yang menakutkan.

Di antara hadis dalam bab ini adalah hadis Jabir yang terdapat dalam kitab Sahih, ketika Nabi ‘alaihish shalatu was salam singgah bersama para sahabat setelah kembali dari sebuah peperangan. Mereka beristirahat siang di bawah naungan pepohonan.

Kemudian seorang lelaki dari pihak musuh datang menyusup. Ia mencabut pedang Nabi ‘alaihish shalatu was salam dan menghunusnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membuka mata beliau. Tiba-tiba pedang telah terhunus dan lelaki itu berkata kepada Nabi ‘alaihissalam, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” atau, “Siapa yang akan menjagamu dariku?” Dengan penuh keberanian, beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Allah.”

Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya akan memberikan keberanian kepada hati. Beliau menjawab, “Allah.” Tiba-tiba tangan lelaki itu tidak mampu lagi memegang pedang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghentikan gerak tangannya, sehingga pedang itu jatuh dari tangannya. Nabi ‘alaihish shalatu was salam kemudian mengambil pedang itu dan bertanya kepadanya, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” Lelaki itu pun mulai memohon-mohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Engkau orang yang mulia,” dan berbagai pujian lainnya, memohon agar beliau ‘alaihish shalatu was salam memaafkannya.

Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, iman kepada takdir, dan meyakini bahwa segala urusan terjadi dengan takdir Allah, serta meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, semua ini menumbuhkan keberanian di dalam hati. Beliau berkata, “Kuatnya tawakal kepada Allah, sempurnanya keyakinan kepada-Nya, serta pengetahuan seorang hamba bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.”

Hal lain yang juga menguatkannya, yakni menguatkan sifat ini, adalah memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh, maka berteguh hatilah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45)

Maka zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala menguatkan hati dan memberinya keberanian. Beliau berkata, “Ketika iman seorang hamba kepada Allah serta iman kepada qada dan takdir-Nya semakin kuat, dan keyakinannya terhadap pahala dan siksa semakin kuat, tawakalnya kepada Allah menjadi sempurna, ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya, dan mengetahui bahwa makhluk tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, bahwa ubun-ubun mereka berada di tangan Allah, serta mengetahui berbagai pengaruh agung yang lahir dari keberanian, maka berbagai pemahaman ini akan tertanam kuat di dalam hatinya.”

Ketika semua pemahaman itu telah tertanam kuat di dalam hatinya, hatinya pun menjadi kuat, hatinya menjadi tenteram, dan ia berani mengambil langkah dalam setiap ucapan maupun perbuatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Beliau berkata, “Orang yang keadaannya seperti ini”—yakni menghiasi dirinya dengan akidah dan sifat-sifat yang agung tersebut—“pasti akan Allah kuatkan dengan pertolongan dari sisi-Nya, yang tidak mampu diraih seorang hamba dengan daya dan kekuatannya sendiri.”

Sesungguhnya, barang siapa yang Allah bersamanya, tidak ada yang perlu ia takutkan. Barang siapa yang Allah bersamanya, berbagai kesulitan akan terasa ringan baginya, dan Allah akan menjauhkan darinya berbagai hal yang tidak ia sukai. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)

=====

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَالشَّجَاعَةُ خُلُقٌ نَفْسِيٌّ، وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ وَهَذَا فِيهِ جَوَابٌ عَلَى سُؤَالٍ: كَيْفَ أَكُونُ شُجَاعًا؟ كَيْفَ أُقَوِّي الشَّجَاعَةَ فِي قَلْبِي؟ كَيْفَ أُصْبِحُ شُجَاعًا؟ مَا هِيَ الْأُمُورُ الَّتِي تُعِينُنِي عَلَى الشَّجَاعَةِ؟

هَذَا مَا يُبَيِّنُهُ الشَّيْخُ هُنَا، يَقُولُ: وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ تُمِدُّهُ أَيْ تُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ خُلُقَ الشَّجَاعَةِ

فَأَعْظَمُ مَا يُمِدُّهُ وَيُنَمِّيهِ: الْإِيمَانُ أَيْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِكُلِّ مَا أَمَرَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِبَادَهُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ

الْعَبْدُ عِنْدَمَا يَكُونُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللهِ، مُفَوِّضًا أَمْرَهُ إِلَى اللهِ، عَلَى ثِقَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِنْدَمَا تَأْتِي الْمَخَاوِفُ يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا لِأَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ وَيَعْلَمُ يَقِينًا أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَهُ اللهُ لَهُ

وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوهُ بِشَيْءٍ، لَنْ يَضُرُّوهُ إِلَّا بِشَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَثْبُتُ قَلْبُهُ فِي الْمَخَاوِفِ

وَمِمَّا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَزَلَ مَعَ أَصْحَابِهِ وَقَدْ عَادُوا مِنْ غَزْوَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يَقِيلُونَ تَحْتَهَا

فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْدَاءِ وَتَسَلَّلَ، وَاخْتَرَطَ سَيْفَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَلَّهُ صَلْتًا فَفَتَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَيْنَيْهِ، وَإِذَا بِالسَّيْفِ وَالرَّجُلُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ مَنْ يَحْمِيكَ مِنِّي؟ أَوْ مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِكُلِّ شَجَاعَةٍ: اللهُ

فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ، وَالثِّقَةُ بِهِ، وَاللُّجُوءُ إِلَيْهِ، وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ، يُعْطِي الْقَلْبَ شَجَاعَةً فَقَالَ: اللهُ وَأَصْبَحَتْ يَدُ ذَلِكَ الرَّجُلِ لَا تَسْتَطِيعُ حَمْلَ السَّيْفِ عَطَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهَا حَرَكَتَهَا فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ وَأَخَذَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ السَّيْفَ، وَقَالَ لَهُ: مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَأَخَذَ يَتَوَسَّلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ: أَنْتَ كَرِيمٌ وَأَنْتَ كَذَا يَطْلُبُ مِنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَصْفَحَ عَنْهُ

فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ وَالثِّقَةُ بِاللهِ، وَأَيْضًا الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ، وَأَنَّ الْأُمُورَ بِقَدَرِ اللهِ وَأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هَذَا كُلُّهُ مِمَّا يُكْسِبُ الْقَلْبَ الشَّجَاعَةَ قَالَ: قُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَكَمَالُ الثِّقَةِ بِهِ وَعِلْمُ الْعَبْدِ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ

وَيُمِدُّهُ أَيْضًا أَيْ يُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

فَذِكْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُمِدُّ الْقَلْبَ بِالْقُوَّةِ وَالشَّجَاعَةِ قَالَ: فَمَتَى قَوِيَ إِيمَانُ الْعَبْدِ بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَقَوِيَ يَقِينُهُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَتَمَّ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ وَثِقَتُهُ بِكِفَايَةِ اللهِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَضُرُّونَ وَلَا يَنْفَعُونَ وَأَنَّ نَوَاصِيَهُمْ بِيَدِ اللهِ، وَعَلِمَ الْآثَارَ الْجَلِيلَةَ النَّاشِئَةَ عَنِ الشَّجَاعَةِ تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ

مَتَى تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ قَوِيَ قَلْبُهُ وَاطْمَأَنَّ فُؤَادُهُ، وَأَقْدَمَ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ وَفِعْلٍ يَنْفَعُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ قَالَ: وَلَا بُدَّ لِمَنْ كَانَتْ هَذِهِ حَالُهُ أَيْ مُتَحَلِّيًا بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ وَهَذِهِ الصِّفَاتِ الْعَظِيمَةِ أَنْ يُمِدَّهُ اللهُ بِمَدَدٍ مِنْ عِنْدِهِ لَا يُدْرِكُهُ الْعَبْدُ بِحَوْلِهِ وَلَا قُوَّتِهِ

فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَاعِبُ وَدَفَعَ اللهُ عَنْهُ الْمَكَارِهَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.