Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat?
Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat.
Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama.
Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim).
=====
بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ
الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ
لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ
وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ