Pertanyaan kedua, berkaitan dengan puasa Syawal, apakah disyaratkan harus dikerjakan 6 hari berturut-turut?
Tidak wajib berurutan dalam berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Seseorang diperbolehkan mengerjakannya secara selang-seling (terpisah). Boleh juga berpuasa Syawal menyesuaikan kondisinya, seperti yang disebutkan oleh penanya, misalnya setiap Jumat dan Sabtu, hal itu tidak mengapa, atau misalnya berpuasa setiap Senin dan Kamis, atau setiap Senin saja.
Bisa juga dikerjakan pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah). Dalam hal ini cukup longgar. Yang terpenting, ia berpuasa 6 hari di bulan Syawal, dan ia bebas memilih yang paling sesuai baginya dalam berpuasa tersebut.
Selagi kita membahas puasa Syawal, apakah puasa ini hanya terikat pada bulan Syawal? Yakni bagi orang yang waktunya terbatas karena suatu alasan, baik itu karena kelalaian, lupa, ataupun karena keadaan mendesak lainnya, apakah disyariatkan baginya untuk mengqadha puasa tersebut setelah Syawal berakhir, seperti pada bulan Zulkaidah?
Bagi orang yang tidak memiliki uzur syar’i, maka ia harus berpuasa di bulan Syawal. Ia tidak boleh berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal…” “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal.” (HR. Muslim) Di sini Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyebutkan bulan Syawal secara eksplisit.
Namun, bagi orang yang punya uzur seperti orang yang sakit sehingga tidak memungkinkan baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal, atau wanita yang sedang nifas, dan baru selesai dari nifasnya di akhir Syawal sehingga tidak sempat berpuasa Syawal, maka boleh baginya untuk berpuasa Syawal di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini dipilih Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, dan beberapa ulama peneliti lainnya. Hal ini dikarenakan amalan sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seorang muslim, apabila terlewat waktunya, disyariatkan untuk diqadha (diganti pada lain waktu).
Terdapat riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak sempat berpuasa pada akhir bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sudah selesai Idul Fitri, maka berpuasalah…” Maksudnya adalah orang itu terbiasa berpuasa pada akhir bulan, tapi ia tidak berpuasa pada akhir bulan Sya’ban, karena ada larangan Nabi ‘alaihis shalatu was salam untuk mendahului Ramadan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam memerintahkannya untuk mengganti puasa tersebut setelah Ramadan usai.
Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang terbiasa mengamalkan suatu sunnah, ia disyariatkan untuk mengqadhanya, termasuk berpuasa 6 hari Syawal. Apabila ia tidak sempat berpuasa karena uzur, maka ia disyariatkan untuk berpuasa di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat.
=====
السُّؤَالُ الثَّانِي بِالنِّسْبَةِ لِصِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ مُتَتَابِعَةً؟
لَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَفَرِّقَةً وَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا حَسَبَ ظُرُوفِهِ مِثْلُ مَا ذَكَرَ أَخِي السَّائِلُ كُلُّ جُمُعَةٍ وَسَبْتٍ مَثَلًا يَصُومُهَا لَا بَأْسَ أَوْ يَصُومُهَا مَثَلًا الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ أَوْ يَصُومُهَا الإِثْنَيْنِ وَالإِثْنَيْنِ
أَوْ يَصُومُهَا أَيَّامَ الْبِيضِ الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ الْمُهِمّ أَنَّهُ يَصُومُ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَيَخْتَارُ الطَّرِيقَةَ الْمُنَاسِبَةَ لَهُ فِي صِيَامِهَا
مَا دَامَ الْحَدِيثُ عَنْ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ هِيَ مُرْتَبِطَةٌ فَقَطْ بِشَوَّالٍ بِمَعْنَى مَنْ ضَاقَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِأَيِّ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ سَوَاءٌ كَانَ تَقْصِيرًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ كَانَ لِظَرْفٍ مَا هَلْ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِيمَا بَعْدَ شَوَّالٍ مِثْلَ ذِي الْقَعْدَةِ؟
أَمَّا مَنْ كَانَ لَيْسَ مَعْذُورًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَيْس لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِي غَيْرِ شَهْرِ شَوَّالٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَنَصَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَهْرٍ شَوَّالٍ
لَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْذُورًا كَأَنْ يَكُونَ مَثَلًا مَرِيضًا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَوْ مَثَلًا امْرَأَةٌ نُفَسَاءُ وَلَمْ تَطْهُرْ إِلَّا فِي آخِرِ شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَهَذَا اخْتَارَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِي وَالشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمِيْنَ وَجَمْعٌ مِنْ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَلِكَ لِأَنَّ السُّنَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْمُسْلِمُ إِذَا فَاتَتْ شُرِعَ لَهُ قَضَاؤُهَا
وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَصُمْ شِرَارَ شَهْرِ شَعْبَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ يَصُومُ آخِرَ الشَّهْرِ لَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ آخِرَ شَهْرِ شَعْبَانَ لِمَا بَلَغَهُ نَهْيُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ تَقَدُّمِ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنْ يَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ
فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ مَنِ اعْتَادَ سُنَّةً شُرِعَ لَهُ أَنْ يَقْضِيَهَا وَمِنْ ذَلِكَ سِتٌّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ صِيَامُهَا لِعُذْرٍ شُرِعَ صِيَامُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ