Oleh karena itu, sungguh, siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam dirinya, dan Allah beri ia taufik untuk menempuh jalan ilmu, maka sungguh, ia telah dibukakan sebuah pintu yang tertutup bagi banyak orang.
Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari).
Sabda beliau, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya,” menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dengan amal saleh yang Dia kehendaki.
Maka, kepada sebagian orang, Allah menanamkan kecintaan untuk berinfak dan bersikap dermawan; berinfak kepada orang-orang fakir dan bersikap dermawan kepada para tamu dan yang lainnya.
Kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap salat dan qiyamul lail.
Dan kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap ilmu, serta menjadikan ilmu itu mudah baginya dan mudah mengalir di lisannya. Allah juga memudahkannya dalam memahami ilmu tersebut.
Maka karena itu, siapa yang telah dibukakan baginya pintu ini, yaitu pintu ilmu, hendaklah ia banyak memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersungguh-sungguh agar tidak terputus dalam menuntut ilmu.
Karena, sungguh telah dibukakan baginya sebuah pintu kebaikan yang tertutup bagi banyak orang yang mendambakannya.
Namun, sejatinya, siapa yang telah mulai menuntut ilmu, lalu berhenti darinya, sebenarnya ia telah membuat dirinya kehilangan kebaikan yang sangat besar.
Dalam sebagian jalur riwayat hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat lafaz, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari).
Meskipun ada catatan pada sanad riwayat tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, “Dan siapa yang tidak memahami agama, maka tidak ada kebaikan padanya.”
Maka ketika seseorang telah Allah kehendaki kebaikan baginya, kemudian ia malah meninggalkannya setelah itu, maka dalam hal ini kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali ini termasuk perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya, yaitu kemunduran setelah kemajuan.
=====
وَلِذَلِكَ حَقِيقَةً مَنْ حَبَّبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْعِلْمَ وَوَفَّقَهُ لِسُلُوكِ طَرِيقِهِ فَإِنَّ هَذَا فَتْحُ بَابٍ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
فَقَوْلُهُ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْتَصُّ مَنْ شَاءَ بِمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
فَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ النَّفَقَةَ وَالْكَرَمَ النَّفَقَةَ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْكَرَمَ لِلضُّيُوفِ وَغَيْرِهِمْ
وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الصَّلَاةَ وَقِيَامَ اللَّيْلِ
وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الْعِلْمَ وَيُسَهِّلُهُ عَلَيْهِ وَيُيَسِّرُهُ عَلَى لِسَانِهِ وَيُسَهِّلُ فَهْمَهُ عَلَيْهِ
وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ فُتِحَ لَهُ فِي هَذَا الْبَابِ أَعْنِي بَابَ الْعِلْمِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَلْيَحْرِصْ عَلَى عَدَمِ الِانْقِطَاعِ فِيهِ
فَإِنَّهُ قَدْ فُتِحَ لَهُ بَابٌ مِنَ الْخَيْرِ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ يَرْغَبُ بِهِ
وَلَكِنْ حَقِيقَةً مَنِ ابْتَدَأَ الْعِلْمَ ثُمَّ انْقَطَعَ عَنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ فَوَّتَ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرًا عَظِيمًا
وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ طُرُقِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
وَإِنْ كَانَ فِي إِسْنَادِهَا مَقَالٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَمَنْ لَمْ يَفْقَهْ فَلَا خَيْرَ فِيهِ
فَحِينَمَا يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ أَرَادَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَهَذَا نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رُبَّمَا يَدْخُلُ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ