JANGAN SEMBARANG PILIH TEMAN! 6 TIPE ORANG YANG SEBAIKNYA DIJAUHI

Penulis nazam berkata, “Dimakruhkan bagi seseorang duduk bersama orang yang rendah perangainya, bersama orang fasik, atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.”

Sekarang beliau menyebutkan beberapa golongan yang dimakruhkan untuk dijadikan teman duduk dan sahabat, karena mereka dapat memengaruhi orang yang duduk bersama mereka.

Di antara mereka adalah orang yang rendah perangainya, yakni buruk tindak-tanduknya, yang mengandung kerendahan, kehinaan, dan keburukan budi, perilakunya buruk, serta rendah dalam ucapan maupun perbuatan.

“Dan bersama orang fasik.” Kata “dzi” berarti pemilik, yakni orang yang memang dikenal dengan kefasikannya. Kefasikan adalah keluar dari ketaatan.

“Atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Yakni orang yang memiliki sifat riya yang buruk. Juga, orang yang dikenal suka berbuat riya, Cinta sum’ah (ingin didengar orang) dan ketenaran, misalnya, serta hal-hal semacam itu, dan melakukan berbagai amalan secara dibuat-buat agar dipuji dan disanjung. Orang seperti ini juga dapat memengaruhi teman duduknya, sehingga bisa jadi ia menirunya dan melakukan hal yang sama.

“Begitu pula bersama orang yang sakhif.” Maksudnya, duduk bersama orang yang sakhif. Siapakah orang yang sakhif? Beliau berkata, “Yaitu orang yang lemah akalnya,” yakni akalnya dangkal. Seperti dikatakan, “Ada kelemahan pada akalnya.” Orang yang sakhif adalah orang yang lemah akalnya, yakni ada kelemahan pada akalnya, yang terlihat dari tindak-tanduknya. “Begitu pula bersama orang yang sakhif, yaitu orang yang lemah akalnya.”

“Dan bersama pemain catur, nard, dan permainan buruk sejenis.” Catur adalah permainan yang sudah dikenal, yang dimainkan di atas papan kayu atau sejenisnya, lalu di atasnya diletakkan bidak-bidak berbentuk raja, misalnya, gajah, syah (raja), dan semacamnya. Kemudian dua orang saling berhadapan dan memainkan permainan tersebut. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang sedang memainkannya, lalu beliau berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Lihat QS. Al-Anbiya: 52). Sebab, bidak-bidak itu berupa patung-patung: patung berbentuk gajah, patung berbentuk raja, patung berbentuk prajurit, dan seterusnya. Dan mereka menghabiskan waktu untuk menekuninya.

Para ulama salaf rahimahumullah bahkan menulis kitab-kitab khusus. Di antaranya Al-Ajurri rahimahullah yang menulis tentang celaan terhadap nard dan catur. Nard adalah permainan yang pada zaman kita di sebagian negeri dikenal dengan nama ath-thawilah (backgammon). Permainan ini terdiri dari bidak-bidak dan sebuah dadu, yaitu benda yang memiliki angka pada keenam sisinya. Pada satu sisi terdapat angka satu, pada sisi lainnya angka dua, pada sisi lainnya angka tiga, dan seterusnya. Kemudian dadu itu dilempar, lalu berlangsunglah kompetisi antara kedua pemain di sekitar papan tersebut. Dan sering kali pertandingan catur itu disertai dengan perjudian, dengan masing-masing pihak mengeluarkan taruhan. Salah seorang berkata, “Jika engkau mengalahkanku, engkau membayar sekian, dan jika aku mengalahkanmu, aku membayar sekian.”

Hal semacam itu juga terjadi pada catur. Maka, ini merupakan keburukan di atas keburukan dan kejelekan di atas kejelekan. “Dan yang buruk,” dengan kata ini beliau rahimahullah mengisyaratkan berbagai permainan sejenis yang menyerupai dan semisal dengannya.

Beliau rahimahullah berkata, “Dan orang yang dicurigai,” yakni duduk bersama orang yang dicurigai dalam urusan agamanya. Yakni orang yang jelas dicurigai karena bid’ah, kesesatan, penyimpangan, atau semisalnya dalam agamanya. “Atau dalam urusan kehormatannya.” Yang pertama berkaitan dengan akidah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perilaku. “Kehormatannya,” yakni orang yang dicurigai melakukan perbuatan keji, perbuatan hina, dan semacamnya. “Bersama orang yang dicurigai dalam agamanya atau kehormatannya. Demikianlah fatwa Ibnu Hamdan, maka ikutilah dan teladanilah beliau.”

Ibnu Hamdan adalah Ahmad bin Hamdan An-Numairi Al-Harrani, seorang ahli fikih Mazhab Hambali rahimahullah. Beliau memiliki dua kitab berjudul Ar-Ri’ayah, yaitu Ar-Ri’ayah Al-Kubra dan Ar-Ri’ayah Ash-Shughra. Barangkali beliau rahimahullah menyebutkan hal tersebut dalam kitabnya, Ar-Ri’ayah.

=====

يَقُولُ النَّاظِمُ: وَيُكْرَهُ لِلْمَرْءِ الْجُلُوسُ مَعَ امْرِئٍ دَنِيءٍ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي

الْآنَ يُعَدِّدُ أَصْنَافًا تُكْرَهُ مُجَالَسَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ لِمَا فِيهَا مِنْ تَأْثِيرٍ عَلَى الْمُجَالِسِ

مِنْ هَؤُلَاءِ: الْمَرْءُ الدَّنِيءُ يَعْنِي تَصَرُّفَاتُهُ دَنِيئَةٌ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْخِسَّةِ وَالْحَقَارَةِ وَاللُّؤْمِ سُوءُ التَّصَرُّفِ دَنَاءَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ أَوِ الدَّنَاءَةُ فِي الْأَفْعَالِ

وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ ذِي بِمَعْنَى صَاحِبٍ أَيْ صَاحِبِ الْفِسْقِ الَّذِي يُعْرَفُ بِالْفِسْقِ

وَالْفِسْقُ هُوَ الْخُرُوجُ عَنِ الطَّاعَةِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي

أَيْ صَاحِبِ الرِّيَاءِ الرَّدِيءِ أَيْضًا مَنْ كَانَ هَذَا شَأْنُهُ يُعْرَفُ عَنْهُ الْمُرَاءَاةُ وَحُبُّ مَثَلًا السُّمْعَةِ وَالشُّهْرَةِ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَيَتَصَنَّعُ بِأَعْمَالٍ لِيُحْمَدَ عَلَيْهَا وَيُمْدَحَ أَيْضًا مِثْلُ هَذَا يُؤَثِّرُ فِي مُجَالِسِهِ رُبَّمَا تَشَبَّهَ بِهِ وَفَعَلَ مِثْلَهُ

كَذَا مَعَ سَخِيفٍ يَعْنِي الْجُلُوسُ مَعَ السَّخِيفِ مَنْ هُوَ السَّخِيفُ؟ قَالَ: وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ يَعْنِي أَصْبَحَ عَقْلُهُ رَقِيقًا مِثْلَ مَا يُقَالُ: فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ السَّخِيفُ الَّذِي رَقَّ عَقْلُهُ أَيْ فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ تُعْرَفُ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ

وَمَعَ لَاعِبِ الشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ وَالرَّدِي الشِّطْرَنْجُ لُعْبَةٌ مَعْرُوفَةٌ تُلْعَبُ عَلَى رُقْعَةٍ مِنَ الْخَشَبِ وَنَحْوِهِ وَيُوضَعُ عَلَيْهَا مُجَسَّمَاتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَلِكِ مَثَلًا وَالْفِيلِ وَالشَّاهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ ثُمَّ يَتَقَابَلُ اثْنَانِ وَيَلْعَبَانِ هَذِهِ اللُّعْبَةَ وَقَدْ مَرَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى أُنَاسٍ يَلْعَبُونَهَا فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ لِأَنَّهَا هِيَ أَصْنَامٌ صَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ فِيلٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ مَلِكٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ جُنْدِيٍّ وَهَكَذَا وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهَا وَقْتًا

وَالسَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ أَلَّفُوا كُتُبًا خَاصَّةً مِنْهُمُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي ذَمِّ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدُ لُعْبَةٌ تُعْرَفُ فِي زَمَانِنَا هَذَا بِبَعْضِ الْبُلْدَانِ بِلُعْبَةِ الطَّاوِلَةِ لُعْبَةٌ تَتَكَوَّنُ مِنْ قِطَعٍ مَثَلًا وَحَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيهِ أَرْقَامٌ عَلَى جَوَانِبِهِ السِّتَّةِ عَلَى جَانِبٍ رَقْمُ وَاحِدٍ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ اثْنَيْنِ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ ثَلَاثَةٍ وَهَكَذَا ثُمَّ تُرْمَى هَذِهِ وَيُصْبِحُ مُنَافَسَةً بَيْنَ اللَّاعِبَيْنِ أَوْ حَوْلَ هَذِهِ الطَّاوِلَةِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُنَافَسَةُ عَلَى قِمَارٍ فِي الْغَالِبِ بِحَيْثُ يَدْفَعُ هَذَا وَهَذَا يَقُولُ لَهُ: إِنْ غَلَبْتَنِي تَدْفَعُ كَذَا وَإِنْ غَلَبْتُكَ أَدْفَعُ كَذَا

وَمِثْلُهُ أَيْضًا فِي الشِّطْرَنْجِ فَهَذَا سُوءٌ عَلَى سُوءٍ وَشَرٌّ عَلَى شَرٍّ وَالرَّدِي يُشِيرُ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى مَا شَاكَلَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْعَابِ الَّتِي تُشْبِهُ هَذَا وَتُضَاهِيهِ وَتُمَاثِلُهُ

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمُتَّهَمٌ أَيْ وَمَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ يَعْنِي مُتَّهَمٌ تُهْمَةً وَاضِحَةً بِبِدَعٍ أَوْ ضَلَالَاتٍ أَوْ انْحِرَافَاتٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ الْأَوَّلُ يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالسُّلُوكِ عِرْضِهِ أَيْ مُتَّهَمٌ بِالْفَوَاحِشِ وَالرَّذَائِلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ… بِهِ أَفْتَى ابْنُ حَمْدَانَ فَتَابِعْهُ وَاقْتَدِ

ابْنُ حَمْدَانَ هُوَ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ النُّمَيْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ الْفَقِيهُ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ كِتَابَانِ بِعُنْوَانِ الرِّعَايَةِ الرِّعَايَةُ الْكُبْرَى وَالرِّعَايَةُ الصُّغْرَى وَلَعَلَّ ذَلِكَ ذَكَرَهُ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الرِّعَايَةِ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.