Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing orang yang sedang marah kepada dua hal: yang pertama berkaitan dengan ucapan, dan yang kedua berkaitan dengan perbuatan.
Adapun yang berkaitan dengan ucapan, telah sahih dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad). “Hendaklah ia diam,” yakni hendaklah ia Sebab, ucapan ketika marah tidak terkendali dan tidak tenang. menahan diri dari berbicara sama sekali. “Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam,” yakni hendaklah ia menahan dirinya dari berbicara sama sekali. Inilah bimbingan yang berkaitan dengan ucapan.
Adapun yang berkaitan dengan perbuatan, beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda dalam hadis sahih lainnya, “Apabila salah seorang dari kalian marah…” Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia duduk. Duduk, kemudian berbaring apabila amarah belum reda, agar seseorang tidak bertindak menuruti dorongan gegabah yang muncul dalam jiwanya akibat amarah yang timbul.
Maka, cara seseorang bertindak tidak akan benar dan tidak akan terkontrol. Cermatilah kehidupan manusia. Perhatikanlah begitu banyak peristiwa, perhatikanlah begitu banyak kasus yang ada di penjara, perhatikanlah banyak kasus pembunuhan dan penganiayaan. Perhatikanlah banyak kejadian semacam itu. Semuanya terjadi pada momen seperti ini: seseorang bertindak ketika amarahnya sedang memuncak.
Saya teringat, dahulu saya pernah melihat seseorang di rumah sakit bersama anaknya yang berusia empat tahun, dan tangan anak kecil itu terlepas dari sendinya. Tangannya terlepas dari sendi hingga tidak dapat digerakkan. Lalu saya berkata kepada ayahnya, “Semoga baik-baik saja.” Ia menjawab, “Demi Allah, ini gara-gara marah.” Marah itu tidak ada kebaikannya sama sekali.Saya berkata, “Semoga semuanya baik, insya Allah.” Ia berkata, “Dia sedang tidur—usianya empat tahun—dia sedang tidur. Lalu saya berkata kepadanya, ‘Bangun!’ Saya membangunkannya, tetapi ia tidak mau bangun. Lalu saya menarik tangannya dengan keras hingga sendinya terlepas.”
Kejadian seperti ini sangat banyak. Hal semacam ini banyak terjadi dalam kehidupan dan interaksi manusia, baik di rumah maupun di luar rumah, di sekolah-sekolah, dan dalam interaksi para guru, misalnya, maupun yang lainnya. Banyak di antaranya terjadi karena dorongan jiwa yang gegabah seperti ini, lalu seseorang bertindak, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dengan menuruti dorongan tersebut.
Karena itu, di antara pilar terpenting dalam adab dan akhlak adalah agar seseorang tidak bertindak menuruti dorongan gegabah dalam dirinya ketika jiwanya sedang dikuasai dorongan tersebut, terutama akibat amarah. Hendaklah ia tenang, beristirahat, tidak berbicara, dan tidak melakukan tindakan apa pun. Hendaklah ia tenang. Setelah tenang, ia akan mendapati bahwa jika berbicara, ucapannya akan terkontrol, dan jika bertindak, tindakannya pun akan terkontrol.
=====
أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَضْبَانَ إِلَى أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا يَتَعَلَّقُ بِالْكَلَامِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالْأَفْعَالِ
أَمَّا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْكَلَامِ فَقَدْ صَحَّ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ لِيَسْكُتْ أَيْ لِيَمْتَنِعْ عَنِ الْكَلَامِ كُلِّهِ لِأَنَّ الْكَلَامَ فِي وَقْتِ الْغَضَبِ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ غَيْرُ مُتَّزِنٍ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ يَعْنِي لِيَمْنَعْ نَفْسَهُ مِنَ الْكَلَامِ تَمَامًا هَذَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْكَلَامِ
وَمَا يَتَعَلَّقُ بِالْفِعَالِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي حَدِيثٍ آخَرَ صَحَّ عَنْهُ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ سَكَنَ غَضَبُهُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ هَذَا الْجُلُوسُ هَذَا الْجُلُوسُ ثُمَّ الاضْطِجَاعُ إِنْ لَمْ يَسْكُنِ الْغَضَبُ حَتَّى لَا يَتَعَاطَى الْإِنْسَانُ مَعَ هَذِهِ الرُّعُونَةِ الَّتِي أَصْبَحَتْ قَدِ اكْتَسَبَتْهَا النَّفْسُ بِسَبَبِ الْغَضَبِ الَّذِي تَوَلَّدَ فِيهَا
فَالتَّعَامُلُ لَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا لَنْ يَكُونَ مُنْضَبِطًا وَاقْرَأْ فِي حَيَاةِ النَّاسِ اقْرَأْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْحَوَادِثِ اقْرَأْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي فِي السُّجُونِ اقْرَأْ فِي كَثِيرٍ مِنْ حَوَادِثِ الْقَتْلِ الْعُدْوَانِ اقْرَأْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُمُورِ كُلُّهَا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ يَتَعَاطَى تَعَامُلًا فِي فَوْرَةِ غَضَبِهِ
أَذْكُرُ قَدِيمًا رَأَيْتُ شَخْصًا فِي الْمُسْتَشْفَى مَعَ ابْنِهِ أَرْبَعُ سَنَوَاتٍ وَيَدُ الصَّغِيرِ هَذَا مَمْلُوعَةٌ يَدُهُ مَمْلُوعَةٌ مَا يَسْتَطِيعُ فَقُلْتُ لِوَالِدِهِ: سَلَامَاتٌ قَالَ: وَاللهِ الْغَضَبُ الْغَضَبُ مَا فِيهِ خَيْرٌ قُلْتُ: خَيْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ؟ قَالَ: نَايِمٌ —أَرْبَعُ سَنَوَاتٍ— قَالَ: نَايِمٌ وَأَقُولُ لَهُ: قُمْ أُنَبِّهُهُ مَا يَقُومُ وَشَدَّيْتُهُ مَعَ يَدِهِ وَمَلَعَتْ
هَذَا مِثْلُهُ كَثِيرٌ جِدًّا مِثْلُهُ كَثِيرٌ يَعْنِي فِي وَقَائِعِ النَّاسِ وَتَعَامُلَاتِهِمْ فِي الْبُيُوتِ وَخَارِجِ الْبُيُوتِ وَفِي الْمَدَارِسِ وَتَعَامُلَاتِ مَثَلًا الْأَسَاتِذَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ كُلُّهَا تَأْتِي كَثِيرٌ مِنْهَا فِي هَذِهِ الرُّعُونَةِ رُعُونَةِ النَّفْسِ وَالتَّعَاطِي فِي التَّعَامُلَاتِ الْقَوْلِيَّةِ أَوِ الْفِعْلِيَّةِ مَعَ هَذِهِ الرُّعُونَةِ الَّتِي فِي النَّفْسِ
وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الرَّكَائِزِ الْمُهِمَّةِ فِي بَابِ الْأَدَبِ وَالْخُلُقِ أَلَّا يَتَعَاطَى الْإِنْسَانُ مَعَ رُعُونَةِ نَفْسِهِ إِذَا أُصِيبَتْ بِشَيْءٍ مِنَ الرُّعُونَةِ وَلَا سِيَّمَا بِسَبَبِ الْغَضَبِ يَهْدَأُ يَرْتَاحُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَا يُبَاشِرُ أَيَّ شَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ يَهْدَأُ بَعْدَ الْهُدُوءِ سَيَجِدُ أَنَّهُ إِنْ تَكَلَّمَ فَكَلَامُهُ مُنْضَبِطٌ وَإِنْ فَعَلَ أَيْضًا فِعْلُهُ مُنْضَبِطٌ