Nabi lalu mengucapkan: “Ghufroonaka.” Artinya, “Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah.” Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Hadis ini diriwayatkan oleh lima imam hadis dan disahihkan oleh Al-Albani.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Zikir ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut, dan hal itu karena dua alasan. Alasan pertama, ketika seseorang menunaikan hajatnya, ia menahan diri dari berzikir kepada Allah. Karena berhenti berzikir kepada Allah, ia merasa telah lalai, maka ketika keluar, ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Inilah keadaan orang-orang bertakwa dan berakal, yang mencintai zikir kepada Allah, dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.
Adapun banyak di antara kita pada masa ini—na’uudzu billaah— sedikit sekali berzikir kepada Allah. Sepanjang waktu, seakan-akan mereka selalu berada di tempat buang hajat, mengingat segala sesuatu kecuali Allah. Ini merupakan salah satu kelemahan dalam diri kita. Saya sudah sampaikan berkali-kali dan berulang-ulang, bahwa zikir kepada Allah adalah kenikmatan seorang Mukmin di dunia dan di surga.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, Beliau selalu berzikir kepada Allah. Namun, ketika beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau tidak berzikir, lalu ketika keluar, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Beliau merasa lalai, sehingga beliau berkata, “Aku memohon ampun kepadamu ya Allah.” Inilah alasan pertama.
Adapun alasan yang kedua, ketika seseorang selesai menunaikan hajatnya, ia merasa lega setelah sebelumnya menahan rasa tidak nyaman. Lalu ia menyadari bahwa seandainya ia menebusnya dengan dunia dan seluruh isinya, ia tetap tidak akan mampu mengeluarkan kotoran tersebut, kecuali dengan nikmat Allah atas dirinya. Para dokter bisa saja berkumpul di sisi seorang pasien, yang mengalami gangguan tidak bisa buang hajat, tapi mereka tidak mampu mengatasinya, sebagaimana pada orang yang mengalami tertahannya air kencing, para dokter tidak akan mampu mengeluarkan air kencingnya itu, kecuali jika mereka melakukan operasi terhadapnya.
Namun Allah melimpahkan nikmat ini kepada hamba-Nya. Ketika air kencing telah terkumpul (di kandung kemih), ia akan merasa sakit dan terganggu, sehingga ia masuk ke tempat buang hajat. Lalu Allah melimpahkan nikmat kepadanya dengan mengeluarkan hal yang mengganggu itu, sehingga ia merasa lega. Saat itu ia teringat bahwa dirinya telah lalai dalam mensyukuri nikmat Allah, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Memohon ampun atas kelalaiannya dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Seandainya manusia merenungkan tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya, niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia selesai buang hajat, ia teringat dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.”
======
وَقَالَ غُفْرَانَكَ أَيْ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ وَقَدْ جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ
فَالنَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ وَهَذَا الذِّكْرُ مُنَاسِبٌ لِلْمَقَامِ وَذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَيُحِسُّ بِالتَّقْصِيرِ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ هَذَا عِنْدَ الْأَتْقِيَاءِ عِنْدَ الْأَذْكِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ ذِكْرَ اللَّهِ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا
أَمَّا كَثِيرٌ مِنَّا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ قَلَّ أَنْ يَذْكُرُوا اللَّهَ طِوَالَ وَقْتِهِمْ كَأَنَّهُمْ فِي الْخَلَاءِ يَذْكُرُونَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ وَهَذَا مِنَ الضَّعْفِ فِينَا وَسَبَقَ ذَكَرْتُ مِرَارًا وَتِكْرَارًا أَنَّ ذِكْرَ اللَّهِ نَعِيْمُ الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَالْجَنَّةِ
فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ دَائِمًا فَإِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ يُحِسُّ بِالتَّقْصِير فَيَقُولُ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ فَهَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ
وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُفَارْتَاحَ مِنْ تَعَبِ الْحَاجَةِ وَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَوْ بَذَلَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يُخْرِجَ حَاجَتَهُ إِلَّا بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ الْأَطِبَّاءُ قَدْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الْمَرِيضِ يَكُونُ عِنْدَهُ إِمْسَاكٌ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُخْرِجُوا هَذَا الْأَمْرَ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ حَصَرُ الْبَوْلِ مَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُفْرِغُوا بَوْلَهُ إِلَّا لَوْ أَجْرَوْا لَهُ عَمَلِيَّةً
لَكِنَّ اللَّهَ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَ الْبَوْلُ يُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِالْأَلَمِ وَالْأَذَى فَيَدْخُلُ مَكَانَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَيُنْعِمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يَخْرُجَ هَذَا الْأَذَى فَيُحِسُّ بِالرَّاحَةِ فَيَتَذَكَّرُ أَنَّهُ مُقَصِّرٌ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللَّهِ فَيَقُولُ غُفْرَانَكَ يَسْتَغْفِرُ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي شُكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نِعَمِهِ وَلَوْ تَدَبَّرَ الْإِنْسَانُ فِي جَسَدِهِ وَمَا يَكُونُ فِي جَسَدِهِ لَأَدْرَكَ عَظِيمَ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَهُوَ إِذَا قَضَى الْحَاجَةَ تَذَكَّرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ غُفْرَانَكَ