Saudara Hammam dari Arab Saudi bertanya. Pertanyaan ini memerlukan waktu yang panjang (untuk membahasnya). Namun, sekiranya Syaikh dapat memberikan beberapa poin singkat.
Saudara Hammam bertanya, “Apa saja gejala orang yang terkena hasad, gangguan jin, dan sihir, dan bagaimana cara mengobatinya?”
Pertama-tama, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa orang tersebut tidak memiliki penyakit fisik maupun psikologis.
Sebab, gejala orang yang terkena sihir, gangguan jin, dan hasad dapat menyerupai sebagian penyakit fisik dan psikologis.
Karena itu, pertama-tama ia harus memastikan hal tersebut. Karena sebagian orang cenderung menganggap dirinya terkena hasad, sihir, atau gangguan jin sebagai bentuk pelarian, yakni lari dari kenyataan.
Sebab, dengan begitu ia melemparkan tanggung jawab kepada faktor dari luar. Secara psikologis, seseorang memang cenderung bersikap seperti ini. Jiwa manusia kadang cenderung pada anggapan semacam ini.
Karena itu, terlebih dahulu ia harus memastikan bahwa dirinya tidak memiliki penyakit fisik maupun psikologis.
Ia mendatangi dokter spesialis. Jika mereka menyatakan bahwa ia sehat, ia kemudian mendatangi psikiater. Jika mereka juga menyatakan bahwa ia sehat,
barulah setelah itu ia beralih untuk melihat kemungkinan apakah ia terkena gangguan jin, ‘ain, atau sihir.
‘Ain mungkin lebih mudah dikenali. Misalnya, ada seseorang yang memuji-mujinya secara berlebihan, atau semisalnya,
lalu setelah pujian itu ia mengalami gangguan, maka kemungkinan besar itu adalah ‘ain.
Misalnya, seseorang memujinya, lalu setelah ucapan itu atau langsung setelah pertemuan itu, mulailah muncul berbagai masalah pada dirinya.
Boleh jadi penyebabnya adalah ‘ain dari orang yang memuji itu.
Cara tercepat untuk menghilangkan pengaruh ‘ain adalah dengan mengambil (bekas air wudu) dari orang yang menyebabkan ‘ain, sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Nabi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan orang yang terkena ‘ain untuk mengambil air yang digunakan berwudu oleh orang yang menyebabkan ‘ain.
Orang yang menyebabkan ‘ain itu berwudu. Air bekas wudunya lantas diambil oleh orang yang terkena ‘ain dan disiramkan ke tubuhnya, lalu sembuhlah ia.
Ia pun sembuh seketika. Subhanallah.
Apabila orang yang terkena ‘ain mengambil bekas air wudu dari orang yang menyebabkan ‘ain, dengan izin Allah Ta’ala, pengaruh ‘ain itu akan segera hilang.
Ini termasuk perkara yang menakjubkan. ‘Ain berkaitan dengan ruh.
Bagaimana ‘ain menimpa seseorang dan bagaimana pengaruhnya dapat hilang tidaklah diketahui oleh manusia. Hal itu berada di luar jangkauan akal manusia.
Namun, kita mengimani perkara yang telah ditunjukkan oleh nas-nas syariat, dan pengalaman manusia sejak dahulu juga menunjukkan hal tersebut.
Jadi, ‘ain mungkin merupakan yang paling mudah dikenali dari gejalanya.
Adapun sihir dan gangguan jin, sebagaimana telah disebutkan, dapat menyerupai penyakit psikologis.
Namun, boleh jadi seseorang mendapati beberapa gejala yang mengarah kepada sihir.
Misalnya, ketika ia membaca ayat-ayat tentang sihir atau ayat-ayat tersebut dibacakan kepadanya, kemudian ia merasa sesak dan tidak nyaman, maka ini boleh jadi merupakan indikasi.
Demikian pula halnya dengan gangguan jin.
Pada umumnya, gangguan jin berkaitan dengan sihir. Pada umumnya, gangguan tersebut berkaitan dengan sihir.
Kasus gangguan jin sebenarnya relatif sedikit. Tidaklah sebanyak yang digembar-gemborkan oleh sebagian orang.
Kasusnya relatif sedikit dan pada umumnya berkaitan dengan sihir.
=====
الْأَخُ هَمَّامٌ مِنَ السُّعُودِيَّةِ سَأَلَ هُوَ سُؤَالٌ يَعْنِي يَحْتَاجُ لَهُ وَقْتٌ طَوِيلٌ لَكِنْ لَوْ تُعْطِي شَيْخَنَا بَعْضَ الْإِشَارَاتِ
يَقُولُ مَا هِيَ أَعْرَاضُ الْمَحْسُودِ وَالْمَمْسُوسِ وَالْمَسْحُورِ وَمَا الْعِلَاجُ فِي ذَلِكَ؟
أَوَّلًا لَابُدَّ مِنَ التَّأَكُّدِ مِنْ عَدَمِ وُجُودِ أَمْرَاضٍ عُضْوِيَّةٍ وَنَفْسِيَّةٍ لَدَى الْإِنْسَانِ
لِأَنَّ أَعْرَاضَ الْمَسْحُورِ وَالْمَمْسُوسِ وَالْمَحْسُودِ تَشْتَبِهُ بِبَعْضِ الْأَمْرَاضِ الْعُضْوِيَّةِ وَالنَّفْسِيَّةِ
فَلَابُدَّ أَوَّلًا أَنْ يَتَأَكَّدَ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَعْنِي يُحَاوِلُ أَنْ يَصِفَ نَفْسَهُ بِالْحَسَدِ أَوْ السِّحْرِ أَوْ الْمَسِّ مِنْ بَابِ الْهُرُوبِ الْهُرُوبِ مِنَ الْوَاقِعِ
لِأَنَّهُ يُلْقِي الْمَسْؤُولِيَّةَ عَلَى طَرَفٍ خَارِجِيٍّ فَيَعْنِي نَفْسِيًّا يَمِيلُ لِهَذَا النُّفُوسُ تَمِيلُ لِمِثْلِ هَذَا الطَّرْحِ
فَلِذَلِكَ لَابُدَّ أَنْ يَتَأَكَّدَ أَوَّلًا مِنْ أَنَّهُ لَيْسَ عِنْدَهُ أَمْرَاضٌ عُضْوِيَّةٌ وَلَا نَفْسِيَّةٌ
يَذْهَبُ لِلْأَطِبَّاءِ الْمُخْتَصِّينَ إِذَا قَالُوا سَلِيمٌ يَذْهَبُ لِلْأَطِبَّاءِ النَّفْسَانِيِّينَ إِذَا قَالُوا سَلِيمٌ
هُنَا يَنْتَقِلُ بَعْدَ ذَلِكَ لِمَسْأَلَةِ هَلْ هُوَ عِنْدَهُ مَسٌّ أَوْ عَيْنٌ أَوْ سِحْرٌ
الْعَيْنُ رُبَّمَا تَكُونُ هِيَ الْأَوْضَحَ إِذَا كَانَ أَحَدٌ قَدْ وَصَّفَهُ يَعْنِي ذَكَرَ وَصْفَهُ مَثَلًا بِشَكْلٍ مُبَالَغٍ فِيهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
وَثُمَّ أُصِيبَ بَعْدَ هَذَا الْوَصْفِ فَالْغَالِبُ أَنَّ هَذِهِ عَيْنٌ
كَأَنْ يَصِفَهُ بِوَصْفٍ مُعَيَّنٍ ثُمَّ بَعْدَ هَذَا الْكَلَامِ مُبَاشَرَةً أَوْ بَعْدَ الْمَجْلِسِ مُبَاشَرَةً تَبْدَأُ مَعَهُ الْمَشَاكِلُ
فَرُبَّمَا يَكُونُ السَّبَبُ هُوَ عَيْنُ هَذَا الشَّخْصِ
وَأَسْرَعُ طَرِيقَةٍ لِإِزَالَةِ أَثَرِ الْعَيْنِ أَنْ يُؤْخَذَ مِنَ الْعَائِنِ كَمَا دَلَّتْ فِي ذَلِكَ السُّنَّةُ
فَقَدْ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ الَّذِي أُعِينَ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ مَاءِ الَّذِي تَوَضَّأَ بِهِ الْعَائِنُ
فَتَوَضَّأَ الْعَائِنُ وَأَخَذَهُ وَصَبَّهُ عَلَى نَفْسِهِ فَشُفِيَ تَمَامًا
يُشْفَى فِي الْحَالِ سُبْحَانَ اللَّهِ
إِذَا أَخَذَ مَنْ أُصِيبَ بِالْعَيْنِ مِنْ أَثَرِ الْعَائِنِ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى يَزُولُ أَثَرُ الْعَيْنِ مُبَاشَرَةً
يَعْنِي هَذِهِ مِنَ الْعَجَائِبِ الْعَيْنُ مُرْتَبِطَةٌ بِالْأَرْوَاحِ
فَيَعْنِي طَرِيقَةُ إِصَابَةِ الْعَيْنِ وَطَرِيقَةُ زَوَالِ الْأَثَرِ مَا يَعْرِفُهَا الْبَشَرُ فَوْقَ مُسْتَوَى عُقُولِ الْبَشَرِ
لَكِنْ نَحْنُ نُؤْمِنُ بِأَمْرٍ قَدْ دَلَّتْ عَلَيْهِ النُّصُوصُ وَأَيْضًا دَلَّتْ لَهُ التَّجَارِبُ تَجَارِبُ النَّاسِ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ
فَالْعَيْنُ رُبَّمَا تَكُونُ هِيَ الْأَوْضَحَ فِي الْأَعْرَاضِ
السِّحْرُ وَالْمَسُّ كَمَا ذَكَرْنَا قَدْ تَشْتَبِهُ بِالْأَمْرَاضِ النَّفْسِيَّةِ
لَكِنْ رُبَّمَا أَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وَجَدَ بَعْضَ الْأَعْرَاضِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى السِّحْرِ
كَمَا مَثَلًا لَوْ قَرَأَ آيَاتِ السِّحْرِ أَوْ قُرِئَتْ عَلَيْهِ آيَاتُ السِّحْرِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ وَشَعُرَ بِالضِّيقِ وَالْحَرَجِ فَرُبَّمَا تَكُونُ هَذِهِ قَرِينَةً
وَكَذَلِكَ أَيْضًا الْمَسُّ
الْمَسُّ غَالِبًا يَكُونُ مُرْتَبِطًا بِالسِّحْرِ فِي الْغَالِبِ أَنَّهُ يَكُونُ مُرْتَبِطًا بِالسِّحْرِ
فَحَالَاتُ الْمَسِّ حَالَاتٌ قَلِيلَةٌ لَيْسَتْ كَمَا يُشِيعُهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ أَنَّهَا كَثِيرَةٌ
هِيَ حَالَاتٌ قَلِيلَةٌ غَالِبًا تَكُونُ مُرْتَبِطَةً بِالسِّحْرِ