Ada satu permasalahan lagi yang perlu kami sampaikan, yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang memberikan keringanan. Apabila seseorang sedang makan sahur, sementara masih ada satu suapan di tangannya, lalu azan berkumandang secara tiba-tiba saat suapan atau gelas masih di tangannya, maka ia boleh menyelesaikan yang tersisa tersebut.
Ia boleh memakan satu suapan yang ada di tangannya, dan meneguk air yang ada di tangannya. Ia tidak boleh menambah lebih dari itu. Ini berlaku jika azan terdengar mendadak tanpa ia sadari. Namun sekarang, dengan adanya jam dan penanda waktu, maka sebaiknya seseorang tidak bermudah-mudahan dalam perkara ini.
Keringanan ini seperti seseorang yang bepergian ke suatu daerah, lalu ia tidak mengetahui kapan muazin akan mengumandangkan azan, lalu tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara azan. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengapa ia menyelesaikan suapan terakhirnya dan meneguk seteguk air di tangannya. Adapun bagi warga lokal yang setiap hari sudah mengetahui waktu dan menunggu sampai muazin mengumandangkan azan, barulah setelah itu ia bergegas untuk makan dan minum, maka ini dikhawatirkan termasuk sikap melalaikan. Bahkan sebagian mereka malah makan dan minum hingga muazin selesai azan. Ini tidak selayaknya dilakukan.
=====
بَقِيَ مَسْأَلَةٌ وَهِيَ نُنَبِّهُ عَلَيْهَا وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ يَتَنَاوَلُ سَحُورَهُ وَفِي يَدِهِ لُقْمَةً وَبَاغَتَهُ الْأَذَانُ وَفِي يَدِهِ لُقْمَةٌ وَفِي يَدِهِ إِنَاءٌ فَإِنَّهُ يَقْضِي نَهَامَهُ مِنْ ذَلِكَ
وَيَأْكُلُ اللُّقْمَةَ الَّتِي فِي يَدِهِ وَيَتَجَرَّعُ الْمَاءَ الَّذِي فِي يَدِهِ ثُمَّ لَا يَزِيدُ عَنْ ذَلِكَ هَذَا إِذَا بَاغَتَهُ الْأَذَانُ وَلَمْ يَشْعُرْ بِهِ وَأَمَّا الْآنَ مَعَ وُجُودِ السَّاعَاتِ وَمَعَ وُجُودِ الْوَقْتِ فَإِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَهَاوَنَ فِي هَذَا الْأَمْرِ
هَذَا مِثْلُ الْإِنْسَانِ سَافَرَ لِبَلَدٍ فَمَا عَرَفَ مَتَى يُؤَذِّنُ الْمُؤَذِّنُ وَإِذَا بِهِ يُفَاجِأُ بِأَذَانٍ يُؤَذِّنُ فَهَذَا لَا بَأْسَ أَنَّهُ يَقْضِي لُقْمَتَهُ وَيَشْرَبُ جُرْعَةَ الَّتِي فِي يَدِهِ وَأَمَّا الْإِنْسَانُ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ يَنْتَظِرُ فِي كُلِّ يَوْمٍ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَقُومُ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ فَهَذَا يُخْشَى أَنْ يَكُونَ مِنَ التَّفْرِيطِ بَلْ إِنَّ بَعْضَهُمْ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ إِلَى أَنْ يَفْرَغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ فَهَذَا لَا يَنْبَغِي