Tidak Mudah Berfatwa

Tidak Mudah Berfatwa

Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya permasalahan, namun beliau hanya diam saja. Maka dikatakan padanya, “Sampai kapan engkau menjawabnya wahai Imam?”

Maka beliaupun berkata,

حتى أدري الفضل في سكوتي، أو في الجواب

“Sampai aku mengetahui lebih utama mana diamku atau jawabanku. (Ibnu Shalah,  adabul mufti wal mustafti, 74)

Sungguh betapa berhati-hatinya beliau dalam berfatwa, karena fatwa itu sangat berat yang menyangkut hajat umat islam.

Maka diantara nasehat yang disampaikan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kepada penuntut ilmu, dalam syarah hilyah thalibil ilmi, beliau mengatakan, “Pikirkanlah sebelum engkau ucapkan, apakah ucapan itu mempunyai faedah atau tidak. Sebagai mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbicaralah dengan baik atau diam.. (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhukum Minanurrohman

Sumber bacaan: https://www.alukah.net/sharia/0/88086/

4 Nasehat untuk Anda

Sulaiman bin al-Asy’ats atau dikenali sebagai Abu Daud as-Sijistāniy (w. 275 H) -dalam sebuah riwayat darinya- berkata,

Aku telah menulis dari Sunnah Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam sejumlah lima ratus ribu hadis. Kemudian aku pilih darinya apa yang dimuat dalam kitab ini (Sunan Abi Daud) sebanyak 4480 hadis. Cukuplah bagi seorang untuk memedomani empat hadis saja dalam beragama:

– الأعمال بالنيات

Setiap amalan terpaut dengan niatnya.

– من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعني

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya.

– لا يكون المؤمن مؤمنا حتى ليرضى لأخيه ما يرصى لنفسه

Tidaklah sempurna iman seorang hingga ia meridhai bagi saudaranya apa yang ia ridhai bagi dirinya.

– الحلال بين والحرام بين

Perkara halal telah jelas dan perkara haram juga telah jelas.

Sumber: Alee Massaid

Tidak Ada Perkataan Dusta dan Kotor

Tahukah Anda tempat dan waktu yg tidak ada perkataan dan berita dusta?

(لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا)

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. [Surat An-Naba’ 35]

Ibnu katsir mengatakan, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thur

“لا لغو فيها ولا تأثيم”

Tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya, dan tidak ada kemaksiatan di dalamnya.

Maksudnya tidak ada di dalamnya kalimat sia2 yg hina yg jauh dr faidah serta tidak ada maksiat dan kedustaan. Tempat itu adalah Darus Salam (surga) yg penghuninya selamat (dari perkataan sia2 dan dusta).

**Abu Najmah Syahidah

Mereka yang Memuliakan Dalil

KARENA MEREKA MEMULIAKAN DALIL

Pertanyaan besar yang sering muncul di masyarakat, ‘mengapa ulama banyak berbeda pendapat, padahal al-Quran dan hadisnya sama.’

Namun di sana ada satu alasan yang akan membuat kita semakin menghargai semangat ulama ketika mereka berbeda, mereka berbeda pendapat karena mereka memuliakan dalil.

وجود الخلاف بين العلماء من أجل تعظيمهم بالدليل

“Adanya khilaf di tengah ulama, karena mereka memuliakan dalil”

Dalil bagi mereka adalah petunjuk dari Allah yang layak mereka pertahankan. Ketika mereka memahami dalil itu, bisa jadi berbeda dengan ulama lain. Namun mereka punya semangat yang sama. Semangat mengamalkan dan memuliakan dalil.

Dari sini, kita bisa membedakan antara penyimpangan dengan perbedaan pendapat. Penyimpangan adalah upaya menjauhkan diri dari dalil. Meskipun terkadang mereka cari dalih pembenar.
Sementara perbedaan pendapat ulama, berangkat dari upaya mendekati dalil.

Perbanyak mempelajari dalil, agar kita bisa membedakan mana khilaf ulama, dan mana penyimpangan tokoh yg diaku ulama.

Ada pesan yang disampaikan para ulama,

اعرف الحق تعرف رجاله

“Kenalilah kebenaran, engkau akan tahu siapa pemilik kebenaran.”

Jadikan diri kita akrab dengan dalil, sekalipun bisa jadi berbeda dengan mereka yang memusuhi dalil.

_menyimpulkan pelajaran dari Dr. Sulaiman ar-Ruhaili
‪#‎Daurah_Batu_1437‬

Ustadz Ammi Nur Baits